← Back to list

[BUILT BY LOVE - 08]

Ruangan jauh lebih sepi siang itu. Hanya ada Jaehyun yang menjaga Minho disana.

nuurhinsky · 2026-07-08 03:25 · 0 claps · 11.5 min read
#fanfiction #found-family #lee-know #kim-seungmin #sullyoon
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting ✍️ · Writing & Creative

[BUILT BY LOVE - 08]

Ruangan jauh lebih sepi siang itu. Hanya ada Jaehyun yang menjaga Minho disana.

Sengaja.

Pria itu memaksa agar Seungmin dan Yoona tetap masuk sekolah hari ini, mengingat pekan ini adalah pekan terakhir masuk sekolah sebelum ujian akhir semester. Ia ingin kedua anak lainnya fokus dulu pada sekolah mereka masing-masing. Biar Minho… ia yang urus.

Mereka menolak habis-habisan.

Tapi akhirnya menurut setelah lama dibujuk.

Helaan berat terdengar dari pria itu ketika pandangannya kembali tertuju pada wajah pucat Minho. Beberapa jam sudah berlalu sejak pemuda itu dipindahkan. Dokter bilang kondisinya sudah mulai stabil, tapi belum bisa dikatakan aman.

Jaehyun juga masih gemetar mengingat beberapa jam lalu detak Minho sempat berhenti.

Setelah kepanikan itu, tetap bisa mendengar bunyi monitor yang teratur bagi Jaehyun adalah suara terindah yang pernah ia dengar sekarang. Karena itu berarti Minho masih di sini.

Wajah Minho terlihat pucat di bawah cahaya putih rumah sakit.

Jaehyun menatapnya lama. Terus memperhatikan uap napas di masker oksigen masih menempel menutupi hidung dan mulut Minho. Perlahan, ia meraih tangan Minho yang masih dipenuhi kabel itu.

Ia menggenggam. Lama sekali.

Sampai akhirnya tangannya naik. Mengusap rambut Minho pelan, persis seperti dulu saat Minho kecil.

Air mata Jaehyun akhirnya jatuh setelah tak bisa ditahan lagi. “Dasar anak keras kepala.” Ia menggumam. “Kamu selalu bikin papa tenang karena bisa ngandelin kamu. Tapi sekalinya bikin takut… gak pernah tanggung-tanggung ya.” Ia tertawa kecil. Tawa yang langsung berubah menjadi isak.

Minho tetap diam.

Tentu saja.

Tapi Jaehyun tetap bicara, karena dokter bilang kadang pasien bisa mendengar.

Dan karena mungkin… Jaehyun memang butuh mengeluarkan semuanya.

“Kamu tau… dulu waktu Yooa belum lahir, istri papa, mamanya Yoona sering ngajarin anak-anak jalanan.” Tangan Jaehyun masih mengusap lembut rambut Minho. “Tadinya setiap Sabtu. Trus lama-lama jadi lebih sering. Kadang sampe malam.”

Jaehyun menunduk. Senyumnya muncul sedikit. “Padahal waktu itu dia lagi sedih banget.” Ia terdiam sejenak. Matanya mulai panas lagi.

“Kami kehilangan anak pertama kami.” Kalimat itu keluar pelan. Pria itu juga masih merasakan sakitnya bahkan setelah bertahun-tahun. “Harusnya laki-laki. Kalo lahir… sekarang usianya mungkin enggak beda jauh sama kamu. Adik kamu jadi tiga harusnya.” Ia tertawa getir.

“Sampai sekarang papa masih ingat gimana mamanya Yoona — ” Jaehyun diam sebentar, menggeleng pelan kemudian mengoreksi. “Enggak. Dia mama kamu juga. Kamu juga bagian dari kami, nak.”

“Mama kamu marah waktu dokter bilang dia harus istirahat. Dia malah kabur ngajarin anak-anak. Katanya kalo diem di rumah terus nanti aku makin sedih.” Pria itu meneruskan. “Jadi dia pergi. Ngajarin baca. Ngajarin nulis. Kadang bawain makanan atau susu kotak yang banyak.”

Matanya kembali ke wajah Minho. “Papa sering nganter. Sering nungguin dan lihat dia ketawa sama anak-anak itu, kadang papa ikut bantu juga.” Senyumnya perlahan muncul. Lebih hangat kali ini. “Bisa aja kamu salah satu anak yang pernah dia temui.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Jaehyun menunduk. Menatap tangan Minho yang terbaring diam di atas selimut. “Papa gak tahu. Tapi… bisa aja, kan?” ucapnya. “Kota ini luas. Tapi dunia kadang kecil. Siapa tau kamu salah satu dari anak-anak itu.”

Jaehyun menyusut hidungnya yang berair. “Papa gak tau. Tapi kalo itu pernah terjadi…” Ia menggenggam tangan Minho erat. “Papa seneng. Kamu udah pernah ketemu mama.”

Karena tiba-tiba semuanya terasa masuk akal. Kenapa hari itu, dari sekian banyak anak, dari sekian banyak kemungkinan, ia menemukan Minho.

Kenapa Yoona langsung memilihnya.

Kenapa mereka akhirnya menjadi keluarga.

Seolah ada seseorang yang diam-diam mengatur semuanya.

Jaehyun tertawa kecil. “Dulu papa pikir… Papa adopsi kamu karena kasihan.” Ia menggeleng. “Papa salah. Salah besar.” Air matanya jatuh ke tangan Minho. “Ternyata enggak.”

“Papa adopsi kamu karena papa beruntung. Karena kamu anak baik,” lanjut pria itu. “Anak yang terlalu baik malah.”

“Bahkan sampai sakit separah ini masih mikirin orang lain. Masih nahan semuanya sendirian. Takut ngerepotin.”

Ia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh tangan Minho. Ia tak pernah suka ini. Ia sungguh takut, sampai dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar. “Papa sayang kamu. Banget.” Tangisnya pecah lagi.

Ia menatap wajah Minho yang masih terpejam. “Dan kalo kamu pergi…” Suara Jaehyun hilang sesaat, karena bahkan membayangkannya saja sudah menyakitkan. “Papa gak tau bakal gimana.”

Tangannya kembali mengusap rambut Minho. “Kali ini… Tolong egois sedikit.”

“Tolong bertahan.”

“Tolong sembuh.”

“Pikirin diri kamu dulu.”

Senyum kecil muncul di sela tangisnya. “Karena papa masih mau hidup lama sama kamu.”

Pintu perlahan terbuka.

Yoona berjalan masuk dari baliknya. Ia meletakkan totebag besar di dekat pint terlebih dulu, sebelum berderap mendekat dan duduk di kursi kecil di salah sisi kanan ranjang pasien. Tanpa mengatakan apapun.

Ia masih ngambek pada papanya karena dipaksa sekolah tadi. Tentu saja ia sama sekali tak fokus dengan pelajarannya. Bahkan di pelajaran olahraga tadi, ia sampai menghabiskan waktu setengah jam sendiri di toilet ketika hendak ganti baju olahraga — yang ujung-ujungnya malah tak jadi. Sampai teman-temannya mengira Yoona sedang sakit dan langsung mengantarnya ke UKS.

Gadis itu menggamit tangan Minho lalu mengelusnya pelan dengan ibu jari. “Pokoknya nanti pas Kak Minho bangun, Yoona mau ngadu,” katanya tiba-tiba. “Papa nyebelin banget malah maksa berangkat sekolah! Padahal aku maunya disini nemenin kakak.”

Sudut bibir Jaehyun tertarik sedikit. Ia lantas menoleh ke wajah pucat pemuda itu. “Kamu denger itu? Masa sih mau disuruh Yoona ngomelin papa? Kamu satu kubu sama papa, kan?”

“Ihh papa kok gitu?!” ketus gadis itu. “Enggak lah. Kak Minho pasti belain Yoona kan? Iya, kan?” Ia sampai berdiri dan mencondongkan wajah dengan mata sedikit melebar itu lebih dekat ke kakaknya yang masih belum bangun.

Yoona diam di posisi itu beberapa saat. Tapi kemudian, ia kembali duduk dan perlahan menjatuhkan pandangan ke perban infus di tangan Minho. Matanya mulai tergenang. “Kak… ayo bangun,” ucapnya lebih lirih.

Jaehyun yang melihat itu menghela napas berat. “Yoona,” panggilnya.

Tapi gadis itu menggeleng. Tak mau menatap mata papanya.

Tak lama, pintu ruang rawat intensif kembali terbuka.

Seungmin masuk, dengan mata sembab dan hidung merah. Jelas habis menangis. Tapi kali ini ia tidak mencoba menyembunyikannya.

Laki-laki itu hanya menarik kursi kosong, menaruhnya di sebelah Yoona, lalu duduk. Ia diam cukup lama menatap Minho.

Sampai akhirnya helaan napas mengudara. “Kak Minho nyebelin banget.”

Yoona langsung menoleh.

Jaehyun juga.

Seungmin merogoh tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah buku tebal yang sampulnya sudah sedikit kusut dan pinggirannya penuh bekas lipatan. “Aku nemu ini di kamar Kak Minho.”

Jantung Jaehyun langsung terasa aneh.

Seungmin meletakkannya di pangkuan Jaehyun, lalu berkata pelan, “Kak Minho udah sakit jauh sebelum ini.”

Ruangan langsung terasa lebih dingin.

Jaehyun menunduk melihat buku itu. Tangannya perlahan membuka halaman pertama.

Tulisan tangan Minho menyambut mereka. Agak berantakan. Tidak terlalu rapi di beberapa bagian, seperti ditulis terburu-buru.

Aku gak tahu ini perlu ditulis atau enggak.

Tapi akhir-akhir ini aku sering sesak napas, apalagi kalo malam.

Sebenernya udah lama. Dari sebelum ketemu Papa juga. Aku cuma nggak pernah terlalu mikirin. Aku pikir karena asap kendaraan atau karena dulu aku sering tidur di luar. Bisa juga karena sering kelaparan.

Jadi aku selalu nunggu hilang sendiri. Tapi ternyata gak hilang juga.

Bahkan sekarang masih sering datang.

Aku sempat takut. Takut kalau ternyata aku sakit beneran.

Tapi aku nggak mau bilang siapa-siapa dulu.

Papa udah banyak mikirin aku, mikirin semuanya. Seungmin juga sakit, jadi aku gak mau nambah lagi.

Biar Seungmin aja yang sembuh dulu.

Jaehyun kemudian membalik halaman kedua.

Hari ini sesaknya datang lagi. Lumayan lama.

Aku sampe duduk di lantai kamar sambil nunggu napasku normal.

Tapi aku gak akan nulis soal sesaknya.

Soalnya kalo aku nulis soal sakitnya terus, nanti buku ini isinya sedih semua.

Aku nggak suka.

Lagian sesaknya juga nggak bikin aku lupa kalau hidupku sekarang baik.

Jadi aku punya ide. Setiap kali sesaknya datang, aku mau nulis satu hal baik yang terjadi hari itu.

Biar aku inget kalo sakitnya cuma sebagian kecil dari hidup aku. Dan biar kalau suatu hari aku baca lagi, aku lebih ingat bahagianya daripada sakitnya.

Jaehyun tertegun setelah membaca dua halaman awal buku itu. Yoona juga langsung merapat ke pria itu. Sementara Seungmin yang sudah membaca habis isinya hanya diam si sisi sebelah sambil menggenggam tangan Minho.

Tangan Jaehyun gemetar saat membalik ke halaman berikutnya.

Tak ada seorang pun yang berbicara.

Ruangan begitu sunyi.

Hanya terdengar suara napas pelan dari masker oksigen dan bunyi monitor yang selama beberapa jam terakhir menjadi satu-satunya penanda Minho masih bertahan.

Jaehyun menarik napas panjang. “Papa bakal baca semuanya,” gumamnya lirih sambil mengusap sampul buku itu. “Nanti kamu bangun, terus kita baca bareng.”

Tak ada jawaban.

Minho tetap terbaring diam.

Jaehyun kembali menunduk ke buku. Kalimat berikutnya baru saja hendak ia baca ketika…

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttt

Suara panjang itu memotong seluruh isi ruangan.

Tidak ada yang langsung bergerak. Seolah otak mereka menolak mempercayainya.

Jaehyun perlahan mengangkat kepala. Tatapannya jatuh ke monitor.

Garis hijau itu… lurus. Benar-benar lurus.

Yoona berkedip pelan. “Kak…?”

Tak ada respons.

Seungmin masih menggenggam tangan Minho.

Tangan itu… tidak bergerak atau bahkan berkedut sedikitpun.

“Kak…” Suara Seungmin mulai pecah. “Kak… jangan bercanda…”

Jaehyun berdiri terlalu cepat hingga kursinya terjatuh keras ke lantai. “Dokter!” Suara itu nyaris berubah menjadi jeritan. “Dokter! Tolong!”

Pintu ruang rawat langsung terbuka. Beberapa perawat dan dokter berlari masuk.

Jaehyun mundur setengah langkah sambil merengkuh Seungmin dan Yoona di dekatnya. Mata pria itu tak pernah lepas dari Minho.

Salah satu dokter langsung memeriksa denyut nadinya.

Yang lain mulai memasang alat ke dada Minho.

Namun… sedikit pun tidak ada respon.

“Mulai CPR!” Dokter berteriak.

Dada Minho ditekan puluhan kali, tapi monitor tetap berbunyi panjang.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt —

Charge!”

Gelombang kejut pertama diberikan. Tubuh Minho terangkat sesaat. Lalu jatuh dan kembali diam.

Tubuh itu kembali tersentak saat gelombang kejut kedua diberikan.

Masih… tidak ada.

Jaehyun masih berdiri diam. Tatapannya kosong. Seolah seluruh dunia berhenti bergerak bersamaan dengan garis lurus di monitor itu.

Dokter terus berusaha.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Sampai akhirnya… tangan dokter yang sedang melakukan kompresi perlahan berhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Dokter menatap jam di dinding. “Waktu kematian…”

Kalimat berikutnya tidak pernah terdengar oleh Jaehyun. Karena dunia di sekelilingnya sudah runtuh lebih dulu.

Yang ia lihat hanya satu.

Tubuh Minho.

Anak itu masih terbaring di sana. Begitu tenang. Begitu damai. Seperti hanya sedang tidur.

Jaehyun melangkah pelan tanpa ada seorang pun yang menghentikannya. Lalu berhenti tepat di samping ranjang. Tangannya terulur perlahan, mengusap rambut Minho seperti biasa.

Pria itu tersenyum. Senyum yang begitu rapuh hingga lebih menyakitkan daripada tangisan. “Papa disini…”

Tak ada jawaban.

“Bangun ya.”

Hening.

“Papa udah di sini.”

Tetap hening.

Jaehyun tertawa pelan.

Suara tawanya pecah menjadi isakan. “Kamu mau apa, nak? papa turuti semuanya.” Air matanya jatuh satu demi satu ke pipi Minho yang mulai kehilangan kehangatan. “Tapi jangan gini. Bangun, nak.” Tangannya menggenggam jemari Minho yang semakin dingin.

Jaehyun perlahan menundukkan kepala. Dahinya menyentuh punggung tangan Minho. Tangisnya pecah tanpa suara. Benar-benar pecah.

Pria itu masih duduk di kursi samping ranjang. Entah sudah berapa lama.

Kepalanya tertunduk di sisi kasur, sebelah tangan masih menggenggam tangan Minho erat. Posisi itu sama sekali tidak nyaman, tapi ia bahkan tak sadar kapan dirinya tertidur. Tidurnya pun tidak benar-benar tenang.

Keningnya berkerut. Sesekali bibirnya bergerak pelan.

“Jangan…” Suara itu hampir tak terdengar. “Minho…” Napasnya terdengar tidak beraturan.

“Papa gak bolehin kamu pergi…” Air mata masih terus keluar meski matanya terpejam. “Tolong… Jangan tinggalin Papa…”

Di atas ranjang, kelopak mata Minho bergerak pelan. Pandangannya masih kabur.

Lampu kamar terasa terlalu terang dan kepalanya juga berat. Dadanya juga masih terasa nyeri setiap kali bernapas melalui masker oksigen. Tapi igauan Jaehyun dengan segera mengalihkan semua itu. Ia mencoba menggerakkan jari.

Begitu menyentuh jemari Jaehyun, Minho langsung menggenggam balik sekecil tenaga yang ia punya.

Masih terlalu lemah. Hampir tidak terasa, tapi cukup.

Jaehyun langsung terdiam. Tangis dalam tidurnya mendadak berhenti.

Beberapa detik kemudian… matanya perlahan terbuka. Masih kosong dan sembab — sisa tangis tadi. Belum sepenuhnya sadar.

Namun saat pandangannya menemukan wajah Minho yang kini sedang menatapnya pelan… seluruh dunianya seperti berhenti.

“Minho?” Suara Jaehyun bergetar. Ia buru-buru berdiri sampai kursinya sedikit bergeser ke belakang. Tangannya yang gemetar langsung memegang kedua pipi Minho dengan sangat hati-hati.

“Kamu bangun…” Jaehyun tersenyum lega.

Namun di saat yang sama, Tangisnya justru semakin pecah.

“Ya Tuhan…”

“Terima kasih.”

Ia terus mengulanginya.

“Terima kasih, Tuhan.”

“Terima kasih.”

Tangan Jaehyun masih mengusap pipi Minho berkali-kali. Memastikan anak itu benar-benar ada. Lalu perlahan, ia menunduk. Mencium kening Minho lama sekali sampai tangisnya terdengar jelas disana.

“Papa kira…” Suaranya patah. “Papa kira…” Ia tak sanggup melanjutkan.

Sebagai gantinya, ia kembali mencium kening Minho. “Papa sayang banget sama kamu.” Tangannya kini beralih mengusap rambut Minho pelan. “Makasih udah kembali lagi.”

Minho hanya menatap Jaehyun. Pandangannya masih berat. Ia harus sedikit mendongakkan kepala agar bisa melihat wajah papanya yang berdiri begitu dekat.

Sudut matanya ikut memerah.

Baru sadar beberapa detik saja… yang pertama Minho lihat adalah papanya menangis. Ia tak suka ini. Sama sekali tak suka.

Bibir Minho bergerak pelan. Nyaris tak terdengar. “Maaf…”

Jaehyun langsung menggeleng cepat. “Jangan. Jangan minta maaf.”

Namun Minho tetap berusaha bicara. Masker oksigen membuat suaranya terputus-putus. “Papa…” Ia menarik napas pendek. “Nangis… gara-gara… aku…”

Kalimat itu belum selesai. Air mata lebih dulu mengalir dari sudut mata Minho.

Jaehyun langsung menggenggam tangan Minho dengan kedua tangannya. Menggeleng berkali-kali. “Papa nangis karena Papa hampir kehilangan anak Papa. Tapi sekarang… papa bersyukur.”

“Masih dikasih kesempatan.”

“Masih bisa lihat kamu buka mata.”

“Masih bisa denger suara kamu.”

Jaehyun tersenyum sambil menangis. “Mulai hari ini — “ Ia menatap mata Minho lekat-lekat. “Udah gak boleh ada kata ‘maaf’ lagi kalo kamu sakit. Itu bukan salah kamu. Gak boleh ngerasa kalo kamu ngerepotin.”

Pria itu menggenggam tangan Minho sedikit lebih erat. “Kamu anak papa, sayang. Papa sayang banget sama kamu. Apapun yang terjadi.”

.

Di samping mereka, sebetulnya masih ada satu orang yang belum bangun.

Yoona.

Gadis itu masih tertidur di kursi sebelah kanan ranjang. Kepalanya bersandar miring di sisi kasur. Kedua tangannya masih menggenggam lengan Minho, seolah takut kalau dilepas sedikit saja kakaknya akan menghilang lagi.

Jaehyun yang tadi menangis sama sekali tidak menyadarinya. Selain karena suara tangisnya tidak keras — hanya sesenggukan pelan, anak itu juga pasti terlalu lelah setelah hampir dua hari tidak tidur.

Minho mengalihkan pandangannya perlahan. Matanya menemukan kepala yang bersandar di samping ranjang. Sudut bibirnya yang pucat terangkat sedikit.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Minho mengangkat tangannya. Sangat pelan. Jemarinya akhirnya menyentuh rambut Yoona, mengusapnya perlahan.

Gerakan kecil itu membuat Yoona sedikit mengernyit dalam tidur. Kelopak matanya berkedip beberapa kali. Lalu, perlahan terbuka.

Tatapannya masih kosong beberapa detik. Masih mengantuk.

Sampai akhirnya… mata gadis itu bertemu dengan mata Minho.

Yoona membeku.Benar-benar diam. Otaknya belum mampu memproses apa yang sedang dilihatnya. “Kak…” Bibirnya bergetar. “Kak Minho…” Matanya mulai membesar. Air matanya langsung memenuhi kedua mata. “Beneran…bangun?”

Minho tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

“KAK!”

Yoona langsung berdiri sampai kursinya bergeser ke belakang. Tangisnya pecah seketika. Ia buru-buru mendekat, tapi justru berhenti di sisi ranjang.

Takut dengan kabel-kabel dan selang yang mengitari tubuh sang kakak.

Melihat itu, Jaehyun buru-buru menekan tombol pengatur ranjang. Sandaran tempat tidur perlahan naik agar Minho tidak perlu memaksakan tubuhnya duduk sendiri.

Begitu posisinya sedikit tegak, Minho membuka kedua tangannya. Tidak bisa penuh karena infus dan kabel masih menempel di mana-mana.

Yoona langsung mengerti. Tanpa pikir panjang ia menyusup ke sisi ranjang, Memeluk Minho dengan hati-hati.

Minho langsung mengusap rambut Yoona pelan. Gerakan yang sama yang selalu ia lakukan sejak dulu.

Dan seperti biasanya, tangis Yoona yang tadi pecah perlahan mulai berubah menjadi isakan kecil dan berangsur reda. Ia merasa lebih aman kalau begini. Karena baginya, selama masih ada tangan Minho yang mengusap kepalanya seperti ini, berarti semuanya akan baik-baik saja.

Jaehyun yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis, tapi di saat yang sama dadanya kembali berat.

Bahkan di kondisi selemah ini, anak itu masih otomatis menenangkan adiknya terlebih dahulu.

Terlihat seperti Minho memaksakan diri. Tapi jika diperhatikan lebih jauh, mungkin beginilah cara Minho mencintai keluarganya.

Semenit kemudian, pintu ruang rawat kembali terbuka. Ketiga oreng itu serempak menoleh, berpikir mungkin perawat yang datang untuk pengecekan rutin, tang ternyata bukan.

Seungmin yang datang, masih mengenakan seragam sekolahnya.

Ia masuk perlahan. Wajahnya masih sedikit pucat dan matanya juga terlihat sembab.

Tapi begitu melihat Minho duduk bersandar dengan mata terbuka, semua rasa tidak nyaman itu seperti menghilang sesaat. Senyum kecil langsung muncul di wajah Seungmin.

“Kak…”

Minho langsung menoleh. Sudut bibirnya ikut terangkat. Suara yang keluar dari balik masker oksigen masih pelan. “Maaf.”

“Hah?”

“…Bikin… kalian takut.”

Seungmin langsung mendengus. “Tau,” jawabannya cepat sekali. “Sumpah nyebelin.”

Minho terkekeh pelan. Tapi tawanya masih terdengar serak karena tenggorokannya belum pulih.

Seungmin maju beberapa langkah lantas berdiri tepat di samping ranjang.

“Duduk sini, kak. Gantian.” Yoona beranjak dari kursi dan mempersilakan Seungmin duduk disana. Ia lantas beralih ke sofa, memberi waktu kedua kakaknya bicara — sementara Jaehyun pamit keluar untuk mengabari dokter.

“Kak.”

“Hm?”

Belum sempat Seungmin membuka percakapan, darah menetes dari hidungnya. Jatuh tepat mengenai punggung tangan Minho yang masih dipenuhi infus.

Minho langsung menatap darah itu. Lalu perlahan mengangkat pandangan ke wajah Seungmin.

Seungmin langsung menggeleng cepat. “Kak, jangan. Please.”

Minho masih diam. Tatapannya tidak berpindah.

“Aku habis ini minum obat.” Seungmin kembali berbisik. “Janji.”

Minho masih tak menjawab.

“Kak…” Nada suaranya mulai memohon. “Tolong… jangan bikin Papa sama Yoona panik lagi.”

Minho menatap adiknya lama sekali. Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk kecil.

“Tapi habis ini,” Minho berhenti sebentar mengambil napas. “Langsung minum obat… sama ke dokter.”

Seungmin langsung mengangguk cepat. “Janji.”

Minho kembali mengangguk kemudian mengangkat sedikit jarinya, memberi isyarat kecil ke arah pintu agar Seungmin pergi sekarang sebelum Papa melihat.

Seungmin paham. “Habis ini aku balik.” Ia beranjak lalu berjalan menuju pintu.

Tapi semakin jauh langkahnya dari ranjang, semakin deras darah yang menetes.

Seungmin mulai merasa pandangannya berkunang. Tangannya mencoba menekan hidung lebih kuat.

Percuma.

Darah justru semakin banyak merembes di sela-sela jarinya.

Napas pemuda itu mulai memburu.

Kakinya berhenti tepat beberapa langkah sebelum pintu. Tubuhnya sedikit limbung, beruntung ia masih sempat menunduk dan memalingkan wajah ketika papanya hendak masuk.

“Seungmin?”

Belum sempat Seungmin menjawab,

Bruk.

Tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai.

“SEUNGMIN!”


메타데이터
post_id
db73fbbb5b5a
slug
built-by-love-08-db73fbbb5b5a
url
https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-08-db73fbbb5b5a
canonical_url
https://medium.com/@nuurhinsky/built-by-love-08-db73fbbb5b5a
author_url
https://medium.com/@nuurhinsky
status
ok
fetched_at
2026-08-15 22:57:38