← Back to list

Aku benci

“Aku ketakutan, sayang. Aku merasa ini semua salahku.”

gliggggg · 2026-02-10 16:23 · 0 claps · 1.8 min read
#justin
Open on Medium ↗

Aku benci

“Aku ketakutan, sayang. Aku merasa ini semua salahku.”

Lelaki itu bergetar di dalam pelukanku. Suaranya pecah, seperti kaca tipis yang berusaha tidak retak, dan aku dapat merasakan betapa gundah hatinya merembes sampai ke dadaku. Ia meringkuk, semakin dalam, seolah pelukanku adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuknya bersembunyi. Tanpa sadar aku memeluknya lebih erat, seolah dengan begitu aku bisa menahan dunia agar tidak runtuh menimpanya.

Ia benar-benar terpukul. Siapa yang pernah siap menghadapi perpisahan?

“Tidak, sayang,” bisikku pelan. “Ini bukan salahmu. Walaupun kamu masih di sana, masa depan tetap akan berjalan seperti ini. Ada hal-hal yang memang sudah ditulis Tuhan.”

Namun tampaknya ia justru ingin disalahkan. Ia justru seperti ingin dihukum. Seolah beban itu akan terasa lebih ringan jika ada kata yang menudingnya bersalah. Aku tidak tahu istilah apa dalam bahasa psikologi yang mampu menjelaskan keadaan ini, tetapi yang kulihat jelas: ia diliputi rasa berdosa, rasa bersalah, dan kehancuran yang tak bisa ia letakkan di mana pun.

Melihatnya seperti ini membuatku terlempar ke ingatan tahun lalu, ketika kegelisahan yang sama pernah merayap di tubuhnya. Ketidaktenangan ini begitu akrab, dan..

Aku benci.

Ia menggeleng pelan, menolak kata-kataku. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, mengalir membasahi bantal dan lengan dalamku. Tangisnya pecah.

Karena orang lain.

Aku benci.

“Aku bingung, sayang,” ucapnya terbata. “Harusnya aku bisa lebih dewasa kemarin. Harusnya aku pamitan… Bukan malah lari dan menutup komunikasi.”

Benar. Itu yang seharusnya kamu lakukan — teriakku dalam hati.

Namun aku memilih diam. Menenangkan napasku sendiri, agar ia tak mendengar betapa hatiku pun bergetar. Jemariku mengelus kepalanya perlahan, berharap sentuhan itu cukup untuk membuatnya bernapas sedikit lebih lega.

“Semua itu sudah lewat,” kataku akhirnya. “Sekarang fokus ke depan saja. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu datang. Kamu ikut berkabung. Kamu bahkan ikut menangis.”

Tolong jangan sakiti dirimu lebih dalam, lanjutku dalam hati.

Tubuhnya semakin bergetar, tangisnya semakin dalam. Setiap isakan seperti memukul sesuatu di dalam diriku.

Aku benci.

Aku tidak kuat. Kutarik tubuhnya lebih dekat dan kupeluk lebih erat. Andai aku bisa mengambil setengah dari bebannya agar ia bisa bernapas lebih ringan, akan kulakukan tanpa ragu. Bagaimana caranya mengambil kegelisahan seseorang? Bagaimana caranya memindahkan duka dari satu dada ke dada lain?

“Aku benar-benar pengecut,” bisiknya, dan kalimat itu terasa seperti pisau yang menggores pelan.

Bukan. Kamu bukan pengecut. Kamu hanya tidak tahu harus mengambil langkah apa.

Namun tak ada kata yang keluar dari bibirku. Aku hanya mengusap punggung dan kepalanya dengan lembut. Aku tahu, apa pun yang kukatakan tak akan benar-benar menenangkannya. Ia akan tetap menyalahkan diri sendiri, tetap memaki dirinya, dan rasanya ia sudah cukup tersiksa oleh itu. Ia sudah terlalu kelelahan untuk terus dihukum oleh perasaannya sendiri.

Seandainya aku bisa masuk ke dalam hatinya, menyalurkan segala kegelisahan itu ke dalam diriku sendiri , agar setidaknya ia hanya merasakan setengahnya, bukan seluruhnya.

Ia mungkin tidak tahu, tapi pipiku juga basah malam itu. Aku juga meneteskan air mata.

Karena sungguh, aku benci melihatnya menangis.


메타데이터
post_id
dbabdf50c09e
slug
aku-benci-dbabdf50c09e
url
https://medium.com/@bernyawa/aku-benci-dbabdf50c09e
canonical_url
https://medium.com/@bernyawa/aku-benci-dbabdf50c09e
author_url
https://medium.com/@bernyawa
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01