← Back to list

— Bunda dan secangkir teh.

Kisah tentang rumah yang akhirnya ia temukan kembali.

The Puppeteers. · 2026-05-17 15:17 · 11 claps · 5.7 min read
#fiction #dewtee
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

— Bunda dan secangkir teh.

Kisah tentang rumah yang akhirnya ia temukan kembali.

Sebenarnya, perjalanan pulang itu terasa berbeda bagi Deru.

Bus yang membawanya meninggalkan Yogyakarta melaju pelan di antara hamparan sawah yang menguning dan langit sore yang pucat. Di kursi sebelah, Juanda sudah tertidur sejak satu jam lalu dengan mulut sedikit terbuka dan headset yang hampir jatuh.

Sementara Deru hanya duduk diam sambil memandangi jendela.

Pantulan wajahnya samar di kaca dan matanya masih terlihat lelah.

Namun tidak lagi kosong.

Dan itu hal yang bahkan ia sendiri baru sadari belakangan ini.

Dulu, perjalanan pulang selalu terasa berat baginya. Ada rasa bersalah aneh setiap kali kembali ke rumah, seolah ia gagal menjadi anak yang baik karena datang dengan hati yang terlalu berantakan.

Ibunya sering bertanya apakah ia baik-baik saja.

Dan Deru selalu menjawab iya.

Padahal tidak.

Tidak pernah benar-benar iya.

Namun sekarang, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia pulang tanpa membawa rasa ingin menghilang.

Ia pulang sambil membawa sesuatu yang perlahan tumbuh kembali di dalam dirinya,

Harapan.

Rumah Deru masih sama seperti dulu.

Halaman luas dengan pohon mangga di samping pagar, suara televisi dari ruang tamu, aroma masakan dari dapur, dan angin sore yang selalu terasa lebih tenang dibanding kota mana pun.

Begitu pintu terbuka, ibunya langsung memeluk Deru erat.

“Aduh… anak bunda kurusan banget.”

Deru tertawa kecil sambil membalas pelukan itu.

“Biasa bun, anak semester akhir.”

Ibunya mengusap pipinya pelan sebelum menoleh ke Juanda.

“Ya ampun, Juan! Kamu makin gantenteng aja..”

Juanda langsung berubah sopan maksimal dalam dua detik.

“Makasih bun..”

Deru sampai terkekeh melihat perubahan mendadak itu.

Malam pertama di rumah terasa hangat.

Mereka makan bersama, mendengarkan ayah Deru bercerita tentang tetangga yang motornya jatuh ke selokan, lalu duduk di ruang tamu sambil menonton acara televisi yang sebenarnya tidak ada yang benar-benar fokus.

Namun di tengah semua itu, ibu Deru beberapa kali diam-diam memandangi anaknya sendiri.

Karena ada sesuatu yang berubah.

Sangat berubah.

Deru masih terlihat lelah, tentu saja.

Namun kini wajahnya tidak lagi seperti seseorang yang sedang menahan hidup sendirian.

Dan sebagai ibu, ia menyadarinya bahkan sebelum Deru membuka mulutnya.

Malam semakin larut ketika Juanda akhirnya tertidur di kamar tamu sambil memeluk bantal gulingnya.

Rumah mulai sunyi.

Hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan denting sendok kecil dari dapur.

Deru sedang berdiri di depan kulkas mencari air dingin ketika ibunya tiba-tiba muncul sambil membawa dua cangkir teh hangat.

“Mau nemenin bunda bentar?”

Deru menoleh kecil lalu mengangguk.

Mereka duduk di teras belakang rumah.

Udara malam terasa dingin setelah hujan sore tadi. Lampu kecil di atas teras memantulkan cahaya kekuningan yang lembut, sementara aroma tanah basah masih tersisa di udara.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.

Ibunya membiarkan Deru diam dulu.

Membiarkan anaknya mengumpulkan keberanian untuk bicara.

Karena ia tahu, ada sesuatu yang selama ini dipendam terlalu lama.

Dan benar saja.

“Aku ketemu Tala lagi, bun..”

“Oh ya? Tala gimana sekarang?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun entah kenapa membuat tenggorokan Deru langsung terasa berat.

Ia menunduk, memandangi pantulan lampu di permukaan teh yang mulai tidak hangat.

“…dia baik.”

Kalimat itu terdengar kecil sekali.

Lalu setelah jeda panjang, Deru kembali bicara dengan suara yang lebih pelan.

“Tapi ternyata, selama ini Tala sendirian, bun.”

Ibunya diam.

Deru menarik napas panjang, namun suaranya tetap bergetar saat melanjutkan.

“Aku baru tau semua yang dia lewatin setelah aku ngebuat dia lari.”

Tangannya mengepal pelan di atas lutut.

“Dan aku…” ia tertawa kecil, pahit sekali. “…aku jadi makin benci sama diriku sendiri.”

Angin malam bergerak perlahan di antara mereka.

Deru menunduk lebih dalam.

“Aku dulu pikir yang paling terluka itu aku.”

Ia tersenyum kecil, tetapi matanya mulai merah.

“Padahal Tala jauh lebih hancur.”

Kalimat itu pecah begitu saja.

Tidak dramatis.

Tidak berlebihan.

Justru karena diucapkan sangat pelan, rasa sakitnya terasa jauh lebih nyata.

“Aku marah banget sama diriku sendiri sampai kadang…” ia berhenti sebentar. “…kadang aku capek hidup.”

Ibunya langsung diam.

Napasnya tertahan pelan mendengar kalimat itu.

Karena akhirnya ia mendengar sendiri sesuatu yang selama ini hanya bisa ia rasakan dari mata anaknya.

Deru memang tersenyum selama ini.

Masih bercanda.

Masih kuliah.

Masih hidup seperti biasa.

Namun ternyata selama bertahun-tahun, anaknya hidup sambil tenggelam diam-diam.

Dan tidak ada ibu mana pun yang siap mendengar itu.

“Aku pikir…” suara Deru mulai bergetar. “Kalau aku terus nyakitin diri sendiri, mungkin rasa bersalahnya bakal hilang.”

Air matanya jatuh pelan.

“Aku pikir aku pantas capek.”

Ibunya langsung memegang tangan Deru pelan.

Hangat.

Sangat hangat.

Ibunya menatap wajah anaknya lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan,

“Bunda kecewa sama kamu waktu itu.”

Deru terdiam.

Ibunya mengusap jemarinya sendiri gugup.

“Bunda kecewa karena kamu nyakitin orang yang kamu sayang.”

Suaranya mulai bergetar.

“Dan bunda tau kamu juga tau itu salah.”

Deru menunduk makin dalam.

Air matanya jatuh satu per satu ke punggung tangannya sendiri.

“Bunda marah,” ulang ibunya pelan. “Karena kamu membiarkan seseorang yang kamu cintai nanggung semuanya sendirian.”

Napas Deru mulai tidak teratur.

Karena tidak ada satu pun kalimat itu yang salah.

“Tapi…” suara ibunya perlahan pecah. “Bunda juga marah sama diri mama sendiri.”

Deru langsung mengangkat wajah.

Ibunya tersenyum kecil, tetapi matanya sudah penuh air mata.

“Karena ngebiarin anak bunda juga hancur selama itu.”

Kalimat itu membuat dada Deru langsung runtuh.

Ibunya tertawa kecil sambil menghapus air matanya sendiri.

“Kamu pikir bunda nggak lihat? Kamu jadi pendiam, kamu pulang ke rumah tapi rasanya kosong. Kamu senyum, tapi mata kamu capek banget.”

Suara ibunya mulai bergetar semakin kuat.

“Kadang bunda bangun malam terus takut sendiri…” Suaranya pecah.

“…takut anak bunda sebenarnya udah nggak mau hidup.”

Dan kalimat itu menghancurkan Deru seketika.

Karena selama ini ia pikir ia berhasil menyembunyikan semuanya.

Ternyata tidak.

Seorang ibu selalu tahu.

Selalu.

Deru langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Napasnya mulai berantakan.

“Aku capek, bun…”

Kalimat itu keluar seperti tangisan kecil.

“Aku capek hidup sambil nyalahin diri sendiri terus…”

Tangisnya mulai pecah pelan.

“Aku capek bangun tiap hari sambil mikir aku manusia paling jahat di hidup seseorang.”

Ibunya langsung menggenggam tangan Deru erat.

Hangat.

Gemetar.

“Bunda tau.”

Dan dua kata sederhana itu membuat Deru menangis lebih keras.

“Bunda tau kamu nyesel.”

“Bunda tau kamu sayang sama dia.”

“Bunda tau kamu hancur.”

Ibunya ikut menangis sekarang.

“Tapi Nak…” suaranya bergetar hebat. “Kalau kamu terus nyakitin diri sendiri begini, siapa yang nyembuhin anak bunda?”

Hening panjang jatuh setelah itu.

Hanya ada suara tangis kecil yang sesekali pecah di antara mereka.

Sampai perlahan, napas Deru mulai sedikit tenang.

Ia mengusap wajahnya sendiri pelan, meski matanya masih merah.

Dan entah kenapa, setelah bertahun-tahun menahan semuanya sendirian, malam itu akhirnya ia ingin bercerita.

Bukan tentang rasa bersalahnya.

Melainkan tentang Arutala.

Tentang seseorang yang masih ia cintai dengan cara paling manusiawi dan menyakitkan.

Deru tertawa kecil sambil menatap lantai teras.

“Bun…”

“Hm?”

“Tala sekarang beda banget.”

Ibunya diam mendengarkan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang lembut muncul di wajah Deru ketika menyebut nama itu.

Sesuatu yang nyaris seperti bahagia.

“Dia udah tinggi sekarang.”

Ia terkekeh kecil sendiri.

“Tinggi banget malah.”

Ibunya ikut tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi anaknya.

“Rambutnya merah terang.”

“Oh ya? Pasti kontras banget sama kulitnya yang putih bersih.”

Deru tertawa kecil.

Namun tawanya kali ini tidak pahit.

Justru hangat.

Seperti seseorang yang sedang mengingat rumah.

Dia cantik banget sekarang, bun…”

Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan kagum.

Deru menunduk malu setelah mengatakannya sendiri.

Bahkan telinganya mulai memerah.

Dan itu membuat ibunya hampir menangis lagi karena sudah terlalu lama ia tidak melihat anaknya semanusia ini.

“Cara dia ngomong sekarang tenang banget.”

“Mukanya juga…” Deru berhenti sebentar sambil tersenyum kecil sendiri. “Entah ya… kayak orang yang habis perang panjang.”

Angin malam bergerak pelan di rambutnya.

“Tapi dia kuat banget. Cantik lagi..”

Suara Deru kembali mengecil.

“Aku nggak tau gimana dia bisa bertahan sejauh itu.”

Ia mengusap matanya cepat.

“Dan yang bikin aku makin sakit…”

Deru tertawa kecil sambil menahan tangis lagi.

“…dia masih bisa senyum ke aku.”

Ibunya memandangi anaknya diam-diam.

Dan akhirnya ia sadar.

Deru tidak pernah berhenti mencintai Arutala.

Bahkan di tahun-tahun ketika mereka saling melukai.

Bahkan ketika anaknya hidup sambil membenci dirinya sendiri.

Perasaan itu tetap ada.

Tetap hidup.

Tetap tinggal di tempat yang sama.

“Aku kira dia bakal benci banget sama aku, bun.”

“Tapi waktu dia senyum di bandara…”

Deru menutup wajahnya sebentar sambil tertawa malu sendiri.

“Aku hampir nangis di situ.”

Ibunya ikut tertawa kecil di sela air mata.

“Masih salting ya ternyata.”

“Bun…”

“Tuh kan merah kupingnya.”

Deru langsung menunduk makin malu sambil mengusap tengkuknya sendiri.

Dan sesaat, suasana yang sejak tadi penuh luka perlahan berubah menjadi lebih hangat.

Lebih hidup.

Seperti ada sesuatu di dalam diri Deru yang akhirnya kembali pulang.

“Aku seneng dia masih hidup.”

Kalimat itu keluar sangat pelan.

Namun kali ini tidak terdengar putus asa.

Tidak lagi seperti seseorang yang sedang kehilangan.

Melainkan seperti seseorang yang akhirnya diberi kesempatan kedua oleh hidup.

Ibunya memegang tangan Deru pelan.

“Kalau begitu,” katanya lirih sambil tersenyum penuh air mata, “jangan sia-siain kesempatan itu lagi.”

Dan malam itu, di bawah langit yang masih basah oleh hujan, Deru duduk bersama ibunya sambil menceritakan kembali seseorang yang selama ini tetap hidup di hatinya.

Bukan lagi sebagai luka.

Melainkan sebagai rumah yang akhirnya ia temukan kembali.


메타데이터
post_id
dbb8a9b1dc06
slug
bunda-dan-secangkir-teh-dbb8a9b1dc06
url
https://medium.com/@thepuppeteers/bunda-dan-secangkir-teh-dbb8a9b1dc06
canonical_url
https://medium.com/@thepuppeteers/bunda-dan-secangkir-teh-dbb8a9b1dc06
author_url
https://medium.com/@thepuppeteers
status
ok
fetched_at
2026-07-10 14:51:46