← Back to list

Tak perlu payung

“Apa yang kamu pikirkan dengan wajah serius itu, Ray?”

Nurul Wahdaniah · 2026-03-13 23:10 · 1 claps · 1.8 min read
#romance #sidestory #masa-lalu #gamon
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Tak perlu payung

“Apa yang kamu pikirkan dengan wajah serius itu, Ray?”

Netra coklat gelap itu memandang dengan wajah kebingungan, untaian rambut pendek sebahunya yang berwarna hitam pekat tertiup angin halus. Aroma parfum yang sangat familiar menusuk ubun-ubunnya yang sudah diambang pikiran normal. Entahlah, lelaki dengan potongan rambut bro flow itu perlahan mempusatkan pikirannya ke kehidupan nyata yang sedang ada di depan matanya. “Tidak, aku hanya berpikir sekilas.”

Perlahan angin bertiup lebih leluasa, menutup sebagian pandangan sang lelaki dengan rambutnya yang tipis. Ia merasa sangat bersalah dengan gadis ceria yang ada dihadapannya, seolah dunia membuatnya menjadi pemeran antagonis sebenarnya. Namun begitulah dia selama 7 tahun terakhir, pertemuan singkat ini akan segera ia akhiri agar berhenti membuatnya merasa bersalah pada siapapun.

“Kak Sheila cerita banyak tentang kamu,” ucap gadis itu memecah keheningan. Tampak tertarik, lelaki itu membalas dengan pelan, “Oh ya? Seberapa banyak yang Kakak ceritakan tentang aku?”

Gadis itu terkekeh pelan, seolah paham akan banyak hal dengan lelaki yang baru ia kenal hari ini. “Banyak hal, termasuk kamu yang menolak banyak perempuan pada kencan pertamanya.”

Ray yang mendengar hal tersebut mengalihkan pandangannya pada danau besar yang ada di hadapan mereka. “Maaf jika Kakakku memaksamu untuk berkenalan denganku. Sejujurnya aku takut menyakiti perempuan-perempuan baik yang Kakak kenalkan karena tidak bisa memberi kepastian.”

“Aku tak masalah karena aku kesini hanya mengisi waktu luangku. Kak Sheila orang baik, sulit untuk tidak menerima tawarannya,” jawab gadis itu tegas. Tidak ada rasa mengintimidasi yang biasanya membuat Ray merasa bersalah. Kecanggungan benar-benar menyelimuti mereka berdua yang sedang berdiri di pinggir Kota dengan pemandangan danau biru yang cukup luas.

“Yah, kakak cukup khawatir denganku,” ucapnya disetujui dengan anggukan gadis disebelahnya. Penuh rasa penasaran, gadis itu kembali melempar pertanyaan, “Apa karena seorang perempuan?”

Ray tersenyum pahit, “Ya, karena cinta pertamaku.”

Kalimat tersebut membuat dirinya sendiri linglung, kepalanya terasa berat untuk seketika. Ada banyak hal yang tidak pernah ia lupakan namun tetap terasa berat untuk mengingatnya.

“Lalu, kenapa tidak bersamanya? Apakah kamu kehilangan kontak dengannya? Atau dia memiliki kekasih lain?” timpal gadis dengan rambut pendek itu. Angin yang semula meniup mereka berdua, mulai disertai rintik hujan yang perlahan mengguyur bumi.

“Alangkah lebih baik jika memang begitu.”

Tidak ada jawaban, seolah mengerti apa yang baru saja lelaki yang ada disebelahnya tersebut. Gadis itu mencari payung kecil di dalam tasnya dan mulai membukanya untuk menutupi kepala mereka berdua, “Ayok pergi berte-”

“Jika bisa memutar waktu, aku akan berkali-kali mencari kesempatan untuk berkenalan dengannya, aku tidak akan pernah menyesal meski tahu bahwa aku akan selalu hidup di masalalu.” Ray memandang gadis tersebut dengan tersenyum kecil, raut wajahnya penuh dengan kesedihan, seolah hujan mewakili seluruh perasaannya. “Pergilah, aku tak perlu payung untuk menutupi kepala yang terlanjur basah ini.”

Gadis itu menurutinya meski penuh kebingungan.

“Aku yakin cinta pertamanya sehebat itu.”

Side story : Tiga Hari Lagi (Wattpad @ruihchanw)


메타데이터
post_id
dbc154ac78df
slug
tak-perlu-payung-dbc154ac78df
url
https://medium.com/@wahdaniahn99/tak-perlu-payung-dbc154ac78df
canonical_url
https://medium.com/@wahdaniahn99/tak-perlu-payung-dbc154ac78df
author_url
https://medium.com/@wahdaniahn99
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29