← Back to list

Review Novel Entrok — Okky Madasari | Berpacu Dalam Emosi

Sebuah novel karya Okky Madasari yang terbit pada 5 April 2010. Siapa sangka 288 halaman bisa bikin emosi terpacu sampai rasanya jantung…

konfius · 2025-05-22 04:29 · 0 claps · 2.8 min read
#entrok #novel-review #okky-madasari #review-buku
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Review Novel Entrok — Okky Madasari | Berpacu Dalam Emosi

Sebuah novel karya Okky Madasari yang terbit pada 5 April 2010. Siapa sangka 288 halaman bisa bikin emosi terpacu sampai rasanya jantung mau meledak kalau nggak dikasih jeda sebentar. Agak lebay, tapi emang ini yang aku rasain saat baca Entrok.

Novel ini diceritakan dengan dua sudut pandang, dari Sumarni dan Rahayu. Di mulai dari kisah Sumarni kecil, seorang anak perempuan miskin yang punya keinginan memiliki entrok (beha atau bra) yang pada saat itu adalah benda mewah yang cukup mahal.

Demi bisa membeli entrok, Sumarni dengan usaha dan keberaniannya menjadi perempuan pertama sebagai kuli panggul demi mendapatkan uang. Tak hanya sampai di situ, dia juga punya mimpi untuk mendapatkan lebih banyak uang, lalu saat menikah dia ingin agar anaknya kelak tidak seperti dirinya yang bodoh dan buta huruf. Dia ingin anaknya berpendidikan dan jadi pegawai. Sedikit demi sedikit dia mengumpulkan modal dan berjualan.

Tahun berganti tahun, Sumarni dikaruniai seorang anak bernama Rahayu. Seperti keinginannya, Rahayu mendapatkan pendidikan bahkan sampai kuliah di sekolah negeri. Sayangnya, mereka memiliki komunikasi yang buruk karena perbedaan pemikiran. Hingga obrolan mereka selalu berujung pertengkaran.

Novel menarik yang mengambil latar belakang tahun 1950–1999. Banyak hal yang diangkat dalam novel ini. Tentang keberanian dan usaha mengubah keadaan meskipun itu adalah sesuatu yang dianggap tabu. Tentang kehidupan bertetangga, tentang orang-orang yang sewenang-wenang karena merasa punya kuasa. Beberapa hal mungkin masih relate dengan kehidupan saat ini.

Apalagi plot twist di akhir cerita. Berawal dari entrok, berakhir jadi takgendong cucuku. Energiku rasanya hilang tersedot saat baca endingnya. Meskipun punya novel lain yang sudah siap aku baca, tapi karena ending novel ini aku kehilangan minat.

Ini novel isinya orang-orang nggak bener😭 Bikin emosi semuaaaaa.

Beneran marah aku tuh sama tiap orang di sini. Aku marah pada tetangga yang terus-terusan menuduh Marni ini itu, tapi tetap aja tuh masih minta bantuan Marni. Aku marah pada Pak Waji, guru agama yang bukannya ngajarin pelan-pelan malah langsung nge-judge. Apalagi di depan anak didiknya langsung. Udah tau riba, tapi malah hutang nggak dibayar. Gara-gara dia juga Rahayu jadi emosian sama ibunya. Padahal aku yakin, Sumarni adalah tipe yang mau mendengarkan. Dia bahkan masih taat menjalankan ajaran Simboknya untuk berdoa saat tengah malam. Sumarni hanya tidak tahu. Benar apa katanya, gimana mau menyembah, kenal aja nggak.

Aku marah pada tentara yang selalu memanfaatkan keadaan dan memaksa orang-orang untuk membayar sejumlah uang. Bukannya aman, malah terancam. Aku marah pada Teja, suaminya Sumarni, lelaki bajingan yang setelah mati pun masih menyusahkan orang lain. Aku marah pada selingkuhannya Teja, nggak cuma tamak, dia juga nelantarin anak. Aku bahkan marah pada Sumarni karena terlalu sabar. Aku marah pada Rahayu, aku pikir setelah dia dewasa, bahkan jadi guru, dia akan lebih dulu mengajarkan agama pada Ibunya. Tapi nggak. Dia justru menghindar bahkan tak menghubungi orang tuanya bertahun-tahun. Meskipun aku bisa memposisikan Rahayu, tak mudah menghilangkan rasa benci pada orang tua sendiri. Yah, setidaknya di prolog kita tau bahwa suatu hari Rahayu bersikap baik pada Ibunya.

Aku salut sama penulisnya, Okky Madasari berhasil membuat pembacanya (khususnya aku) marah-marah saat baca novel padahal tokohnya cuma pasrah. Sayangnya, beberapa kata nggak ada catatan kakinya, jadi buat yang nggak tahu bahasa jawa harus nyari dulu di google.

Buat yang ingin marah-marah, novel ini sangat aku rekomendasikan!

Blurb:

Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.

Adakah yang salah jika mereka berbeda?

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.


메타데이터
post_id
dbc3a40dce69
slug
review-novel-entrok-okky-madasari-berpacu-dalam-emosi-dbc3a40dce69
url
https://medium.com/@konfius_/review-novel-entrok-okky-madasari-berpacu-dalam-emosi-dbc3a40dce69
canonical_url
https://medium.com/@konfius_/review-novel-entrok-okky-madasari-berpacu-dalam-emosi-dbc3a40dce69
author_url
https://medium.com/@konfius_
status
ok
fetched_at
2026-07-19 19:20:35