← Back to list

KEMUSTAHILAN BERSATU & KETAKSETARAAN DENGAN TUHAN

Ada yang meyakini bahwa kita bisa menyatu dengan Tuhan, padahal tak bisa.

Seremonia · 2021-01-05 05:54 · 0 claps · 6.3 min read
#penyatuan #kesatuan #setara #keterpisahan #sebab-akibat
Open on Medium ↗

KEMUSTAHILAN BERSATU & KETAKSETARAAN DENGAN TUHAN

Ada yang meyakini bahwa kita bisa menyatu dengan Tuhan, padahal tak bisa.

Bahkan ada yang mengakui bahwa dirinya adalah Tuhan. Bahwa kita adalah Tuhan.

Sebelumnya pernah dibahas di “Dapatkah kita menyatu dengan Tuhan?”

Saya akan membahas dari sudut pandang terjauh sampai sudut pandang terdekat yang tiada lebih dekat lagi kepada-Nya kecuali Diri-Nya sendiri.

Agar jelas bahwa dari sudut manapun, yang masuk akal atau melalui jalan absurd tetap berakhir kepada kenyataan bahwa kita tak bisa menyatu dengan Tuhan & kita bukan Tuhan

ADA DUA HAL UTAMA disini.

  1. meyakini penyatuan kita dengan-Nya yang mustahil!
  2. meyakini bahwa kita adalah Tuhan yang juga salah!

Point 1 sebagai cara/jalan untuk mengukuhkan point 2? Yang juga salah. Ataukah sekedar point 1 tanpa menuhankan diri sendiri? Tetapi juga salah!

Bahwa kita menyatu? Tidak! Bahwa kita setara? Tidak!

Serba Meliputi

Atau dikatakan bahwa menyatunya seperti gula ke dalam air, garam ke laut, atau seperti ombak dan laut, atau seperti air & es?

Ketika mereka berkata bahwa "kita dapat menyatu dengan Tuhan", bahwa sebenarnya kita tak pernah terpisah dari-Nya, lalu bagaimana dikatakan kita DAPAT MENYATU dengan-Nya. Seolah pernah terjadi keterpisahan di antara kita dan Tuhan, sedangkan Tuhan selalu meliputi diri kita!

Mengatakan bahwa kita dapat menyatu dengan-Nya, sama saja menegaskan bahwa kita pernah terpisah tak menyatu tak diliputi oleh-Nya. Ini suatu penegasan yang absurd.

Maksud dari "me-nya-tu" harus dipahami ulang secara benar agar tak menyiratkan keterpisahan.

Bahwa menyatu itu bukan dari keterpisahan menuju ke kesatuan, melainkan suatu proses menuju pelenyapan - kembalinya kita kepada-Nya yang tidak ada hubungannya dengan proses penyatuan karena selalu menyatu dengan-Nya

TELAH JELAS KITA TAK BISA MENYATU KARENA SELALU MENYATU DALAM LIPUTAN KETUNGGALAN-NYA!

Dengan menegaskan bisanya kita bersatu dengan-Nya justru mencederai iman kita bahwa Tuhan sempat terpisah antara Zat-Nya dengan Sifat-Nya, bahwa Tuhan pernah mengalami ketiadaan KeTunggalan? SALAH! KARENA TUHAN SELALU SEBAGAI KETUNGGALAN!

Jadi jangan katakan kita bisa menyatu, melainkan kita selalu diliputi oleh-Nya

Atau upaya menuhankan diri sendiri?

Lalu, berlanjut ke hal lain, bahwa jika demikian bahwa kita selalu diliputi oleh-Nya, dan bahwa dengan KeTunggalan-Nya, maka segala ciptaan-Nya adalah tiada lain selain dari Dia sendiri. Disini mulailah ketidaktelitian kita.

Kesetaraan

🧩 Sebuah aksioma menegaskan "sesuatu adalah setara dengan jumlah bagian-bagiannya".

Jikapun dikatakan Tuhan menciptakan segala yang ada, maka jumlah keseluruhan dari yang ada masih tidak setara dengan Tuhan, sehingga Tuhan bukan salah satu dari ciptaan-Nya, juga Tuhan bukan segala ciptaan-Nya, juga Tuhan tidak setara dengan salah satu/beberapa/semua dari ciptaan-Nya.

Jadi bagaimanapun juga, tiada peluang bagi ciptaan-Nya menegaskan setara dengan Tuhan. Bahkan jika keseluruhan ciptaan-Nya bersatu padu sebagai satu kesatuan, itupun tidak sebanding dengan Tuhan.

Maha Sadar

Bahwa Tuhan itu Ada, lalu apakah kita tiada padahal kita menyadari keberadaan diri kita?

Bahwa Tuhan itu Hidup, lalu apakah kita berdiam diri, padahal kita menyadari kehidupan yang kita alami?

Bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, lalu apakah kita tiada daya, padahal kita menyadari kekuatan penuh emosional dari diri kita sendiri.

Bahwa Tuhan itu Maha Rasa, Maha Sadar, lalu apakah kita tiada rasa ataukah kita tak sadar, padahal kita menyadari kehidupan yang kita alami dan kita sadar diri menyadari bahwa "aku ada"?

Dengan segala KeMahaan-Nya, lalu apakah kita tak sadar diri?

Jika kita sadar diri, sedangkan tiada yang lain selain Dia, maka siapakah yang sadar diri? Tuhankah sadar sebagai kita?

🧩 Karena aksioma menegaskan, tak mungkin sesuatu melampaui dirinya sendiri begitu saja tanpa penambahan dari yang lain.

Lalu tak akan pernah ada kesadaran lain selain dari kesadaran Tuhan, dan selanjutnya ... berarti diri kita yang sadar sebenarnya adalah Tuhan yang sadar, seperti yang dikatakan oleh Rupert Spira "we are god"?

Ini bisa di ibaratkan seperti ketika kita bermimpi, maka di alam mimpi kita merasa sebagai sesuatu yang lain dan ketika mimpinya lenyap, mendadak kita sadar bahwa yang bermimpi tadi adalah kita sendiri? Sedemikian terputusnya kita di alam mimpi sampai tidak menyadari bahwa kita di alam mimpi adalah kita sendiri yang sedang sadar tak sedang bermimpi?

Ataukah mereka yang sadar akan Tuhan-Nya adalah seperti mereka yang sedang bermimpi menyadari sosok kita yang adalah mereka sendiri jika dalam keadaan sadar, padahal masih juga di alam mimpi? Mereka bermimpi menyadari Tuhan di alam mimpi?

TIDAK BENAR SEMUANYA! Karena jika inipun dipaksakan diterima, bahkan kita di alam mimpi-pun tak memiliki kekuasaan dan bergantung kepada yang memimpikannya. Bahkan yang di alam mimpi tak menyadari kalau sedang bermimpi dan bahkan jika sosok yang di alam mimpi-pun menyadari sedang bermimpi tetapi mereka terjebak di alam mimpi. Sekali lagi tiada kesetaraan.

Bahkan pula jika dikatakan, Tuhan membatasi Diri-Nya sendiri, Tuhan membagi Diri-Nya sendiri agar menampakkan kita yang sadar.

Kata mereka, kita adalah gambaran Tuhan, kita ada dalam pemikiran/bayangan Tuhan. Tetapi mengapa kita pernah tak mengenali diri sendiri?

Tetapi Tuhan mengingatkan ...

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

هَلْ أَتٰى عَلَى الْإِنْسٰنِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَّذْكُورًا hal ataa 'alal-ingsaani hiinum minad-dahri lam yakung syai`am mazkuuroo

🌿 "Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (QS. Al-Insan 76: Ayat 1)

  • Via Al-Qur'an Indonesia http[://]quran-id[.]com

🌿Jadi, bahkan kalau dibilang kesadaran kita dipinjami oleh-Nya. Sebenarnya semua adalah pinjaman dari-Nya. Namun pernah ada saat ketika kita tidak menyadari diri kita. Lalu dimanakah kesetaraan kita dengan-Nya? Tetap saja kita tak setara!

Tuhan Besar & Tuhan Kecil

Lalu mereka berkata bahwa kita itu tuhan kecil, sedangkan Tuhan itu sendiri adalah Tuhan Besar. Kita adalah kesadaran kecil dan Tuhan adalah kesadaran besar, lalu apakah ini menyetarakan di antara kita dengan Tuhan? Tidak!

Sebab & akibat menegaskan kebergantungan akibat terhadap sebabnya, sehingga akibat tiada setara dengan sebab.

Jika ada tuhan kecil maka berarti ada sebab kecil yang disebabkan oleh sebab yang besar. Ini kemustahilan, suatu sebab dari suatu sebab, melainkan sebenarnya seharusnya adalah akibat kecil dari suatu sebab Yang Maha Besar

INTINYA:

  1. KITA TAK PERNAH BISA MENYATU KARENA MEMANG KITA SELALU MENYATU DALAM LIPUTANNYA. Menegaskan KEBISAAN penyatuan sama saja menegaskan pernah terpisahnya kita dari Tuhan yang berarti tidak mengimani "KeTunggalan-Nya", yang berarti tak mengimani "keEsa-an-Nya yang tak terpisahkan menjadi dua", dan hal ini tidak benar

  2. Kita selalu merupakan akibat dari sebab yang mutlak, sehingga selain kita tak setara dengan Tuhan, kita juga bukan sebab seberapersenpun dari Tuhan, melainkan hanya akibat! Kita bukan Tuhan.

Ketidaktajaman memahami ini semua, benar-benar menggiring kita kepada kesesatan dalam kebenaran. Suatu keadaan kita yang benar tetapi tidak tepat.

Semoga kita tidak hanya benar tetapi juga tepat (lurus)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلٰى شَىْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلٰى مَوْلٰىهُ أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِى هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلٰى صِرٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ wa dhoroballohu masalar rojulaini ahaduhumaaa abkamu laa yaqdiru 'alaa syaiiw wa huwa kallun 'alaa maulaah, ainamaa yuwajjihhu laa yati bikhoirin hal yastawii huwa wa may ya`muru bil-'adli wa huwa 'alaa shiroothim mustaqiim

"Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu dan dia menjadi beban penanggungnya, ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di jalan yang lurus?" (QS. An-Nahl 16: Ayat 76)

  • Via Al-Qur'an Indonesia http[://]quran-id[.]com

Mengalami suatu pencerahan bagai cairnya es di air, tidak berarti pula menegaskan menyatunya es dengan air. Suatu pengungkapan melalui suatu pengalaman juga harus dipahami secara tajam, agar suatu pengalaman pencerahan tidak menegaskan suatu kesesatan berpikir.

Inilah suatu penyucian Tuhan sebenar-benarnya penyucian tanpa terjebak oleh pengalaman kebenaran yang dipahami secara salah. Inilah jalan yang lurus yang bergantung kepada tali kebenaran yang kuat.

🌿 Karena sebaik dan sebenar apapun kita, belum tentu tepat. Kita bukanlah Sang Kebenaran, melainkan hanya sekedar benar yang jauh dari tepat. Sang Kebenaran yang meliputi segalanya lah yang tepat. Karena sudut pandang kebenaran Maha Luas sehingga menyadari segalanya dengan jelas dan tepatlah kebenaran dari-Nya.

🌿 Sedangkan kita hanya memiliki sudut pandang yang sempit, sehingga hanya sebatas menjadi benar yang belum tentu tepat.

🌿 Kita hanya bisa sebatas menegakkan kebaikan tanpa keadilan, sehingga kebaikan kita tidak selalu tepat sasaran, tidak selalu lurus. Kecuali mereka yang memohon petunjuk dari-Nya, selalu & selalu memohon kepada-Nya tanpa sedikitpun pernah merasa bijaksana, maka semoga Tuhan selalu memberkahi ketepatan, suatu kelurusan.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُۥٓ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى ۗ وَإِلَى اللَّهِ عٰقِبَةُ الْأُمُورِ wa may yuslim waj-hahuuu ilallohi wa huwa muhsinung fa qodistamsaka bil-'urwatil-wusqoo, wa ilallohi 'aaqibatul-umuur

"Dan barang siapa berserah diri kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan." (QS. Luqman 31: Ayat 22)

  • Via Al-Qur'an Indonesia http[://]quran-id[.]com

Sebegitu bingungnya mereka yang mengalami pencerahan tentang diri mereka, lalu bertanya “siapakah aku Wahai Tuhan”? Lalu Tuhan menjawab “Aku adalah kamu, dan kamu adalah Aku yang tak terpisahkan | JIKA TUHAN YANG BERKATA MAKA ITU HAK TUHAN karena memang semua adalah miliknya yang merupakan satu KeTunggalan Diri sebagai Tuhan. | Tetapi di pihak kita tetap harus berkata “Maha Suci Tuhan, sesungguhnya aku bingung menilai diriku karena sebegitu tiada apa-apanya aku dibanding Engkau. aku bingung karena aku merasa ada tetapi tak sebanding se zarrahpun dengan kenyataan-Mu | Tetapi jangan yakini bahwa “Tuhan berkata demikian … berarti aku Tuhan”

Ini bukan karena menjaga etika/sopan-santun/kehormatan/kepantasan/kepatutan/atau apapun itu … tetapi memang kebenaran bahwa:

KITA TAK PERNAH BISA MENYATU DENGAN TUHAN & KITA BUKAN TUHAN. KITA HANYA DEKAT DAN SEMAKIN DEKAT KEPADA-NYA!


메타데이터
post_id
dbc65a8c1cd8
slug
kemustahilan-penyatuan-ketaksetaraan-dengan-tuhan-dbc65a8c1cd8
url
https://medium.com/@seremonia/kemustahilan-penyatuan-ketaksetaraan-dengan-tuhan-dbc65a8c1cd8
canonical_url
https://medium.com/@seremonia/kemustahilan-penyatuan-ketaksetaraan-dengan-tuhan-dbc65a8c1cd8
author_url
https://medium.com/@seremonia
status
ok
fetched_at
2026-07-16 09:15:59