← Back to list

Mimpi Buruk Para Terabaikan

Ulasan Film Monster Pabrik Rambut Karya Edwin

Ridho Ismail in Maratonton · 2026-06-06 00:26 · 121 claps · 4.5 min read
#ulasan-film #maratonton #edwin #indonesian-horror-movie #berlinale
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

ULASAN FILM

Mimpi Buruk Para Terabaikan

Ulasan Film Monster Pabrik Rambut Karya Edwin

Sumber Gambar: Palari Films

Sumber Gambar: Palari Films

Realita Para Pekerja

Kehidupan modern semakin memaksa kita untuk bekerja lebih keras. Sebenarnya, kebutuhan hidup kurang lebih masih sama, akan tetapi harganya sudah tidak setara lagi. Angka rupiah melemah, dan gaji masih sama. Mau tidak mau, banyak orang mulai cari sampingan atau menambah jam kerja.

Mencari kerja sampingan atau menambah jam kerja, tentu bukanlah perkara mudah. Tenaga semakin terkuras, dan ada kalanya kesehatan semakin menurun. Bekerja sampingan sembari memiliki pekerjaan utama bukanlah hal yang bisa dilakukan manusia pada umumnya. Hal ini juga bersanding dengan penambahan jam kerja yang seringnya tidak memiliki kenaikan gaji yang signifikan.

Tipikal orang tersebut selalu memiliki harapan dan mimpi yang besar untuk dirinya ataupun untuk orang-orang di sekitarnya — anak, istri, orang tua, dan yang lainnya. Seiring berkembangnya zaman, hal tersebut menjadi lazim adanya. Bahkan sudah menjadi budaya baru.

Ironisnya, banyak perusahaan yang masih memberi para pekerjanya gaji di bawah rata-rata. Di kondisi ekonomi yang tidak menentu ini, hal tersebut bukanlah sebuah kebajikan. Para pemilik kapital seakan-akan hanya ingin mengeksploitasi para pekerja dengan gaji rendah, tapi ada iming-iming upah lembur. Akal-akalan pemiliki modal sering kali berkutat di ranah hal tersebut. Gaji pokok kecil, tapi tunjangan dihiperbola sampai sedemikian rupa.

Sebab, jika gaji pokok saja sudah cukup, maka tentu saja banyak orang tidak perlu lembur dan memaksakan dirinya untuk bekerja lebih gila. Akan tetapi, gila kerja di negara ini sering kali dipoles sedemikian rupa bukan sebagai mekanisme eksploitatif, melainkan sebagai prestasi tersendiri. Di sisi lain, kalimat-kalimat motivasi dari filsuf-filsuf terdahulu sering kali ditekankan pada benak para pekerja.

Pada saat yang bersamaan, korporasi bajingan sering memberikan dogma-dogma ketakutan dan menekankan ekologis kekeluargaan. Dua hal tersebut secara tidak langsung menjebak para pekerja dalam dilematis sosial akan hidupnya. Ketakutan untuk pergi karena takut tidak ada yang menerima atau ketakutan di pekerjaan selanjutnya bila tidak mendapat lingkungan yang suportif seperti sedia kala.

Maka dari itu, Edwin hadir untuk mengkritik kapitalisme dengan menggunakan film medium Monster Pabrik Rambut. Dan nyatanya film ini tembus pada Berlin International Film Festival 2026 atau lebih familiar disebut dengan Berlinale.

Monster Paberik Ramboet

Edwin dalam filmnya kali ini membawa nuansa ala film horor 80-an dan dikombinasikan dengan konsep B-Movie. Tentu banyak orang yang tidak senang akan metode cut to cut yang ngebut, akhir yang tidak konklusional, plothole yang dibiarkan menganga begitu saja, dan segala hal yang dirasa mentah.

Namun, dalam pengerjaan Monster Pabrik Rambut, ada dua nama yang familiar dan menonjol yaitu Eka Kurniawan dan Tumpal Tampubolon. Film ini tidak terasa seperti formula film horor pada umumnya yang hanya mencomot dari thread viral, konteks religius, dan mitos daerah. Film ini muncul dengan absurditas dan konsep surealistik yang beruntun.

Monster Pabrik Rambut berfokus pada tiga saudara yang diperankan dengan cukup baik oleh Rachel Amanda yang memerankan peran kakak tertua bernama Putri, Lutesha yang memerankan anak kedua bernama Ida, dan Iqbaal Ramadhan yang memerankan peran Bona yaitu adik bungsu yang memiliki genetik mutan — mampu meregenerasi dirinya sendiri.

Monster Pabrik Rambut dibuka dengan adegan bunuh diri dari ibu ketiga saudara tersebut. Kemudian film berlanjut dengan investigasi akan pabrik rambut yang bernama PT. Raga Abadi. Pemilik dari pabrik rambut tersebut adalah Maryati yang diperankan dengan sangat elok oleh Didik Nini Thowok. Penggambaran karakter Maryati di film ini seakan-akan mengisyaratkan atas fluiditas gender.

Kita semakin dibuat penasaran setelah terjadi beberapa insiden kecelakaan kerja dan bunuh diri. Hal ini dipicu oleh kurangnya tidur akibat aktivitas lembur yang berlebihan oleh para karyawan. Kurangnya tidur tentu mengakibatkan kurang fokus dan kondisi fisik yang menurun.

Kritik dan sinisme terhadap kapitalisme terselip di sini. Beberapa adegan dipaparkan bahwa karyawan bangga untuk tidak tidur berhari-hari. Selain itu, adanya reward bintang yang prestis menjadikan karyawan proud akan dirinya sendiri. Alhasil, mereka menghiraukan tubuhnya sendiri dan terus menerus memforsir dirinya pada taraf yang brutal.

Monster Pabrik Rambut seakan-akan keluar dari pakem-pakem yang ada. Set lokasi dibuat jauh dari kondisi global dan berfokus pada sebuah pabrik tempat manusia bekerja. Edwin seakan-akan menekankan bahwa nuansa horor tidak selamanya muncul di hutan, daerah angker, pegunungan, tapi bisa saja nuansa horor muncul di ruang kerja yang selama ini dianggap aman.

Memang, ide liar Edwin dan kawan-kawannya tidak selamanya mampu ditangkap oleh banyak orang. Film ini berhamburan semiotika-semiotika, baik secara literal maupun estetika sinematografis. Pemaknaan ini tentunya muncul setelah kita paham akan konteks yang sebenarnya ditekankan.

Dari sisi dialog, kekakuan yang terus dipertebal terasa membangun lingkungan yang terisolir jauh dari kehidupan manusia modern. Dari sudut pandang sinematografis, rasanya sudah cukup estetis dengan banyak pengadeganan surealistik dan terasa sesuai dengan visi film. Monster Pabrik Rambut terasa mengambil referensi film seperti The Fly, The Substance, The Thing, dan film-film yang serupa.

Tentu film ini menuai banyak kritik dan kekurangan. Sangat terasa bahwa banyak plothole yang tidak diselesaikan dengan proper. Direksi yang ngebut dan kesan 80-an yang menonjol. Ide liar ini tentu menuai pro dan kontra, hal tersebut sangat wajar adanya.

Namun, pesan dan kritik sosial di film ini masih bisa disampaikan. Film ini tidak hanya berfokus menyalahkan karakter, tapi lebih dalam lagi yaitu memotret sistem yang bobrok. Ketidakberdayaan buruh atas upah yang pas-pasan menjadikan budaya gila kerja ditekankan lebih dalam.

Meskipun terdapat perwujudan monster dalam film ini, monster yang sesungguhnya adalah sistem yang menghimpit kehidupan manusia. Banyak karakter di film ini ditekankan pada ketiadaan pilihan hidup. Kondisi penerimaan ini adalah hasil dari rententan eksploitasi dan pemberian dogma-dogma ketakutan yang beruntun.

Pemaknaan lain juga berada pada kegemaran Maryati bermain dengan maket. Dalam penggambaran ini, Maryati seakan-akan memiliki kuasa yang absolut atas hidup para buruhnya. Hal ini menekankan para korporasi besar sering bermain dengan hidup para pekerjanya.

Ketakutan buruh PT. Raga Abadi atas tidak mampunya melawan di awal berhasil diselesaikan di paruh akhir film. Pengorganisiran buruh menjadi awal inisiasi yang difungsikan untuk menjawab hal-hal aneh yang terjadi di dalam pabrik. Edwin seakan-akan menyadarkan bahwa hari ini, kita para pekerja masih saja dipisahkan oleh beragam sekat atas predikat yang menempel pada seragam. Satu-satunya tujuan akhir dari ketidakadilan ini adalah bersatu dan melawan sistem yang selama ini sudah mengancam banyak nyawa.

Penutup

Bagi banyak orang, Monster Pabrik Rambut tidak mampu memenuhi ekspektasi yang sudah dicanangkan. Banyak orang yang mengkritik dan merasa bahwa film ini terlalu terburu-buru dan hanya berfokus pada ragam estetika yang menuju pada body horror, gore dan sedikit mengesampingkan cerita utamanya.

Akan tetapi, film ini berhasil memberikan kesegaran atas jenuhnya industri film horor di tanah air. Absurditas dan kritik sosial yang diberikan seakan-akan menjadikan film ini terasa unik dan fresh. Namun, sudah bisa dipastikan bahwa absurditas yang dibawakan Monster Pabrik Rambut tidak sampai di radar banyak orang, bahkan pecinta film horor sekalipun.

Terima kasih sudah apresiasi dan membaca sampai akhir. Jika ada kritik, saran, atau ingin berdiskusi, silakan tulis di kolom komentar. Jika suka dengan tulisan saya di Medium, kalian bisa dukung saya di sini.

Sekian dan sampai jumpa!


메타데이터
post_id
dc2c10802d8e
slug
mimpi-buruk-para-terabaikan-dc2c10802d8e
url
https://medium.com/maratonton/mimpi-buruk-para-terabaikan-dc2c10802d8e
canonical_url
https://medium.com/maratonton/mimpi-buruk-para-terabaikan-dc2c10802d8e
author_url
https://medium.com/@ridhoismail
status
ok
fetched_at
2026-06-10 21:21:38