Langgar yang Roboh
Langgar memang sempat roboh. Jemaahnya dibubarkan. Tetapi, tak pernah ada yang kuasa atas apa pun kecuali Tuhan.
Langgar yang Roboh

(Dok. SejarahMu UMY) Foto ini menampilkan Bestuur Muhammadiyah Bagian Yayasan Yogyakarta pada tahun 1921, di masa kepemimpinan Kyai Dahlan (1912–1923). Pada masa ini, pengaruh Muhammadiyah terbatas di karesidenan-karesidenan seperti Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Selain Yogyakarta, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri di kota-kota tersebut pada tahun 1922. Foto ini menggambarkan semangat dan dedikasi para pengurus dalam mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam di wilayah Yogyakarta.
Langgar itu dirobohkan. Jemaahnya berhamburan. Imamnya dituduh melenceng.
Suasana mencekam. Malam makin pekat.
Sisa puing langgar dibiarkan berserak. Bangunan yang tegak itu telah musnah.
Sementara obor-obor kecil yang menyala di sekitar langgar makin redup lalu pelan-pelan mati.
Puluhan orang berdatangan. Mereka mendakwa sang imam sesat. Jemaahnya dipaksa bubar.
Jemaah di langgar itu tak banyak. Mungkin tak sampai puluhan. Tetapi dakwaan sesat itu bak angin puting beliung; ia menyapu bersih, meluluh lantakkan semuanya.
Beruntung. Bersama sang istri dan anaknya, sang imam tak ditinggalkan sendirian.
Sebagian jemaah takut, tetapi masih ada yang tersisa. Mereka yang tersisa memang awam, bahkan yang pergi juga awam.
Pelarangan aktivitas ibadah sekaligus upaya paksa penutupan langgar memusnahkan semuanya. Bahkan sang imam bersama istri dan anaknya ingin pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun, kepergian digagalkan.
Sang imam bersama istri dan anaknya akhirnya kembali.
Langgar kembali dibangun. Ikhtiar sang imam kembali hidup setelah redup.
Padahal keinginan sang imam hanya satu: menghapus kebodohan.
Tetapi tuduhan sesat dan kemarahan sejumlah petinggi agama di sana tak dapat dibendung. Bahkan para orang tua ikut melarang anaknya mengaji di langgar itu.
Banyak orang tak mengerti bahwa tuduhan sesat muncul karena keawaman.
Sadar tak memperoleh ruang berdakwah yang leluasa, sang imam tak kehabisan akal.
Dia pun mengikuti perkumpulan terpelajar Budi Utomo. Diikutinya segala kegiatan di dalamnya. Mulai dari mengorganisir, mendidik hingga muncul keinginan mendirikan persyarikatan.
Semesta memang luhur. Ia tahu kepada siapa harus berpihak dan kepada siapa harus menolak.
Malam yang pekat mulai cerah.
Langgar memang sempat roboh. Jemaahnya dibubarkan. Tetapi, tak pernah ada yang kuasa atas apa pun kecuali Tuhan.
Di tiap-tiap jasad manusia selalu ada fajar hati yang tak pernah bisa diredupkan.
Saat semua kemarahan dan tuduhan sesat luruh, petikan biola sang imam tak hanya menembus telinga manusia.
Irama itu telah menembus sesuatu yang dalam, yakni mencerahkan fajar di hati setiap manusia.
Irama itu kini telah bersenandung: Sang Surya Tetap Bersinar Syahadat Dua Melingkar Warna Yang Hijau Berseri Membuatku Rela Hati Ya Allah Tuhan Rabbiku Muhammad Junjunganku Al Islam Agamaku Muhammadiyah Gerakanku Di Timur fajar Cerah Gemerlapan Mengusir Kabut Hitam Menggugah Kaum Muslimin Tinggalkan Peraduan Lihatlah Matahari Telah Tinggi Di Ufuk Timur Sana Seruan Illahi Rabbi Samina Wa Atthona Ya Allah Tuhan Rabbiku Muhammad Junjunganku Al Islam Agamaku Muhammadiyah Gerakanku
Bait-bait luhur ini lahir karena sang imam bersama istrinya, yakni Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Nyai Hajah Siti Walidah. Keduanya adalah ibu kandung sekaligus nyawa Muhammadiyah.
Kampung Kauman, Yogyakarta, 18 November 1982.
메타데이터
- post_id
- dc751d6001ef
- slug
- langgar-yang-roboh-dc751d6001ef
- url
- https://medium.com/@rofiqideni/langgar-yang-roboh-dc751d6001ef
- canonical_url
- https://medium.com/@rofiqideni/langgar-yang-roboh-dc751d6001ef
- author_url
- https://medium.com/@rofiqideni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 22:12:45