Libur dari Medium
Sebuah upaya apa saya juga tidak tahu
Libur dari Medium
Sebuah upaya apa saya juga tidak tahu

Saya di Mangka Baga, sebuah desa di antara pulau-pulau Pagai Selatan, Mentawai.
Permulaan saya jatuh cinta dengan medium adalah templatenya yang sederhana. Putih, tidak ribet dan membuat fokus pada tulisan. Namun, muncul kemudian pengumuman bahwa tulisan-tulisan di sini dapat di monetisasi. Saya tentu senang-senang saja. Tapi saya lupa pekerjaan seperti itu bukan pekerjaan yang instan. Menangkap momen-momen saja saya tak mampu. Apalagi menulis untuk menggaet pembaca banyak-banyak. Sebab medium sejak awal saya anggap sebagai tempat untuk menulis bebas.
Sementara itu saya baru kepikiran, soal ini seperti ini serupa kafe favorit yang terus menerus kita datangi sehingga kita menganggapnya seperti rumah. Rumah secara metaforis, tentu saja, tidak mungkin kamu bisa tidur telanjang di kafe itu seperti di kamarmu sendiri. Senyaman-nyamannya kita kafe itu adalah tempat bisnis yang menjual minuman, makanan dan kenyamanan. Rasa nyaman yang hari-hari ini jadi jualan utama di saat banyak tempat tidak menyediakannya, termasuk rumah.
Sama halnya dengan medium. Medium bukan diari fisik yang kamu bisa menuliskan apa saja di dalamnya. Ada etika, ada peraturan bahkan jika ingin monetisasi, kamu juga harus berlangganan 5 dolar per bulannya. Jika banyak pembaca — yang juga pelanggan — maka kamu bisa dapat nol koma berapa dolar. Jika bukan anggota yang membaca, sebanyak apa pun pembacanya, grafik itu tidak akan memberimu uang. Dari situasi ini kemudian muncul perasaan rugi dan untung yang kesannya sangat amat transaksional.
Perasaan seperti ini wajar saja muncul dengan kondisi seperti itu. Namun, tak banyak yang bisa menghadapinya dengan tenang. Mengelola emosi dan akhirnya tulisanmu membaik. Selalu ada rasa keterburu-buruan, sementara medium menyuruhmu sabar.
Sama halnya seperti kerja-kerja jurnalistik yang saya lakukan. Tulisan-tulisan itu perlu kesabaran yang terukur. Perlu metode, perlu bahan, perlu alat-alat dan perlu eksekusi yang matang untuk sampai ke pemakan tulisanmu. Tidak semua mata dapat memakan dengan mudah tulisan-tulisan yang ada, maka itu perlu kesabaran untuk merebusnya agar menjadi lunak dan perlu kehati-hatian agar daging yang kamu masak tidak terlalu lembut atau kurang matang higga akhirnya terasa mentah.
Tapi lagi-lagi ada tenggat. Agar tulisanmu selalu relevan dengan situasi. Selalu ada batasan, kapan kamu harus mengeksekusi. Karena kita semua butuh energi tambahan untuk hidup. Darimana pun sumbernya. Maka mengejar medium sebagai sumber uang, saya rasa perlu kesabaran yang punya takaran cukup, dan saya belum mencapai itu. Karena itu saya mengambil jeda untuk medium.
Tulisan ini adalah perbincangan saya dengan diri saya sendiri. Saya harus menulisnya agar tujuannya menjadi jelas dan tidak lupa. Seperti halnya anak-anak yang merasa bosan dengan rutinitas sekolah yang itu-itu saja, mungkin ini saatnya saya libur, mengambil ruang kosong lain agar hidup menjadi lebih bermakna untuk kemudian saya bawa kembali ke medium, yang berlangganan — hehe.
메타데이터
- post_id
- dc7782c0201d
- slug
- libur-dari-medium-dc7782c0201d
- url
- https://medium.com/@jakahb-89/libur-dari-medium-dc7782c0201d
- canonical_url
- https://medium.com/@jakahb-89/libur-dari-medium-dc7782c0201d
- author_url
- https://medium.com/@jakahb-89
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16