Ruang Hening
Kita perlu ruang hening di dunia yang penuh bising. Ya, manusia sejatinya makhluk yang memerlukan keheningan. Sendiri bukan sepi. Aloness…
Ruang Hening
Photo by Leonardo Iheme on Unsplash
Kita perlu ruang hening di dunia yang penuh bising. Ya, manusia sejatinya makhluk yang memerlukan keheningan. Sendiri bukan sepi. Aloness bukan loneliness. Hening, sunyi, diam, hanya suara nafas masuk dan keluar yang terdengar. Teresap. Diselingi bunyi ritmis atau noise tanpa perlu dinilai, terlebih dihakimi. Hanya fokus pada keheningan, mempertajam rasa. Sudah sejak lama bunyi rasa, suara hati, dikalahkan dengan argumentasi logika yang saling berkejaran dalam dunia yang serba cepat.
Ruang hening berarti menghirup nafas dalam, mengeluarkan secara perlahan. Mempersiapkan batin, mental, pada kejadian yang tak terduga. Mata terpejam, hanya lafadz Sang Pencipta yang terguman, terbisik, diantara hela nafas masuk dan keluar. Kita mengkoneksikan diri pada Khalik. Menumpahkan segala keresahan, kepandiran, ketidakberdayaan atau menundukan keakuan, keegoan, dan rasa tidak mau tunduk pada aturan serta takdirNya.
Manusia memusuhi keheningan sehingga untuk memecah sunyi ia membutuhkan bunyi, suara musik, gawai, atau suara latar yang menggema. Bahkan dalam berbicara pun, jeda diisi dengan gumanan (filler) saking ia tidak ingin disebut sendiri. Saking ia larut dalam hiruk-pikuk dunia dengan segala macam validasinya.
Padahal tubuh ini memerlukan jeda yang tak perlu lama untuk menyegarkan kembali tujuan hidup, arah ke mana kita menuju. Apakah selama ini kita condong ke Barat dengan materialismenya, sekularnya, sementara kita diperintahkanNya untuk ke kiblat. Ataukah secara perlahan mengisi waktu hidup kita dengan kesibukan yang tidak bernilai, receh, atau bahkan perbuatan sampah yang dikutuk oleh seluruh makhluk di semesta alam.
Kita harus berada di ruang hening untuk menginsyafi apakah selama ini kita sibuk dengan bungkus, topeng, masker, simbol identitas yang kita kenakan, sementara kita tidak memiliki isi yang bernilai. Kita kosong tanpa isi. Bungkus lebih indah dari isi. Kita menikmati menjadi diri munafik, hipokrit. Ibarat lilin yang menerangi jalan meski tidak terang yang akhirnya juga padam. Ruang hening tempat kita bermuhasabah, menghitung diri kita sebelum Khalik menghisab kita. Jangan-jangan, amal baik yang kita lakukan hanya persangkaan kita saja diterima olehNya, padahal ia mengikuti isi yang kosong. Harum di dunia tapi tidak di akhirat.
Keheningan bukan sekadar mendapatkan rasa tenang dengan keluarnya hormon dopamin, endorfin, ditambah kata-kata afirmasi ala motivator yang tidak bertahan lama. Bukan itu. Melainkan terus memaknai kebermaknaan diri kita. Hidup kita ini untuk apa? Hidup kita ini dari mana dan akan ke mana? Bukankah Rasulullah Saw mendapatkan wahyu saat beliau saw sedang menyendiri dalam ruang heningnya di gua hira? Bukankah kita pun seringkali mendapatkan ide, gagasan, ilham, disaat hening? Bukankah sepertiga malam adalah waktu emas menengadahkan tangan berdoa kepada Sang Khalik? Setiap doa yang disampaikan ibarat busur panah yang melesat cepat ke arah yang dituju pada sepertiga malam itu?
Jiwa kering, hidup hampa, visi tak jelas, tak berintegritas menjadi beban masyarakat menjadi prototipe manusia hari-hari ini. Trust issue menjadi-jadi karena perkataan tidak dapat lagi dipegang. Janji mudah diingkari. Setiap orang mengejar apa yang ia obsesikan. Hanya ambisi, nafsu dan ketamakan menghiasi profil manusia di ruang publik. Kita tidak menyukai itu tapi sangat mungkin justru sifat-sifat itulah ada pada diri kita. Jeda sejenak untuk berhenti. Hening. Menghentikan laju diri yang terlanjur melaju. Melambatkan langkah mengejar ambisi tanpa arti.
Karena itu ciptakan ruang hening.
Wallahu’alam bishshawwab
메타데이터
- post_id
- dcad740ca8e2
- slug
- ruang-hening-dcad740ca8e2
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ruang-hening-dcad740ca8e2
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/ruang-hening-dcad740ca8e2
- author_url
- https://medium.com/@dennykodrat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 13:43:13