← Back to list

Suluk Intelektual Sepuhan

Ketika Syahwat Politik Menguliti Jubah Kebudayaan

Candra Yanvingsesa · 2026-07-05 07:35 · 0 claps · 4.9 min read
#politik #kebudayaan #akal-sehat
Open on Medium ↗

Suluk Intelektual Sepuhan

Ketika Syahwat Politik Menguliti Jubah Kebudayaan

source image: pexels.com/Anete Lusina

source image: pexels.com/Anete Lusina

Pasar Malam Kebenaran

Hari-hari ini, ruang publik kita tidak ubahnya seperti pasar malam kebenaran — bising, penuh warna, tetapi sekaligus dangkal. Di tengah hiruk-pikuk transisi kekuasaan dan pergeseran bandul politik, kita disuguhi sebuah tontonan yang menggelisahkan: teater akrobat logika dari mereka yang mengeklaim diri sebagai resi kebudayaan, jurnalis senior, hingga penyandang gelar doktor. Manusia-manusia yang seharusnya bertindak sebagai kompas moral bangsa, kini justru terlihat sibuk membolak-balikkan diksi, melakukan salto logika demi menyesuaikan diri dengan kemana arah angin insentif sedang berembus.

Sebagai entitas yang merawat akal sehat, ada rasa muak yang mendalam ketika menyaksikan bagaimana instrumen akademis dan otoritas budaya digadaikan begitu murah. Fenomena ini membawa kita pada sebuah kesimpulan sosiologis yang getir tentang tipologi intelektual kita. Kita sedang menyaksikan pembuktian nyata dari dikotomi klasik yang kini menemukan bentuk paling telanjangnya di panggung politik nasional: perbedaan radikal antara emas murni dan emas sepuhan.

Anatomi Emas Sepuhan

Emas sepuhan (gilded gold) adalah metafora yang paling presisi untuk menggambarkan para intelektual pragmatis-musiman. Dari luar, penampilan mereka begitu meyakinkan. Mereka mengenakan jubah mentereng berupa gelar akademik tertinggi, mengutip dialektika Hegel atau Marx dengan fasih, serta menyelipkan kearifan-kearifan lokal untuk memukau massa awam. Namun, kilau tersebut bukanlah sifat asli (genuine property) dari logam di dalamnya, melainkan hanyalah lapisan tipis yang disepuh melalui kedekatan dengan lingkar kekuasaan.

Dalam khazanah filsafat Jawa, tipe manusia seperti ini kerap terjebak dalam sindrom melik nggendong lali — sebuah kondisi di mana pamrih, syahwat terhadap materi, dan keinginan untuk diakui oleh lingkaran elite telah menggendong atau membawa mereka pada kelalaian atas tugas suci kemanusiaan. Ketika mereka berada di dalam lingkaran Istana, diundang dalam perjamuan makan malam yang intim, atau diberikan panggung logistik yang nyaman, nalar kritis mereka mendadak mengalami cognitive dissonance yang akut.

Pada fase “kenyang” ini, seluruh energi intelektual mereka didedikasikan untuk melakukan apologetika — mencari pembenaran ilmiah atas segala kebijakan penguasa, sekasar apa pun dampaknya bagi hajat hidup orang banyak. Mereka bertindak sebagai perisai moral rezim. Logika mereka ditekuk sedemikian rupa untuk membenarkan segala perilaku kekuasaan. Di titik ini, terjadi apa yang disebut oleh sosiolog Julien Benda sebagai The Treason of the Intellectuals (Pengkhianatan Kaum Cendekiawan). Mereka tidak lagi mengabdi pada kebenaran objektif, melainkan pada regulatory capture yang melapisi periuk nasi mereka.

Epifani Palsu, Ketika Piring Kekuasaan Digeser

Namun, sifat dasar emas sepuhan adalah kerapuhannya terhadap gesekan kepentingan. Lapisan berkilau itu akan langsung mengelupas begitu piring kekuasaan digeser dari hadapan mereka, atau ketika arah politik sang penguasa tidak lagi mengakomodasi ego dan kelompok mereka. Di sinilah drama komedi yang tragis itu dimulai.

Secara mendadak, dalam hitungan bulan, para pembela setia ini mengalami “epifani palsu”. Mereka yang tadinya memuji kecerdasan lapangan sang pemimpin, tiba-tiba berbalik arah 180 derajat dan bahkan mengeklaim pemimpin tersebut tidak pernah membaca buku filsafat seumur hidupnya. Mereka yang tadinya menyindir para pengkritik sebagai “kucing yang mendegradasi martabat sendiri,” kini justru melompat pagar dan mengeklaim diri sebagai “macan” yang sedang membawa risalah suci pembongkar topeng kebohongan.

Perubahan radikal ini sama sekali tidak didasari oleh metodologi ilmiah yang baru atau kesadaran moral yang transenden. Ini hanyalah ekspresi dari sour grapes — tipikal kejengkelan dari mereka yang didepak dari lingkar kenyamanan, yang kemudian dibungkus dengan narasi “demi menyelamatkan republik.”

Kritik mereka tidak lagi berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan, melainkan menjadi racun yang lahir dari sentimental morality yang terluka. Ketika mereka menggunakan istilah-istilah kultural yang sakral seperti Satrio Wirang atau Wujud Buto untuk mencaci-maki mantan patron mereka, mereka sebenarnya sedang mendelegitimasi diri mereka sendiri. Publik yang jeli akan langsung melihat logam karatan di balik kupasan sepuhan tersebut: rasa sakit hati yang personal, dendam yang belum tuntas, dan kepalsuan yang telanjang.

Integritas Emas Murni

Di kutub yang berseberangan, kita beruntung masih memiliki figur yang mewakili karakter emas murni. Mereka adalah intelektual organik sejati yang memilih jalan sunyi untuk merawat aesthetic distance (jarak estetis) dengan kekuasaan. Karakter seperti inilah yang dicontohkan secara konsisten oleh budayawan legendaris kita, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Emas murni diuji bukan oleh seberapa sering ia diundang ke dalam Istana, melainkan oleh konsistensinya untuk tetap berada di luar, di tengah-tengah rakyat, tanpa pernah tergoda untuk mencicipi remah-remah fasilitas negara. Cak Nun, selama puluhan tahun lintas rezim — dari era represif Orde Baru hingga era digital yang penuh disorientasi ini — berhasil mempraktikkan filosofi ngeli nanging ora keli (mengalir mengikuti arus zaman, tetapi tidak pernah hanyut oleh arusnya).

Kritik yang dilayangkan oleh emas murni memiliki getaran spiritual yang berbeda. Ketika Cak Nun melontarkan kritik keras, kritik itu tidak pernah terasa seperti proyek pesanan atau upaya untuk menaikkan posisi tawar elektoral. Kritik tersebut murni, jernih, dan lahir dari rahim keprihatinan kemanusiaan yang mendalam. Karena basisnya adalah nilai, bukan kepentingan personal, maka kritik tersebut memiliki daya magis yang melampaui sekat-sekat kebencian politik.

Inilah alasan mengapa penguasa yang dikritik pun tidak menaruh dendam. Ketika kekuasaan yang dikritik justru datang menjenguk dengan takzim saat sang resi kebudayaan jatuh sakit, itu adalah pengakuan de facto dari otoritas politik bahwa kritisme emas murni adalah sebuah “kejujuran organik”. Ada rasa hormat kultural yang mendalam, karena penguasa tahu betul bahwa sang budayawan tidak sedang mengincar kursi menteri atau jabatan komisaris. Beliau hanyalah seorang ayah kebudayaan yang sedang menjewer telinga anaknya agar tidak lupa diri.

Ironi Kemunafikan

Ironi yang paling memuakkan dalam dinamika ini adalah ketika para intelektual sepuhan, saat masih berada dalam fase kenyang kekuasaan, dengan ringannya merendahkan dan mendiskreditkan figur emas murni yang konsisten kritis. Mereka menggunakan otoritas akademis palsu mereka untuk menyerang, mengejek, dan memberi stempel negatif kepada mereka yang menjaga jarak dengan Istana. Mereka bertindak seolah-olah merekalah pemilik tunggal tafsir kebenaran dan kesopanan politik.

Namun, sejarah adalah hakim yang paling adil dan tidak pernah menderita amnesia. Begitu kepentingan logistik mereka terputus, para intelektual sepuhan ini tanpa rasa malu meniru, mereplikasi, bahkan mengeksploitasi narasi-narasi kritis yang dulu diproduksi oleh emas murni. Bedanya, jika emas murni menggunakannya untuk mendidik bangsa, emas sepuhan menggunakannya sebagai senjata pemukul demi memuaskan dendam pribadi karena telah dicopot atau tidak lagi didengar.

Ini adalah bentuk kemunafikan intelektual pada level yang paling rendah. Di sinilah letak batas tegas yang membuat kita sebagai sesama insan akademis merasa jijik:

Menjadi pragmatis adalah pilihan hidup, tetapi berpura-pura menjadi pahlawan moral di atas panggung yang dibangun dari rasa sakit hati personal adalah sebuah penistaan terhadap esensi ilmu pengetahuan.

Mahkamah Sejarah dan Runtuhnya Marwah Intelektual

Pada akhirnya, panggung politik akan terus berganti pelakonnya. Kekuasaan akan berputar, koalisi akan pecah, dan aktor-aktor oportunis akan terus melakukan metamorfosis musiman. Namun, marwah dari sebuah gelar doktor atau predikat budayawan tidak terletak pada seberapa lihai seseorang berselancar di atas ombak kekuasaan, melainkan pada keteguhan mereka untuk menjadi jangkar akal sehat di tengah badai manipulasi.

Masyarakat awam mungkin bisa dikecoh sekali dua kali oleh retorika indah dan pameran gelar akademis. Namun, lambat laun, sejarah akan selalu mengadakan “uji bakar” politik. Ketika api ujian itu datang, seluruh lapisan sepuhan tipis yang menyelimuti para intelektual musiman ini akan mengelupas dan menyisakan kehampaan kredibilitas yang menyedihkan.

Bagi kita yang memilih untuk merawat akal sehat, fenomena ini adalah sebuah pengingat yang benderang. Kita harus menolak untuk terpesona oleh kilau instan dari para intelektual sepuhan yang bising. Sudah saatnya kita kembali menaruh rasa hormat yang tulus hanya kepada mereka yang konsisten menjaga kejujuran organik, mereka yang kata-katanya tidak bisa dibeli, dan mereka yang integritasnya tetap menjadi emas murni, bahkan ketika kekuasaan mencobanya dengan api kemewahan maupun dinginnya pengabaian. Hanya di tangan intelektual organik yang steril dari syahwat logistik inilah, masa depan nalar sehat republik ini dapat dititipkan.


메타데이터
post_id
dcc280371e32
slug
suluk-intelektual-sepuhan-dcc280371e32
url
https://medium.com/@candraysesa/suluk-intelektual-sepuhan-dcc280371e32
canonical_url
https://medium.com/@candraysesa/suluk-intelektual-sepuhan-dcc280371e32
author_url
https://medium.com/@candraysesa
status
ok
fetched_at
2026-08-21 20:16:25