← Back to list

Bekal dari Rumah

Lebih dari Sekadar Penghematan

Tival Godoras · 2024-10-10 05:10 · 1 claps · 2.3 min read
#bahasa-indonesia #indonesia #bekal #makanan #cerita
Open on Medium ↗

Bekal dari Rumah

Lebih dari Sekadar Penghematan

Nasi bungkus dari Ibu (kiri) dan bekal dari istri (kanan). Foto dokumen pribadi

Nasi bungkus dari Ibu (kiri) dan bekal dari istri (kanan). Foto dokumen pribadi

Saya kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang, ketika harga Bensin Premium masih Rp 4.500 per liter. Sebagai anak kos, membawa bekal dari rumah bukanlah pilihan. Urusan makan tentu harus saya beli di warung atau rumah makan. Saya terbiasa sarapan, jadi sepagi apa pun kuliah dimulai, saya selalu makan pagi sebelum berangkat. Makan siang adalah waktu berkumpul bersama teman-teman kampus. Kami bisa makan di kantin kampus atau mencari tempat makan di sekitar kosan.

Sekarang, sebagai pengajar di salah kampus di Jakarta, saya melihat fenomena mahasiswa membawa bekal semakin sering terjadi. Bekal mereka sederhana, disimpan dalam kotak, dan dinikmati sendiri atau berkelompok. Ada yang duduk di lantai selasar kampus, ada juga yang di kursi depan ruang kelas. Bahkan, beberapa mahasiswa memilih makan di dalam kelas setelah kuliah selesai, selama ruangan masih kosong menunggu jadwal berikutnya.

Tampaknya, mayoritas mahasiswa sekarang bukan anak kos, sehingga banyak dari mereka yang bisa membawa bekal dari rumah. Saya sempat bertanya kepada beberapa mahasiswa, dan mereka mengatakan bahwa bekal tersebut dibawakan oleh ibu mereka. Tentu saja, motivasinya untuk menghemat uang makan atau menambah tabungan buat beli rokok atau nongkrong setelah kuliah.

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya tidak pernah membawa bekal ke kampus karena saya adalah anak kos. Pada masa itu, teman-teman saya yang berasal dari Semarang sekalipun jarang membawa bekal. Mungkin karena harga makanan di Semarang saat itu relatif murah. Dengan Rp 1.000, saya sudah bisa makan nasi, sayur, orek tempe, dan sambal. Gorengan harganya Rp 500 dapat dua. Jadi, dengan Rp 1.500, saya sudah bisa kenyang dengan nasi, sayur, orek tempe, sambal, dan dua gorengan.

Pengalaman membawa bekal baru saya rasakan ketika bekerja di Papua. Setiap kali saya akan masuk ke site, ibu saya selalu membekali saya dengan nasi bungkus. Penerbangan dari Jakarta ke Papua biasanya dilakukan dini hari, sehingga bekal tersebut akan saya nikmati setibanya di tanah Papua. Menu bekalnya sederhana, sesuai dengan bahan yang ada di rumah, namun selalu terasa nikmat. Saya biasanya makan di Bandara Dominic Edward Osok (DEO) di Sorong atau Bandara Rendani di Manokwari. Bekal dari ibu adalah sumber energi dan keberuntungan selama saya bekerja di sana.

Tradisi membawa bekal ini terus berlanjut setelah saya menikah. Istri saya pun selalu menyiapkan bekal setiap kali saya berangkat ke site. Ada momen yang lucu ketika kami pindah ke Padang, dan saat harus transit di Jakarta sebelum terbang ke Papua, saya selalu mampir ke rumah orang tua. Ibu saya juga membekali saya dengan nasi bungkus, sehingga saya sering berangkat ke Papua dengan dua bekal: satu dari istri, dan satu dari ibu — bekal dari dua wanita yang sangat saya cintai.

Saya benar-benar merasakan nikmatnya dibawakan bekal. Bukan hanya mengenyangkan, tapi juga memberikan energi dan kenangan yang luar biasa. Oleh karena itu, saya sangat senang melihat mahasiswa yang menikmati bekal mereka di sela-sela jam makan siang di kampus. Ada kehangatan yang tak tergantikan dalam momen itu.

Burung merpati terbang ke taman, Hinggap sebentar di dahan mangga. Tepukan 👏🏻 dan komentar 💬 kalian menawan, Membuat semangat semakin membara! 🙏🏻


메타데이터
post_id
dd1c2e79b27f
slug
bekal-dari-rumah-dd1c2e79b27f
url
https://medium.com/@tivalgodoras/bekal-dari-rumah-dd1c2e79b27f
canonical_url
https://medium.com/@tivalgodoras/bekal-dari-rumah-dd1c2e79b27f
author_url
https://medium.com/@tivalgodoras
status
ok
fetched_at
2026-07-22 14:16:37