Dogma Kepercayaan
Rumah suci kini hanyalah alat, memperkaya diri dengam syair suci yang dibuat-buat ,bukan hanya dogma yang menghunus luka, tetapi tradisi…
Dogma Kepercayaan

Rumah suci kini hanyalah alat, memperkaya diri dengam syair suci yang dibuat-buat ,bukan hanya dogma yang menghunus luka, tetapi tradisi yang menolak bertanya. Dan mungkin, yang paling menakutkan bukanlah mereka yang berteriak membawa nama Tuhan, melainkan mereka yang begitu yakin dengan kebenarannya hingga lupa bahwa manusia di hadapannya juga memiliki luka.
Di jalan-jalan, kebenaran diperebutkan seperti sebidang tanah, masing-masing menggali parit, membangun tembok, lalu menyebutnya iman. Yang berbeda dianggap sesat, yang bertanya dicurigai, dan yang memilih diam dipaksa untuk berpihak.
Padahal, bukankah manusia lahir sebelum segala label diberikan kepadanya?
Politik yang menjual ketakutan, mayoritas yang mengira jumlah adalah kebenaran, Serta sunyi hukum yang membiarkan tubuh-tubuh dipatahkan. Siapa yang akan membela tubuh yang dihancurkan ketika hukum memilih menundukkan kepala?
Dan jika suatu hari seluruh label runtuh, ketika rumah-rumah suci kehilangan kemegahannya, ketika panggung politik padam dan pengeras suara berhenti berteriak, mungkin yang akan tersisa hanyalah kita…
Diantara sorak moral, manusia perlahan kehilangan nama, yang tersisa hanya label, lalu kebencian menemukan rumahnya.
메타데이터
- post_id
- dd1df096a192
- slug
- dogma-kepercayaan-dd1df096a192
- url
- https://medium.com/@al_story/dogma-kepercayaan-dd1df096a192
- canonical_url
- https://medium.com/@al_story/dogma-kepercayaan-dd1df096a192
- author_url
- https://medium.com/@al_story
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 13:22:35