Belajar 3 Hal Ini Dari Kucingku
#NonFiksi42
Belajar 3 Hal Ini Dari Kucingku
#NonFiksi42

Source: Private Document
Mereka yang memilih kita, bukan kita yang memilih mereka.
Bertahun-tahun tinggal bersama kucing membuat aku sadar, tanpa mereka hidup kami sekeluarga pasti membosankan. Jangankan tingkah lucu mereka, tingkah menyebalkan mereka juga sanggup membuat kita sekeluarga ribut. Apalagi keluarga ini pernah memelihara 11 ekor kucing. Bayangkan saja seramai apa rumah ini? Berapa kilogram ikan yang harus di persiapkan?
Dan pernyataan bahwa kucing memilih majikannya itu terbukti benar, lho. Dari semua kucing yang kami pelihara, mamak adalah orang paling rajin memberi makan dan juga merawat mereka. Tapi ada saja kucing yang memilih kepada siapa mereka lebih manja. Masing-masing dari kami ada kucing favoritnya sendiri-sendiri. Dan bukan kita yang memilih, merekalah yang mendekati untuk minta dijadikan teman.
Misalnya, dulu aku pernah punya kucing buta sejak lahir yang kuberi nama Keling. Di antara banyak kucing lainnya, Keling adalah satu-satunya kucing yang paling dekat dengan aku. Menemani belajar, menunggu di kamar, menunggu di ajak main. Meskipun buta, Keling punya sifat yang aktif dan optimis. Sehingga di antara saudaranya yang lain pada saat itu, cuma dia yang bertahan hidup sampai tua dan meninggal karena usia. :’)
Singkat cerita, waktu aku perpisahan sekolah SMK dan harus pergi menginap 3 hari di Danau Toba. Keling mungkin sadar, kalau bau badanku tidak ada di sekitar rumah. Kata mamak, dia banyak diamnya meskipun kadang-kadang juga suka main bawang merah.
Waktu aku pulang, baru 5 menit duduk meletakan tas. Keling datang dari jauh, di tengah jalan dia sempat berhenti dan mengendus. Mungkin memastikan, kemudian mendatangiku dan tidur di atas pahaku.
Jadi selama 26 tahun hidup bersama kucing, menurutku ini tiga sifat mereka yang bisa kita contoh.
Optimis dan Pantang Menyerah
Semua kucing di rumahku adalah kucing domestik yang dibuang dan datang dari jalanan. Di antara mereka adalah kucing dewasa yang sedang hamil, ada juga kucing jantan tua, paling sering kucing kecil yang bahkan belum selesai menyusui.
Ketemu di parit, semak-semak, rumah kosong, pinggir jalan dan sudut-sudut lain. Mamak yang paling tidak tahan dengan suara teriakan anak kucing, mau hujan badai pasti tetap di cari. Di beri makan, di beri kardus, lalu lama-lama jadi luluh.
Hidup mereka tidak sepanjang hidup kita. Tapi optimisme mereka sangat layak di acungi jempol. Apalagi kucing kecil yang belum bisa makan sendiri, keadaan memaksa mereka untuk mandiri. Susu yang diminum bukan lagi susu kucing, tapi susu formula. Kalau kucing tua, cuma butuh tempat berlindung dan makan. Itu sudah cukup untuk mereka.
Tapi sangat sedikit aku melihat kucing memutuskan untuk menyerah pada hidupnya begitu saja. Kebanyakan dari kucing yang kami pelihara tetap menjalani hidupnya dengan semangat sampai akhirnya meninggal karena sakit, sudah tua atau tertabrak kendaraan.
Tidak Bergantung Penuh
Sekalipun mereka adalah kucing jalanan yang di adopsi, tapi aku tidak melihat sifat manja yang berlebihan. Semua kucing kami seutuhnya independen, senang bermain keluar, pulang pada waktunya dan tidur di rumah.
Tapi tidak sedikit dari mereka yang lebih suka diam di rumah, tidur seharian dan main pada waktunya. Sekalipun sisi manja itu ada, tapi mereka hanya mau dimanja kalau ingin saja. Mereka memilih sendiri tempat mereka tidur, barang apa yang suka dimainkan, dan pada kucing mana mereka memilih untuk dekat dan akrab.
Tahu kapan saat butuh majikan dan kapan waktu untuk diri sendiri. Ini salah satu hal yang kayanya manusia modern harus belajar, deh. Hahaha. Mau independen seperti apa pun, manusia tetap butuh orang lain. Begitu juga sebaliknya, mau bergantung seperti apa pun pada orang lain — kita juga bisa punya momen untuk merayakan diri sendiri.
Tahu Siapa yang Mereka Mau
Kucing kami itu tahu banget apa yang mereka mau. Mulai dari makanan, cara berburu serangga, teritorial tidur, sampai kepada siapa mereka harus manja.
Kami punya kucing namanya Oyen, suka banget minta cium kening sama pipi. Sekalipun saat tua dan jadi preman jalanan, kalau pulang tetap manja dan mendengkur. Si Oyen paling dekat dengan adik pertama aku. Padahal yang mau pelihara dia itu bapak, yang sering kasih makan dia ya mamak.
Satu lagi namanya Kitty, si paling anti di gendong siapa pun kecuali mamak. Ada juga kucing kita yang suka sama siapa saja, kenal tidak kenal, kalau dia suka pasti minta pangku.
Intinya, mereka selalu tahu kepada siapa mereka manja. Bukan ke sembarang orang, tapi ke orang yang mungkin cocok dengan vibrasi mereka. Kayanya kita yang jomblo harus belajar dari kucing, deh. Heheh. Kalau kucing saja tahu apa yang mereka mau, kenapa kita enggak ya?
Untuk semua kucing yang pernah singgah di rumahku — yang sudah pergi dan yang masih ada. Kita sekeluarga mengucapkan terima kasih, tanpa kalian hidup kami pasti bosan sekali. :D
Memiliki kalian itu bukan sekedar hiburan, tapi juga sudah seperti keluarga. Meskipun taruhannya guci jadi pecah, kursi jadi rusak, jok motor bolong, kulit luka-luka, kadang suka pipis dan berak sembarangan.
Aku sangat bersyukur, karena mamak sudah suka pelihara hewan sejak dulu. Kalau tidak, anak-anaknya belum tentu punya empati yang sama dengan makhluk lain.
Ngomong-ngomong, jangankan kucing yak. Mamak itu sama ulat daun juga di pantengin, biarin aja tanamannya botak, asal dia bisa lihat ulat itu jadi kupu-kupu.
Ibu kalian begini juga kah? Atau justru enggak suka hewan sama sekali?
메타데이터
- post_id
- dd57d318fbfc
- slug
- belajar-3-hal-ini-dari-kucingku-dd57d318fbfc
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/belajar-3-hal-ini-dari-kucingku-dd57d318fbfc
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/belajar-3-hal-ini-dari-kucingku-dd57d318fbfc
- author_url
- https://medium.com/@maremiaazani
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-03 03:34:50