Jogja, dan Hal-Hal yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Setiap kali nama Yogyakarta terlintas di kepala, yang datang bukan sekadar bayangan kota. Yang muncul adalah sore yang terlalu cepat…
Jogja, dan Hal-Hal yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Setiap kali nama Yogyakarta terlintas di kepala, yang datang bukan sekadar bayangan kota. Yang muncul adalah sore yang terlalu cepat berubah jadi malam, tawa yang tidak ada habisnya, dan versi diri saya yang terasa lebih ringan.
Aku ingat betul bagaimana kami bisa duduk di tempat kopi bernama SOD Cofee milik seorang teman, dari sore sampai subuh. Bermain FIFA, tertawa tanpa arah, membicarakan masa depan seolah dunia ini memang milik kami. Kadang obrolannya penting, kadang tidak masuk akal sama sekali. Tapi di situlah hangatnya.
Yang paling kurindukan justru hal-hal kecil di tempat kopi itu. Cara kursinya selalu terasa kurang nyaman tapi tidak pernah jadi alasan untuk pulang lebih cepat. Gelas kopi yang dibiarkan kosong terlalu lama karena kami terlalu sibuk bercerita. Dan bagaimana aku tidak lagi dipanggil dengan nama sendiri, melainkan dengan panggilan “Kristen”. Bagi orang luar mungkin terdengar aneh. Tapi bagiku, itu bukan hinaan. Itu tanda kedekatan. Mungkin karena mereka tidak punya teman Kristen yang sedekat itu — yang bisa diajak bercanda tanpa batas sekaligus berbicara serius tentang iman dan perbedaan.
Aku juga kangen duduk di sebuah burjo sederhana bernama Vaganza. Piring sederhana di depan kami, dan menu andalanku hampir selalu sama: magelangan rendang atau orak-arik ayam. Obrolan yang jauh lebih besar dari isi meja. Di sana kami membahas hubungan yang sering kali isinya kegagalan. Membahas project atau event yang sudah kami lalui, sambil kesal dan sambat tentang seseorang atau sekelompok orang yang rasanya menyebalkan waktu itu. Kadang topiknya serius, kadang hanya gosip dan rumor kampus yang entah benar atau tidak. Tapi rasanya selalu penting. Selalu terasa seperti bagian dari hidup yang sedang benar-benar berjalan.
Di kampus, aku juga merindukan masa-masa produksi. Membuat program TV, siaran radio, film, atau project apa pun yang bisa kami ciptakan. Lelahnya nyata. Kurang tidur, uang menipis, pikiran penuh. Rasanya seperti memaksakan diri melewati batas. Tapi entah kenapa, justru itu yang dirindukan. Mungkin karena ada perasaan lega yang luar biasa setelah semuanya selesai. Ada bangga kecil karena berhasil menciptakan sesuatu dari nol. Dari ide, jadi karya.
Dan tentu saja, aku rindu bagaimana kami bisa saling menghina tanpa benar-benar tersinggung. Kata-kata tajam yang justru jadi bahasa kasih versi kami. Di balik candaan kasar itu, ada ruang aman. Ruang untuk tiba-tiba berubah serius dan berbicara tentang keluarga, tentang cinta yang gagal, tentang ketakutan soal masa depan, tentang karier yang belum jelas arahnya. Dari tawa yang pecah, obrolan bisa berbelok menjadi sangat dalam tanpa terasa canggung.
Di Jogja, aku pernah merasa cukup layak untuk dicintai. Pernah berhasil. Pernah gagal. Pernah menemukan sesuatu yang terasa seperti jawaban, lalu kehilangannya. Semua pengalaman dan semua perasaan rasanya pernah terjadi di sana. Senang, sedih, bangga, kecewa, marah, lega — semuanya lengkap. Mungkin itu sebabnya kota itu terasa begitu hidup dalam ingatan.
Kalau hari ini aku bisa sedikit lebih tenang, sedikit lebih mampu mendengar, tidak sekeras dulu dalam mempertahankan ego, itu karena apa yang terjadi di Jogja. Di sana aku belajar merespons kekalahan dan kehilangan. Belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Bahwa kadang yang perlu dilakukan hanya menerima dan kembali menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, aku hanya ingin berkata terima kasih. Untuk Jogja, untuk setiap tawa, untuk setiap luka, untuk setiap orang yang pernah berjalan bersama di sana. Itu adalah fase hidup yang tidak akan pernah kuhapus. Akan kusimpan, diam-diam, dengan indah.
메타데이터
- post_id
- dd5c56b7e50c
- slug
- jogja-dan-hal-hal-yang-tidak-pernah-benar-benar-pergi-dd5c56b7e50c
- url
- https://medium.com/@poetrantomash/jogja-dan-hal-hal-yang-tidak-pernah-benar-benar-pergi-dd5c56b7e50c
- canonical_url
- https://medium.com/@poetrantomash/jogja-dan-hal-hal-yang-tidak-pernah-benar-benar-pergi-dd5c56b7e50c
- author_url
- https://medium.com/@poetrantomash
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:48:14