Rumah yang Selalu Dirindukan
02. Lowkey Meetings at Bandung
Rumah yang Selalu Dirindukan
02. Lowkey Meetings at Bandung

[embed]
Suasana di stasiun Bandung ramai, banyak suara namun terasa damai bagi Davian. Panas siang itu lumayan tertutup dengan angin yang menerpa wajahnya. Laki-laki tersebut menggeret koper kecilnya sembari memanggul sebuah tas hitam, berjalan melewati lautan manusia, menuju dua orang yang sedang menantinya. Iya, Keanu dan Ibu.
Ketika dua pucuk hidung itu terlihat oleh Davian, langkahnya langsung ia percepat sampai berada di hadapannya. Saat wajah keduanya bisa Davian lihat dengan jelas, remaja itu tersenyum lebar, bahagia dengan orang yang sudah lama tak dia temui.
“Makin gede aja kamu, dek,” ujar Davian waktu memeluk Keanu dengan erat.
Keanu hanya mendecak dan terkekeh kecil, setelah itu, sang adik memberi kode pada Davian agar menyapa ibu mereka juga. Davian menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatap Davian lekat.
Laki-laki bercelana jins itu tersenyum canggung dan mencium tangan beliau, aneh rasanya memandang ibunya yang lembut seperti ini. Audrey menerima salam dari anaknya dengan senyum yang masih ada di wajahnya. Perempuan baruh baya itu masih merasa bersalah, apa yang ia lakukan pada anak keduanya beberapa tahun lalu sangatlah menyakitkan.
Walau banyak rasa canggung dan bersalah yang tertinggal di hati, Davian masih bisa memeluk sang ibu dengan ikhlas. Menurut Davian, ibunya ini tetap layak diberikan pelukan, sejahat apapun beliau.
Karena stasiun yang semakin ramai, Audrey mengajak kedua anaknya untuk pulang.
Ke rumah yang pernah bercahaya pada masanya.
Wangi sang ibu. Itu kalimat pertama yang berkunjung ke benak Davian saat masuk ke dalam kamarnya yang dulu. Tidak ada yang berubah dengan 4 tahun lalu.
Dindingnya masih berwarna biru muda, masih ada bajunya yang tertata rapi di lemari, seprei putih polos masih menutupi kasurnya sampai…alat tulis Davian dulu tidak dibuang. Semuanya masih sama.
Melirik Keanu dan sang ibu yang sudah meninggalkannya, Davian langsung berlari kecil ke kasurnya dan melompat, merebahkan tubuhnya yang sudah capek. Diam-diam, Davian tersenyum kecil, ia merasakan bahagia yang luar biasa di kamar ini. Di ruangan tersebut, laki-laki itu pernah melewatkan masa lalu yang sangat mengujinya dan kini Davian bisa datang dengan hati yang sudah memaafkan semuanya.
Baru beberapa menit setelah Davian menelpon Theo, sang kakak. Keanu mengetok pintu dan membuka kamarnya sehingga Davian mendongak ke adiknya.
“Belum ganti baju, bang?” tanya Keanu sambil menutup pintu.
“Ck, besok pagi ajalah aku mandi sama ganti baju. Abang sudah capek banget, pegel di kereta,” Davian merubah posisinya di kasur menjadi memunggungi Keanu, maksudnya agar adiknya bisa duduk di dekatnya.
“Bang, sebenarnya tujuan Abang ke Bandung itu apa deh? Selain soal Kak Skayara dan Theo, ada masalah apa di Jakarta?”
Davian sudah menduga, tentu adiknya yang masih mencerna semuanya akan bertanya seperti ini. Keanu juga bukan bermaksud membuka luka sang kakak, namun dia hanya bingung kenapa Davian kembali. Padahal, Bandung pernah menjadi kenangan menyakitkan untuk Davian.
“Jakarta tidak ada apa-apa, Adek. Abang aja yang pengen suasana baru, di sini.”
“Bandung kan sudah menyakiti Abang,” bantah Keanu. Sedari kecil, dirinya sudah menjadi saksi Davian menjadi target makian ibunya.
“I know, adek. Tapi… Abang rasa Jakarta juga sama saja, malah merasa sepi.”
“Abang secinta itu ya sama Kak Skayara? Sampai pergi ke sini biar enggak ketemu dia lagi?”
“Iya, Abang secinta itu. Tapi sekarang, Skayara bukan siapa-siapa aku lagi. Urusan dia sudah sama Kak Theo. Abang enggak mau memandang dia sebagai masa lalu lagi, Dek. Abang enggak mau memandang Skaayra nanti sebagai orang jahat, kayak Abang lihat Ibu yang dulu. Makanya, mending Abang yang kabur.”
Keanu menghela napasnya berat, bersandarkan punggungnya ke dinding di dekat kasur Davian, “Sabar saja, Bang. Ini masa remaja Abang, tempat Abang melewati berbagai peristiwa, mulai dari sakit hati. Dunia Abang juga tidak hanya soal Kak Skayara, di Bandung yang mulai bercahaya lagi, pasti Abang bisa merasakan bahagia seperti masa kecil Abang dulu.”
“Masa kecil Abang suram, Dek.”
“Sebelum kejadian Ibu lah.”
Davian duduk dari posisinya. Menoleh ke Keanu yang berpakaian santai, kaos putih dan celana pendek. Laki-laki yang hanya melepas jaketnya tersebut membenarkan ucapan Keanu dalam hati. Memang, hidupnya bukan soal Skayara aja.
“Bandung sekarang bagaimana, Dek? Di lingkungan rumah ada yang baru kah?”
“Tidak banyak sih akhir-akhir ini. Aku juga jarang main keluar jauh. Palingan Braga jadi lebih ramai daripada biasanya. Ibu juga tiba-tiba suka buat brownies. Kalau lingkungan rumah, sekarang ada taman gede sih, Bang. Banyak bunganya, cantik. Warga di sini masih sama, enggak ada yang pindah.”
“Djaka gimana, Dek?”
“Bang Djaka masih tinggal di sini kok, tapi dia suka keluar jauh gitu, jadi Adek jarang lihat. Abang kangen teman-teman dulu kah?”
Davian mengangguk, “Iya, tapi Abang udah mulai lupa sama teman SD dulu, palingan Djaka doang karena paling sering main sama dia.”
“Teman aku siapa saja sih Dek? Kan kamu lebih sering ketemu mereka.”
“Ada Bang Djaka, Wisesa sama Angga. Yang perempuan malah lebih banyak tinggal di sini, tapi Keanu enggak kenal juga. Kan teman Abang yang cewek itu sedikit.”
“Sama itu Bang… Kak Deeya.”
“Nama itu lagi, tadi Kak Theo juga ngomong gitu waktu mau berangkat. Deeya yang mana, Dek?”
“Kayaknya dia dulu dekat sama Abang, Mas Theo lebih kenal sama hubungan kalian. Kata Ibu, rumah dia dekat banget sama kita, tapi aku enggak tahu yang mana.”
“Setelah Abang pindah ke Jakarta, dia jarang keluar rumah, Bang. Kata teman Adek yang kenal dia, Kak Deeya itu berangkat sekolah itu kepagian, pulangnya telat. Adek juga sudah enggak tahu muka Kak Deeya yang sekarang.”
Davian hanya mengangguk pelan, dia penasaran dengan Deeya yang dimaksud kedua saudaranya.
Haruskah dia mencari Deeya?
메타데이터
- post_id
- dda46bc010d5
- slug
- rumah-yang-selalu-dirindukan-dda46bc010d5
- url
- https://medium.com/@kayananalmeira/rumah-yang-selalu-dirindukan-dda46bc010d5
- canonical_url
- https://medium.com/@kayananalmeira/rumah-yang-selalu-dirindukan-dda46bc010d5
- author_url
- https://medium.com/@kayananalmeira
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 12:09:53