While he’s still remembering the good parts.
Menghilang dua tahun ternyata belum cukup untuk mengikis nama perempuan itu dari kepalanya. Ia masih mengingat hal-hal baik tentangnya.
While he’s still remembering the Good Parts

— November 2026
Hampir dua tahun berlalu tanpa pernah ada lagi pesan singkat, sapaan canggung, atau persilangan jalan di antara mereka. Andreas tetap menjadi pria yang sama, tenggelam dalam rutinitas kerjanya sekarang, menyeduh kopi yang sama, dan mengurung pikirannya dalam dinding-dinding tinggi yang ia bangun sendiri.
Malam itu, di kamar yang hanya diterangi pendar layar ponsel, Andreas membuka Instagram secara impulsif, sebuah kebiasaan buruk di jam dua pagi saat kepalanya terlalu bising untuk tidur.
Ikon lingkaran merah-ungu di bagian atas layarnya membuat jarinya terhenti tepat di username noellesadjiwa.
Iya, itu akun si gadis September yang dua tahun lalu ia patahkan hatinya.
Sudah berbulan-bulan Andreas sengaja tidak pernah menekan lingkaran itu. Namun malam ini, entah karena kelelahan atau rasa rindu yang merayap diam-diam, jarinya menyentuh layar.
Instastory Noelle terbuka.
Foto pertama adalah sebuah foto candid dengan latar cerah. Hanya foto seorang pria berpostur jangkung yang tertawa lepas di balik kamera. Wajahnya sepenuhnya menghadap kamera, tapi aura hangatnya terpancar jelas — tipe pria dengan binar mata jahil, mata yang ikut tersenyum lebar tanpa beban, dan keramahan alami yang seketika mengingatkan orang pada kehangatan seekor golden retriever.
Pria itu sedang tertawa karena sesuatu yang diucapkan si pembuat foto, masih memegang payung dengan gemas ketika cuaca sedang panas. Persis seperti anak kecil disuruh berpose untuk foto.

Di bagian bawah foto, ada tulisan berwarna putih yang ditulis rapi oleh Noelle, lengkap dengan menandai akun milik Richard.
“Happy birthday to this sunshine! (Yes, my sunshine). Thank you for making every day feel so light and easy. Here’s to celebrating all your good parts, today and always. 🤍🎂”
Tangan Andreas membeku. Matanya tertahan pada baris kalimat terakhir.
…celebrating all your good parts.
Dada Andreas mendadak terasa dihantam oleh udara dingin yang teramat tajam. Kata-kata itu. Kata-kata yang dulu ingin sekali Andreas dengar untuk dirinya sendiri, kini diberikan Noelle kepada pria bernama Richard itu — pria jangkung yang tidak terlihat memiliki dinding penutup, tidak tampak menyimpan prasangka, dan melangkah tanpa ragu untuk menyambut seluruh kehangatan Noelle.
Andreas menggeser ke story berikutnya. Kali ini fotonya Noelle dari sudut pandang Richard yang ia posting ulang.

Di foto itu, Andreas melihat Noelle yang sama sekali baru. Beda dari mata lelah dan bingung yang ia tinggalkan di kafe dua tahun lalu, Noelle kini duduk di tepi pantai dengan rambut yang menyala terang. Senyumnya memang tipis menahan silau matahari untuk melihat ke arah lelaki di balik kamera, tapi matanya berbinar utuh. Tampak begitu lepas, begitu ringan.
Noelle tidak lagi bersusah payah mengetuk pintu yang terkunci rapat. Perempuan itu telah menemukan seseorang yang membukakan pintu rumahnya lebar-lebar sejak hari pertama.
Andreas perlahan menurunkan ponselnya, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Penyesalan yang setahun lalu berupa letupan amarah pada diri sendiri, kini berubah menjadi rasa pusing yang hampa dan tenang.
Ia tidak membenci Richard, bahkan tidak bisa membenci Noelle. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, Andreas menyadari kebenaran yang paling pahit bahwa Noelle tidak pernah meminta sesuatu yang mustahil. Perempuan itu hanya butuh dicintai tanpa harus diminta bertarung dengan bayangan ketakutan orang lain.
Di malam itu, sambil menatap pendar layar ponselnya yang perlahan mati, Andreas akhirnya mengerti, bahwa melihat Noelle berbahagia dengan orang lain adalah hukuman paling adil atas keputusannya untuk tidak pernah memilih perempuan itu saat ia punya kesempatan.
Andreas mematikan layar ponselnya. Kegelapan kamar seketika menyerap pendar cahaya itu, menyisakan kesunyian yang amat pekat.
Padahal Andreas ingat.
Ia ingat semuanya. Kepingan-kepingan memori itu datang bertubi-tubi tanpa permisi, seperti pita kaset lama yang berputar ulang di kepalanya.
Ia ingat Noelle yang selalu hafal jenis kopi yang ia pesan saat kepalanya sedang bising. Ia ingat bagaimana jemari lentik Noelle selalu memainkan ujung lengan bajunya yang kebesaran tiap kali perempuan itu merasa canggung. Ia ingat kehangatan tawa renyah Noelle tanpa sekat yang dulu selalu berhasil meredakan badai di dadanya, bahkan tanpa perlu sang puan berusaha keras.
Ia ingat bagaimana Noelle melihatnya. Bukan seperti dunia memandangnya dengan segala tuntutan dan ekspektasi, melainkan dengan tatapan paling teduh yang pernah ia dapatkan. Noelle yang selalu siap mendengarkan cerita terburuknya dan tidak pernah menghakiminya saat ia merasa gagal. Si perempuan Virgo yang dengan tulus memeluk seluruh bagian dari dirinya, hal-hal baik, hingga bagian paling berantakan sekalipun.
Semua hal baik itu nyata. Kehangatan itu pernah menjadi miliknya, ada di jangkauan tangannya setiap hari.
Namun, di dalam kegelapan malam yang dingin, rasa sakit yang sesungguhnya bukanlah fakta bahwa memori itu telah berlalu, melainkan kesadaran bulat yang menyertainya, Andreas ingat semua hal baik dari Noelle, tetapi ia tak pernah membiarkan dirinya menjadi hal baik untuk Noelle.
Ia menerima seluruh kehangatan perempuan itu, namun membalasnya dengan jarak. Ia menyerap seluruh kesabaran Noelle, namun membayarnya dengan ketidakpastian dan keputusan untuk selalu kabur.
Dalam ingatan Andreas, Noelle dulu adalah rumah yang pintunya selalu terbuka lebar. Mungkin Richard — si jangkung di layar ponselnya tadi, bukanlah seseorang yang mencuri rumah itu darinya. Richard hanyalah seseorang yang berani melangkah masuk, menyapu bersih debu-debu kecemasan yang ditinggalkan Andreas, dan tinggal di sana dengan hati yang utuh.
Andreas memejamkan mata erat-erat. Di balik kelopak matanya, ia masih bisa melihat bayangan senyum Noelle di fotonya tadi. Senyum yang begitu ringan, tanpa beban, dan benar-benar bahagia.
Ia menyandarkan kepala ke bantal, membiarkan sesak di dadanya mengendap perlahan. Andreas akhirnya sadar, mengingat hal-hal baik dari orang yang pernah mencintaimu adalah hal yang mudah. Tetapi, hal yang paling sulit adalah hidup bersama kenyataan bahwa kamu sendiri yang memilih untuk melepaskan hal terbaik itu pergi.
Beberapa kali dalam setahun terakhir, jari Andreas mematung di atas layar ponselnya, menggantung tepat di atas nama Noelle.
Ada malam-malam di mana kepalanya terlalu sunyi dan penyesalan itu merayap naik begitu sesak, membuatnya mengetik pesan-pesan panjang. Pesan yang berisi penjelasan tentang betapa bising kepalanya hari itu, permintaan maaf atas cara ia melarikan diri, atau sekadar pengakuan jujur bahwa ia merindukan cara Noelle menatapnya.
Namun, pesan-pesan itu tak pernah benar-benar terkirim.
Setiap kali jarinya hampir menyentuh tombol kirim, bayangan Noelle yang berdiri sendirian menembus hujan di depan kafe hari itu selalu kembali menghantamnya. Andreas teringat betapa lelahnya mata Noelle saat itu — sebuah kelelahan yang kian menebal setiap kali Andreas datang dan pergi sesuka hati.
Ia sadar, mengetik pesan hanya untuk memuaskan rasa bersalahnya adalah bentuk keegoisan yang baru. Jika ia kembali hadir — bahkan hanya lewat satu baris kalimat sederhana seperti “Apa kabar?” — ia hanya akan membuka kembali retakan yang mungkin sudah susah payah Noelle perbaiki. Ia hanya akan menjadi distraksi yang mengganggu proses pulih perempuan itu.
Maka, Andreas selalu menekan tombol hapus. Karakter demi karakter hilang dari layarnya, menyisakan kolom obrolan yang tetap bersih dan dingin.
Menahan diri untuk tidak menghubungi seorang Noelle Indira Sadjiwa adalah satu-satunya hal bertanggung jawab yang bisa ia lakukan sebagai seorang pria penakut seperti dirinya. Ia membiarkan namanya perlahan terkubur di masa lalu Noelle, menerima peran sebagai babak buruk yang harus dilalui perempuan itu sebelum akhirnya menemukan kebahagiaan yang jauh lebih pantas.
Andreas mematikan ponselnya, membiarkan layar hitam itu merefleksikan bayangan wajahnya sendiri yang samar. Di luar, rintik hujan malam mulai memukul genting kamar — irama pelan yang konstan, sama persis seperti suara hujan sore itu, satu tahun yang lalu.
Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan keheningan menelan seluruh sisa keberaniannya yang terlambat.
Pedih rasanya menyadari bahwa di antara mereka berdua, Noelle tidak pernah meminta keajaiban. Perempuan itu tidak pernah menuntut Andreas untuk memiliki hidup yang sempurna, karier yang mapan, atau kepala yang selalu tenang. Noelle hanya berada di sana, membawa perasaannya yang jelas dan nyata, menunggu Andreas melangkah satu senti saja mendekatinya.
Namun Andreas memilih membiarkan ruang di antara mereka tetap kosong. Ia terlalu sibuk dengan bayang-bayang ketakutannya sendiri dan merasa terlalu pengecut untuk sekadar mengulurkan tangan dan memulai sesuatu yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Ia membiarkan kehangatan itu menguap begitu saja. Bukan karena mereka tidak saling rasa, melainkan karena ia tidak pernah berani memulainya.
Kini, melihat Noelle tersenyum lepas di bawah naungan payung pria lain, Andreas akhirnya mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia hindari. Bahkan itu tidak datang dari percakapan panjang di kafe, tidak juga dari surat maaf yang tak pernah ia kirimkan. Akhir cerita itu hadir dari kenyataan yang sangat jelas bahwa beberapa orang hadir dalam hidup kita bukan untuk dimiliki, melainkan untuk menjadi cermin.
Noelle adalah cermin yang memperlihatkan betapa besarnya potensi Andreas untuk dicintai, sekaligus betapa penakutnya ia untuk menerima cinta itu.
Andreas menarik napas panjang, meresapi rasa sesak di dadanya hingga ke dasar. Ia tidak akan mengetik pesan lagi. Ia tidak akan mencari tahu tentang Richard, atau menunggu ikon cerita Instagram Noelle berubah warna besok malam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Andreas membiarkan kepalanya berhenti berdebat. Ia memejamkan mata, membiarkan kenangan tentang Noelle, perempuan berambut pendek dengan tawa renyah dan matanya yang menyipit itu tersimpan rapi sebagai bagian paling indah sekaligus paling menyakitkan dari masa lalunya.
Selamat ulang tahun untuk pria yang berani memulainya, Noelle, bisik Andreas dalam hati, menyerahkan seluruh doa yang tersisa pada malam yang makin larut. Dan terima kasih, pernah mencoba membangunkanku dari ketakutanku sendiri.
Noelle sedang menyenderkan bahunya di dada Richard, menikmati semilir angin pantai yang menerpa wajah mereka sambil menunggu makan malam saat ponsel di genggamannya bergetar pelan. Di layarnya, daftar penonton story yang baru ia unggah beberapa jam lalu terus bertambah. Namun, satu nama di barisan paling bawah membuat ibu jarinya terhenti sejenak.
Andreas Kaivan Mahendra.
Sebuah kejutan kecil menyengat dadanya. Sudah dua tahun nama itu tak pernah melintas di layarnya, tenggelam bersama selaksa pertanyaan yang dulu selalu membebani kepalanya.
Noelle mematikan layar ponselnya, lalu menghembuskan napas pelan — bukan desah kelelahan seperti dulu, melainkan hembusan napas yang begitu ringan. Tidak ada lagi debar cemas, tidak ada lagi rasa sakit yang tajam. Yang tersisa hanya ketenangan.
“Kenapa, sayang?” suara Richard mengalun hangat tepat di atas kepalanya. Pria jangkung itu membetulkan posisi jaket parasut yang ia sampirkan di bahu Noelle, memastikan perempuan itu tidak kedinginan oleh angin laut.
Noelle mendongak, menatap garis wajah Richard yang selalu diterpa sinar matahari — hangat, terbuka, dan tak pernah menyimpan rahasia. Sejak awal, Noelle tak pernah menyembunyikan cerita tentang Andreas. Ia sudah menceritakan semuanya, tentang pria yang pernah ia cintai secara utuh namun memilih lari, tentang masa-masa di mana Noelle merasa tidak pernah cukup, hingga keberaniannya untuk berjalan pergi di bawah hujan sore itu.
Sementara Richard? Pria itu mendengarkan semuanya tanpa pernah menghakimi. Richard tidak membenci Andreas, ia justru menggenggam tangan Noelle lebih erat hari itu dan berkata, “Makasih ya udah berani jalan keluar dari kafe itu. Kalau kamu nggak keluar, aku kayaknya enggak bakal pernah punya kesempatan buat ketemu kamu.”
“Kak Andreas baru aja ngeliat story-ku,” bisik Noelle jujur, menunjukkan layar ponselnya.
Richard melirik nama itu sebentar, lalu terkekeh pelan, tawa renyah tanpa beban khas dirinya. “Wah, si cowok bingung itu akhirnya muncul juga,” Pria itu menyandarkan dagunya di kepala Noelle, jemarinya mengacak pelan rambut Noelle yang kini berwarna terang. “Kamu gapapa?”
Noelle tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya kembali ke dada Richard, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
“Gak apa-apa kok,” sahut Noelle tulus.
Noelle tahu, Andreas mungkin sedang berada di suatu tempat, menatap layarnya dengan sejuta penyesalan atau pertanyaan yang terlambat. Namun Noelle tidak lagi bertanggung jawab atas pikiran pria itu. Ia sudah selesai dengan masa lalu yang penuh ketidakpastian.
Di samping Richard, Noelle tidak perlu memohon untuk dicintai secara utuh, tidak perlu takut ditinggalkan tanpa kabar, dan tidak perlu bersusah payah menebak-nebak posisi dirinya. Richard telah membukakan pintu rumahnya lebar-lebar sejak hari pertama, memeluk seluruh bagian dari Noelle, baik yang bersinar maupun yang berantakan dengan cara yang sangat mudah dan tanpa syarat.
Noelle membiarkan ponselnya tergeletak di atas pasir, tak berniat menghapus atau menyembunyikan apa pun. Saat matahari pantai mulai tenggelam menyisakan warna jingga yang hangat, Noelle menggenggam jemari Richard erat-erat. Ia telah merelakan kepingan masa lalunya, dan kini, ia siap menyambut seluruh masa depannya dengan hati yang sepenuhnya utuh.
Meski benaknya membiarkan dirinya melayang sebentar ke malam itu. Kencan mereka yang entah kesepuluh atau kesebelas, di sebuah warung sate taichan tenda pinggir jalan yang riuh oleh suara lalu lintas.
Noelle ingat betul betapa canggungnya ia saat memutuskan untuk menceritakan kisah tentang Andreas. Ia sudah bersiap dengan tameng, menunggu respon yang biasa diberikan orang-orang. Entah mungkin rasa cemburu, nada penghakiman, atau Andreas yang dipandang sebagai musuh bersama.
Namun, Richard saat itu hanya mendengarkan. Pria itu meletakkan sendoknya, menopang dagu dengan kedua tangan, dan menatap Noelle dengan mata cokelatnya yang jernih dan penuh perhatian. Tidak ada gestur defensif ataupun tatapan tidak nyaman.
“Dia bukan orang jahat, Rich,” kata Noelle malam itu, suaranya agak ragu. “Dia cuma penakut. Waktu itu aku capek terus-terusan nunggu orang penakut buat jadi berani.”
Richard tidak menyela. Setelah Noelle selesai bercerita, pria itu hanya tersenyum tipis, senyum hangat yang langsung meluluhkan ketegangan di bahu Noelle.
“Aku bersyukur sih kalau dia ternyata penakut,” sahut Richard santai malam itu, sambil menuangkan teh hangat ke cangkir Noelle. “Soalnya kalau dia berani, aku nggak bakal punya celah buat masuk ke hidup kamu. Tapi Noelle, makasih ya udah mau cerita. Mulai sekarang, kamu enggak perlu nunggu siapa-siapa lagi. Kan udah ada aku di sini,”
Ingatan itu membuat Noelle tersenyum sendiri.
Richard tidak pernah merasa bersaing dengan hantu dari masa lalu Noelle, karena sejak awal, Richard tahu di mana posisinya. Si lelaki Sagitarius itu bukan sekadar tempat pelarian, melainkan tujuan akhir yang dipilih Noelle dengan sadar.
Di atas pasir pantai yang mulai dingin, Richard melirik Noelle yang tersenyum menatap laut. “Kenapa jadi ngelamun? Kangen sama sate taichan pinggir jalan waktu aku dengerin ceritamu itu?”
Noelle tertawa kecil, menggeleng pelan. “Enggak. Cuma tiba-tiba kepikiran aja… betapa beruntungnya aku malam itu karena berani cerita semuanya ke kamu,”
Richard tidak menjawab dengan kata-kata puitis. Pria jangkung itu hanya merangkulkan lengannya yang hangat, menarik Noelle lebih dekat ke dalam pelukannya, membiarkan angin pantai menyapu mereka saat matahari sepenuhnya tenggelam di garis horison.
Langit sore di pinggir pantai itu perlahan berubah warna, melukis gradasi jingga dan keunguan yang hangat di garis horison. Suara ombak yang bergulung pelan menjadi satu-satunya musik latar yang tersisa, menyapu jejak-jejak langkah di atas pasir basah.
Richard mengecup puncak kepala Noelle singkat, lalu berdiri lebih dulu. Pria jangkung itu mengulurkan kedua tangannya, bersiap menarik Noelle agar ikut bangkit dari duduknya.
“Yuk,” kata Richard dengan senyum lebar yang selalu berhasil memantulkan cahaya matahari sore. “Nanti keburu makin dingin.”
Noelle menyambut uluran tangan itu tanpa ragu. Dalam satu tarikan lembut yang mantap, ia kembali berdiri tegak di samping Richard. Tidak ada ketakutan akan goyah, tidak ada keraguan apakah ia akan dijatuhkan.
Sebelum melangkah pergi, Noelle melirik ponselnya yang tergeletak di atas kain pantai. Layarnya sempat menyala sebentar, menampilkan pendar tipis dari nama yang pernah menjadi seluruh dunia dan kerumitannya, Andreas. Namun detik berikutnya, layar itu redup dan mati sepenuhnya.
Noelle tidak mengambil ponsel itu untuk mengecek apa pun lagi. Ia hanya memasukannya ke saku jaket dan membiarkan nama itu tenggelam di antara barisan penonton story-nya menjadi bagian dari masa lalu yang akhirnya benar-benar selesai.
Di tempat terpisah, ratusan kilometer jauhnya, seorang pria masih menatap layar ponselnya yang dingin di dalam kamar yang gelap, mengutuk rasa takutnya yang terlambat. Namun di pinggir pantai ini, rintik hujan dan kafe sepi dua tahun lalu tak lagi punya kuasa apa-apa.
Noelle menyelipkan jemarinya di antara jemari Richard yang hangat, mengunci genggaman itu dengan erat. Mereka melangkah bersama meninggalkan pesisir, menyongsong malam yang mulai turun — membawa serta seluruh cinta yang utuh, yang tak lagi perlu meminta untuk diterima.
메타데이터
- post_id
- ddb4ea26ce47
- slug
- while-hes-still-remembering-the-good-parts-ddb4ea26ce47
- url
- https://medium.com/@duchessnut/while-hes-still-remembering-the-good-parts-ddb4ea26ce47
- canonical_url
- https://medium.com/@duchessnut/while-hes-still-remembering-the-good-parts-ddb4ea26ce47
- author_url
- https://medium.com/@duchessnut
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 01:36:57