The Hell of Luxifer and Abraxas
"jangan bodoh jadi orang."
The Hell of Luxifer and Abraxas
"jangan bodoh jadi orang."
perkataan Alex menusuk hatiku yang bahkan baru saja berjalan mendekatinya setelah menerima telepon, rasanya seperti ditusuk tepat di ulu hati. ia duduk di halaman belakang sore ini, cuaca hangat sejuk disambut dengan angin mendung yang awannya terlihat gelap di barat daya rumah kami.
"maksudnya apa?"
Alex mendecis, "ya elu, jangan bodoh jadi orang. kalo udah disakiti jangan ngemis, bodoh."
"kamu tau apa Lex soal aku? aku gapernah cerita ke kamu."
Alex menggeleng pelan, bibirnya tertarik membentuk senyum miring khas. "lu pikir gua gatau soal masalah lu? You're being insulted because you don't have self-respect boundaries."
aku menarik nafas lalu tersenyum, "cuma salah paham kok, lagipula kami bakal nikah kalau dia udah bener-bener mapan nantinya."
"gua bilang juga apa, lu itu bodoh. lu yakin bisa hidup selamanya dibawah tekanan?"
aku terdiam, entah bagaimana Alex bisa berkata sedemikian relate dengan kondisiku saat ini.
semua berawal dari salah paham antara aku dan calon suamiku karena ayahnya tak merestui ia menikah dengan seseorang yang menurutnya aneh. auraku negatif, katanya. ayahnya mengatakan hinaan secara implisit untuk namaku yang mirip iblis pada pertemuan pertama kami saat makan malam bersama dan aku mencoba untuk tertawa. tapi beberapa minggu yang lalu kami bertemu kembali di sebuah supermarket dan ia melihatku berbelanja dengan Alex dan adik tiri kami yang masih kecil, Allucas. ia berpikir aku sudah berkeluarga dan mempermainkan hati anaknya. sialnya, calon suamiku percaya pada omongan ayahnya walaupun ia tahu bahwa alex adalah adik kembarku. hal itu menyulut pertengkaran kecil diantara kami setiap kali kami bertemu, dan aku hanya menganggap nya bercanda. namun entah bagaimana rasanya setiap mendengar kata-kata sarkasme pacarku disetiap pertengkaran, hatiku langsung hancur.
ah, Alex... sejak ia bercerita soal keadaannya malam itu, dia semakin banyak terbuka dan bertanya padaku. selalu rutin melempar pertanyaan kecil dan ringan di sela-sela rutinitas kami, seperti warna kesukaan, kebiasaan saat tidur, atau merek sepatu. ia juga sering mengantarku pergi ke cafe atau berbelanja saat ibu tiri kami menyuruhku pergi ke supermarket.
memang senang rasanya bisa dekat dengan kembaranku, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh.
"aku... gatau. aku akan coba perbaiki hubunganku sama ayahnya, lagipula ini hal sepele."
Alex nampak diam sembari menghela nafasnya, ia terlihat kecewa. aku memegang pundaknya, "it's okey, aku gapapa kok."
"gua harap lu ga lupa kalo lu itu tanggungjawab gua, flex."
sore beranjak malam, kurasa semua berjalan seperti biasa, namun feelingku berkata lain. rasanya waktu seperti sedang berjalan menuju bom takdir yang telah dipersiapkan ditengah api dan sesaknya seperti akan meledak. aku mencoba untuk menenangkan hatiku malam itu dengan membuat brownie di dapur hingga aku menyadari bahwa handphone ku menghilang, padahal saat itu aku rasa aku meletakkannya di dekat rak piring.
Aku mencari benda gepeng itu hingga ke kamar dan ruang tamu, tapi tak kunjung menemukannya, hingga aku kembali ke dapur namun ajaibnya benda itu kembali berada didekat rak piring. Aku bergeming sebentar, kuraih benda itu.
Segera ku buka benda tipis itu, sebanyak 20 panggilan masuk tak terjawab dari pacarku tertera disana. aku segera membuka roomchat pacarku ingin mengirim pesan singkat, namun mataku terbelalak karena disana ada chat yang berisi kami bertengkar hebat dan aku mengajaknya bertemu di rumahnya. aku tidak pernah mengirim pesan itu, kurasa bahkan tidak seberani itu untuk bertemu di rumahnya.
hatiku kembali menjadi tidak tenang, segera kutinggalkan adonan kue yang belum sepenuhnya jadi dan pergi kerumahnya. ibu tiriku sempat mengajakku berbicara, namun aku memilih untuk tidak mendengarkan, kecuali satu kalimat terakhir.
"punya anak tiri dua, dua-duanya demen kelayapan malem-malem!"
dua-duanya? apakah itu berarti Alex juga pergi keluar? apa jangan-jangan Alex yang melakukan semua ini? semua terasa makin ambigu, skenario terburuk terputar di otakku hingga aku tak fokus berkendara, dan benar saja, kulihat motor Alex terparkir di halaman rumah pacarku.
jantungku berdegup sangat kencang ketika melihat pintu rumah itu terbuka sedikit, aku secara impulsif berjalan masuk menerobos ruang tamu hingga ke kamar pacarku, mengelilingi rumah hingga tiba di gudang belakang yang lumayan gelap dan usang. tubuhku terdiam disana selama beberapa detik, menyaksikan pacarku yang bertengkar dengan adikku sendiri.
"gede juga nyali lu nantang gua."
pacarku menyahuti, "gue ga pernah takut sama pelacur modelan lo sama kakak lo."
"kurang ajar." Alex melayangkan pukulan di pipinya.
tapi sekali lagi, aku tak pernah kuasa menghentikan apa yang adikku lakukan. lagi dan lagi, senyum tipis mengembang di pipiku saat ia mengambil balok kayu besar didekatnya dan mengayunkan benda itu, menghantam kaki pacarku.
pacarku tak tinggal diam, ia merebut balok kayu yang Alex pegang dan memukul Alex berkali-kali. aku tetap diam disana hingga 30 detik setelahnya, namun pacarku masih memukul dan menginjak adikku, seolah ia tak tahu bahwa aku hadir disana, atau bahkan ia tak menghargai Alex sebagai calon adik iparnya sama sekali. bahkan ia sempat mengumpati adikku, menyebutnya sebagai iblis jahannam.
mendengar hal itu, hatiku terasa panas. untukku, seperti apapun sifat dan bentuk adikku, adikku adalah manusia, adikku bukan iblis seperti yang ia katakan, selama ini adikkulah yang menanggung semua kesakitan untuk menggantikanku. betapa kurang ajarnya kalimat itu hingga aku naik pitam mendengarnya. aku melihat ke sekeliling, bisikan dari dalam hatiku menuntutku untuk menghentikan pacarku. kuambil cangkul yang ada di gudang itu, lalu...
BRAKKK, aku menghantam kepalanya dengan mata cangkul tersebut.
airmata ku reflex jatuh, aku gemetar, kulihat dengan jelas tengkorak pacarku pecah dan mengalirkan darah segar. ia mengerang memegang kepalanya dan ambruk berlutut didepan Alex yang melihatku dengan mata penuh nyala.
sedetik kemudian bayangan hubunganku dengan pacarku kembali terputar, tentang bagaimana ia mengutamakan orang lain, tentang bagaimana ia membiarkan aku depresi, dan tentang tekanan yang aku terima selama ini. nafsu menguasaiku sepenuhnya, aku kembali mengayunkan cangkul ku secara membabi buta untuk menghabisi sisa nyawa pacarku yang sudah sekarat. airmata ku terus mengalir seiring dengan derasnya darah yang keluar dari tubuhnya, melampiaskan seberapa banyak sakit hati yang aku pendam selama ini.
benar, pacarku tewas ditanganku sendiri. ia menghembuskan nafas terakhirnya didepan mataku, bahkan didepan mata ayahnya juga yang sedang mengintip. Alex tahu bahwa calon mertuaku melihat kami dari jauh, jadi ia beranjak dengan menahan badannya yang penuh kesakitan untuk mengejar dan menghabisinya.
Alex mengejarnya hingga kedapur dan pria itu lari tergesa-gesa hingga jatuh terpeleset, dengan nafas yang memburu ia merangkak, menyeret tubuhnya yang telah berusia lebih dari setengah abad diatas lantai dapur yang dingin, meninggalkan bekas seretan yang ngilu.
melihat hal itu, adikku itu berhenti mengejar. ia tahu tak ada lagi tempat bagi pria tua tersebut untuk lari. ia berjalan pelan mengikuti jejak basah di lantai. senyumnya dingin, matanya yang penuh kebencian menatap pria itu. suara detik jam dinding seolah bukan lagi pengukur waktu, tapi penghitung sisa jumlah nafas bagi pria tersebut.
Alex mengambil pisau dapur, "mau lari kemana?" suara Alex terdengar parau, setengah berbisik namun dingin dan tajam.
pria tua itu berbalik, matanya nyalang menatap mata adikku yang benar-benar dingin. wajahnya yang awalnya penuh kesombongan kini pucat pasi, tak dapat dipungkiri ia tengah ketakutan setengah mati. semakin ia takut, semakin lebar pula senyum dingin adikku.
Alex tak banyak bicara, ia berjongkok pelan lalu JLEB... menusuk kuat perutnya dengan pisau dapur. pria tua itu melotot, ia menutupi raut kesakitannya dengan tetap mencoba ingin menjambak Alex meskipun ususnya telah terkoyak. namun jelas, ia kalah tenaga dengan Alex yang masih muda dan sehat. dengan sekali pukul, calon mertuaku itu terkapar tak berdaya didepan Alex.
dengan nafas berat ia menyumpah, "iblis keparat! saya sumpahi manusia berhati iblis seperti kalian takkan bisa masuk ke surga!"
Alex terdiam sejenak, lalu tertawa sinis, "kalo gua manusia berhati iblis, terus lu apaan?"
Alex mendekatkan wajahnya, membiarkan ayahnya pacarku itu melihat pantulan neraka di mata Alex. pria tua itu reflex menarik diri dengan terengah-engah, sembari meraba perutnya yang bolong. di matanya masih menyala api kesombongan dan dendam meskipun saat ini ia merintih menahan kesakitan.
"denger ya tua bangka, gua emang iblis."
"dan justru manusia sok suci yang suka nyakitin hati orang lain kayak lu yang harusnya ikut gua ke neraka. lebih baik lu minta maaf didepan malaikat pencabut nyawa sekarang, selagi nyawa lu belum dibawa."
pria tua itu masih menyombongkan ego diujung nafasnya. ia meludahi wajah adikku, "minta maaf? cuih, sampai matipun saya tidak akan pernah meminta maaf pada iblis seperti kamu dan kakakmu yang sensi itu, padahal sebatas harga diri pun kalian tak punya!"
Alex menerjang dadanya, "bacot."
kemudian Alex menarik pisaunya dengan kasar, membiarkan pria itu ambruk bersimbah darah di lantai. ia berdiri, menghapus cipratan darah di pipi menggunakan punggung tangannya dan menyeret jasad pria tua itu ke gudang.
sementara itu, aku terus meminta maaf didepan jasad pacarku yang tubuhnya sudah tercerai berai tak utuh, menyesali apa yang telah ku lakukan demi adikku, juga demi membalaskan rasa sakit hatiku yang aku pendam selama ini. cangkul berlumuran darah itu masih kupegang erat, sedangkan aku menangis meratapi apa yang baru saja terjadi.
"ma... maaf..."
mata Alex yang tadinya dingin, melunak ketika melihatku menangis, "gausah ditangisin flex, airmata lu lebih berharga dari nyawa dia."
aku menengok kearahnya, "tapi Lex, aku bener-bener ga sengaja ngelakuin ini, aku gelap mata, sumpah aku ga niat, aku tadi..."
Alex memotong, "stfu. apapun alasannya, bajingan gapernah pantes dikasih ampun."
Aku menyeka airmataku, kemudian melihat Alex yang berlumuran darah juga sembari menyeret tangan ayah pacarku yang sudah tak bernyawa. sekarang pikiranku tertuju pada mayat ini, bagaimana aku harus memperlakukan mereka?
"sekarang gimana? aku takut kita ditangkep polisi."
Alex berfikir sejenak, "lu laper ga?"
aku mengangguk.
"yaudah, dibikin bakso aja."
aku melongo berusaha memahami, "hah??"
Alex menghela nafas, "kita kuliti mereka terus giling dagingnya buat diolah jadi bakso. lu yang masak."
what? bakso daging pacar? yang benar saja, aku bukan kanibal, dan pastinya akan jijik memakan daging pacarku dan calon mertuaku sendiri. belum lagi proses mutilasi? dua mayat ini pasti jadi berkilo-kilo daging giling. mau buat bakso sebanyak apa dengan daging sebanyak ini? kalau tidak habis, siapa yang mau makan sisanya? ya ampun, baru membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri.
"selama hidup dia ga ada gunanya flex, at least pacar lu ada gunanya sekarang, walaupun cuma jadi bakso. biarkan dia jadi berguna untuk terakhir kalinya."
메타데이터
- post_id
- ddbea4eae5fb
- slug
- the-hell-of-luxifer-and-abraxas-ddbea4eae5fb
- url
- https://medium.com/@puspaarichie/the-hell-of-luxifer-and-abraxas-ddbea4eae5fb
- canonical_url
- https://medium.com/@puspaarichie/the-hell-of-luxifer-and-abraxas-ddbea4eae5fb
- author_url
- https://medium.com/@puspaarichie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 20:33:08