Catatan Kaki: Musim Dingin yang Hangat di Zenkoji
Part 3 — Zenkoji Temple
Catatan Kaki: Musim Dingin yang Hangat — Part 3
Malam berganti terang, walau tidak seterang hari sebelumnya. Setelah hari yang begitu cerah seharian kemarin, pagi ini tampak sedikit mendung. Kami berjalan menuju suatu kuil yang menjadi ikon kota ini. Tak banyak hingar bingar di kota ini, sewajarnya saja orang berjalan atau mungkin bersepeda. Di antaranya pun nampak ada yang sedang berlari, lengkap dengan sepatu larinya dan segala pelindung musim dingin. Salut!
Kami tak mengira jalanan ini menanjak, membuat kami sedikit berkeringat di dalam. Kami bisa saja menggunakan bus untuk ke kuil ini, namun sepertinya akan lebih cepat jika kami berjalan kaki saja. Lumayan untuk menggantikan rutinitas olahraga kami.
Zenkoji Temple
Di pagi yang dingin ini, ternyata sudah banyak yang kemari. Tercium harum wangi masakan, warung sekitar pun sudah siap menerima pelanggan. Jadi tempat ini pun juga “hidup” di waktunya sendiri. Begitu juga ibu-ibu yang menjual jimat dan souvenir, semuanya sudah siap untuk diperlihatkan.

Semua yang warna-warni sangat menarik untuk ditilik. Berbagai macam jenis, beragam arti dan makna. Satu hal tampak begitu sederhana dibandingkan yang lain. Ternyata itu adalah lonceng, handmade. Seperti besi tanpa cat namun ringan. Ia tidak lantang namun menenangkan. “Lonceng itu dibuat dengan tangan, sehingga suaranya akan berbeda satu dengan yang lain,” begitu penjelasan sang ibu. Ku coba membunyikan beberapa, wah iya berbeda. Tipis, tapi terdengar beda.
“Itu disebut suara Buddha, semoga bisa membuat damai di hatimu,” ibu itu menambahkan. Sejak awal, memang bunyinya menenangkan.
[embed]
Seperti sudah diarahkan, patung Buddha di seberang seperti menyapa dan membuatku mendengarkan suaranya. Kubeli saja lonceng ini.
Di antara lalu-lalang pengunjung, seorang bapak berhenti di depan gentong yang besar. Ia menyalakan dupa di sana, seperti memberikan persembahan. Seusai berdoa sebentar, diambilnya asap yang mengepul dari sana dan diurapkan ke kepalanya. Seorang bapak yang lain pun melakukan hal yang sama, begitu juga ibu-ibu setelahnya. Apakah memang begitu cara mereka berdoa? Semoga asap yang terbang ke arahku juga membawa doa yang baik.

Kuikuti mereka masuk ke dalam kuil, sepertinya mereka bukan turis. Aku harus bagaimana? Apakah ada tiket yang harus aku dapatkan? Tak boleh ada kamera di dalam sana, kuikuti saja peraturannya. Kuikuti saja bapak dan ibu tadi sambil menyiapkan kepingan uang seperti yang mereka lakukan.

Kuil itu tampak gelap tapi tidak menyeramkan. Kulemparkan sekeping yen dan mengikuti papak-bapak dan ibu-ibu yang tampak mengantri, bergiliran maju ke hadapan pendeta. Seorang ibu tampak mengucapkan permintaan, ada sesuatu yang ingin dibawa dalam doa. Sang Pendeta dengan lembut mendoakan ibu itu. Semoga ibu itu menemukan yang ia cari.
Tiba giliranku, aku hanya bisa menunduk, tak paham apa yang diucapkan sang pendeta. Kuharap, kuyakin, ia mendoakan yang baik. Aku aminin saja dalam hati, mengikuti doa yang kuucapkan sendiri. Sebab Tuhan baik.

Perjalanan kali ini, sepertinya akan lebih memorable ketika kami mengumpulkan Goshuin. Rasanya seperti mencari harta karun dan selalu ada cerita dibalik itu. Goshuin pertama kami sebetulnya dari Togakushi kemarin. Masih ingat restoran soba waktu itu? Sepertinya karena kuilnya sedang tidak bisa dikunjungi, maka kita bisa mendapatkan goshuin di restoran itu. Ibu-ibu yang berada sungguh ramah dan sabar berkomunikasi dengan kami. Hehehe.

Dan kembali kami mendapatkan keramahan itu di Zenkoji. Kali ini ibu-ibu dan bapak-bapak, mungkin seusia kakek dan nenek. Sungguh tersanjung beliau berusaha berbicara dengan bahasa Inggris dengan kami, “where are you from?”. Kucoba jawab dengan sedikit bahasa Jepang, hahahaha. Disambut dengan bahasa Inggris lagi, “today is very cold”. “Domo domo samui desu,” timpalku. “Totemo samui, very cold, totemo samui desu,” koreksinya. Dan kami pun tertawa bersama. Hehehehehehehehe.

Entah kenapa hatiku menjadi utuh.
메타데이터
- post_id
- ddd953f90fca
- slug
- catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-ddd953f90fca
- url
- https://medium.com/@astibramasti/catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-ddd953f90fca
- canonical_url
- https://medium.com/@astibramasti/catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-ddd953f90fca
- author_url
- https://medium.com/@astibramasti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13