Pelajaran dari Memasak Ikan: Mencuci Nasihat Lama hingga Mematangkan Prinsip Hidup
Kudengar nasihatmu, tapi tak kutelan mentah. Prinsipku: keterampilan perempuan bukan umpan agar tampak lebih menarik dimata lelaki.
Pelajaran dari Memasak Ikan: Mencuci Nasihat Lama hingga Mematangkan Prinsip Hidup

Ilustrasi ikan goreng (Sumber: canva.com)
Beberapa tahun lalu, aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di dapur. Saat itu aku masih belum terbiasa memasak, hanya bisa merebus, membuat mie instan, dan goreng-gorengan sederhana. Itu pun tidak termasuk menggoreng ikan yang bukan di panci anti lengket. Masalah muncul ketika aku diminta membersihkan ikan sebelum digoreng.
Aku tidak bisa mencuci ikan.
Kalimat penolakan itu keluar dari mulutku. Membayangkan harus menyentuh darah membuatku bergidik. Bau amis saja sudah bikin mual, apalagi aku tidak tahu bagian mana yang harus dibuang. Bagaimana kalau ternyata aku hanya akan merusak daging ikan itu?
Berbagai alasan yang bermunculan di kepalaku itu tentunya tidak kusuarakan. Aku hanya bilang bahwa aku takut dan tak berpengalaman mencuci ikan. Sedikit informasi tambahan, bukan orangtuaku yang meminta hal itu. Kalau di rumah, urusan yang berhubungan dengan membersihkan darah pada bahan pangan dilakukan oleh orang dewasa. Anak-anak boleh menolak saat diminta membersihkan perdaging-dagingan. Itu mengapa aku berani menolak perintah itu.
Sayangnya, penolakanku tidak diterima dengan tenang. Aku justru mendapat ceramah panjang lebar yang berujung pada kalimat-kalimat menyebalkan: seolah cinta dan pernikahan punya syarat rumit, dan perempuan harus menguasai dapur agar layak dipilih laki-laki. Mungkin akan lebih mudah dipahami jika aku sampaikan obrolan di dapur saat itu.
“Nanti kalau kamu sudah berkeluarga terus suamimu mau makan ikan gimana?”
“Ya … kan bisa beli gak harus masak sendiri.”
“Iya kalau kamu dapat suami yang punya banyak uang, bisa beli aja makanan gak perlu dimasak, kalau harus masak?” orang itu bertanya lagi.
Sebetulnya aku sudah cukup kesal saat itu, mengapa urusan dapur selalu ditumpukan pada perempuan? Padahal di rumahku, memasak bukan hanya tugas ibu. Semua bisa ikut membantu sesuai kemampuan.
Lalu, aku membalas pertanyaan tadi, “Aku bisa minta tolong pedangannya atau suamiku yang bersihin ikannya.”
Kupikir jawabanku bisa diterima dengan tenang olehnya. Ternyata ia malah menjadikanku sebagai bahan pertanyaan ke anak laki-laki sebayaku di dapur itu, “Kamu mau dapat istri kayak dia?”
Si anak laki-laki terlihat jelas tidak nyaman. Ia memilih jawaban aman, tidak terang-terangan menolak, tapi juga tidak membelaku. Dan di situlah aku merasa terbebani: mengapa perempuan harus membuktikan dirinya di dapur demi pantas dicintai?
Seolah tidak ada cara yang lain untuk menasehati. Seakan tujuan perempuan hidup itu hanyalah laki-laki. Aku tidak akan sedongkol itu jika akhirnya diajarkan mencuci ikan bersama, lalu ditenangkan ketakutanku saat melihat darah. Mungkin ceritanya akan berbeda. Sayangnya aku harus terlibat dalam perbincangan yang membuatku terbebani menjadi perempuan. Sejak saat itu aku jadi malas memakan ikan, apalagi memasaknya. Aku tidak pernah melakukan adegan memasak ikan sendiri di dapur.
Agustus 2025, bertahun-tahun setelah kejadian itu.
Di dapur kos, aku memasak ikan yang kubeli di pasar. Seperti yang kupikir dulu, aku meminta bantuan pedagangnya membersihkan insang dan isi perut ikan. Sepulang dari pasar aku membilas ikan itu dan membumbuinya.
Sebelum menggoreng, aku mencari tahu tips sederhana menggoreng ikan. Ternyata saat menggoreng ikan, jangan terlalu sering membolak-balikkannya, nanti bisa hancur. Tunggu sampai tidak lengket, baru balik perlahan dengan spatula. Saat mencemplungkan ikan ke minyak, lakukan pelan-pelan agar tidak meletup.
Dan ternyata berhasil. Ikan-ikan itu matang dengan cantik, tidak gosong, dan tidak hancur. Tidak ada juga drama jas hujan dan helm di dapur seperti yang sering seliweran di media sosial, saat menampilkan aksi komedi para penggoreng ikan pemula.
Aku terkekeh mengingat kejadian menyebalkan beberapa tahun lalu. Hari ini aku mencoba memasak ikan, masih bukan untuk suami, bukan juga untuk memenuhi tuntutan siapa pun. Ikan itu kusantap sendiri, dengan hati gembira. Kalau bisa kembali ke masa lalu, aku ingin menepuk punggung perempuan kecil yang dongkol di dapur itu:
“Tenang saja. Lima tahun lagi kamu bisa menggoreng ikan. Kamu juga sudah tidak setakut itu lagi dengan darah. Memang kamu masih butuh bantuan untuk membersihkan ikan dan itu tidak apa-apa. Meminta bantuan bukan berarti harga dirimu hilang atau berkurang, justru itu artinya kamu mengakui dan menerima kekurangan diri. Maafin orang yang buat kamu kesal ya!”
Butuh lima tahun bagiku untuk mencerna nasihat orang itu dengan lebih bijak. Tapi, aku masih dengan prinsipku bahwa keterampilan hidup bukanlah etalase agar tampak pantas di mata lelaki. Ia adalah bekalku untuk bertahan dan bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin.
Agustus 2025. Sebagai manusia yang memiliki Kartu Tanda Penduduk Republik Indonesia, aku merasa kosa kata untuk bulan ini adalah merdeka. Semangat kemerdekaan itu dulu kumaknai melalui lomba-lomba. Kini, Agustus mengajariku arti merdeka dengan cara berbeda, yaitu merdeka dari rasa takut, dari stigma, dan dari keributan yang tak selalu perlu kudengarkan.
Dapur adalah salah satu ruang yang kupilih untuk belajar mengenali apa yang tubuhku butuhkan dan apa yang lidahku rindukan. Dan ada fakta baru yang kini bisa kuterima dengan senang hati: dapur yang kurawat saat ini mampu menjadi tempat pelarianku, ketika banyak hal menyebalkan datang minta perhatian.
Persetan dengan kata-kata “percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya berkecimpung di dapur.” Kalimat semacam itu hanyalah warisan dari budaya misoginis yang sudah terlalu lama diinternalisasi. Seolah-olah memandang rendah perempuan yang berkecimpung di dapur, seolah-olah ilmu hanya sah bila dijalankan di ruang publik.
Agustus 2025. Aku menolak tunduk pada kacamata sempit orang lain. Dunia ini jauh lebih luas dari sudut pandang satu orang saja. Dan kalau mataku sendiri belum mampu melihat dunia dari banyak sudut secara langsung, aku masih bisa membukanya lewat buku. Membaca bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga melatihku melawan kacamata sempit dengan cara yang lebih sehat: dengan pemahaman, bukan dengan permusuhan atau perdebatan yang melelahkan.
Sama seperti memasak, membaca mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan cara memaknai proses. Dapur bukan penjara, ia bisa menjadi ruang belajar yang tak kalah agung dengan ruang kuliah atau seminar. Dari api kompor, aku belajar mengendalikan panas emosi. Dari ikan yang dibilas ulang setelah dibersihkan, aku belajar memaknai nasihat lama dan memilih mana yang masih layak disimpan.
Semoga tulisan ini bermanfaat ❤
메타데이터
- post_id
- dddc5d2ddd19
- slug
- pelajaran-dari-memasak-ikan-mencuci-nasihat-lama-hingga-mematangkan-prinsip-hidup-dddc5d2ddd19
- url
- https://medium.com/@firliart/pelajaran-dari-memasak-ikan-mencuci-nasihat-lama-hingga-mematangkan-prinsip-hidup-dddc5d2ddd19
- canonical_url
- https://medium.com/@firliart/pelajaran-dari-memasak-ikan-mencuci-nasihat-lama-hingga-mematangkan-prinsip-hidup-dddc5d2ddd19
- author_url
- https://medium.com/@firliart
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 02:52:26