Paniisan 846 MDPL
Kisah ini menceritakan tentang: Penjemputan, Kalibrasi Ulang, Di Perjalanan, Tiba, Sesi Pendakian, Sela di Pendakian, Pos Pertama…
Paniisan 846 MDPL
Kisah ini menceritakan tentang: Penjemputan, Kalibrasi Ulang, Di Perjalanan, Tiba, Sesi Pendakian, Sela di Pendakian, Pos Pertama, Berkisah, Di Pertengahan Jalur, Puncak Paniisan, Turun ke Bawah, Di Parkiran, Perjalanan Turun ke Nako, Perjalanan ke Kopi Bento, Di Kopi Bento, Hujan di Kopi Bento, Cerita dari Gadis Helai Merah, Pamit, Hujan Rintik di Tengah Perjalanan, Kembali Pulang ke Kediaman Pada tanggal 01 Mei 2026.

Salah Satu Puncak Kecil-Kecilan di Bogor.
Penjemputan. Sekitar pukul empat pagi saya terbangun dari mimpi-mimpi usang di dalam tidur. Saya segera bangkit dari tempat tidur lalu mempersiapkan diri untuk memulai hari ini: “Mendaki bukit Paniisan! Di Sentul, Bogor.” Namun saya harus menjemput seseorang dulu di daerah Condet.
Setelah mandi dan memakai pakaian untuk mendaki, mengambil peralatan dan mempersiapkan kendaraan beroda dua di lantai satu kediaman. Tepat pukul 05.00 pagi saya sudah harus tiba di rumah Putri. Mengeluarkan motor — lalu menancap gas hingga suara mesin berdesis terdengar di telinga. Memposisikan jarum speedometer di angka 70 km/jam saya melanju di aspal jakarta Timur mengarah ke Condet.
50 meter sebelum tiba, saya berganti jalur ke belakang untuk masuk ke gang rumah-nya. Membuka handphone lalu memberi kabar ke Putri.

Suara kaki dari lantai dua terdengar dari dalam ke luar, turun cepat dari atas melalui anak tangga dan mengarah ke pintu depan. Dari gerbang depan terlihat sinar lampu keluar seiring pintu terbuka — seseorang keluar dari dalam lalu masuk lagi ke dalam, keluar lagi dan membuka pintu gerbang depan.
Melalui celah sempit di pintu gerbang saya dapat melihat dua mata Putri sambil mengatakan “Selamat pagi Putri! Pagi banget, kita mau ke mana sih?” Ajak bercanda.
Putri membuka pintu gerbang, membalas ucapan selamat pagi dari saya melanjutkan bertanya “Udah sarapan belum? Kalau belum, gw ada burger nih” Tawar dari Putri. “BOLEHH!!” Jawab cepat saya.
Dari gerbang depan saya memperhatikan Putri yang sedang bersiap dibalut dengan atasan hoodie Converse berwarna putih, celana Cargo hitam dan sepatu putih milik mamah. “Coba pakai sepatu biru aja Pud, kalau putih nanti kotor soalnya kita mau main tanah-tanahan.” Saran dari saya. “Ah gapapa.. Tinggal dicuci.” Putri menjawab dengan santai.
“Gw pake helm gw ya.” Putri. “Oke” Saya. “Kalau gitu gw nitip helm gw yang satu Pud.” Minta saya. “Yaudah deh gw pake yang itu aja.” Konfirmasi Putri.
Kami berdua pun melesat dari arah Timur lurus terus ke arah tugu. Menempuh jarak 30–45 menit. Dari rumah Putri. Dengan menggunakan sepeda motor berkapasitas mesin 110 cc dengan jarum speedometer menunjukan angka 60 km/jam. Saya ingin awal perjalanan pagi ini terlaksana dengan aman, selamat, dan hikmat. Putri di belakang asyik dengan burger, sarapan pagi dari kakaknya.
Kini, kami berdua telah tiba di bawah tugu, tidak jauh dari sana. Di sebelah kiri dari jalan — ada Indomaret, kami berdua turun untuk membeli beberapa kebutuhan untuk mendaki bukit. Berjalan ke arah pendingin di bagian belakang gerai — Putri bertanya: “Mau beli apa?”
“Air.” Saya jawab. Membuka pintu kulkas, Putri menutup pintu kulkas yang saya buka lalu mengarahkan saya untuk mengambil Super O2 di bagian bawah etalase tidak terlalu terlihat oleh mata. “Kenapa harus ini dan apa bedanya dari yang ingin saya ambil?” Dalam hati saya bertanya.
Kini, lengkap sudah keperluan masing-masing dari kami. Saya mengambil: Super O2, cokelat, dan kopi “HEUMM MASIH PAGI.” Kata Putri. Putri, karena sudah memberi persediaan malam sehari sebelum mendaki, dia hanya mengambil bubblegum dari etalase gerai.
Berjalan ke luar mencari spot untuk duduk, karena Putri tidak terlalu menyukai aroma rokok di pagi hari. Saya berinisiatif untuk mengambil tambahan bangku dari meja sebelah dan ternyata tidak lama saya duduk, orang di sebelah saya menyalakan rokok — namun tidak terlalu tercium karena asap tersebut saya halangi.
Kalibrasi ulang dengan Putri, berterima kasih karena sudah diberi satu burger yang menjadi sarapan pagi saya saat itu. Kalibrasi ulang dengan kondisi dan keadaan sekitar “Gatau, gw suka bengong aja.” Kata Putri sambil bengong melihat kendaraan berlalu-lalang di depan.
Saya membuka bungkus burger pemberian dari Putri (kakaknya sih tapi dikasih ke Putri, jadi dari Putri aja deh) dan membuka kopi kalengan berwarna hitam. Menikmati daging burger dengan satu slice keju dan beberapa jenis sayuran ditumpuk dengan sengaja agar mudah dimakan dalam satu gigitan. Saya menjelaskan ke Putri bahwa di sini kita akan berkumpul.
(Saya dan Putri) Darel, Cenni, Syadudu, dan Jo. Satu jam kami berdua menunggu mereka di Indomaret. Mendapat kabar kalau mereka akan tiba sedikit terlambat karena jadwal kereta yang tertunda.

Selang beberapa puluh menit dari pesan terakhir, akhirnya mereka berempat sampai di titik kumpul.
Cenni dan Syadudu turun dari motor dan masuk ke Indomaret karena ada makanan yang ingin mereka beli. Jo sudah siap dengan satu batang rokok di bibirnya dan Darel, dia memakan roti sobek di atas motornya.
Setelah semua keperluan telah terpenuhi. Kami melanjutkan perjalanan ke atas, lokasi trekking. Dengan posisi satu-satu-satu, Darel memimpin barisan motor, diikuti dengan saya dan Jo yang bergantian pada urutan kedua dan ketiga.
Di perjalanan, saya memberi tahu Putri bahwa rute yang akan kita lalui itu menggunakan rute Pancar. Dari perempatan terakhir yang sudah kita bersama lewati, dari jalan ini — kita akan mulai mengemudi menanjak.
Di perjalanan kita bertiga tidak sendirian karena sudah berjejer berbagai macam jenis mobil yang juga mengarah ke arah rute yang sama. menanjak untuk menuju atas. Entah Paniisan atau Luhur atau jalur lainnya, baru teringat kalau tepat pada hari ini telha jatuh tanggal merah.
Orang-orang pada berlibur, naik, main, di waktu yang bersamaan. pagi-pagi sudah sibuk dengan keinginan dan aktivitas masing-masing di dalam maupun luar kendaraan beroda empat.
Aspal jalan tidak terlalu bagus, beberapa kali saya melewati genangan air yang cukup tinggi. Cukup untuk membuat punggung Putri terbanting (Maaf.) Saya berusaha untuk mencari jalan yang landai. Di belakang ada Jo dan Syadudu — berusaha untuk menghindari aspal botak juga.
Sedikit ke atas kondisi aspal sudah membaik. Syadudu mengambil Pringless dari dalam tas Lacoste-nya dan membagikan (sharing is caring) ke motor saya dan motor Darel. Putri menolak untuk tidak makan itu karena suatu alasan.
SELAMAT DATANG DI PANIISAN
Gapura dengan tulisan yang cukup besar untuk dibaca dengan mata telanjang. Kami masuk dan mengemudi terus ke arah belakang parkiran. Baru ada tiga motor berjejer di sana, enam jika dihitung dengan armada kami.
Kami sudah,
Tiba di lokasi pendakian bukit. Semua bersiap dengan persiapan dan ritualnya masing-masing. Saya dengan topi, Darel dengan botol airnya, Jo dengan porsi makan pagi dari mamah, dan anak-anak perempuan sibuk dengan jaket juga tongkat trekking.
Sekarang saatnya sesi pendakian bukit di mulai.
Sesi pendakian kali ini saya tidak hanya berdua, ada Jo, Putri, Cenni, dan Syadudu. Berjalan bersama dari arah parkiran, naik — memutar ke kanan ke arah pos simaksi. Sebelum pos, kami harus berjalan melewati tangga buatan hasil cangkul oleh orang sekitar. Medan sudah berubah dari aspal menuju ke tanah merah kering.
Sela di pendakian, kami bercanda dengan awal medan yang sudah cukup curam dan licin. Kami berkeluh-canda bersama, mengatakan hal random seperti: “Tenang, nanti di atas ada Alfamart.” Semua menampilkan tawa optimis terhadap kondisi dan keadaan jalur pada saat itu.
Menanjak ke atas untuk menuju pos pertama.
Pos pertama, di pos pertama kami berhenti untuk membeli tiket. Total ada enam tiket yang terbeli lalu melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari pos pertama terdapat banyak tulisan yang ditulis oleh pembuat jalur. Yang paling saya ingat: “Senyummu bahagiaku.”
Pendakian bukit dimulai,
Berkisah tentang latar belakang masing-masing. Mengenalkan diri dan mengakrabkan diri. Suara burung dapat terdengar dari bagian kanan dan kiri atas bagian kanan pepohonan bukit. Saya mengawali kisah dengan berkisah tentang alasan saya datang kembali ke alam dengan diri sendiri pada saat itu.
Putri berkisah tentang pengalamannya sewaktu menaiki gunung Salak pada saat ia masih mengikuti Pramuka. Putri sudah hatam dengan berbagai macam simpul dan tanda yang pernah ia pelajari dari Pramuka. Bertahan hidup di alam dengan bijaksana dan sama-sama saling menguntungkan.
Darel berkisah tentang puncak Cisadon dan jalur lintas Cisadon. Jo berkisah tentang semangatnya mendaki, namun menutup diri dengan apa yang belakang ini terjadi (tentang kisah romansanya di dalam gerbong kereta.) Cenni dan Syadudu belum mengemukakan kisah.
Di pertengahan jalur, kami semua berhenti secara berkala dari warung ke warung untuk menikmati alam. Beberapa kali Syadudu tertinggal dengan Jo yang setia menemaninya di belakang. Beberapa gambar yang dapat ditampilkan pada bukit Sanema.

Bukit Sanema, 735 MDPL
The boiz (nama file yang dinamai oleh si gadis helai merah)

Bukit Sanema, 735 MDPL
The gurls (nama file yang dinamai oleh si gadis helai merah)
Di Pertengahan Jalur
Kami semua perlahan sudah melek kamera. Satu-persatu mengeluarkan handphone dan kamera pocket untuk mengabadikan momen bersama. Di antara pohon pertengahan jalur — terdapat potongan kenangan yang kini sudah tersimpan rapi di dalam Drive.

Cenni dan Putri
Putri menjelaskan kalau dia salah satu dari si mata sensitif (yang bisa melihat mereka, di kehidupan berbeda) berkali-kali di antara pohon-pohon itu, mereka berdiri mematung.
Di Pertengahan Jalur

Darel dan cenni
Darel mengejutkan Cenni dengan gaya pose fotonya di atas batu.
Puncak Paniisan. Melanjutkan pendakian menuju puncak bukit Paniisan satu. Apa yang menunggu di sana adalah warung dengan view yang cukup ikonik untuk menandai puncak Paniisan.
Saya, Darel, Putri, dan Cenni berhenti sebentar untuk menunggu kehadiran kembali Jo dan Syadudu. Mereka tertinggal beberapa ratus langkah di belakang. Saya langsung memesan es markisa — dapat menambah kesegaran tubuh dan energi. Karena siang ini cuaca sangat panas.
Putri mencicipi es markisa dan cukup dapat terlihat dari ekspresi yang keluar bahwa dia tidak terlalu menyukai masamnya buah merkisa dicampur dengan es batu.
Darel menyusul Jo dan Syadudu, takut terjadi kenapa-napa pada mereka di jalan. Kini es saya telah habis, Cenni dan Putri sibuk berbincang tentang gym dan susu Whey Protein.
Akhirnya Jo dan Syadudu juga bersama Darel berhasil menginjakan kaki lagi di puncak satu Paniisan. Jo menginginkan istirahat sebentar di warung itu, Syadudu melakukan urusan wanita bersama dua wanita lain (Putri dan Cenni) di warung. Darel asik dengan sebatang rokoknya.
Setelah semua berhasil untuk mengisi energi masing-masing. Kita sepakat untuk berjalan sedikit lagi menuju ke puncak pas Paniisan pada ketinggian 846 MDPL. Kami berhasil melewati jalur itu pada tanggal 01 Mei 2026.

Syadudu, Putri, dan Cenni

Bukit Pas Paniisan 846 MDPL

Syadudu, Putri, dan cenni di Bukit Pas Paniisan 846 MDPL
Apa yang benar-benar menanti kami di atas sana? adalah sebuah keberhasilan kecil yang jarang dirayakan dan dianggap sepele. Padahal, momen seperti ini, diskusi kecil-kecilan, cuitan hati, dan rencana juga rancangan kecil yang lahir selama perjalanan itu merupakan gambaran masa depan yang mungkin saja dapat terjadi.
Penerimaan diri, perayaan untuk menuntaskan memori, tawa-tawa ringan selama mendaki. Itu semua dapat tersimpan rapi di dalam memori juga di dalam hati. Membingkis nilai diri dan Jakarta ke dalam sebuah tekad kecil di hati untuk terus bergerak walau sempat ngos-ngosan dalam menjalaninya — namun pada akhirnya, kami sampai di tempat yang ingin kami tuju secara bersama-sama.
Tepat di puncak Paniisan juga kami membuka obrolan kecil tentang rencana selanjutnya, ajakan ringan seputar berbalik arah. Kalau hari ini kita berada di atas bukit — bisa jadi pada pertemuan berikutnya kita berada di tengah-tengah laut. Syadudu adalah anak pantai. Jetski dan ombak merupakan kelihaiannya. Putri tetap bertahan dengan kemampuan menyelamnya yang cantik.
Saya dan Darel memesan mie rebus ditambah dengan telur. Jo hanya memesan air mineral, Cenni dan Syadudu mengambil piring berisi lauk: ikan asin, tempe, tahu, dan daun kemangi. Mereka menghabiskan satu piring untuk dua orang, sementara Putri belum ingin makan siang.
Jam setengah dua belas siang adalah jam makan siangnya. Dia bilang.
Turun ke bawah. Semuanya telah menyelesaikan sesi jam makan siangnya. “Mau lanjut ke curug?” Tawar Darel. “Ke mana?” Syadudu penasaran. “Turun dulu, terus nanti beda tempat lagi.” HAHH?!?!?!
“HAHHHH?!?” Putri, Syadudu, Cenni. “Kirain mah di tempat yang sama.” Putri. “PANAS GA ADA AC, MENDING DI AEON.” Putri yapping. “YA NAMANYA JUGA DI ATAS BUKIT, maklum ngga ada AC.” Saya. “LAH DI PUNCAK ADA HOTEL YANG JELAS JARAKNYA LEBIH TINGGI DARIPADA INI.” Putri yapping (2). “YA BEDA TARGET MARKETINGNYA.” Saya tidak mau kalah.
Setelah sesi tawar-menawar dan mempertimabangkan keadaan, kami berenam memutuskan untuk turun ke bawah lagi dan geser ke Kopi Nako Sentul. Kami kembali berjalan menapaki jalan yang sama seperti pada saat kami naik — sebelumnya sampai ke parkiran tempat tiga armada kami berhenti.
Di parkiran, saya dan Jo langsung bersiap untuk mandi. Cuaca siang itu sangat terik, Putri, Cenni, dan Syadudu hanya berganti pakaian. Darel juga mandi. Mengistirahatkan kaki sedikit diisi dengan topik ringan seputar bergantian perempuan yang membawa motor — Jo tidak setuju.
“Ayo geser”
Perjalanan turun ke Nako, dengan ketiga armada. Jo, motor paling depan, Saya di tengah, dan Darel. Motor paling belakang — berangkat dari gapura Paniisan turun ke bawah menuju kopi Nako Sentul. Jalannya sempit, volume mobilnya padat.
Ditambah lagi, motor-motor yang berusaha ingin membalap mobil di depannya. Klakson, teriakan, panas terik cahaya Matahari menteng-menteng (siang-siang) motor berasa mesin fogging nyamuk ditambah pemotor merokok di jalan (engga ada otak emang)
Suasana jalan turun menjadi ricuh dan kusut. Mood Putri di motor juga kusut, dia sangat gemas terhadap pemobil yang sangat takut untuk melajukan mobilnya di turunan (karena padet juga sih jalannya dan ekstra berhati-hati)
“Kalau gw jadi walikota, bakalan gw buat aturan khusus jalur Pancar siang-siang ga boleh naik pakai mobil, harus motor biar ngga macet dikarenakan jalan yang sempit!”
Kopi Nako sangat ramai, mungkin salah satu faktornya juga dikarenakan tanggal merah. Kami berenam menyusun ulang dan akhirnya mendapatkan jawaban pasti.
MENUJU KOPI BENTO!
Perjalanan ke kopi Bento, Putri sudah lapar di jalan. Dia kalau sedang lapar malah diam. Cukup nyaman suasana berkendara saat Putri diam. Berhenti sejenak di salah satu SPBU untuk mengisi bahan bakar. Jo dan saya mengisi bahan bakar di sana. Darel meneruskan perjalanan menuju kopi Bento duluan bersama Cenni.
Setelah bensin terisi full, saya dan Jo meluncur menuju ke kopi Bento, Pakansari. Jalanan walau pun ramai namun tidak padat — dikarenakan lebar jalan yang memadai tidak seperti di atas tadi. Angin berhembus kencang seiring mesin motor berdesis.
Akhirnya pun kami sampai.
Di kopi Bento, kami memesan menu lalu duduk di sebuah kursi kayu dengan meja bundar. Pas untuk diisi oleh enam orang. Saya memesan: ayam geprek dan latte dingin, Putri memesan Matcha dan sepiring makanan berat. Darel memesan sepiring makanan berat juga dengan minumnya teh lemon, Jo tidak terlihat makan di sana. Cenni cukup dengan kentang gorengnya lalu Syadudu dengan sepiring makan beratnya juga.
Di meja bundar diam dan hening, semua fokus ke aktivitas masing-masing. Energinya sudah pada habis, mata Jo terlihat sangat merah — tidak lama angin berhembus kencang secara bertahap, hujan badai turun membasahi langit Pakansari.
“Di Depok mah ujan begini udah biasa.” Penjelasan dari Darel kepada saya.
Hujan di kopi Bento, angin berhembus kencang. Beberapa pelanggan berpindah tempat dari outdoor ke indoor kopi Bento. Kami berenam tetap diam di tempat dikarenakan sama sekali tidak terkena hujan. Suasana makin syahdu dengan Darel dan Cenni yang terus di-comblangi. Sudah menjadi rahasia umum kami berenam keadaan mereka berdua sekarang.
Cerita dari gadis helai merah. Apa yang tertampil dan disaksikan pada sore itu adalah anugerah. Seseorang yang terlihat paling aktif justru mengaku kalau dia adalah seorang introvert dan habis ini. Energinya akan terkuras sangat banyak yang bahkan dapat menyebabkan gadis helai merah itu tidak berbicara Seminggu.
Si gadis helai merah bercerita tentang keluhannya, tentang jurusannya, tentang kejadian yang baru-baru ini tampil di dalam pandangan hidupnya. Tentang kasus yang cukup terangkat baru-baru ini.
Sampai pada topik tugas psikologi sosial yang saya bicarakan kepada Putri saat hujan badai dan awan-awan di atas kami bergemuruh saling saut-sautan. “What is love?” judul dari PPT yang hendak saya bicarakan dengan Putri. Seutas tugas yang harus saya selesaikan malam ini.
Di antara: intimacy, passion, dan commitment. Mana dulu yang akan hadir? Saya bertanya terlebih dahulu kepada Putri, lalu dia menjawab “Oh jelas passion dulu baru commitment, habis itu intimacy. Karena percuma kalau commitment dulu — percuma buat apa kalau hanya omong doang dan ngga ada aksinya? Aksinya ada pada bagian passion dan baru yang terakhir itu intimacy.” Jelaskan Putri kepada saya.
Saya kembali bertanya kepada dia “Gimana kalau konsep tersebut kita lihat dari perspektif budaya Barat? Jelas di sana intimacy, commitment lalu passion.” Sharing saya kepada Putri. Lalu Darel menyambat “Commitment dulu Thur, habis itu passion dan yang terakhir intimacy.”
Saya kembali mempertanyakan dari sudut pandang budaya Barat. Lalu, mana yang benar dan lebih tepat dari kedua pernyataan yang berbeda tersebut? Lagi-lagi. Balik ke kepribadian masing-masing karena arti dari menjadi manusia adalah: tumbuh, berkembang, dan penemuan arti dan makna hidup di tengah gempuran ketidakpastian juga pertanyaan.
Putri mencetuk “Harusnya dicatet ini dari tadi.” Dan saya menjawab “Sudah kok, di dalam kepala.”
Sebelum pamit, kami sudah banyak bercanda gurau, bermain mini games seperti catur dan semacamnya di kopi Bento. Hujan mulai berhenti secara bertahap, lalu kami berenam memutuskan untuk.
Pamit. Pamit kembali ke kediaman masing-masing. Cerita hari ini cukup untuk mewarnai hari dan malam nanti. Putri pergi ke toilet sebelum akhirnya saya dan dia kembali mengarungi aspal becek kota Pakansari menuju kembali ke arah Condet.
Di perjalanan.
Hujan kembali merintik di tengah perjalanan. Suara angin yang kencang, rintik hujan yang makin kencang — kami memutuskan untuk menepi sejenak untuk mengenakan jas hujan. “Awas aja kalo ujannya ga jadi turun, gw udah BT banget.. mana panas lagi entar.”
Benar saja, hujan tidak jadi turun setelah kami berdua berhenti untuk mengenakan jas anti hujan. Di perjalanan kami berkisah tentang masa lalu dan mimpi-mimpi di sela Minggu. Terdapat beberapa kesamaan yang pernah dirasakan antara lain:
Tremor pada tangan dan kelenjar keringat yang agak berlebihan. Tentang prospek jangka panjang yang menjadi pendek atau bahkan tidak ada ujung dari akhir ceritanya karena benar-benar belum selesai. Putri menegaskan kembali tentang peranan sebelumnya di dalam air, saya di atas papan. Tergantung.
Putri banyak bercerita tentang ketidakbenaran dari data tidur di ubin menurut opininya pribadi. Bukan itu yang menyebabkan terjadinya paru-paru basah — tapi, rintik hujan kecil-kecil yang dapat perlahan membasahi bagian depan dada jika tidak mengenakan jas hujan. Ditambah, suasana sangat dingin di atas aspal itu.
Obrolan tentang Whey protein masih berlanjut namun diberhentikan oleh Putri. Sebelum cerita selesai, aspal lebih dulu menyampaikan ujungnya tepat di depan gerbang depan, tempat yang saya kunjungi tadi pagi ketika menjemput Putri untuk berangkat ke Paniisan.
Kembali Pulang ke Kediaman Pada tanggal 01 Mei 2026. Dengan sepi, tidak ada lagi suara yang berkata “PANASS-PANASS, MENDING AEON, NGGA ADA AC DI SINI, ITU YANG BAWA MOBILNYA TAKUT BANGET LECET. MENDING GW YANG BAWA MOBILNYA!”
8/10 untuk hari ini. -2 karena tidak ada AC.
메타데이터
- post_id
- dde728d59e97
- slug
- paniisan-846-mdpl-dde728d59e97
- url
- https://medium.com/@overlookload/paniisan-846-mdpl-dde728d59e97
- canonical_url
- https://medium.com/@overlookload/paniisan-846-mdpl-dde728d59e97
- author_url
- https://medium.com/@overlookload
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36