Aku, Adorno, dan Presentasi Marcuse Yang Tak Jadi
Sebuah latihan menuliskan apa yang tersisa dari bacaan
Aku, Adorno, dan Presentasi Marcuse Yang Tak Jadi
Institut fur Sozialforschung, Frankfurt
Seharusnya pagi tadi aku kebagian jatah presentasi mata kuliah Estetika. Bersama teman satu kelompok yang lain, tema yang dibahas adalah pemikiran Herbert Marcuse, salah satu dari pemikir Mazhab Frankfurt. Tokoh yang menarik sebenarnya bagiku, sebagaimana para pemikir Frankfurter Schule lainnya.
Dalam beberapa minggu ke belakang, aku memang sedang menyelami para pemikir Mazhab Frankfurt itu. Bulan lalu, aku membaca bukunya Romo Sindhunata berjudul Dilema Usaha Manusia Rasional: Teori Kritis Sekolah Frankfurt. Buku itu mengupas gagasan tokoh awal Mazhab Frankfurt, yaitu Max Horkheimer, dengan sangat bagus. Meski belum selesai kubaca — tersendat di bab tiga — tapi kupikir karya Sindhunata ini adalah pengantar terbaik untuk memahami pemikiran Horkheimer dalam literatur Indonesia.
Berulang kali aku mengeluhkan perihal literatur filsafat di Indonesia yang kurang lengkap, susah dicari, bahkan belum masuk ke diskursus wacana. Ada usaha penerjemahan karya para pemikir kontemporer saja sudah bagus. Meski terkadang hasil terjemahannya di bawah mutu standar. Oleh sebab itu, karya Sindhunata merupakan upaya yang sangat berharga dalam memperkaya wacana filsafat di Indonesia.
Setelah sedikit berkenalan dengan pemikiran Horkheimer, aku melanjutkan dengan mencicip gagasan dari kolega terdekatnya, Adorno. Tampaknya ia menarik untuk dibaca karena banyak pemikirannya yang terkait dengan seni — berhubung diriku juga baru masuk dalam dunia kesenian. Dilihat secara keseluruhan, pemikiran keduanya tak jauh berbeda. Max Horkheimer dan Theodor Adorno sama-sama mengkritik nalar modern yang mereka sebut ‘rasional instrumental’. Pemikiran modern berangkat dari upaya untuk lepas dari mitos-mitos terdahulu dengan nalar rasional, tetapi ironisnya malah terjatuh pada mitos yang baru, yaitu rasionalitas. Inilah kesamaan pemikiran keduanya. Atau barangkali, tokoh Mazhab Frankfurt lainnya pun sama.
Yang berbeda dari Adorno adalah penyelamannya lebih jauh terhadap estetika. Tidak mengherankan, karena ia lahir dari keluarga yang berkecukupan secara ekonomi, ibunya adalah seorang penyanyi, dan bibinya seorang musisi. Sejak kecil ia sudah akrab dengan bunyi-bunyian nada dan melodi. Bahkan di usia 20-an (cmiiw), Adorno sudah bisa memainkan musik Beethoven dengan baik lagi indah. Dan pada masa produktifnya, ia menulis satu buku khusus perihal estetika yang judulnya, Aesthetic Theory. Sebenarnya banyak lagi karyanya yang berbicara soal seni, musik, jazz hingga culture industry.
Yang menyenangkan — atau menyedihkan — dalam membaca Adorno ialah pemikirannya yang kelam dan muram. Aku memang tidak membaca karyanya langsung sebab kendala bahasa, tetapi melalui interpretasi Goenawan Mohammad dalam bukunya Estetika Hitam: Adorno, Seni, Emansipasi. Baru kemarin diriku menyelesaikan buku itu. Goenawan menulis buku itu dengan bahasa naratif yang indah, sebagaimana dalam karyanya yang lain. Dan itu mempermudah dalam menyelami secuil gagasan Adorno. Kukira, buku ini juga amat bagus sebagai pengantar pada pemikiran Adorno.
Adorno melihat kondisi dunia modern yang begitu mengandalkan rasionalitas instrumental setelah abad pencerahan, jatuh dalam mitos baru yaitu rasional itu sendiri. Ia menjadikan Nazisme Hitler sebagai contoh bagaimana pencerahan itu telah gagal. Peristiwa Nazi ini pula yang membuat dirinya dan pemikir Mazhab Frankfurt lainnya untuk mengungsi ke Amerika. Bahkan salah satu sahabatnya — yang juga pemikir Mazhab Frankfurt — Walter Benjamin bunuh diri ketika gagal melarikan diri dari Nazi. Menyaksikan dunia yang begitu brutal dan kelam, dengan tragedi Auschwitz yang menyebabkan jutaan korban jiwa bergelimpangan, menjadikan Adorno melihat wajah dunia dengan muram. Ia lantas berkata, “Setelah Auschwitz, menulis puisi adalah hal yang biadab.
Belum lagi ketika Adorno tinggal di Amerika, melihat industri budaya begitu merajalela menjadikannya lebih pesimis akan terjadinya emansipasi; sebuah konsep kunci Mazhab Frankfurt yang merupakan padanan kata revolusi dalam literatur Marxis. Adorno melihat kapitalisme yang menindas sudah mengadopsi seni dan kebudayaan sebagai komoditas yang diperdagangkan. Sehingga penindasan yang seharusnya dilawan malahan dinikmati karena bentuknya yang lebih halus. Masyarakay tak lagi merasa bahwa mereka ditindas, tetapi merasa seolah-olah bebas. Di situ ia tak lagi melihat harapan terbebasnya manusia dari cengkeraman kapitalisme, kecuali melalui seni yang elit dan sukar dipahami. Seni yang absurd, surreal, menurutnya adalah semacam cermin retak. Dari keretakan itulah kita bisa melihat realita yang sebenarnya.
Berbeda dengan Adorno, Herbert Marcuse lebih optimis dalam melihat budaya massa. Baginya, jika dikelola dengan baik dan lebih kritis, justru bisa menumbuhkan spirit emansipasi dalam jiwa manusia. Ya, menurut Marcuse, seni menjanjikan kebahagiaan yang akan datang, karena seni membuka imaji manusia pada dunia yang belum ada — atau bahkan tidak ada. Tapi dari situlah manusia menyadari bahwa dunia bisa diubah. Bahwa realita sekarang ini bukan ‘apa yang seadanya’, melainkan ‘apa yang seharusnya ada’. Di sinilah, menurutnya, fungsi emansipatoris dari seni. Yaitu mengajarkan manusia untuk bermimpi dan berharap. Mengajak manusia membayangkan dunia yang tak pernah diijinkan oleh kapitalisme.
Membaca Marcuse sangat menarik karena gagasannya yang segar. Tak heran jika ia dianggap sebagai bapak ideologi dan spiritual oleh gerakan mahasiswa yang disebut dengan ‘gerakan kiri baru’ pada 1960-an. Marcuse juga mempunyai konsep tentang One-Dimensional Man, manusia satu dimensi. Ia menganggap bahwa zaman modern dengan kapitalisme dan rasionalitas teknologis membuat manusia menjadi masyarakat berdimensi tunggal; kegunaan dan efisiensi. Prof. Bambang Sugiharto menambahkan bahwa dalam perkembangannya malah lebih parah lagi. Efisien itu kalau ada ‘duitnya’. Segala nilai tidak penting kalau tak menghasilkan uang. Ini bahkan semakin relevan dengan konteks abad-21 yang serba digital.
Dan sayang sekali aku belum menyelami lebih jauh tentang Herbert Marcuse. Belum lama ini baru menemukan ada literatur Indonesia yang mengupas pemikirannya. Yaitu Valentinus Saeng yang menulis buku berjudul Herbert Marcuse: Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global. Dari judulnya saja sudah sangat menarik, membuatku ingin langsung membacanya. Valentinus juga menulis satu buku lain yang menggunakan pendekatan Marcuse, judulnya Menyibak Selubung Ideologi Kapitalis Dalam Imperium Iklan; Telaah Kritis Dari Perspektif Filsafat Herbert Marcuse. Sepertinya menarik juga.
Ya, sekarang kembali pada masalah presentasi sebagai realita yang harus dihadapi, tetapi aku malah terkesan ‘memilih lari’ tidak menghadiri. Yang alasan sebenarnya adalah ketidaksiapanku menyiapkan materi secara matang. Aku malah tenggelam dalam Adorno dan gagasan kelamnya, dibandingkan mencari literatur tentang Marcuse. Atau mungkin itu hanyalah alasan pembenaran saja. Tapi yang pasti, dan ini mengherankan, bahwa semakin aku membaca justru semakin luas jurang ketidaktahuan terbentang.
Yogyakarta, 7 November 2025
메타데이터
- post_id
- ddef0300b07e
- slug
- aku-adorno-dan-presentasi-marcuse-yang-tak-jadi-ddef0300b07e
- url
- https://medium.com/@kangud42/aku-adorno-dan-presentasi-marcuse-yang-tak-jadi-ddef0300b07e
- canonical_url
- https://medium.com/@kangud42/aku-adorno-dan-presentasi-marcuse-yang-tak-jadi-ddef0300b07e
- author_url
- https://medium.com/@kangud42
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30