← Back to list

Ruang Kedap Suara yang Riuh

Berulang kali aku berpikir tentang kata yang mendeskripsikan tiap tahun yang sudah terlewati. Kemudian, berulang kali juga aku tidak…

Ataraxileea · 2026-01-24 14:38 · 0 claps · 1.8 min read
#ketenangan #terpuruk #ikhlas #hancur #penerimaan-diri
Open on Medium ↗

Ruang Kedap Suara yang Riuh

Berulang kali aku berpikir tentang kata yang mendeskripsikan tiap tahun yang sudah terlewati. Kemudian, berulang kali juga aku tidak menemukan apa-apa.

Tahun terbahagia? Tahun tersedih? Tahun terkuat? Nyatanya semua itu ada. Tahun sebelumnya rasanya darderdor, tahun ini juga. Tahun sebelumnya akhirnya setelah huru-hara yang ada akhirnya ada titik temu bahagia.

Pada kenyataannya aku bahagia, aku sedih, aku jatuh, aku bangkit. Entah tahun mana yang bisa disebut ‘paling’, karena setiap tahunnya aku bertemu diriku yang lebih kuat, rapuh, kembali menangis, kembali tersenyum dan itu terjadi berulang kali. Perihal kuantitasnya, biarlah Tuhan yang tahu.

Kali ini, tahun 2025 juga berwarna atau angin berembus terlalu kencang hingga hanya terlihat abu-abu? Atau aku yang terlalu sukar menerjemahkan warna? Banyak hal yang baru pertama kali dialami. Beberapa diantaranya merengkuh dengan hangat. Beberapa ada yang menghentak dengan kuat dan aku jatuh. Kala itu, rasanya tidak ada ingatan bagaimana cara berdiri kembali.

Betul, aku kehilangan keberanian untuk berdiri. Aneh, tapi kadang hidup memang seaneh itu.

Perlahan ada angin lagi yang berembus, dia berbisik pelan sekali. Lalu perlahan, benar-benar perlahan akhirnya aku kembali berdiri. Walau tertatih akhirnya aku memungut setiap keberanian yang tersisa, untuk jadi bekal untuk melangkah kembali.

Kemudian, langkah itu membawa aku ada di sebuah ruang kedap suara yang penuh akan memori. Segala yang belum sempat dibagi, belum sempat diucap, namun selalu berputar tak berhenti di kepala. Kadang rasanya sesak, sesak sekali. Pipiku basah. Nafasku tersengal-sengal.

Aku memeluk diriku sendiri. Menenangkan diri yang sedang rapuh-rapuhnya.

Kupikir terlalu berlebihan mendeskripsikan kebahagian kita raib ketika orang yang membuat kita merasa bahagia telah pergi. Aku masih punya sedikit kotak tabungan kebahagiaan yang hampir tidak pernah aku buka di rumah. Tanpa sengaja kotak itu terbuka dan isinya kosong. Bahkan, rumah itupun kosong. Tidak ada kebahagiaan yang tersisa.

Setidak layak itu kah aku untuk bahagia?

Aku melangkah lagi, entah sudah berapa jauh aku pergi dan singgah. Aku hanya ingin ketenangan dan kedamaian. Terkadang aku merasa aku menemukan itu, namun terkadang kosong dan sepi kembali menyapa. Ternyata aku belum semenerima itu akan semua pedih dan perih yang datang di masa lalu. Maaf, tapi aku belum bisa memaafkan, atau setidaknya belum. Aku bersyukur aku sadar dan mengakui itu. Memaafkan dan ikhlas ternyata seberat itu, ya? Kalau nanti ada panduan untuk mengikhlaskan dan memaafkan biarkanlah aku jadi pembaca pertamanya. Sekarang aku masih berusaha untuk menerima dan bertanya. Kenapa aku? Kenapa harus begini? Kenapa begitu?

Memang siapa aku hingga berani bertanya ‘kenapa’?

Aku lelah. Biarkan yang harusnya terjadi tetap terjadi. Aku berhenti bertanya. Tidak semua hal harus dipertanyakan. Bahkan, tidak semua tanya ada jawabnya. Semoga aku segera bertemu dengan ikhlas dan maaf yang damai itu. Mungkin akan sedikit lama. Entah sampai kapan, tapi aku percaya titik itu ada. Semoga hal-hal baik selalu menyertai setiap langkah ini.

Dengan keberanian yang kubangun lagi, aku berusaha melepas 2025 dengan lebih legowo dan menyambut 2026 dengan lebih berani. Bagaimana nanti, biarlah itu menjadi misteri. — Ataraxileea


메타데이터
post_id
ddf623f666c8
slug
ruang-kedap-suara-yang-riuh-ddf623f666c8
url
https://medium.com/@ataraxileea/ruang-kedap-suara-yang-riuh-ddf623f666c8
canonical_url
https://medium.com/@ataraxileea/ruang-kedap-suara-yang-riuh-ddf623f666c8
author_url
https://medium.com/@ataraxileea
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13