← Back to list

Dress.

Cw // jayke. pwp (ril). No beta we die like heesun.

reboundfling · 2026-01-09 17:53 · 0 claps · 14.8 min read
#jayke
Open on Medium ↗

Dress.

Cw // jayke. pwp (ril). No beta we die like heesun.

Jake mengetuk dasar kakinya ke lantai berulang kali. Telapak tangannya terbuka tegang di atas permukaan pintu yang belum bergerak sejak ia menggedor benda tersebut sekitar tiga puluh detik yang lalu. Tubuhnya menghadap lorong yang sangat sepi, berulang kali menoleh ke belakang untuk melihat sisi lorong lainnya yang juga lengang. Sudut bibirnya nyaris habis digigiti. Ia sudah sibuk mengutuk Jay sejak — Jake melirik jam tangannya — oh, belum satu menit rupanya. Jake kembali mengetuk pintu itu dengan gelisah, sedikit lebih kuat dan tergesa. Tangannya hampir meraih ponsel pada saku celana pendeknya saat pintu di hadapannya tiba-tiba terbuka perlahan. Jake merangsek masuk, tidak menunggu si pemilik kamar membukanya dengan sempurna.

What the fuck took you so long, Park?!” Umpatnya setelah menutup pintu di belakangnya sehalus dan secepat mungkin. Urat di pelipisnya nampak begitu jelas menahan emosi yang sudah di puncak kepalanya. Punggungnya menempel pada permukaan tembok hotel yang dingin dan tangannya masih mencengkeram gagang pintu di belakangnya dengan kuat. Dadanya naik turun tak beraturan, campuran antara kesal dan adrenalinnya yang belum habis. Ia menatap Jay yang tadi berjalan mundur dengan cepat menjauh dari pintu yang hampir terbuka di wajahnya — nyaris tersandung sandal hotel yang ia kenakan — dan kini berdiri tak lebih dua meter di hadapannya.

I was in the shower?!” Sahut Jay dengan kerutan dalam di antara alisnya, tangannya bergerak bingung seolah menunjukkan handuk yang sedang ia pakai di pinggangnya kepada Jake.

You said one o’clock!” Hardik Jake masih tak mau kalah. Jay mendenguskan tawa geli, tetap berdiri di tempatnya memandang Jake dengan senyum kecil menyebalkan seolah sedang mengejek laki-laki dihadapannya.

Well, Sunoo was super grumpy after you and Heeseung dumped an entire ‘bathtub’ on him. Dan Sunghoon yang bertingkah menyebalkan sama sekali tidak menolong.” Jay nyaris tersenyum menang melihat bagaimana rasa bersalah perlahan menggantikan amarah pada mata Jake. “He was drenched and upset. Aku tidak tega meninggalkannya sendirian.”

Fine.” Gerutu Jake seperti anak kecil yang sedang diomeli. “Just text me next time, asshole.

“Dan…” Sahut Jay, ia melangkah maju perlahan. Tangannya meraih ujung kaos bagian depan yang Jake kenakan dengan ibu jadi dan jari telunjuknya. “Lain kali pastikan Sunoo tidak sedang flu dan demam ketika kalian ingin membuatnya basah kuyup, oke?”

I know.” Rengek Jake. Tangan Jake menyambutnya, mengalung pada tengkuk Jay untuk menariknya mendekat, mengusapnya lembut dengan ibu jarinya. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter dan Jake dapat mencium aroma menyegarkan dari pasta gigi atau obat kumur yang mungkin baru saja Jay gunakan. “I feel bad already. He was so upset, he didn’t even want to talk to me.”

As he should. He literally couldn’t breath with his stuffy nose and all.” Jay meraih pinggang Jake dengan sebelah tangan, membawanya ke dalam pelukan. Jake meletakkan kepalanya pada selangka Jay yang telanjang, memejamkan matanya merasakan kulit lembab dan hangat itu pada pipinya yang dingin. “Besok kau akan belikan lemon cake yang terus ia bicarakan sejak tiba di sini dan meminta maaf padanya, oke? Don’t worry, he’ll feel better tomorrow.”

Jake menggumamkan kata setuju pada kulit Jay. Mereka berada pada posisi itu untuk beberapa saat, merasakan bagaimana pelukan lembut itu perlahan melemaskan otot-otot tubuh mereka yang kaku dan menyakitkan setelah dua hari berturut-turut melalui serangkaian konser yang sangat melelahkan. Jake menghela napas merasakan bagaimana Jay mendaratkan ciuman lembut pada rambutnya — yang untung saja sudah ia cuci tadi.

Jake memaksa dirinya untuk menjauh setengah langkah dari tubuh Jay. Otaknya seketika protes, merasa kehilangan hangat yang baru saja melekat pada tubuhnya. Tangannya mengusap tanda lahir pada leher Jay, merasakan bagaimana bulu-bulu halus di bawah jemarinya meremang. Ia juga dapat merasakan bagaimana tangan Jay meremas pinggangnya semakin kuat, nyaris menyakitkan. Ia mendekatkan wajahnya dengan senyum kecil sembari menatap Jay yang sedang menatap dalam matanya. Kemudian, Jake mengalihkan pandangan pada jemarinya sendiri yang kini bermain dengan telinga Jay, mengusapnya lembut dan mengundang tekanan yang lebih kuat pada pinggangnya.

Can you, please, kiss me now?” Jay, yang seolah terhipnotis, menariknya mendekat. Jake menjilat bibir bawahnya sendiri, masih memandangi jemarinya yang sibuk bermain pada telinga Jay seakan-akan tidak merasakan bagaimana tatapan laki-laki di hadapannya bisa menelannya bulat-bulat. “I’m, like, super hard.

Dan Jay melahapnya.

Ia mencium Jake dengan rakus, menelan pekik terkejutnya bersama dengan lidah yang merangsek masuk ke dalam mulut Jake yang panas. Ia melumat bibir atas Jake, menyesapnya keras hingga menimbulakan bunyi yang membuat libidonya melonjak naik. Jake mengerang dalam, ketika ia menyapukan lidahnya pada langit-langit mulut Jake. Ia melepaskan ciumannya, menjilat bibir bawah Jake yang tebal dan basah ketika merasakan tangan laki-laki itu menarik rambutnya dengan cukup keras. Tangan kanannya beralih pada leher Jake, merasakan jakunnya yang naik dan turun dengan tergesa.

Lalu Jay menciumnnya lagi dengan tangan yang kini meremas rahangnya, memaksa bibirnya tetap sedikit terbuka. Jay menciumnya dengan sabar kali ini, mencicipinya tanpa tergesa. Menjilati seluruh rongga mulutnya, mengabsen geliginya yang bersih dan rapi. Jay menciumnya hingga ia nyaris kehabisan napas. Jay menciumnya hingga lututnya terasa lemas sekali dan Jay sepertinya menyadari itu karena di detik selanjutnya kaki Jake tidak lagi menapak pada lantai hotel yang dingin. Kakinya kini mengalung erat pada pinggang Jay, disangga oleh lengan Jay yang berada pada paha dan bokongnya.

Jay membawanya berjalan ke Kasur, duduk di atasnya dengan Jake yang kini berada di pangkuannya. Ia melumat bibir Jake dengan kasar, merasakan tangan laki-laki itu yang kini sibuk membuka kaitan lemah pada handuknya. Ia memperdalam ciuman mereka, menahan punggung Jake agar tidak jatuh ke belakang. Ketika telapak tangan dingin Jake menyentuhnya yang sudah setegang tongkat di bawah sana, Jay mengerang kuat. Ia melemparkan kepalanya ke belakang, melepaskan ciuman mereka. Kepala Jake mengikutinya, tersenyum menyebalkan sembari memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang rahang dan lehernya. Tangannya sibuk sekali bergerak naik dan turun, memijitnya yang kini terengah.

Stop. You’ll make me cum.” Desahnya frustasi. Ia mendorong dada Jake pelan. “On your knees.

Tubuh mereka bergerak seirama. Jake seketika merangkak turun dari pangkuan Jay seperti anjing penurut yang diberi perintah dan Jay memajukan tubuhnya, duduk di tepi ranjang dengan kaki terbuka. Jake meraihnya dengan kedua tangan, membuat Jay mencengkeram rambutnya yang masih sedikit ikal. Saat mulut Jake yang panas dan basah melahapnya tanpa ragu, Jay menekan kepala Jake agar menelannya lebih dalam. Ia medesah keras, nyaris menangis merasakan dirinya dihisap dengan suara kecapan yang begitu kuat. Kepalanya pening sekali, sementara Jake sepertinya masih senang bermain dengannya.

Nggh — wait, stop. Stop! Fuck — don’t, ah!” Jay bergerak nyaris panik, merasakan ngilu pada seluruh tubuhnya yang merangsek keluar. Ia menarik pinggulnya menjauh dari Jake, tetapi tangan Jake dengan cepat berpindah pada pinggangnya. Tubuhnya ditarik mendekat kembali dan Jake semakin semangat bergerak maju dan mundur di antara selangkangannya. Jay kini meremas pundak laki-laki di bawahnya. Bernapas cepat ketika ia melepaskan dirinya ke dalam mulut Jake. Jake menelannya dan Jay menggeram jijik.

Fuckin’ gross!” Umpatnya. Jake terbahak menyebalkan, menjatuhkan dagunya pada paha Jay yang gemetar halus. Ia tersenyum sangat lebar memandangi Jay yang berkeringat. Alisnya berkerut kesal, seseolah seseorang tidak baru saja membongkarnya, lalu memasangnya kembali. Jay nampak sangat menawan dan Jake sangat ingin menciumnya lagi. Ia merangkak naik setelah memberikan kecupan lembut pada lutut telanjang Jay, bertumpu pada kedua paha Jay, mengejar wajah Jay yang menghindarinya.

Yummy.” Goda Jake sembari menjilat lidahnya sendiri setelah berhasil mencuri satu kecupan singkat pada bibir Jay yang kemudian memekik sebal, mendorong wajah Jake menjauh.

Jake lagi-lagi terbahak. Namun, kali ini ia bangkit menuju nakas sembari melepas kaos tipis yang menempel tak nyaman pada kulitnya untuk meraih sebotol air mineral dingin yang mungkin sengaja Jay tinggalkan di sana. Ia menenggaknya hingga setengah, berkumur sedikit untuk menghilangkan sisa Jay pada mulutnya. Ia mengamati Jay yang kini terbaring malas di atas kasur, pandangan sempat kosong menatap langit-langit hotel selama beberapa detik. Namun, Jake tahu bahwa ia baik-baik saja sebab napasnya cukup stabil.

Jay tidak terlalu menyukai seks oral, tetapi Jake adalah manusia dengan selera seks paling anehhanya di matanya, tentu sajadan Jay senang menyenangkan Jake. Jadi, ia seringkali membiarkan Jake melakukannya dengan syarat ‘tidak boleh ditelan’. Bagi Jake, aturan ada untuk dilanggar dan semakin Jay berusaha melarangnya, maka Jake akan lebih gigih untuk melakakukannya. Terkadang itu membuat Jay kehilangan gairahnya setelah itu, tetapi seringkali Jake hanya perlu membiarkan Jay dengan dirinya sendiri selama beberapa saat sebelum kembali menggodanya untuk meneruskan kegiatan mereka. Bila ia sedang beruntung, Jay akan langsung masuk ke lubang yang sudah ia siapkan. Literally and figuratively.

Hari ini ia sedang sangat beruntung.

Jay nampak sangat baik-baik saja setelah beberapa saat. Terlihat sedikit kesal, tetapi masih mengacung tegak di antara selangkangannya. Jake menelan ludah, lalu bersiul rendah sembari membuka laci nakas dengan lincah dan menarik beberapa kondom dari dalamnya seolah ia sendiri yang meletakkannya di sana. Ia melempar benda itu dengan asal, meliriknya sejenak memastikan ia dapat meraihnya dengan mudah nanti. Kemudian, ia merangkak ke atas kasur, menyamankan diri pada kepala kasur dengan tumpukan bantal yang menopang punggungnya. Kaki kanannya menendang usil tangan Jay yang di angkat sembarangan. Tangan itu balas memukul kakinya dengan keras dan Jake tergelak manis. Ia dapat melihat senyum tipis pada bibir Jay dari posisi ini, membuatnya mau tak mau ikut tersenyum. Jake sangat menyukai waktu tenang mereka seperti ini. Ia suka melihat Jay tersenyum rileks dengan pipi merona paska orgasme. Luar biasa menawan.

“Jay.” Panggilnya pelan. Jay bergumam malas menjawabnya. Jake melanjutkan dengan suara serak. “Come here, please. I’m cold.

Jay mengerang pelan, meregangkan badannya seperti kucing hitam yang baru saja bangun dari tidur. Lalu, ia merangkak naik mendekati Jake, tangannya menemukan pergelangan kaki Jake yang ternyata memang terasa dingin pada sentuhannya. Bibirnya mencium punggung kakinya, lalu pergegalan kakinya, dan naik ke tulang keringnya. Ia kemudian membuka kaki kanan Jake, menarik kaki celana pendeknya ke atas dengan kasar dan membubuhkan ciuman-ciuman lembut di sepanjang paha dalamnya. Semua dilakukan dengan bokong yang bertelanjang tinggi di udara, membuat Jake meraih rambutnya yang lembab, lalu meremasnya dengan gelak menggemaskan yang terdengar seperti musik menyenangkan di telinga Jay.

Why are you so cold, hm?” Bisik Jay pada kulit pahanya. Jake bergidik geli merasakan hembusan napas hangat yang kontras dengan dingin kulitnya. Lalu, mendesah senang saat bibir Jay mencium penisnya yang sejak tadi sudah mengeras di balik kain celana tidurnya.

Because,” sahutnya. Ia meraih dagu Jay, memaksanya mendongak di antara selangkangannya. Suaranya menggoda sekali. “You haven’t fucked me, slowpoke.

Slut.”

Jake sama sekali tidak tersinggung, membiarkan Jay menarik pinggang celananya turun. “Your slut?

Yes.” Jay mendesahkan kalimat itu dengan sangat seksi. Ia mengukungnya, matanya yang jernih menatap liar pada garis rambut halus yang tumbuh dari bawah pusar Jake menuju ke selangkangannya. “Now, up!

Jake mengangkat pantatnya dari tempat tidur dengan patuh. Tangannya ikut sibuk membantu melepaskan celana boksernya yang sudah mulai lengket oleh cairan precum. Ketika udara pendingin ruangan menghantam kulit kakinya yang kini telanjang, Jake meraih rahang Jay untuk mencium bibirnya. Jay langsung melumat bibir bawahnya dengan sungguh-sungguh, bergerak pelan dan kasar, persis seperti yang Jake sukai. Ia mendesah dalam, senang merasakan tangan besar Jay meremas-remas dadanya yang sangat tegang. Pinggulnya terangkat, bertemu dengan kulit paha Jay yang berada di antara selakangannya, menekannya dengan cara yang membuat Jake nyaris kehilangan akal sehat.

Saat bibir lembab Jay menciumi rahangnya dengan rakus dan tangan kanan mengusap perutnya yang mengeras di bawah jemarin kasarnya itu, Jake seolah lupa cara berpikir. Otaknya meleleh oleh birahi yang mendidih di dasar perutnya. Ia mengerang pelan merasakan panasnya lidah Jay yang menjilati sepanjang lehernya. Tubuhnya menggeliat liar, seolah ingin melarikan diri dari semua kenikmatan yang tidak bisa diproses otaknya dengan cepat saat tangan kiri Jay menarik paha kirinya ke atas, terbuka tanpa malu. Bibir laki-laki itu kini memberikan ciuman basah di sepanjang tulang selangkanya, lalu turun melumat dadanya — yang dihadiahi desahan keras oleh Jake — dan terus turun menuju perutnya, memberikan kecupan-kecupan kecil yang memabukkan.

Jake tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya yang tidak disentuh oleh Jay, maka ia meremas bantal di bawah tubuhnya dan mencengkeram pundak lebar Jay. Kepalanya terlempar ke belakang saat Jay menciumi happy trail yang dulu selalu membuatnya tidak percaya diri, tetapi ternyata menjadi salah satu bagian tubuhnya yang paling Jay sukai. Jake terengah-engah, menatap Jay yang kini mendongak menatapnya. Laki-laki itu mencium perutnya dengan keras dan tersenyum penuh suka cita sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat Jake mengumpat keras.

I want to breed you.

Ini pertama kalinya Jake mendengar kalimat konyol itu keluar dari mulut teman satu grupnya itu. Jay memang suka sekali mengusap perutnya, menciuminya dengan lembut, dan menekannya dengan keras ketika sedang orgasme seolah ia bisa merasakan miliknya memenuhi perut ramping Jake. Namun, Jake tidak pernah memikirkannya lebih jauh, menganggapnya sebagai bentuk afeksi yang memang Jay senang lakukan untuknya.

Fuck.” Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi, otak lambatnya hanya bisa memproses umpatan kecil itu. Sangat tidak kreatif. Ia merasa seperti idiot di bawah semua stimulasi menyakitkan yang Jay berikan pada tubuhnya. Jake menjatuhkan kepalanya ke belakang, tergelak pelan, tak habis pikir saat merasakan Jay sudah kembali sibuk menciumi selangakangannya seolah ia tidak baru saja menanamkan ide buruk — yang sebenarnya diam-diam membuat libidonya meroket — di kepalanya. “Youoh my God. Freak.”

Shut up.” Gerutu Jay. Ia kini kembali ke atas, mencium Jake yang menerimanya dengan senang hati. Mata tajamnya menatap Jake sejenak, melepaskan ciuman mereka dengan terpaksa. “I know you like it.

Jake hanya mengerang malas, meninju pelan perut Jay yang pura-pura mengaduh kesakitan dan menariknya kembali ke dalam ciuman panas. Ia menjejalkan lidahnya ke dalam mulut Jay, melumatnya dengan penuh gairah. Tangannya, yang tidak sibuk meremas rahang Jay, meraih kondom yang tadi ia buang sembarangan ke samping bantal. Jay yang menyadarinya langsung merampas bungkus plastik itu dan memberikan lumatan dalam pada bibir bawah Jake sebelum akhirnya bangkit dari tubuh laki-laki di bawahnya. Ia meraih botol lube di nakasnya, berusaha keras untuk tidak mengindahkan tangan Jake yang terangkat lemah ke udara untuk meraihnya. Semua sel pada tubuhnya berteriak untuk menyambut tangan itu, menggenggamnya agar Jake tahu bahwa ia ada di sana. Jay mengabaikannya, dengan cepat membuka botol tersebut sembari kembali melangkahi tubuh indah Jake. Ia menuangkannya dalam jumlah banyak ke atas jemari tangannya, lalu melemparkan botol itu ke samping pinggang Jake, menggosokkan jemari tangannya untuk mengurangi dingin cairan tersebut.

Did you prep yourself?” Tanyanya menatap Jake dengan cara yang membuat Jake menelan ludahnya. Selalu ada sesuatu yang bergejolak di dasar perutnya setiap Jay memberikan tatapan itu, membuatnya entah ingin muntah atau ingin mencium laki-laki di atasnya dengan bodoh.

Yeah. A little.” Sahutnya. Ia menahan napas ketika Jay meraih ke bawah lutut kirinya dan melipat kakinya ke atas, nyaris menyentuh rusuknya sendiri. Jay mulai menyentuhnya di bawah sana, mengitari tepiannya dengan jari yang basah dan lengket oleh cairan pelumas. Jake mendesah rendah. “Just — nghh. Fuck me, please. I — ugh. God, I will be fine. Shit — fuck me, Jay.

Jay mendenguskan tawa rendah, lalu menciumi paha dalamnya sembari memasukkan satu jarinya perlahan. Jake nyaris menangis karena Jay terlalu lembut dan lambat. Jay seolah menikmati waktunya, bermain dengan Jake di dalam sana dengan satu, dua jari. Mengguntingnya dengan telaten seperti ketika ia membuatkan Jake roti goreng isi daging asap beberapa minggu yang lalu. Ia melakukannya satu per satu dengan teliti sebelum mengisinya hingga penuh. Dan Jake merasa sangat penuh dengan tiga jari Jay yang berada di dalamnya saat ini. Ia yakin akan meledak sebentar lagi, sementara Jay yang lambat masih senang bermain dengannya di bawah sana. Bergerak keluar dan masuk sesuka hati, membuatnya merasa kosong, lalu mengisinya kembali hingga sesak di detik berikutnya.

Please, Jay.” Tangisnya, memohon agar Jay mengasihaninya yang tidak bisa bersabar sebentar lagi. Semua rangsangan pada tubuhnya membuat ia ingin menarik lepas seluruh rambut dari kepalanya. Ia merasa akan gila.

Shh. Shh.” Jay mengecup bibirnya sekilas, melepaskan lututnya yang mulai mati rasa. Jay really took his sweet time down there.

Jake merasakan sesuatu yang dingin jatuh di telapak tangannya yang entah sejak kapan sudah berada dalam genggaman Jay. Ia mengernyit bingung, benar-benar merasa kepayahan hingga tidak lagi menyadari apa pun yang terjadi di sekitarnya. Lalu, Jay membuatnya menggosokkan kedua tangannya sendiri, sebelum membawanya ke antara selangkangannya. Jake mulai mengerti yang Jay inginkan. Maka ia mengurut Jay dengan tergesa-gesa, melumurinya dengan cariran pelumas sembari membalas ciuman Jay, tidak peduli bila kecepatannya menyakiti temannya itu. Laki-laki di atasnya mengerang keras setelah beberapa saat, melepaskan ciumannya sembari menepis tangan Jake dari tubuhnya, dan kembali meraih bawah lutut Jake, melipatnya seperti adonan pastry. Jake memekik keras, merasakan dirinya diisi penuh tanpa aba-aba. Brengsek, sakit sekali. Tubuhnya melengkung ke atas dan wajahnya ia tenggelamkan ke samping, berharap bantal di bawahnya bisa meredam suaranya yang memalukan.

Shh. Shh.” Bisik Jay berusaha menenangkannya. Laki-laki itu langsung menciumnya, menunggu Jake terbiasa dengan rasa familiar yang memasuki tubuhnya. Ia mengelus lembut pinggul Jake, mengusap perutnya dengan hati-hati, menyentuh seluruh kulit Jake yang bisa ia raih. Jay berbisik pada bibirnya mendengar Jake kembali merengek saat ia bergerak sedikit, menyamankan sudut tubuhnya. “Kau tidak ingin Sunghoon mendengarmu, ‘kan?”

Ia menciumi rahang Jake yang sedang terengah mengatur napasnya untuk beberapa saat, hingga akhirnya merasakan Jake mulai menggerakkan pinggulnya ke atas, mencoba mendorongnya lebih dalam. Jay langsung bergerak pelan, menikmati hangatnya Jake yang sangat ia rindukan. Lima minggu. Lima minggu panjang yang mereka habiskan dengan kesibukan yang melelahkan. Jake selalu terlalu lelah setelah semua jadwal mereka selesai pada dini hari atau Jay yang selalu sibuk dengan anggota band lainnya yang menolak meninggalkannya sendirian bahkan setelah seharian memiliki kegiatan bersama.

Lima minggu itu rasanya terbayar lunas ketika ia mendengar Jake yang mengerang kepayahan, bergerak mengikuti hentakan tubuh Jay tanpa kendali seperti marionette. Jay mengangkat kaki kiri laki-laki di bawahnya lebih tinggi, menggenjotnya lebih dalam dan cepat. Ia membiarkan Jake meracau keras, menikmati desahannya yang nyaris seperti kesakitan. Namun, Jay tahu Jake sedang berada di atas awan. Jay terus berkerak, napasnya terengah-engah. Ia menjilat senyum dari bibirnya sendiri, melihat bagaimana mata Jake terpejam dan merah merambat pada pipinya. Ia tampak sangat cantik dengan Jay yang sedang mengobrak-abrik isi perutnya.

Nggh. Ya Tuhan, Jay. Jay! Fuck.

Jay bergerak semakin cepat, menyukai bagaimana namanya dirapalkan oleh bibir tebal Jake seperti doa — sekaligus dosa. Tubuhnya lembab oleh keringat, panas oleh tubuh Jake yang menelannya dengan berani, seutuhnya hingga tak bersisa. Jake melahapnya tanpa ampun di bawah sana, mencengkeramnya dengan kuat meski Jay bergerak liar di atasnya. Wajah laki-laki di bawahnya nampak sangat binal, mengucapkan namanya berulang kali dengan desahan-desahan yang membuatnya hampir gila.

You okay?” tanya Jay. Jake menggerang mengiyakan. Ia merasa sangat baik saat ini dan akan merasa lebih baik lagi bila Jay bisa sedikit lebih kasar di atasnya.

Jay seolah mendengar isi kepalanya sebab laki-laki itu meraih kakinya yang lain, mengangkatnya sama tinggi, melipatnya sama kuat. Jake melolong seperti hewan buas, menggeram seolah marah saat Jay menghentaknya sekuat tenaga. Sekali, dua kali, tiga kali. Berkali-kali. Ia menarik keluar miliknya sebelum melesakkannya kembali dalam sekali hentak dan diterima hingga habis oleh tubuh Jake. Jake rasanya sedang dibakar dari dalam, disulut oleh api paling panas. Ia rasanya mendidih oleh gairah yang memabukkan.

Cengkeraman kuat di bawah lututnya menambahkan sensasi yang membuatnya ingin menjerit nikmat, ingin melupakan keberadaan Sunghoon yang berada tepat di samping kamar Jay. Ia menarik rambutnya sendiri, merengek keras seiring hentakan pada tubuhnya. Kemudian, ia mengerang keras, nyaris panik saat merasakan Jay bergerak cepat luar biasa. Hilang sudah kelembutan yang ia rasakan di awal. Jay yang berada di atasnya saat ini adalah binatang dan binatang liar yang nampak luar biasa tampan ini hampir mencapai puncaknya.

Jake menolak menutup matanya. Ia melihat bagaimana mulut Jay terbuka nikmat, senyum samar menghantui sudut bibirnya. Ia menikmati bagaimana wajah laki-laki itu nampak lembab oleh keringat dan merona segar. Ia dapat merasakan getaran akibat geraman yang berasal dari dalam dada Jay yang ambruk di atasnya. Posesif dan menggairahkan.

Orgasme terlihat begitu menawan pada wajah Jay dan Jake mungkin, mungkin, merasakan kupu-kupu yang ingin ia bakar habis di dalam perutnya — sebab kupu-kupu itu akan menggerogotinya hidup-hidup suatu hari nanti.

Jay menciumi dadanya dengan malas, menghisapnya dengan kuat. Jake tidak lagi peduli bila hisapan-hisapan itu akan meninggalkan bekas esok pagi, ia hanya tidak perlu membuka pakaiannya di depan semua orang. Lidah Jay yang basah nan lembut menjilati putingnya yang tegang, merangsang tubuh Jake yang tidak lagi berada di bawah kendali si empunya. Tangannya sibuk mengurut Jake yang mengacung kaku di bawah sana, menekan ujungnya yang lembut dengan cukup keras hingga Jake menangis lantang. Tubuhnya menyentak ke atas saat ia akhirnya meleleh di antara jemari Jay, mengotori perutnya sendiri. Ia nyaris tersedak oleh suaranya sendiri.

Ia terengah, membiarkan dirinya dan Jay menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Jake bisa merasakan bagaimana Jay masih berkedut pelan di bawah sana. Tangannya menyisir rambut lebat laki-laki itu selama beberapa saat, lalu ia mencium puncak kepala Jay dengan lembut. Jay menggesekkan wajahnya pada dada Jake. Lagi-lagi mengingatkan Jake pada seekor kucing hitam yang pernah menjadi bintang pada video musik mereka. Ia tersenyum tipis, menikmati nyaman dan tenang di dalam kamar hotel ini, jauh dari jutaan mata yang selalu mengikuti mereka dan ribuan kamera yang tak pernah lelah merekam seluruh gerak-gerik mereka, menunggu mereka melakukan kesalahan untuk menaruh nama mereka di headline berita buruk keesokan paginya.

Jay menggigit dadanya pelan, lalu mengecupnya dengan suara keras. “On your stomach, pretty.

Jake bergerak patuh setelah meninggalkan satu lagi kecupan penuh sayang pada puncak kepala laki-laki itu, mengubah posisi tubuhnya setelah Jay keluar dari dalam dirinya, mengundang desis ngilu dari bibir merah Jake. Malam ini sepertinya akan panjang dan tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengakhirinya dengan cepat.

What?!” Jake berkata kesal, menatap Sunghoon yang sejak ia duduk di dalam mobil yang akan mengantar mereka ke sebuah restoran untuk makan siang tadi terus mencuri pandang ke arahnya.

Nothing.” Sahut laki-laki dengan alis tebal itu. Ada kerlingan menyebalkan pada matanya yang bisa Jake artikan sebagai bencana. Tubuhnya diam-diam menegang. “You look, um, happier? Less grumpy? Glowing? I don’t know. You just, um, look like you didn’t get any sleep last night, but you look content. Did something good happen, uh, last night?

No.” Jawab Jake dengan cepat. Sunghoon terlihat seperti ingin menggodanya, tersenyum menyebalkan seperti orang sembelit.

That’s the fastest no I’ve ever heard.” Ucap Sunghoon dengan cara yang membuat Jake ingin membungkam mulutnya.

Pandangannya teralihkan ke luar jendela saat mendengar suara Riki dan Jungwon tertawa keras. Mereka sedang berjalan ke arah mobil bersama dengan Sunoo yang mengekori keduanya dengan tenang. Ia menguap, lalu melirik Riki dengan tatapan jengkel ketika si paling muda terbahak terlalu keras di depannya. Sunoo nampak masih mengantuk, tetapi rona sehat sudah kembali pada wajah putihnya. Jake diam-siam merasa bersyukur. Jake melirik Sunghoon, menyadari senyum congkaknya tergantikan dengan ekspresi lembut ketika menatap salah satu dari ketiga anggota termuda mereka yang membuat Jake ingin muntah — semua orang tahu ini adalah sebuah kebohongan. Jake menyikut pelan lengan Sunghoon, menarik perhatian laki-laki itu.

Oh, no, Hoonie bear.” Godanya. Sunghoon meliriknya tajam. Jake melonjak senang dalam hati, melanjutkan dengan nada yang sama menyebalkan. “Your crush is showing.

Shut up!” Sunghoon menatapnya jengkel. Lalu, ia melirik Jake dan mengucapkan sesuatu yang membuatnya merinding sebelum memasang headphone pada telinganya. “Your hickey is showing, idiot.

Jake akan membunuh Jay setelah makan siang.


메타데이터
post_id
de253ef9effa
slug
dress-de253ef9effa
url
https://medium.com/@raniawasthere/dress-de253ef9effa
canonical_url
https://medium.com/@raniawasthere/dress-de253ef9effa
author_url
https://medium.com/@raniawasthere
status
ok
fetched_at
2026-07-13 13:07:09