← Back to list

Mengapa Kota Besar di Indonesia Adanya di Wilayah Pesisir

Sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota besar jika jumlah penduduknya mulai dari 100.000–1000.000 jiwa, ini berdasarkan klasifikasi kota…

Rahmat Iskandar Rizki in Komunitas Blogger M · 2024-11-18 06:55 · 154 claps · 3.8 min read
#sejarah #perencanaan-kota #bahasa-indonesia #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗

Mengapa Kota Besar di Indonesia Adanya di Wilayah Pesisir

Photo by Adam Gritco on Unsplash

Photo by Adam Gritco on Unsplash

Sebuah kota dapat dikatakan sebagai kota besar jika jumlah penduduknya mulai dari 100.000–1000.000 jiwa, ini berdasarkan klasifikasi kota dari jumlah penduduknya. Di Indonesia sebaran kota besar mayoritasnya ada di wilayah pesisir, membentang dari Banda Aceh hingga Jayapura.

Kota-kota besar di wilayah pesisir ini sebagian besarnya merupakan ibukota dari sebuah provinsi ataupun kabupaten. Kalaupun bukan sebagai ibukota, biasanya kota ini menjadi pusat perdagangan, pusat industri, atau bahkan pusat ekonomi di provinsinya seperti Batam, Dumai dan Balikpapan.

Menurut jurnal ilmiah International Conference in Architecture and Urban Design, bahwa kota pesisir atau Waterfront City ini adalah pembangunan wilayah pemukiman yang lokasinya berdekatan dengan sumber air seperti pantai, danau, sungai.

Jika berkaca pada sejarah Indonesia, pembentukan kota di pesisir ini dipengaruhi oleh kamar dagang dan bandar pelabuhan masa lalu. Kota-kota di pesisir utara Jawa misalnya seperti Jakarta, Cirebon, Semarang, Gresik hingga Surabaya merupakan kota pesisir yang sudah dikenal dengan pelabuhan dagangnya sejak masa kolonial.

Selain itu, wilayah Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau dan dilewati oleh jalur perdagangan internasional jugalah yang akhirnya membuat banyak kota di pesisir menjadi tumbuh pesat dan berkembang.

Sebagaimana yang telah diketahui, wilayah Nusantara sudah menjadi tujuan perdagangan dunia jauh sebelum era kolonial yakni semenjak era Kedatuan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. Ini semua dapat diraih karena perannya dalam menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka.

Pedagang dari berbagai belahan dunia seperti India, Tiongkok, Arab, hingga Eropa pun berdatangan ke wilayah Nusantara untuk berdagang dan menukarkan barang bawaannya dengan hasil alam seperti rempah-rempah, emas, timah, dll. Ataupun ditukarkan dengan kerajinan tangan seperti anyaman dan kain tenun.

Dari interaksi antara pedagang dengan penduduk lokal inilah nantinya akan melahirkan wilayah pesisir yang berkembang, sehingga menjadi pusat ekonomi baru dan entitas baru pula tentunya.

Oleh sebab itu kebanyakan kota-kota besar masa kini lokasinya berada di daerah pesisir dan dekat dengan dermaga ataupun pelabuhan

Bahkan wilayah-wilayah pelabuhan seperti Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya) dan juga Belawan (Medan), dari masa kolonial hingga kini masih memiliki peran penting dalam perdagangan nasional.

Letak geografis dan posisi strategis ini pulalah yang menjadikan daerah pesisir sebagai pintu gerbang untuk akses transportasi dan perdagangan, terutama pada masa ketika jalur darat dan teknologi transportasi belum berkembang seperti sekarang.

Dan dari hasil kombinasi sejarah, ekonomi, geografi, dan dinamika sosial-budaya inilah akhirnya membentuk pola permukiman di Indonesia sejak zaman dulu hingga kini.

Kolonialisme juga berperan dalam membentuk infrastruktur di kota-kota pelabuhan, sehingga menjadikannya lebih maju dibandingkan kawasan pedalaman.

Hal ini tentu disebabkan oleh akses transportasi untuk masuk menuju pedalaman pulau sebelum abad ke 19 masih belum terbentuk, sehingga memanfaatkan jalur sungai adalah salah satu opsi.

Negara maju seperti Singapura pun bisa berhasil mengembangkan wilayahnya menjadi seperti sekarang, tentu karena jeli dalam memainkan peran sebagai kota bandar pelabuhan, ditambah lagi lokasinya berada di Selat Malaka yang merupakan jalur emas perdagangan internasional, yang mempertemukan kawasan timur dan barat.

Kota-kota besar di wilayah pesisir

Berdasarkan data dari Modul 1 Pengertian, Potensi, dan Karakteristik Wilayah Pesisir yang ditulis oleh Yonvitner, dkk. Bahwa dari total 514 kabupaten atau kota yang ada di Indonesia, sekitar 300 kabupaten atau kota berada di pesisir. Selain itu disebutkan juga, walaupun kewenangan wilayahnya ada di provinsi, kabupaten atau kota ini merupakan garda terdepan terkait keberhasilan atau kegagalan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir.

Berikut adalah kota-kota besar baik itu berupa ibukota kabupaten, kota madya maupun ibukota provinsi yang sebarannya ada di pesisir:

Sumatera

  • Banda Aceh — Meulaboh — Lhoksumawe — Barus — Sibolga — Medan — Dumai — Bengkalis — Batam — Padang — Pariaman — Bengkulu — Kuala Tungkal — Pangkal Pinang — Tanjung Pinang — Bandar Lampung

Jawa & Madura

  • Cilegon — Jakarta — Cirebon — Pangandaran — Cilacap — Tegal — Semarang — Rembang — Tuban — Lamongan — Gresik — Surabaya — Pasuruan — Probolinggo — Banyuwangi — Bangkalan — Sampang — Sumenep

Bali & Nusa Tenggara

  • Singaraja — Denpasar — Mataram — Bima — Ende — Kupang

Kalimantan

  • Balikpapan — Bontang — Tarakan — Singkawang — Mempawah — Ketapang

Sulawesi

  • Makassar — Pare-pare — Majene — Mamuju — Donggala — Palu — Manado — Gorontalo — Poso — Kendari

Maluku

  • Ambon — Ternate

Papua

  • Sorong — Manokwari — Fakfak — Merauke — Nabire — Jayapura

Diluar dari nama-nama kota di atas, sebenarnya juga masih banyak kota-kota besar lain yang letaknya ada di pesisir dan diantaranya berada di tepian sungai seperti Palembang, Jambi, Samarinda, Banjamasin, Gorontalo, Pontianak hingga Palangkaraya, dan masih banyak lagi.

Kota-kota ini bisa dibilang sebagai titik temu berbagai kebudayaan. Interaksi budaya diantara pedagang dengan penduduk lokal ini juga memberikan dinamika sosial yang memperkaya serta memperkuat identitas kota, dan kini dapat kita lihat bukti keragamannya.

Setelah mengetahui sedikit tentang kota-kota di wilayah pesisir, tentu kita perlu tahu bahwa kota-kota ini juga cukup rentan terhadap ancaman bencana alam, seperti banjir rob, tsunami, erosi pantai hingga penurunan permukaan tanah.

Perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut ini turut menjadi tantangan besar dan membutuhkan perhatian serius oleh berbagai pihak, tentunya pengelolaan resiko lingkungan juga harus menjadi prioritas pemerintah dalam menjaga keberlanjutan kota.

Melansir Kompas.com, disebutkan bahwa, sebanyak 199 kabupaten/kota di Indonesia yang terletak di wilayah pesisir terancam dampak perubahan iklim. Dari jumlah tersebut, 40 kabupaten/kota mempunyai indeks kerentanan pesisir yang sangat tinggi.

Kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim menyebabkan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir akan kehilangan tempat tinggal. Ambil contoh, wilayah utara Semarang atau daerah Jakarta Utara yang semakin tahun tanahnya semakin tergenang oleh air laut.

Sekali lagi ini harus menjadi perhatian khusus, sebab peran kota-kota besar di pesisir ini juga cukup vital dan tidak dapat disepelekan dalam membangun perputaran ekonomi, mengingat mayoritas dari kota-kota di Indonesia ini letaknya berada di pesisir.


메타데이터
post_id
de2911b2a009
slug
mengapa-kota-besar-di-indonesia-adanya-di-wilayah-pesisir-de2911b2a009
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mengapa-kota-besar-di-indonesia-adanya-di-wilayah-pesisir-de2911b2a009
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/mengapa-kota-besar-di-indonesia-adanya-di-wilayah-pesisir-de2911b2a009
author_url
https://medium.com/@rahmatiskandarizki
status
ok
fetched_at
2026-07-14 22:48:41