#135: Inilah Cerita Hidupku
“Apakah waktu kegiatan, ada yang memvideokan kah?”
#135: Inilah Cerita Hidupku

Yang duduk, sebelah kanan adalah Siswanto (foto: Dayu Rifanto)
“Apakah waktu kegiatan, ada yang memvideokan kah?”
Begitu pesan Mas Sis pada saya, saat saya mengirimkan ulang rekaman suaranya dan membentuk sebuah cerita yang nantinya akan teman-teman baca di bawah ini. Mas Sis adalah teman netra saya.
Saya mengenal Siswanto, atau Mas Sis sudah sejak tahun 2021 lalu. Waktu itu kami mengalami proses belajar bersama, dalam sebuah project yang mengenalkan literasi digital bagi teman-teman disabilitas.
Buat saya, Mas Sis adalah salah satu orang yang paling ramah, sekaligus suka bercerita dan lucu. Ia suka sekali melontarkan cerita-cerita lucu pada kami semua.
Pada kesempatan beberapa waktu lalu, ia menjadi salah seorang yang ikut belajar menulis, di mana saya mengampu kelasnya. Kegiatan belajar tersebut adalah sebuah kegiatan dari Yayasan Bicara, dan kebetulan saya mengampu kelasnya dan berlangsung di ruang baca kami yang sedernana bernama Pinjam Pustaka. Melalui persetujuan Mas Sis, saya membagikan kisahnya di bawah ini. Semoga menginspirasi.
**
Perkenalkan, nama saya Siswanto. Saya lahir di kota Sorong dan tinggal di Sisipan Jalan 5. Saya anak keempat, pendidikan terakhir saya MTS, dan hobi sehari-hari adalah otak-atik rongsokan elektronik. Saat ini, saya sedang bersama teman-teman dalam kegiatan Yayasan Bicara.
Kami mengikuti kegiatan yang sangat seru. Kami diajarkan untuk menulis, dan inilah cerita saya yang saya tuangkan di WhatsApp, salah satu fitur di handphone Android.
Ada banyak yang mau diceritakan. Inilah ceritaku masa-masa kecilku yang aku ingat. Yang paling diingat dan yang paling berkesan serta tidak kulupakan adalah saat aku ditinggal oleh orang tuaku bekerja di suatu perusahaan. Aku dititipkan ke tetangga. Kata mereka, saat orang tuaku bekerja, mereka meninggalkan aku di rumah mereka.
Jadi, setiap malam aku selalu menunggu dan menunggu kapan orang tuaku pulang. Bahkan tetanggaku pun kebingungan saat aku menangis, dan mereka memakai berbagai cara untuk menenangkanku.
Karena orang tuaku akhirnya mengetahui aku menangis, sebagai imbalannya orang tuaku selalu mengirimkan roti tawar dan karet gelang sisa pembungkus nasi. Betapa senangnya diriku karena waktu itu aku mempunyai karet gelang, betapa banyaknya sampai beribu-ribu. Bahkan, saking panjangnya, jika ditarik bisa sampai 20 meter. Semenjak itulah, diriku selalu tenang menunggu di rumah.
Ada juga orang yang kuingat sangat berjasa di hidupku. Tidak ada yang lain; yang pertama dan utama adalah kedua orang tuaku. Hanya saja, di sini, ibuku lah yang paling benar-benar berjasa di dalam hidupku. Satu kenangan yang paling takkan aku lupakan adalah di masa saat aku masih bersekolah.
Di saat ayahku bekerja merantau, ibuku lah yang menjaga kami, mengutamakan kami waktu di rumah, mencari nafkah untuk uang saku, menjaga kami, memelihara kami, terutama diriku ini. Tidak siang tidak malam, ibuku selalu menjaga kami.
Dan ceritaku yang ketiga, orang yang paling aku sayangi adalah bapakku. Kenapa? Karena beliaulah yang paling banting tulang, seorang petani yang berpanas-panasan di ladang dan di kebun.
Pergi pagi, pulang sore, tidak mengenal rasa capek, dan selalu memperhatikan kami. Apalagi saat di antara kami ada yang sakit, beliaulah yang paling kebingungan, mencarikan obat, mencarikan dana untuk kami berobat. Tidak pernah mengenal rasa lelah. Pokoknya, nomor satu lah untuk bapakku tercinta.
Tapi ada lagi yang mau kuceritakan, yaitu soal cerita lucu bersama tetanggaku. Tetanggaku itu mempunyai kebiasaan yang unik, yaitu dia latah. Jadi setiap hari, kami sangat senang ketika ada beliau. Hanya aku saja yang tidak bisa menyebutkan latahnya itu apa.
Jadi, jika ada beliau, kami selalu menggodanya untuk mengucapkan kata-kata lucu keluar dari bibirnya. Yang unik, tubuhnya bisa lompat-lompat ketika mengucapkan kata yang latah itu.
Senang dan seru sekali kegiatan kami saat ini. Saya bersama teman-teman lainnya, sedang belajar menulis. Saya diperkenalkan tentang huruf alfabet, dari awalnya satu kata menjadi beberapa kata, kemudian menjadi kalimat, dan seterusnya. Wah, begitu seru dan mengasyikkan. Semoga ke depannya kegiatan ini berlanjut dan kami semakin mendalaminya.
Mengapa begitu? Sebab begitu terbatasnya kami dalam beraktivitas sehari-hari, terutama untuk mobilitas dan mencari pekerjaan atau rezeki. Begitu banyak suka duka dalam hidupku. Yang paling membuat saya bingung adalah ketika bertemu dengan teman tuli.
Bayangkan betapa sulitnya kami untuk berkomunikasi. Semoga ke depannya kami diberdayakan semaksimal mungkin dan diberikan kemudahan untuk mempelajari ilmu komunikasi dengan teman-teman tuli.
Inilah harapanku kepada yayasan. Semoga kami diberikan ilmu yang cukup untuk berkomunikasi dengan mereka. Saat ini, saya khususnya masih terkendala dalam beraktivitas sehari-hari dan bergaul. Semoga harapannya ke depan, kami semakin baik, semakin rukun, dan semakin bisa bersatu.
::
Begitulah cerita teman saya, yang bernama Siswanto. Semoga teman-teman berkenan membacanya dan terinspirasi.
메타데이터
- post_id
- de4c9fad4697
- slug
- 135-inilah-cerita-hidupku-de4c9fad4697
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/135-inilah-cerita-hidupku-de4c9fad4697
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/135-inilah-cerita-hidupku-de4c9fad4697
- author_url
- https://medium.com/@dayourifanto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13