← Back to list

I’tiraf dan absurditas

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Herman · 2024-01-25 01:54 · 0 claps · 1.6 min read
#itiraf #sufism #filsafat
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

I’tiraf dan absurditas

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Satu bait lirik dalam i’tiraf yang berarti kurang lebih “Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim” membuka cakrawala manusia yang mendengarnya kepada penyesalan, pasrah dan taubat. Bagi saya, ini jauh lebih dari pada itu. Abu Nawas semasa hidupnya dikasahkan sebagai orang yang memiliki banyak sekali karya larik yang jenaka, tapi pada akhirnya ia menulis sebuah larik yang sangat menyentuh. Abu nawas atau yang memiliki nama lengkap Abū Nuwās al-Ḥasan ibn Hānī al-Ḥakam yang lahir pada 756 Masehi dikenal sebagai seorang pemabuk dan pemain wanita namun seorang pujangga hebat yang bahkan hingga dijadikan pujangga istana, tapi bukan saja itu kisahnya ia lebih dikenal lagi dengan syair yang ditemukan di bawah bantalnya ketika ia telah meninggal (ia dikisahkan hampir saja ditinggalkan dan tidak ada yang mau men-sholat-kan beliau) yang berisi penyesalan dan rasa taubatnya di akhir hidupnya.

Bagi sebagian orang, syair ini adalah syair keagamaan yang penuh dengan unsur taubat dan penyesalan, tapi bagi saya ini adalah gerbang seseorang untuk memahami absurditas. Absurditas pada intinya berpendapat bahwa apapun yang dilakukan oleh manusia seolah-olah hanyalah sebuah kesia-siaan. Kehidupan manusia dan perjuangan mereka seperti sekolah, belajar, bekerja atau mencari pengetahuan pada akhirnya harus berakhir pada kematian dirinya. Albert Camus sendiri yang merupakan tokoh utama dalam filsafat absurditas berpendapat bahwa tujuan utama filsafat adalah bagaimana menyakinkan manusia agar tetap hidup dan tidak berakhir bunuh diri.

I’tiraf pada dasarnya adalah syair kebingungan abu nawas dan ketakutannya atas akhir hidupnya, Ketakutan akan masa depannya setelah kematian menyebabkan kebingungan yang dahsyat dan menghasilkan larik yang saling bertolak belakang. Manusia pada dasarnya memiliki rasa ini tiap detiknya — ketakutan dan kebingungan akan masa depan — , yang jadi perbedaan ketakutan dan kebingungan ini memiliki alasan yang berbeda-beda ada yang bersumber pada ekonomi mereka yang tidak memadai, ketakutan akan pengetahuan yang sedikit, atau ketakutan bahwa ibadah nya tidak mencukupi. Keadaan pikiran ini lah yang menyebabkan manusia berfikiran untuk mengakhiri hidupnya dan sampai pada kesimpulan yang sia-sia.

Absurditas yang diakar pangkalkan kepada eksistensialisme dan nihilisme erat sekali dihindari karena mereka berpendapat bahwa hal ini berakhir kepada ketidak percayaan kepada Tuhan. Realitasnya, orang-orang yang telah buntu akan menjadikan agama sebagai akhir perjalanan pikirannya, hal ini terutama terjadi pada kalangan bawah yang tidak memiliki opsi lain karena ketidakmampuan ekonomi. Karena absurditas berpokok kepada kesia-siaan inilah Tuhan bisa jadi harusnya menjadi ujung dari pandangan absurditas.


메타데이터
post_id
de9c99d2a3aa
slug
itiraf-dan-absurditas-de9c99d2a3aa
url
https://medium.com/@hermansh-id/itiraf-dan-absurditas-de9c99d2a3aa
canonical_url
https://medium.com/@hermansh-id/itiraf-dan-absurditas-de9c99d2a3aa
author_url
https://medium.com/@hermansh-id
status
ok
fetched_at
2026-07-24 13:04:11