← Back to list

Resah — Bag. 2 (Akhir)

Berikut ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Wahb bin Munabbih, bahwa Lukman (sepertinya Lukman al-Hakim) menasihati putranya,

Helmi Santosa · 2026-06-20 12:31 · 0 claps · 2.7 min read
#emosional #kecerdasan-emosional #manajemen-emosi #emosi-negatif #emosi
Open on Medium ↗

Resah — Bag. 2 (Akhir)

Photo by Ahmed Zayan on Unsplash

Photo by Ahmed Zayan on Unsplash

first published on 27 March 2021

Berikut ini adalah riwayat yang disebutkan oleh Wahb bin Munabbih, bahwa Lukman (sepertinya Lukman al-Hakim) menasihati putranya,

“Wahai anakku, janganlah kamu membantah para ulama. Nanti kamu akan menjadi rendah di mata mereka dan mereka tidak akan mau menyambutmu.

Jangan pula berdebat dengan orang-orang bodoh karena mereka kelak akan mengolok dan mencibirmu.

Seseorang akan dianggap berilmu ketika ia bersabar dan bersikap layaknya orang berilmu, dan ia akan selamat dari orang-orang bodoh ketika ia mampu menahan diri dan tidak meladeni mereka.

Jangan terpancing dengan ucapan-ucapan remeh karena bisa jadi kamu akan melakukan sekian tindakan bodoh dan kamu pun dibuat menyesal karenanya.

Jangan lucuti harga dirimu hanya untuk melampiaskan kemarahanmu.

Kalau ada orang bodoh yang berlaku buruk kepadamu, sungguh, sifat santun akan benar-benar bermanfaat buatmu.

Kalau kamu tidak mau berlaku baik sampai orang lain berlaku baik kepadamu terlebih dahulu, di mana pahalamu? Apa keistimewaanmu dibandingkan orang lain — karena mereka pun begitu.

Apabila kamu menginginkan pahala dan keutamaan:

- berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu,

- maafkan orang yang telah menzalimimu,

- berikanlah manfaat kepada orang yang tidak pernah memberimu manfaat,

- lalu nantikanlah pahala besar yang ada di sisi Allah.

Sebab, kebaikan yang sempurna (surga) itu ada pada orang yang tidak menghendaki balasan (kebaikan) ketika di dunia.”

“Orang yang tidak mau memberikan uzur karena gengsi dan tidak pula memaafkan kedunguan seorang fajir, maka ia harus rela hanya memiliki sedikit teman.

Orang yang menghadapi para berandalan dengan sifat santun, sungguh ia akan bisa menjinakkan mereka.”

Muhammad bin Habib al-Wasithi

“Tahan lisanmu ketika berhadapan dengan tukang cela. Jangan berperilaku seperti kelakuan orang-orang bejat.

Jika seseorang menyambut tawaran dari mereka, kelak ia akan menyesal begitu ia menerimanya.”

Abdul Aziz bin Sulaiman al-Abrasy

Ketika Urwah ditugasi memimpin Yaman, ayahnya, Muhammad bin as-Sa’di, memberinya nasihat,

“Jika kamu marah, lihatlah langit di atasmu dan bumi di bawahmu, lalu pujilah Dzat yang telah menciptakan keduanya.”

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih disenangi orang bejat ketika sedang menghujat orang mulia, daripada jawaban yang dibalasnya.

Mendiamkan orang bejat tanpa satu pun jawaban itu lebih menyakitkannya daripada azab sekalipun.”

Ibnu Zanji al-Baghdadi

Dari Umar bin Hafsh bin Ghiyats, dari ayahnya, ia berkata,

“Waktu itu aku sedang duduk di samping Ja’far bin Muhammad, dan ketika itu ada seorang lelaki yang sedang mengadu kepadanya.

Lelaki itu berkata,

‘Dia telah mengatakan ini kepadaku. Dia telah berbuat itu kepadaku … ’

Ja’far menjawab dengan sebuah nasihat,

‘Orang yang memuliakanmu, maka muliakanlah juga. Adapun orang yang merendahkanmu, maka muliakanlah dirimu darinya (tidak perlu diladeni).’”

Terakhir, sebuah penggalan kalimat dari Abu Hatim, pada halaman 293, yang berbunyi,

“ … seandainya sikap santun itu memiliki orang tua, pastilah ia adalah akal, sedangkan yang satunya adalah kesabaran.”

Mulai Belajar

Setelah membaca seluruh isi bab tersebut, tentu tidak serta merta saya langsung menjadi seorang bijak yang kharismatik, haha.

Tapi justru sebaliknya, diri ini sadar kalau ia masih butuh banyak belajar. Belajar mengendalikan diri. Belajar menata emosi.

Terkadang orang-orang terdekat yang kita sayangi, tidak selalu dalam kondisi baik.

Ucapan-ucapan mereka itu bisa saja terlontar ketika mereka sedang marah, banyak pikiran, atau bisa jadi karena lelah melihat kita yang dari dulu tidak juga berubah.

Selalu ada banyak kemungkinan, bahkan sangat banyak.

Bisa jadi pula ada beberapa dari mereka yang mungkin memang memiliki pembawaan yang kurang beradab atau kurang cerdas dalam bergaul.

Tapi jangan juga dikatakan bahwa mereka bodoh. Ada banyak hal yang melatarbelakangi semua itu dan kita tidak mengetahuinya.

Oleh sebab itu, sedari awal cobalah untuk diam.

Pesan Perpisahan (?)

Melalui tulisan ini, bila suatu hari nanti kamu membacanya, saya pribadi hanya ingin meminta maaf.

Saya mohon maaf kalau selama ini saya:

  1. terlalu galak;
  2. ketus;
  3. sering berisik/mengganggu;
  4. egois;
  5. lebih sering menuntut;
  6. judes;
  7. keras kepala;
  8. kurang ajar;
  9. tidak sopan;
  10. … silakan sebutkan saja

Akhir kata, maaf bila saya pernah membuatmu resah.

Suka tulisan saya? Silakan share ya, biar semakin bermanfaat buat banyak orang. 👍🏻

Traktir saya kopi 📲 di sini 😁

Mungkin kamu bakal butuh 📲 ini


메타데이터
post_id
de9de2af46ee
slug
resah-bag-2-akhir-de9de2af46ee
url
https://medium.com/@helmisantosa/resah-bag-2-akhir-de9de2af46ee
canonical_url
https://medium.com/@helmisantosa/resah-bag-2-akhir-de9de2af46ee
author_url
https://medium.com/@helmisantosa
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31