Fenomena Mahasiswa UNNES Dalam Pandangan Subjektif Saya
Mahasiswa secara luas dipahami sebagai orang yang belajar di Universitas secara formal,yah memang sesimpel itu kawan. Mungkin dalam benak…
Fenomena Mahasiswa UNNES Dalam Pandangan Subjektif Saya

Sumber : Aliansi Mahasiswa UNNES Kawal PGSD
Mahasiswa secara luas dipahami sebagai orang yang belajar di Universitas secara formal,yah memang sesimpel itu kawan. Mungkin dalam benak beberapa orang mahasiswa dipandang sebagai tokoh intelektual karena mungkin tidak setiap insan mendapatkan Privilege untuk menimba ilmu di ranah Universitas. Beberapa memandang mahasiswa sebagai promotor aksi-aksi yang nantinya berujung anarkis, yah walaupun gak semua mahasiswa minat terhadap hal-hal tersebut.
Bagiku fenomena mahasiswa yang terjadi di dalam kampus sangatlah menarik. Aku dan beberapa teman ngopiku melihat bahwa ada banyak jenis-jenis mahasiswa, terkhusus di UNNES sendiri. Fenomena ini bukan lah sebuah hal yang primordial, tetapi terbentuk perlahan demi perlahan mengikuti konstruksi ruang dan sosial yang ada. Mungkin fenomena yang terjadi di UNNES tidak terjadi di kampus lain, atau mungkin sama, siapa tau.
Bagiku mahasiswa UNNES terdiri dari 4 golongan
- Mahasiswa Pergerakan
Mereka adalah promotor aksi-aksi yang biasa dijalankan untuk menuntut kebijakan publik pemerintah yang dirasa tak sejalan dengan hak-hak rakyat, tak jarang mereka juga terkadang menuntut kebijakan kampus yang tak senada dengan kemauan mahasiswanya. Sebut saja Aksi Kamisan Semarang atau Aliansi Mahasiswa UNNES Kawal PGSD, ini menjadi salah satu contoh dari bagaimana mereka berserikat, berdiskusi, dan menyuarakan tuntutan-tuntutan dasar melalui jalur negosiasi/audiensi atau jalur aksi/turun ke jalan.
Kebanyakan mereka diisi oleh orang-orang dari Ekstra kampus macam PMII,GMNI ataupun HMI, karena memang perlu diakui bahwa pembelajaran dialektis yang tidak didapatkan di kampus tak jarang didapati di organisasi Ekstra tersebut. Beberapa dari mereka juga ada yang tidak ikut organisasi Ekstra, tetapi jumlahnya tak terlalu banyak.
Mereka adalah orang-orang yang senang berdiskusi bahkan sudah menjadi rutinitas mingguan mengadakan diskusi formal tentang hal-hal yang berkaitan dengan “Bagaimana caranya menggulingkan kapitalisme?” atau sekedar menyoal tentang dinamika pemerintah di daerah-daerah konflik agraria macam Wadas ataupun Dieng. Mengkopi sampai matahari terbit bukanlah hal yang aneh bagi mereka, membahas tentang negeri ini yang semakin porak-poranda saja dibuat oleh para kapitasi dan oligarki, tak jarang mereka membahas tentang filsafat dari zaman klasik sampai Postmodern, dari zaman Plato dan Aristoteles sampai Derrida dan Heidegger. Topik obrolannya bisa apa saja, tapi mungkin tak jauh-jauh dari hal diatas.
Tak jarang ditemui golongan ini sering mengkritik golongan mahasiswa Event (yang nanti saya jelaskan) yang terkesan apatis dan tak acuh dengan dinamika masyarakat yang sangat tertindas oleh kebijakan pemerintah, dengan argumentasi bahwa mahasiswa dari dulu adalah tonggak dari pada perubahan sosial, mahasiswa mempunyai gen sebagai promotor Transformasi sosial macam gerakan tahun 98 atau dalam menuntut Soekarno untuk turun. Bahwa mahasiswa seharusnya menjadi Intelektual Organik (Meminjam istilah dari Anthony Gramsi) yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat-masyarakat kecil. yahh itu sedikit tentang argumentasi mereka.
Mereka adalah orang yang sangat enggan dengan kontrak-kontrak kerja yang tidak bermanfaat bagi kebanyakan mahasiswa, tak jarang mereka mengkritik Event-event yang rasanya tidak menjiwai esensi marwah mahasiswa itu sendiri. Contoh kasusnya adalah ketika kebanyakan organisasi macam HIMA atau BEM mengadakan “ Pengabdian Masyarakat”, mereka mempertanyakan dimana letak pengabdiannya, apakah acara yang hanya mendatangi suatu tempat dan ada program mengajarnya (Walaupun hanya sehari saja), dengan dikemas secara formal di balai desa dan di datangi oleh Kades dan pak Camat, dapat dikategorikan sebagai pengabdian masyarakat?. Apakah mengabdi hanya sebatas sebuah Event yang diadakan paling mentok 2 hari di suatu desa?.
Yah itulah sedikit kritik mereka tentang golongan mahasiswa Event yang selalu terpaku terhadap progja (program kerja) tahunan yang dilaksanakan hanya untuk menggugurkan kewajiban di awal periode saja.
- Mahasiswa Event
Mereka kebanyakan diisi oleh orang-orang organisasi Intra Kampus macam BEM atau HIMA. Mempunyai kultur yang sangat berbeda dari mahasiswa pergerakan, mulai dari kultur dalam obrolan dan pertemanan sampai bagaimana mereka membangun organisasi besar macam BEM.
Topik obrolan yang sering diajukan juga tak jauh-jauh dari dinamika pertemanan yang ada di kampus atau menyoal tentang hal-hal kecil macam “Kuliner kampus” atau “Dunia Percintaan” atau bahkan “Dosen goib”, yah topik yang menurut kebanyakan orang receh tetapi bisa menjadi sebuah obrolan intensif diantara mereka. Mengasyikan memang.
Mereka terlatih dalam mengadakan dan mengorganisir sebuah Event besar secara sistematis dan profesional. Hal-hal yang mungkin akan sangat malas dilakukan oleh mahasiswa pergerakan akan dengan sangat senang hati dikerjakan oleh mahasiswa Event ini seperti mengadakan acara Pengenalan Kampus (PKKMB) bagi mahasiswa baru, atau dalam hal yang lebih kecil seperti MAKRAB (malam keakraban) organisasi. semua itu akan sangat mudah dilaksanakan oleh golongan mahasiswa yang satu ini.
Sesekali mereka turun ke jalan, membersamai Aliansi Mahasiswa dalam melancarkan aksi di depan gedung Gubernuran, sesekali pula mereka menghadiri diskusi publik menyoal tentang problem sosial. Karena pada dasarnya mereka tidak tahu tentang topik apa yang sebenarnya dibahas oleh forum tersebut.
- Mahasiswa Apatis
Golongan ini yang terkadang diperangi oleh 2 golongan diatas, mereka adalah orang-orang yang tak acuh tentang apa yang terjadi di kampus, mulai dari dinamika politik kampus, acara-acara yang diadakan di kampus sampai aksi turun ke jalan yang yang rutin dilakukan.
Keseharian mereka hanyalah kuliah lalu pulang, kebanyakan orang menyebutnya dengan mahasiswa kupu-kupu (Kuliah pulang- kuliah pulang). Sesekali bersosialisasi dengan teman sekelas membahas tentang hal-hal yang sedang trending, music, atau outfit yang cocok untuk dipakai esok hari.
Mereka tak tertarik dengan bahasan tentang bagaimana pemerintah mengintervensi pantai utara jawa sebagai kawasan industri yang nantinya ditolak mati-matian oleh mahasiswa pergerakan, mereka acuh dengan kebijakan UKT kampus yang memberatkan mahasiswa atau tentang status PTN-BH yang ditolak besar-besaran. Dunia dalam konstruksi mental mereka sangatlah berbeda dengan mahasiswa pergerakan.
- Mahasiswa Keilmuan
Status keilmuan disini bukan menyoal tentang mahasiswa yang cinta dengan ilmu karena sejatinya semua mahasiswa mempunyai dan menyandang status tersebut, dan status “Siswa” dan “Ilmu” adalah suatu kesatuan yang tidak bisa terpisah. Tetapi status keilmuan disini lebih kepada pengelompokan saja yang membedakan mahasiswa golongan ini dengan 3 golongan diatas.
Mahasiswa golongan ini sadar akan pentingnya melestarikan iklim intelektual yang ada didalam kampus, mereka seringkali mengadakan diskusi santai tentang khasanah keilmuan sosial bahkan keagamaan. Seringkali mereka berjibaku dengan lomba-lomba karya tulis ilmiah dan riset-riset yang sering diadakan bersama dosen. Mereka menyadari akan pentingnya membaca dan berdiskusi secara formal guna melatih Public Speaking didepan orang banyak.
Yang membedakan golongan ini dengan golongan mahasiswa pergerakan adalah lingkaran dan jejaring yang mereka bentuk. Mahasiswa keilmuan cenderung tidak mengikuti aksi turun kejalan seperti di Gubernuran Jateng yang sering diadakan mahasiswa pergerakan, topik yang lebih sering diajukan oleh mahasiswa keilmuan adalah tentang filsafat keilmuan itu sendiri atau tentang keilmuan yang mereka sedang tempuh di kampus. Sangat jarang mereka mengambil topik tentang permasalahan sosial yang sedang terjadi di Indonesia menyangkut pemerintah/aparat dan kebijakan publik.
Penutup
Itulah 4 jenis mahasiswa yang selama 2 tahun ini saya observasi. Pengelompokan ini hanyalah hipotesis belaka yang saya ambil dari generalisasi fenomena sosial yang ada. Dan semua ini adalah hasil dari diskusi bersama beberapa kawan saya di warung kopi dekat kampus.
Sangatlah mungkin terjadi Penyelewengan dari teori yang saya tawarkan diatas karena sejatinya ilmu sosial itu bersifat dinamis/dialektis dan tidak terpaku oleh hukum-hukum alam yang bersifat ilmiah. (Mungkin ini kritik saya juga terhadap positivisme wkwkkw)
메타데이터
- post_id
- deecc026bd29
- slug
- fenomena-mahasiswa-unnes-dalam-pandangan-subjektif-saya-deecc026bd29
- url
- https://medium.com/@nabielgunawan/fenomena-mahasiswa-unnes-dalam-pandangan-subjektif-saya-deecc026bd29
- canonical_url
- https://medium.com/@nabielgunawan/fenomena-mahasiswa-unnes-dalam-pandangan-subjektif-saya-deecc026bd29
- author_url
- https://medium.com/@nabielgunawan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39