Day-1 Jadi Relawan BAZNAS RI
Sabtu, 31 Januari 2026, aku menerima surel berupa chat undangan keterima menjadi relawan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI yang sudah…
Day-1 Jadi Relawan BAZNAS RI
Sabtu, 31 Januari 2026, aku menerima surel berupa chat undangan keterima menjadi relawan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI yang sudah kutunggu hampir dua bulan. Terasa mendadak, masuk kerja terhitung dari tanggal 2 Februari. Terus yang bingin tidak tenang ada persyaratan harus memiliki rekening Bang Syariah Indonesia (BSI) sedangkan bank tutup di weekend.
Setelah mendapat pengumuman aku langsung teruskan surel itu ke ibu. Dan dia langsung memberiku pertanyaan; “Sudah yakin?”. Dengan penuh percaya diri aku jawab “yakin”. Pertanyaan berbeda muncul lagi saat ngobrol langsung dengannya; “Sudah istikarah belum?”. Aku jawab dengan angkuh, istikarah terjadi jika ada dua pilihan. Aku pikir perlu istikarah lagi.
Aku tahu ibu dipenuhi kekhawatiran, apalagi di rumah sendirian dengan penuh kesibukan. Ditambah musibah baru menimpa usaha ibu; traktor peninggalan babeh beberapa part-nya yang menjadi komponen penting dan harganya mahal dicuri. Biaya perbaikan dan mengganti part baru hamper mencapai angka 4 juta.
Selain itu, ibu juga punya usaha warung kecil-kecilan. Pelanggan setianya adalah murid-murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang ia kelola sendiri. Biasanya, tiap masuk sekolah pagi, aku membantunya melayani pembeli. Supaya ia bisa bersiap-siap mengajar tanpa distraksi.
Sore hari, biasanya, aku bantu sapu dan pel rumah meskipun hanya bagian dalam rumah saja, sisanya ibu yang mengerjakan. Tapi, sekarang, posisiku jauh dari ibu. Itu, salahsatu yang memberatkan langkahku berangkat. Apalagi ia bertanya lagi; “Beneran? Ibu maunya kamu nyari yang deket saja!?”. Dengan sedikit kesal aku jawab; “Bu, aku stress gak punya kerjaan!”. Dia bergeming pasrah dan melanjutkan pekerjaan mengepelnya.
Esoknya, ibu menyuruhku untuk service motor. Mengajakku membeli peralatan yang wajib dimiliki perantau; ricecoocker. Menyiapkan beras dan dia membekaliku sebungkus keripik sukun (yang sekarang menemaniku menulis tulisan ini).
Minggu, 01 Februari 2026 aku berangkat ke Jakarta, tepatnya, Matraman Jakarta Timur. Aku membawa motor dari Karawang, asumsiku lebih efisien. Berangkat sekitar pukul 16.00 sampai Matraman selepas azan magrib.
Sampai di Matraman harapannya aku langsung dapat kosan, tapi situasi berkata lain. Pemilik kosan yang aku hubungi tidak aktif. Sedikit jengkel, sampai ada warga di situ yang mengajakku ngobrol. Ramah-ramah, sampai menawarkan untuk ngekos di keponakannya. Banyak yang kami obrolkan; pekerjaan, asal muasal, pengalaman, sampai politik.
Tak terasa pertemuan dengan bapak-bapak ini melipur kekesalanku. Sampai pemilik kosan membalas pesanku. Ternyata gawainya lowbat. Kosannya di Pal Meriam, Matraman. Akses ke layanan public cukup dekat; stasius, halte, pasar, tempat perbelanjaan dll.
Kosan yang aku tempati cukup besar untuk ukuran satu orang dengan harga normal di Jakarta. Cuma, kalua dibandingkan dengan kota-kota kecil gapnya agak jauh. Tapi, over all lumayan meskipun fasilitasnya minim; air gratis, westafel, sampah, ksur. & lampu. Sisanya kita yang tanggung.
Day-1 Jadi Relawan
Hari pertama masuk, aku minim sekali info terkait ketentuan seperti seragam yang harus dipakai, bagaimana teknisnya saat di kantor, harus bertemu siapa. Alhasil, saat datang ke kantor Baznas RI orang-orang berseragam putih dan celana bahan. Sedangkan, aku memakai kemeja biru telor asin brand Uniqlo dan celana jeans dongker. Sangat-sangat anomaly.
Agak malu, sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Gak mungkin balik lagi ke kosan, karena tidak bawa kemeja putih. Tapi untungnya mereka menyambut dengan hangat, meskipun ada sedikit teguran.
Aku menempati posisi Konten Strategis di divisi Hubungan Masyarakat (Humas). Tugasnya cuma membuat pers rilis, berkoordinasi dengan jurnalis dari media luar, dan merekam di tiap acara daring maupun luring. Aku ditemani dua orang cewek yang sudah menjadi relawan dari tahun lalu. Menurut mereka, mereka dipanggil lagi untuk menjadi relawan. Aku bersyukur, dari sekitar ratusan yang mendaftar, aku yang keterima meskipun nol pengalaman.
Selepas solat ashar aku agak sedikit merenung. Bertanya-tanya kok bisa ada di sini. Apakah ini jawaban doa dan keresahaanku?. Aku sering berdoa meminta pekerjaan tetap. Tuhan memberiku yang kontrak. Alasannya, masuk akal; apakah aku bisa atau amanah jika diberi yang kontrak. Kalau lolos, Tuhan pasti kasih yang tetap. Ah, Wallhu ‘Alam.
메타데이터
- post_id
- df20dba3432b
- slug
- day-1-jadi-relawan-baznas-ri-df20dba3432b
- url
- https://medium.com/@jurnalzick/day-1-jadi-relawan-baznas-ri-df20dba3432b
- canonical_url
- https://medium.com/@jurnalzick/day-1-jadi-relawan-baznas-ri-df20dba3432b
- author_url
- https://medium.com/@jurnalzick
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13