← Back to list

Sunda untuk Saya; Sebuah Prolog Otobiografis

Saya memohon maaf sebesar-besarnya bilamana ternyata Anda tidak nyaman membaca tulisan ini. Selain karena teks ini saya pintal bukan untuk…

Tubagus Rafly · 2026-05-25 18:04 · 0 claps · 9.4 min read
#sunda #bahasa-sunda #budaya #indonesia #jawa-barat
Open on Medium ↗

Sunda untuk Saya; Sebuah Prolog Otobiografis

KITLV. (ca. 1910–1920). Het doppen van koffiebonen met de mond bij een koffie-onderneming in de Preanger [Foto]. Digital Collections, Universiteit Leiden (Leiden University Libraries), Leiden, Nederland.

KITLV. (ca. 1910–1920). Het doppen van koffiebonen met de mond bij een koffie-onderneming in de Preanger [Foto]. Digital Collections, Universiteit Leiden (Leiden University Libraries), Leiden, Nederland.

Saya memohon maaf sebesar-besarnya bilamana ternyata Anda tidak nyaman membaca tulisan ini. Selain karena teks ini saya pintal bukan untuk memuaskan Anda (melainkan saya sendiri), barangkali isinya relatif panjang sebelum akan saya dedahkan lebih jauh sebagai tulisan (yang berusaha mendekati topik) kebudayaan. Upaya katarsis ini menjadi perlu sebab saya sendiri juga berikhtiar untuk memiliki pijakan yang kokoh saat menyuarakan apa yang semoga lebih penting dari tulisan bernada otobiografis dan sedikit genealogis ini. Yakni esai kedua setelah esai ini. Baik, demikianlah alertanya, sisanya Anda tentukan sendiri.

Ide perihal tulisan ini sudah terkandung begitu lama dalam pikiran. Tepatnya sejak 2017, sebuah tahun yang dipenuhi oleh kegagalan dan keterasingan–sampai tak ada lagi hal yang familiar bagi saya di hidup ini selain keterasingan itu sendiri, dan sepertinya akan terus demikian sampai ajal menjemput. Demikian juga ‘Ki Sunda’ (begitu para intelektual Sunda mengistilahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan Sunda; masyarakatnya, bahasanya, budayanya, sistem nilai, falsafah, tanah airnya dan lain-lain).

Setidaknya ada dua hal dalam hidup ini yang saya temui sangat musykil untuk didiskusikan, diinterpretasikan, dan karenanya relatif ironis: Punk dan Sunda (tentu bagi orang Minang, mungkin tentang keminangannya, orang Ogan tentang keoganannya, Dayak dan kedayakannya, dan seterusnya).

Bukan tanpa sebab. Selama saya hadir dan menyusuri arus media sosial dan dunia digital umumnya sejak 2000-belasan, di permukaan masyarakatnya, pembahasan tentang Sunda selalu diiringi oleh nada Logika Mistika dan tak pernah tidak. Di ranah para intelektualnya lebih sial lagi; acapkali diwarnai oleh elitisme, eksklusivisme epistemik dan wacana (atau ‘gatekeeping’ sebagai istilah gen-znya), bahkan primordialisme. Tak sampai di situ, saya menengarai bahwa sekumpulan problem ini pula yang akhirnya memberikan ruang atau menjadi enabler bagi terjadinya polarisasi masyarakat Sunda sehingga ada yang jadi;

  1. Anti dengan hal-ihwal kesundaan, menganggapnya syirik atau heresy, peninggalan jahiliyah nenek-moyang(-nya sendiri), dan lebih memilih sayap Islam yang konservatif (jika bukan intoleran). Kalangan ini didominasi Kaum Santri, bahkan Kaum Santri Ahlussunnah wal Jamaah alias Aswaja di ponpes-ponpes salafiyyah di segenap penjuru Jabar & Banten.

  2. Sebagai respons, maka hadir masyarakat Sunda revivalis yang anti terhadap mayoritarianisme Islam di Tatar Sunda dan mengutuk segala hal yang berkaitan dengan nuansa Arab/TimTeng yang kentara dari kelompok pertama. Kelompok ini, dengan tingkat banter-nya yang paling minimum, bahkan memarjinalkan generasi muda Sunda yang mulai kehilangan kapabilitas untuk berbahasa Sunda dan menghardik orang-orang yang dianggap tidak bisa berbahasa Sunda secara sopan (Sunda Lemes khas Priangan).

  3. Tentu saja golongan muda yang kehilangan arah dan sudah hidup di dalam bubble modernitas, tak dapat mengelak gelombang kosmopolitanisme, dan akhirnya antipati baik terhadap kelompok pertama maupun kedua, yang artinya juga bersikap tidak acuh terhadap spirit kebudayaan apalagi keagamaan, dan hidup benar-benar mengikuti arus tren dan viralitas belaka.

Jujur saja dalam konteks ini saya iri dengan masyarakat dan lapisan intelektual Jawa yang, meski kerap diframing memiliki kebudayaan dan bahasa bercorak hierarkis, nyatanya selalu lebih mudah menerima siapapun yang memiliki minat dan kecintaan sungguh-sungguh terhadap kebudayaan dan bahasa Jawa. Tak perlu saya sebutkan satu persatu fenomenanya mulai dari pengajaran gamelan di Amerika Serikat, konten-konten viral Bule Jowo, ataupun Pesinden Eropa. Silakan Anda pandang sendiri semua itu dengan hati yang bersih dan jujur.

Jangan salah paham, saya tidak sedang menggunakan ‘kacamata kuda’ yang diwariskan orang-orang tua itu yang selalu memosisikan budaya dan bangsa A dan B dalam sebuah kontestasi. Setidaknya bagi saya pribadi, dalam menghayati kesundaan saya sendiri, saingan dari Ki Sunda bukanlah apapun dan siapapun selain kegagalan-kegagalan historisnya sendiri. Ingat, kita tidak sedang berdiskusi masalah politik (meskipun politik tak pernah terelakkan dalam setiap inci dan detik hidup kita, namun setidaknya bukan politik praktis).

Dua hal yang telah saya sebutkan seperti gatekeeping dan primordialisme, setidaknya saya temui dari interaksi dengan dua orang dari kalangan Sunda yang justru saya look-up dan bagi saya bukan orang sembarangan; Ilmuwan di bidang Sejarah (Sunda dan Jabar) Empiris, dan seorang Santri Senior. Tentu kita tidak akan menyebutkan namanya, sebab akan aneh (baca; cengeng) untuk dibaca rasanya jika tulisan yang sudah kepalang subjektif ini makin dipersonalisasi lagi. Dan uniknya, keduanya terjadi justru karena saya bersikap jujur kepada mereka perihal latar belakang saya.

Ya. Secara genetik (atau katakan saja demikian), sebetulnya saya setengah Jawa-Banten dan setengah Sunda Priangan. Akan tetapi ini pun akhirnya menjadi masalah tersendiri; kedua orang tua saya sejak kecil juga sudah tercerabut dari akar kulturalnya, sebab mereka berdua sejak kecil sudah hidup di Jakarta dan sekitarnya. Ayah saya memiliki core memory masa kecilnya di Pasar Kramat Jati, dan Ibu saya menghabiskan masa kecilnya di Bulan-Bulan Bekasi, pindah kembali ke desanya di Cililin KBB, kemudian bersekolah SMA di Bekasi namun berdomisili di bilangan Cakung, Jakarta (Paling) Timur.

Ayah saya sendiri misalnya, dalam sebuah obrolan, justru malah pernah menegaskan kepada saya saat saya singgung soal Serang (Banten), bahwa “Papah mah anak Jakarta, hidup (dewasa) Papah di Jakarta, masa kecil Papah juga di Jakarta”. Itu sebabnya apapun yang berkaitan tentang bahasa apalagi budaya Jawa-Banten tak pernah benar-benar bisa ia wariskan atau bahkan sekadar mengemasnya secara persuasif kepada saya, anak kandung dan putra pertamanya sendiri, yang biasanya menjadi target utama seorang Ayah untuk memprogramnya menjadi kloningan antropologisnya.

Bukan karena dia tidak mau, tetapi karena ada sejumlah hal yang menjadi obstakelnya dan salah satunya adalah karena kepindahannya ke Serang Banten (yang memang adalah kampung halaman dari Kakek dan Nenek saya dari garis Ayah) telah merenggut manisnya kegemilangan atau golden age masa kecil. Beranjak dewasa, setelah melalui hal yang sama akhirnya saya memahami betul bahwa sebagai anak kecil, terpaksa mengikuti keputusan kepala keluarga untuk tiba-tiba berpindah tempat tinggal adalah hal yang sangat menyakitkan meskipun tak diucapkan. Sebab pada saat itulah kita mulai bertumbuh, bersosialisasi, mulai mempercayai manusia lain secara polos, membangun ikatan, dan (seharusnya) bermain sepuasnya dengan kawan-kawan. Bunga yang baru mulai mekar itu terpaksa dicabut dari akarnya, di mana ia sudah mulai bersenyawa dengan tanahnya, untuk seketika pindah ke tanah lain. Dan–ini analogi yang lebih sinister–semua untaian bunga waktu itu lepas terburai seketika di udara bernama takdir. Ini sebabnya Ayah saya selalu menceritakan keseruan masa kecilnya yang terjadi di Jakarta, yang betul-betul masih diingatnya walaupun saat ini raganya sudah terserang stroke sementara cerita masa remajanya selalu dipenuhi dengan perjuangan hidup khas generasi x.

Alhasil, kultur Jawa-Banten tak pernah lekat sedikitpun dan sedetikpun di hati terdalam saya sampai saat ini. Sudah bahasanya bagi saya sangat sulit untuk dipelajari walaupun saya sudah berusaha, beberapa anasir kebudayaannya kemudian tak bisa saya dalami karena Ayah saya tak pernah berminat dengan hal-hal ‘kontraproduktif’ seperti kebatinannya, ilmu sihirnya, dan pencak silatnya. Ia sudah muak dengan Logika Mistika yang selalu hadir di tengah-tengah keluarga besarnya di Serang sejak masa kecilnya. Demi Tuhan, ini bukan sikap antipati apalagi kebencian. Ini murni fenomena learning loss (meminjam istilah pendidikan).

Sesuatu yang sebetulnya juga mengundang keprihatinan saya terhadap eksistensi Jawa-Banten yang tetap tegar meski jadi minoritas di antara minoritas. Bicaralah dengan orang-orang di luar sana, bahkan dengan orang Jawa Mataraman dan Jawa Wetanan, apakah mereka tahu ada eksistensi masyarakat, budaya, dan bahasa Jawa Banten? 1 dari 10 yang akan jujur menjawab “Ya” pun saya tak yakin. Namun biarlah itu jadi pergumulan dan panggilan hati generasi muda Jawa Banten.

Lantas, dari mana saya mendapatkan spirit Ki Sunda selama ini? Sebetulnya saya memang tidak pernah beranjak dari Ki Sunda sejak awal. Namun setidaknya ada satu keterasingan yang akhirnya memboyong diri saya untuk neugtreug alias bertekad untuk mulai mendalami makna menjadi urang Sunda. Ini terjadi di kampus pertama dari S1 saya di Jakarta, sebuah pengalaman memalukan. Di sana, saya semacam berdebat dengan dua orang senior saya yang asli Betawi. Awalnya saya hanya berbagi perspektif tentang bagaimana ternyata saya belum bisa beradaptasi secara cepat dengan kultur Jakarta yang justru memang serba cepat, serba straightforward.

Perbincangan itu, setidaknya bagi saya pribadi, semakin beralih ke nuansa intimidatif dan negasi yang pada intinya mempertanyakan “Lantas, mengapa memilih kuliah di Jakarta sejak awal?” Agak sulit untuk membingkai kembali apa yang saya rasakan dan ke mana arah pikiran saya akhirnya, sebab kejadian itu sudah hampir sepuluh tahun lalu. Namun sepertinya ada kesalahpahaman bahwa saya sedang menjelek-jelekkan tempat tinggal mereka, yang saya khawatir akan dibawa ke ranah yang lebih dangkal lagi seperti persaingan fans sepakbola (padahal saya tidak pernah mengasosiasikan diri dengan subkultur tersebut).

Pun pada diri saya pribadi, timbul kekecewaan dan keterpatahan ekspektasi. Sebab saya pikir, warga kota besar mestinya bisa berhati besar juga. Bisa memiliki toleransi yang besar juga, karena setiap hari mereka bergulat dengan situasi multikultural. Ternyata PR mereka sebagai civil society masih belum tuntas. Toh akhirnya karena beberapa hal, saya harus berhenti kuliah S1 di kampus tersebut.

Tetapi dari pengalaman itu saya belajar bahwa sepertinya memang akan selalu ada satu-dua kali moment of inertia yang hadir begitu saja secara alamiah dalam setiap interaksi sosial saya selama masih dengan orang Indonesia, yang tak pernah bisa lepas dari latar belakang kulturalnya masing-masing. Saya akan selalu menjadi urang Sunda yang ketara logat, aksen, dan dialeknya sekalipun sudah diupayakan berbicara se-Melayu dan se-Indonesia mungkin. Barangkali akan lain halnya dengan bahasa Inggris. Sekalipun ini terdengar naif, tapi terima kasih atas rundungan verbal kedua senior tersebut. Melalui kejadian itulah pertama kalinya saya jadi mempertanyakan eksistensi saya secara antropologis dan etnologis secara tajam; mengapa saya begitu lekat dengan Sunda dan tidak dengan lainnya?

Pada dasarnya memang ada beberapa modal historis yang kuat bagi saya untuk selalu mengklaim sebagai urang Sunda. Antara lain:

  1. Saya lahir di Cililin, Kab. Bandung (sekarang Kab. Bandung Barat). Di kampung halaman Ibu saya di Dusun Nanggewer, Desa Cikadu. Saya harus diungsikan di sana karena bahkan sampai saya lahir, peristiwa huru-hara pada 02 Mei 1998 masih bergejolak, dan malah menemukan puncak kaotiknya.

  2. Tempat tinggal saya tidak pernah di luar Jawa Barat. Bahkan kalau kita mau berpikir jernih, lokasi geografis Jakarta itu ada di Jawa bagian Barat. Namun saya hanya menetap sebentar sekali di Jakarta, sampai akhirnya harus pindah ke Kota Depok untuk masuk SD sampai kelas 2, dan pindah ke Cibinong Kab. Bogor saat naik ke kelas 3 dan hidup di sini sampai hari ini.

  3. Meskipun Sunda tidak menganut sistem matrilineal inheritance namun saya selalu merasa lebih terhubung secara hati dengan keluarga Ibu saya dari Cililin, ketimbang dengan keluarga Ayah di Serang, Banten. Padahal secara statistik, saya jelas lebih sering bersilaturahmi ke kampung Ayah saya ketimbang ke Bandung Barat yang notabenenya lebih jauh jaraknya.

Demikianlah sehingga krisis identitas saya tidak terlalu parah. Saya memang selalu jadi urang Sunda. Dan pada nomor ketigalah saya percaya tentang kekuatan dari ‘di mana kita dilahirkan.’ Ia mengikat hati dengan cara yang tak bisa saya definisikan, hanya bisa dirasakan. Itu sebabnya banyak orang Eropa yang kita kira sangat universal dan globalis nyatanya sebaliknya; mereka sangat menjaga keterhubungan dengan tanah kelahiran leluhurnya. Sebab sejauh manapun mereka melanglangbuana saat dewasa, tetap saja mereka akan dikenal sebagai orang Prancis, orang Inggris, orang Italia, dan seterusnya.

Tinangtos, Sunda tos janten Pangeusi Hate.

Masalah eksistensial sudah selesai, beranjak ke dinamika problematis baru; interaksi saya dengan urang Sunda itu sendiri. Tentu, orang-orang berpikiran sempit ada dari mana saja di Indonesia ini. Bahkan tak peduli apakah ia seorang terpelajar atau bukan. Dari dua urang Sunda yang sudah saya sebut sebelumnya, ada dua hal menarik yang saya dapatkan;

1. Dilema Akademisi Sunda

Berdasarkan interaksi saya dengan sejumlah kecil intelektual dan akademisi yang mengkaji secara mendalam tinggalan-tinggalan kebudayaan Sunda Kuno, saya selalu mendapati satu gaya bergaul yang sama; mereka seperti enggan menjadi tempat bertanya yang inklusif bagi orang Sunda yang awam namun memiliki minat besar terhadap kebudayaan. Padahal kita selalu mendengar betapa Ki Sunda dan generasi muda Sunda tos kawas obor pareum seuneuna ini menjadi krisis eksistensial kita. Tentu ini butuh dialog lebih lanjut untuk diklarifikasi, apalagi jumlah orang yang saya temui memang terbatas. Akan tetapi, gejala ini selalu saya temui. Yang paling saya sayangkan dari abai/absen/kurang hadirnya mereka dalam menjawab persoalan kultural dan eksistensial kita masyarakat Sunda secara luas adalah bahwa dengan fakta itu, maka masyarakat Sunda jadi gandrung dengan pepesan-pepesan kosong dari Logika Mistika berbalut Sejarah Tutur dan semacamnya, yang tentu saja lebih mudah dicerna. Itulah bola liar kita. Lain hari, sebetulnya sempat juga terpikirkan oleh saya beberapa variabel jawaban bahwa jangan-jangan, sikap kurang demokratis tersebut diinisiasi oleh kurangnya perhatian dan dan penghargaan dari pihak pemerintah terhadap mereka; sudah mah kerja penelitian mereka itu tidak mudah, tapi mau dengan mudahnya bisa diakses oleh masyarakat. Jerih payah mereka jadi tidak ada artinya, bukan? Sehingga pola mereka selalu sama; membuat kelas-kelas berbayar untuk memfamiliarkan temuan dan kajian ilmiah mereka.

2. Primordialisme

Dengan seorang Santri Senior: Alhamdulillah sebetulnya saya masih berkawan baik, bahkan sampai detik ini. Saya ucapkan selamat atas pernikahannya yang sebentar lagi terjadi. Akan tetapi begitu saya jelaskan latar belakang kultural dari Ayah dan Ibu saya yang berbeda pada suatu kesempatan, mulai saat itulah beliau tak pernah berubah dari memanggil saya “mas” dan “masse”. Teu baleg kitu si anying. Itu tidak pernah nyaman di mata dan telinga saya bukan karena saya tidak suka dengan orang Jawa, toh kawan saya yang orang Jawa juga banyak. Tetapi karena memang tak saya tak pernah ada hubungannya dengan panggilan itu. Apalagi panggilan itu lekat kaitannya dengan kultur Jawa Mataraman yang jelas-jelas tak ada kaitannya dengan saya. Panggilan untuk lelaki Jawa Banten itu bukan “Mas”, tapi “Tus” untuk orang dewasa dan “Ding/Seding” untuk anak-anak. Masalah dengan Kang Santri ini hanya tip of the iceberg. Dari masalah yang tentu saja personal ini, gejalanya juga sangat banyak terjadi di sosial media; menegasikan dan memarjinalkan orang yang menurut dia bukan kelompoknya secara tulen. Ini adalah bibit dari Fasisme, yang tentu saja absurd dan kontraproduktif dengan eksistensi Ki Sunda. Topik ini bisa menjadi sebuah Bab tersendiri, akan tetapi saya coba ringkas semampunya (dan mohon maaf jika ternyata tidak bisa seringkas yang diekspektasikan): Problem kita hari ini adalah bagaimana caranya menyadari lagi bahwa Ki Sunda itu adalah jantung eksistensial kita sebagai masyarakat Sunda, sebab spirit ini sudah kian tergerus dari segala arah dan berbagai elemen seiring waktu. Kalau kita mengecualikan atau memarjinalkan orang hanya karena dia berdarah setengah Sunda, atau sudah kelamaan hidup di kota dan kehilangan kemampuan verbalnya berbahasa Sunda, lantas sebetulnya apa yang ingin kita selamatkan? Boro teuing mau menarik hati orang lain atau orang asing terhadap Ki Sunda, kalau yang terjadi adalah inkompetensi untuk mempersuasi Ki Sunda ke hadapan dunia.

Mungkin demikian dulu Prolog, sedikit Otobiografi atau catatan Genealogis saya sebagai pengantar, setidaknya upaya katarsis atau keresahan terbesar saya bisa tercurahkan di sini untuk memvalidasi urgensi dari tulisan selanjutnya yang akan menjadi Otokritik terhadap Ki Sunda. Akan terlalu panjang jika harus diteruskan, sementara justru berpotensi kontraproduktif dan menimbulkan redundansi sebagai sebuah pengantar. Sampai jumpa di “Ngadaun Ngora; Otokritik atas Ki Sunda nu Kiwari.” Terima kasih atas atensinya.

Paralun anu kasuhun. Sampurasun,

Tubagus Rafly.


메타데이터
post_id
df7ffc5539a7
slug
sunda-untuk-saya-sebuah-prolog-otobiografis-df7ffc5539a7
url
https://medium.com/@tubagusrafly16/sunda-untuk-saya-sebuah-prolog-otobiografis-df7ffc5539a7
canonical_url
https://medium.com/@tubagusrafly16/sunda-untuk-saya-sebuah-prolog-otobiografis-df7ffc5539a7
author_url
https://medium.com/@tubagusrafly16
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30