Gerimis di dalam rumah
Memasuki Sumbawa waktu musim hujan (wmh).
Gerimis di dalam rumah
Memasuki Sumbawa waktu musim hujan (wmh).

(Desa Penyaring, Moyo Utara)
Setelah membaca kembali tulisan-tulisan lawas saya di medium yang cengeng dan serba abu-abu itu, membuat saya merenungkan beberapa tahun belakangan. Tanpa sadar jejak-jejak kecil yang saya titipkan dibanyak platform jadi kenang-kenangan yang jika dibaca bikin jijik dan ingin muntah “saking alay, dan lemahnya”. Tidak habis pikir, ternyata saya telah melewati fase lemah, lunglai, dan lebay.
Ada kalanya saya menulis dengan berapi-api, ada yang penuh kesedihan dan ratapan, intinya yang tidak penting-penting amat lah. Ya ampun, geli, saya malu sendiri bacanya haha. Saya jadi merenung (tuh kan lagi), kapan ya punya tulisan positive vibes. Sepertinya untuk menciptakan tulisan begitu, mustinya jatuh cinta dulu, maksud saya yang benar-benar jatuh cinta, bukan sekedar kesemsem. Kali ini serius.
Meratapi masa-masa peralihan (tuhkan meratap lagi). 2 bulan terakhir saya menyaksikan teman-teman hilir mudik, lebih banyak yang mudik. Beberapa orang cerita mereka memulai hidup dari 0 di sana (entahlah). Saya juga. Bangun hidup baru, pelan-pelan, sambil lihat semua orang perlahan melambai ke arah saya, terlepas dari semua hal termasuk uang bulanan dan tugas kuliah. Sekarang saya cuma punya diri sendiri, dan harapan-harapan yang hampir pudar tiap harinya.
Ditambah rumah baru yang harus dilanda bocor dan kebanjiran di awal musim penghujan, saya menyebutnya ‘bencana lokal’, karena kebetulan hal tersebut hanya terjadi di rumah saya. Tidak terbayang gimana jadinya nanti memasuki musim hujan betulan, di mana setiap hari hujan. Jika hujan amat deras, rasanya seperti hujan di dalam rumah, gerimis rata di satu ruangan, hitungannya saya bisa mandi hujan di dalam rumah. Ngomongin mandi hujan saya jadi ingat momen mandi hujan bareng Asni, dia yang selalu excited ketika hujan deras turun pasti langsung mandi (beneran mandi soalnya kita sampai sampoan, gosok gigi, dan sabunan). Tuh kan, pas orangnya sudah tidak ada saya dilanda kangen berat.
Pada malam Asni pulang, sambil melewati rumah lama kami, saya bilang ke dia “banyak kenangan di rumah ini, ni”, ia mengiyakan. Kadang saya masih suka menengok pohon cabai yang kini berbuah subur di sana, tidak ada yang petik, mengitam dan layu. Saya sih berdoa moga musim hujan begini, cabai yang gugur jadi bibit liar di sana. Btw, saya nulis ini sambil senyum-senyum. Musim hujan mencatat banyak cerita, dan hanya bisa terulang ketika musim itu datang, di musim panas saya lupa banyak hal karena sibuk berkipas dan list wacana jalan-jalan yang tidak terealisasi.
Tidak apa-apa untuk menjadi muda, penuh penyesalan, dan serba terlambat. Sampai hari ini saya masih percaya bahwa setiap orang punya waktu, porsi, dan tujuannya. Jadi, saya tidak perlu cemas lihat teman sudah punya pekerjaan, pasangan, anak, ke luar negeri, saya malah senang pernah jadi bagian hidup mereka. Tapi serius kalau ditanya apa rencana saya, mau ngapain, mau kemana bingung juga mau jawab apa karena saya tipe yang ngikutin laju angin tidak merencanakan apa-apa karena kalau kata Pak Kim di film Parasite “You know what kind of plan never fails? No plan. No plan at all. You know why? Because life cannot be planned.” — Ki-taek. Yaaa intinya, rencana yang tidak pernah gagal itu yang tidak direncanakan, karena hidup tidak bisa manusia rencanakan.
Ngalor ngidul, balik lagi ke judul tulisan ini. Belakangan ini kecemasan saya bukan soal sidang skripsi, tapi perihal hujan yang tidak bisa terprediksi. Terakhir pas hujan besar melanda kota Sumbawa disertai angin kencang, sambil sa’i nenteng ember di dalam rumah saya nangis wkwk. Nangislah pokoknya, kondisinya di rumah sendirian dan banyak yang harus saya selamatkan. Air mulai masuk ke garasi hampir lompat ke dalam rumah yang tinggi pembatasnya hanya 20cm. Ditambah di dalam rumah sudah banjir karena kebocoran melebihi kapasitas ketersediaan ember. Sekali lagi saya bilang tidak apa-apa toh musim hujan cuma beberapa bulan dan saya bilang ‘cuma’, saya pasti sudah gila mau berdamai dengan penderitaan selama beberapa bulan kedepan.
Kadang sambil ngepel rumah, atau nguras banjir di garasi saya mikirin apa ya filosofi hidup yang bisa diambil dari bencana lokal ini. ‘Gerimis di dalam rumah’ kalau kata Fathiyya bagus buat dijadiin judul buku, oke, untuk sementara kita tulis di medium dulu.
Tapi saya yakin sih, setiap orang punya gerimis dan badai di dalam dirinya. Kadang guntur, hujan angin, gerimis kecil, hujan berhari-hari, mendung seharian. Jadi, manusia punya musim hujan di dalam dirinya masing-masing, makanya saya paling gak suka kalau mendung karena mendung itu kondisi cuaca yang tidak jelas (cerah nggak, hujan juga nggak). Saya lebih suka panas, dan hujan, dua-duanya sama jelas. Jadi siapapun yang mau sama saya, tunjukkan yang sejelas-jelasnya karena kadang saya kurang peka akibat terlalu satu fokus sama hidup yang banyak arahnya.
Setelah lebih dari sebulan melewati fase shock akibat gerimis di dalam rumah, saya mulai berbenah, menutup jendela yang ketampiasan hujan dengan spanduk, beberapa celah air saya mulai paham cara menanganinya. Saya tidak tahu apa yang Allah rencanakan untuk hidup saya di masa depan sampai harus mengalami ini, bukan sekali ini, sedari kecil saya sudah akrab dengan rumah yang kebocoran. Apapun rencana Allah saya mau terima, mungkin ini salah satu cara-Nya membuat saya lebih tegar.
Edisi tulisan gerimis di dalam rumah, sangat spesial ini adalah titik balik kehidupan saya yang dari dulu biasa saja. Tidak ada letupan apa-apa, hanya bangun siang, mengerjakan tugas sesuai porsi dan waktunya, dan sesekali mengambil kesempatan. Kejadian di masa lalu yang orang lihat sebagai keberuntungan dan pencapaian sebenarnya adalah rentetan kecelakaan dalam hidup yang saya nikmati. Tulisan ini memang sedikit lebih panjang dari biasanya.
Namun percayalah saya ingin mengakhiri tahun 2021 dengan tulisan panjang review perjalanan hidup saya yang serba cengeng ini. Hujan di dalam rumah. Karena setiap orang memiliki hujan di dalam dirinya masing-masing saya mau mengatakan kalimat ini kepada stranger, secret reader, atau siapapun yang kebetulan menemukan tulisan saya.
Terima kasih telah menjadi bagian hidup saya, sekedar lewat, beberapa tahun bersama. Tapi beberapa orang ini yang tidak akan pernah saya lupakan ialah mereka yang pernah menemani saya kelaparan dan sengsara. Dimana pun kalian berada, jangan ingat saya, biar kalian saja yang abadi dalam ingatan saya.
Ingatan jangka panjang paling kuat saya ialah pada saat kelaparan dan kesengsaraan. Jadi, dengan siapa saya berbagi momen tersebut menjadi bagian paling penting dalam hidup saya. Gerimis di dalam rumah adalah tulisan yang saya dedikasikan untuk siapapun di luar sana yang pernah nenyentuh kehidupan saya. Terima kasih tetaplah berbahagia. Saya baik-baik saja.
Tulisan dipenghujung tahun 2021. Ditulis dan direvisi sebanyak 4kali.
26/12/21.
메타데이터
- post_id
- df9ce127ccf9
- slug
- gerimis-di-dalam-rumah-df9ce127ccf9
- url
- https://medium.com/@ajelestari/gerimis-di-dalam-rumah-df9ce127ccf9
- canonical_url
- https://medium.com/@ajelestari/gerimis-di-dalam-rumah-df9ce127ccf9
- author_url
- https://medium.com/@ajelestari
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 15:53:26