Kenapa Tas Saya Terlalu … Berat?
Setiap malam sebelum masuk sekolah, saya akan duduk di pinggir tempat tidur, memilah buku dari rak di sebelah kasur. Kegiatan ini…
Kenapa Tas Saya Terlalu … Berat?
Setiap malam sebelum masuk sekolah, saya akan duduk di pinggir tempat tidur, memilah buku dari rak di sebelah kasur. Kegiatan ini berlangsung sepanjang masa pendidikan saya — dari SD hingga SMA — demi mempersiapkan diri membawa tas dengan isi buku yang tepat.
Kadang-kadang saya menukar tas — terutama saat saya merasa mata pelajaran hari itu tidak terlalu banyak. Pada beberapa hari, saya mengganti ransel saya dengan tas selempang warna merah yang paling saya suka. Namun, pada suatu pagi, saya malah lupa sudah mempersiapkan tas merah tersebut untuk dibawa. Secara otomatis, saya tetap membawa ransel yang berisi buku-buku pelajaran hari kemarin. Hasilnya? Saya terlambat mengumpulkan PR — saya harus menunggu ibu saya mampir dalam perjalanannya ke kantor untuk mengantarkan tas merah yang saya tinggalkan di kamar.
Ya, hari itu, saya bersekolah dengan dua tas. Bayangkan! Saya pulang sekolah dengan ransel berisi buku-buku pelajaran dan tas selempang merah yang juga berisi buku-buku pelajaran.
Kejadian itu saya abadikan dalam cerpen yang saya ikutkan dalam sebuah lomba — yeay, juara dua! — tetapi bukan itu yang ingin saya sampaikan.

Sumber: www.magnific.com/author/freepik
Pundak saya menanggung beban yang cukup berat selama bertahun-tahun untuk beberapa alasan. Selain karena kejadian absurd di atas, saya juga sering menerapkan prinsip “jaga-jaga”. Dari masa sekolah hingga masa kini saat usia saya sudah melebihi masa jabatan Soeharto sebagai presiden, saya kerap memikirkan beberapa hal , seperti di bawah ini.
- “Buku tulis yang ini sudah hampir habis. Mungkin hari ini aman, tapi gimana kalau nanti tiba-tiba dikasih catatan banyak dan penting? Kayaknya harus bawa cadangan! Dua!”
- “Saya mau pulang ke Cilacap untuk dua hari saja! Hitung-hitung, refreshing dari jadwal kuliah yang padat di Jogja. Saya harus membawa baju! Di rumah Cilacap memang ada baju, sih. Tapi, gimana kalau baju di sana sudah kekecilan atau tidak sesuai dengan mood saya? Gimana kalau baju di sana kurang jumlahnya karena saya berencana melakukan banyak agenda? Ah, saya harus membawa banyak baju dari sini!”
- “Hari ini mau WFC ke kafe langganan, ah. Ada kerjaan yang harus selesai hari ini, tapi saya juga ingin mengisi jurnal pribadi. Ah, saya juga ingin menyelesaikan catatan keuangan pribadi! Sudah ditunda sejak bulan lalu! Jadi, saya mau bawa laptop untuk kerja, tiga jenis jurnal yang ingin saya isi, serta tablet dan kalkulator untuk catatan keuangan. Eh, tripod juga harus saya bawa. Kalau sempat, nanti sekalian rekam proses isi jurnal. Siapa tahu bisa menjadi konten medsos.”
- “Suami saya mengajak pergi liburan. Rencana ini bakal menyenangkan untuk kami! Jadi, saya mempersiapkan baju, celana, dan … laptop. Oke, ini lumayan makan tempat, tapi saya jelas tidak bisa meninggalkannya. Saya harus memaksimalkan waktu, kan? Lalu … make up! Sepertinya saya butuh semua alat make up! Kita tidak akan tahu make up dengan gaya seperti apa yang dibutuhkan dengan cuaca di sana, kan? Dan … karena baju-baju kami disimpan dalam plastik vakum, kami perlu membawa lebih banyak plastik vakum. Tentu kami membutuhkannya untuk baju kotor serta sebagai cadangan, kan? Tidak mungkin hanya satu plastik vakum. Harus bawa lima!”
- “Pelatihan hari ini harus bawa apa saja, ya? Tidak ada pengumuman harus membawa laptop atau apa pun, sih. Tapi, gimana kalau nanti ada hal-hal yang harus saya catat? Rasanya lebih mudah mengetik daripada menulis. Jadi, saya akan bawa tablet, papan ketik portabel, … dan jurnal kerja. Ya, ya, mencatat memang kadang menyusahkan, tapi gimana kalau di sana mejanya sempit? Kalau begitu, saya harus bawa pulpen. Mungkin sebaiknya stabilo dan spidol warna-warni juga saya bawa untuk membuat sorotan pada materi.”
Pikiran-pikiran semacam itu berulang-ulang berputar di kepala saya. Pada akhirnya, isi tas saya tidak seluruhnya terpakai. Baju yang saya bawa saat mudik akhir pekan? Tidak tersentuh — baju saya di rumah orang tua di Cilacap sudah lebih dari cukup. Bagaimana dengan tiga jenis jurnal yang saya bawa ke kafe? Tidak tersentuh — saya menghabiskan waktu menyelesaikan pekerjaan yang penting.
Setumpuk make up dan alat-alatnya? Tidak semua terpakai — saya seharusnya meninggalkan 90% di antaranya. Persiapan perangkat sebagai peserta pelatihan? Tidak tersentuh — saya mendapat satu paket pelatihan tanpa perlu khawatir. Laptop di hari liburan? Tersentuh, tetapi tidak menyelesaikan apa pun secara signifikan — rasanya malah seperti saya membunuh kesenangan saya sendiri dengan mengkhawatirkan pekerjaan.
Saya tidak pernah benar-benar merasa pundak saya membawa beban yang cukup berat sampai suatu hari, di kelas perkuliahan, seorang teman membantu saya memindahkan tas. “Berat banget!” katanya. Saya terkekeh, merasa teman saya berlebihan. Namun, saat saya mencoba mengangkat tasnya, rasanya … ringan.
Apakah dia tidak bawa catatan? Hanya laptop saja? Bagaimana dengan buku-buku paket? Tidak digunakan oleh dosen, memang, tapi gimana kalau tiba-tiba dosen kami menggunakannya?! Bagaimana dengan kotak pensil? Ah, dia hanya membawa laptop, jadi tidak perlu alat tulis.
Bagaimana dengan … semua barang lainnya?

Sumber: www.pixabay.com/id/users/hansmarkutt
Saya masih melakukannya: membawa tas ransel dengan isi yang cukup berat dan kompleks. Saya pernah menuruti isi kepala saya dengan membawa tas tambahan berupa tote bag. Segala hal, mulai dari laptop hingga lem dan gunting, tertata di dalam dua tas yang saya bawa. Pada akhirnya, saya kesulitan. Di KRL, misalnya, membawa dua tas bukanlah keahlian yang saya kuasai dengan cepat. Seharusnya, saya hanya membawa satu jenis tas agar bisa leluasa fokus mencari tempat duduk (atau berdiri) dan pegangan (jika dibutuhkan).
Saya masih melakukannya: kesulitan memilah mana yang seharusnya saya bawa, mana yang seharusnya saya tinggal di rumah. Segala hal terasa penting dan mungkin. Segala hal terasa bisa dituntaskan dalam waktu yang sangat sedikit, padahal tidak.
Saya masih melakukannya: menaruh semua kecemasan, ketakutan, keragu-raguan, sekaligus harapan, keinginan, dan prioritas saya dalam satu tas besar, mengangkatnya dalam sekali jalan. Padahal, saya ingin mencoba cara yang baru, cara yang lebih menyehatkan — bagi diri saya, pundak saya, … dan mental saya.
Saya ingin tas saya tidak terlalu berat sejak hari ini.
Terima kasih sudah mampir dan membaca. Silakan kunjungi akun saya di Instagram dan X @dwiapriliakdewi untuk berdiskusi. Semoga harimu menyenangkan selalu!
메타데이터
- post_id
- dfbeb3eab945
- slug
- kenapa-tas-saya-terlalu-berat-dfbeb3eab945
- url
- https://medium.com/@adkumala/kenapa-tas-saya-terlalu-berat-dfbeb3eab945
- canonical_url
- https://medium.com/@adkumala/kenapa-tas-saya-terlalu-berat-dfbeb3eab945
- author_url
- https://medium.com/@adkumala
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 18:25:34