← Back to list

Bukan Tutorial Bikin SKCK

Kegiatan humiliation ritual (baca: lamar kerja) terdiri dari beberapa rangkaian. Dari keseluruhan rangkaian itu, menyiapkan berkas jadi hal…

rizoles · 2026-04-23 04:29 · 88 claps · 2.7 min read
#bahasa-indonesia #artikel-bahasa-indonesia #skck #polisi #loker
Open on Medium ↗

Bukan Tutorial Bikin SKCK

Kegiatan humiliation ritual (baca: lamar kerja) terdiri dari beberapa rangkaian. Dari keseluruhan rangkaian itu, menyiapkan berkas jadi hal yang cukup krusial. Meleng dikit, kelupaan ganti ‘kepada’ di template surat lamaran. Malu.

Dalam melamar pekerjaan, pastinya saya mengirim berkas sesuai yang diminta loker. Umumnya terdiri dari surat lamaran, CV, ijazah dan transkrip nilai. Sertifikat TOEFL dan UKBI juga saya sertakan bila diminta atau dirasa relevan. Sementara itu, fotokopi KTP dan KK jarang saya sertakan kecuali saya punya feeling bagus ke instansi tertuju. Lagian buat apa, sih, minta KK kalau belum tentu direkrut. Pengen tahu banget nama bapak saya ih.

Permintaan berkas fotokopi KTP dan KK masih agak mending. Saya paling bete kalau menemukan loker yang minta SKCK, Surat Keterangan Sehat, dan berkas lain yang neko-neko. Biasanya untuk berkas semacam itu pasti selalu saya skip. Bodo amat. Saya baru bersedia menyerahkan kalau sudah minimal dinyatakan lolos tahap interview.

Hanya saja, entah kerasukan apa malam itu, tiba-tiba saya bikin SKCK.

Jadi, di suatu malam yang sunyi saya menemukan loker yang minta SKCK sebagai salah satu syarat berkasnya. Saya hampir nekat ngelamar tanpa SKCK waktu itu. Akan tetapi, nggak tahu kenapa jari saya justru meluncur ngulik cara bikin SKCK. Malam itu juga, saya langsung bikin SKCK online melalui aplikasi Super App Polri.

Pada aplikasi itu, saya pilih menu SKCK. Saya isi data, unggah berkas, pilih lokasi dan tanggal pengambilan, lalu transfer biaya pembuatan. Beres.

Prosesnya gampang banget. Saking gampangnya, saya sampai mikir, “Ini serius gini doang?”

Persoalan datang ketika hari pengambilan tiba. Berdasarkan riset kecil-kecilan yang saya lakukan dari media sosial, tiap kantor kepolisian punya SOP berbeda. Ada yang tinggal ngambil sambil menunjukkan KTP, tapi ada pula yang tetap dimintai berkas-berkas hard copy.

Saya jadi dilema.

Lantaran saya paham birokrasi di Indonesia punya prinsip, “Kalau bisa repot, ngapain harus simpel?” maka saya ambil keputusan untuk nyiapin berkas hard copy sebelum berangkat. Buat berjaga-jaga daripada sudah sampai sana malah harus balik atau mondar-mandir ke fotokopian.

Saya datang ke kantor polisi dengan membawa map merah berisi berkas permohonan SKCK. Saat tiba di parkiran, saya sempat bingung di gedung mana lokasi pembuatan SKCK. Maklum, kantornya luas banget. Saya lantas bertanya ke mas-mas random di parkiran yang hendak memasukkan SKCK-nya ke dalam tas. Dengan ramah, mas-mas itu menunjuk lokasi tempatnya.

Begitu saya masuk, saya lebih bingung lagi. Semua orang yang duduk di kursi pada megang kertas nomor antrean. Padahal sejauh mata saya memandang, saya sama sekali nggak lihat ada mesin pencetak nomor antrean di ruang itu. Apa mata saya ketutupan roh ghaib?

Bermodalkan tanya ke mas-mas random lain yang sedang duduk sambil megang kertas nomor antrean, saya jadi tahu bahwa ternyata nomor antreannya harus minta ke mbak-mbak yang duduk di meja pojokan jejeran loket. Ealah.

Nah, masalahnya, nih, masalahnya, pintu masuk sama lokasi meja mbak-mbak pemberi nomor antrean itu berseberangan banget. Pojok vs pojok. Benar-benar melawan lazimnya fasilitas publik. Udah gitu, nggak ada penunjuk arah atau keterangan alur. Gimana orang awam bisa ngerti?

Saya pun mendekati mbak-mbak itu untuk minta nomor antrean. Bukannya dikasih nomor antrean, saya malah diminta untuk menunjukkan permohonan SKCK dari aplikasi. Saya sodorkan lah ponsel saya, eh si mbaknya balas nyodorin SKCK versi cetak. Iya, langsung dikasih versi cetaknya saat itu juga. Langsung. Tanpa nunjukkin apapun selain ponsel dan tanpa nyerahin berkas apapun. Udah. Gitu doang.

Mejik.

Detik itu juga saya langsung ngebatin, “Aku lagi di kantor polisi Singapura, ya, ini?”

Soalnya agak janggal aja proses ngurus surat resmi di Indonesia bisa sekilat dan semulus ini. Masa nggak ada adegan dimintain fotokopian KTP, sih? Serius, aneh.

Patut diapresiasi, sih, kepolisian kita kali ini. Yok, tepuk tangan.

Semoga pelayanan dari aplikasi ini makin bagus dan nggak sering error deh. Soalnya baru aja saya keluar dari ruangan tersebut, ada mas-mas yang mengeluh aplikasinya error dari semalam. Kasihan.

Kabar baiknya, sekarang saya sudah punya SKCK.

Sini maju lu semua loker yang syarat berkasnya pakai SKCK! Gweh nggak takut!


메타데이터
post_id
dfc0770f935d
slug
bukan-tutorial-bikin-skck-dfc0770f935d
url
https://medium.com/@rizoles/bukan-tutorial-bikin-skck-dfc0770f935d
canonical_url
https://medium.com/@rizoles/bukan-tutorial-bikin-skck-dfc0770f935d
author_url
https://medium.com/@rizoles
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30