Nuh
Nuh berdakwah hampir satu milenium, tapi ia tak mampu menyelamatkan anaknya sendiri. Sebab iman tak bisa diwariskan.
Nuh
Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. 29: 14)
Nuh Alaihissalam — نُوحٌ عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ adalah satu-satunya nabi yang perjalanan dakwahnya tercatat dalam angka yang jelas. Lalu, seperti apa hubungan antara utusan Allah ﷻ dan umatnya dalam rentang 950 tahun itu? Beberapa yang mungkin terjadi: semangat menyampaikan kebenaran yang berkarat atau keteguhan menjadi penerima wahyu yang tak goyah. Ia, salah satu manusia pilihan, mengambil peran menjadi sang penyampai pesan yang tegar. Alih-alih membiarkan imannya kedaluwarsa, ia berdiri di tengah kaumnya, menyeru sesuatu yang bagi mereka terdengar utopis. Waktu berjalan, rotasi dan revolusi benda langit terus bergerak dalam penanggalan, seruannya tak pernah berubah.
Tampaknya keyakinan tak mengalir lewat genetika. Ia bukan pusaka yang diwariskan begitu saja, seperti warna mata atau garis wajah. Nuh menyeru pengikutnya, berbaur dalam masyarakat, namun dalam rumahnya sendiri, imannya tak menemukan tempat untuk bersandar. Anaknya, yang ia harapkan menjadi penerus, justru memilih jalan lain. Ketika bencana benar-benar datang, Nuh masih berdiri di atas bahteranya, memanggil satu sosok di antara gelombang yang menggulung bumi. Namun anaknya memilih ketinggian gunung yang seolah-olah lebih kokoh daripada takdir. “Wahai anakku! naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir,” serunya yang tercatat pada Surat Hud ayat ke-42, hingga akhirnya banjir bandang menjadi pemisah antara darah yang tak lagi sejalan.
Langit memuntahkan hujan dari gumpalan awan yang jenuh dan bumi mengalirkan arus besar air tanah. Keduanya meninggikan perahu Nuh ke dalam janji keselamatan dari Tuhan. Ombak sebesar gunung menjulang, mengubur yang menolak percaya, menyisakan mereka yang berlindung dalam kepatuhan. Ketika yang pasang telah surut, dunia tak lagi sama. Ia, yang menjadi pendakwah selama ratusan tahun tanpa lelah, harus menerima kenyataan bahwa keyakinan tak bisa dipaksakan.
Serupa anak Nuh yang lebih percaya pada ketinggian daripada peringatan ayahnya, manusia sering kali bertahan pada pemahaman yang telah tertanam, meskipun kenyataan sudah bergeser. Sebab, lebih mudah memercayai apa yang sudah ada di kepala daripada menerima sesuatu yang tampak rumit. Kita cenderung memilih bukti yang meneguhkan pendirian dan menyaring yang lain — confirmation bias. Ini bukan sekadar keras kepala, melainkan mekanisme bertahan dari ketidakpastian — memegang erat yang akrab, meski abai pada perubahan. Begitu pula dengan umat Nuh. Seruan sang nabi tak hanya tentang iman, tetapi juga tentang meninggalkan cara hidup yang telah lama mereka jalani, dan semakin lama sesuatu tertanam, semakin sulit pula mencabutnya.
Seperti yang dialami Nuh, ada tokoh lain yang memilih bertahan dalam ajaran kebenaran mereka, kendati berhadapan dengan arus yang menolak.
Di India yang terpisah jauh kisah dan waktu, seorang pegawai imigrasi yang kurus, berdiri di hadapan kekaisaran yang membangun diri dari kolonialisme. Ia berbicara tentang perlawanan tanpa kekerasan, tentang revolusi yang tak perlu peluru. Orang-orang melihatnya sebagai kemustahilan. Bagaimana mungkin penjajah akan menyerah hanya karena seruan damai? Tapi Gandhi tahu bahwa kekuatan bukan selalu milik tentara yang membawa senjata. Satyagraha — kekuatan kebenaran — yang bukan hanya berarti bertahan, melainkan membuat lawan melihat absurditas kejahatannya sendiri. Ia dipenjara, dicaci, dan terus berjalan. Mahatma Gandhi tak mengubah seruannya meskipun tahun berganti dan cemoohan tak surut.
Lalu di Afrika, seorang tahanan bernomor 46664 yang memikul derita bangsanya, berjuang melawan sistem dan dirinya sendiri. Mandela pernah mengira bahwa perlawanan hanya bisa ditebus dengan senjata. Tapi penjara mengubahnya. Ia keluar dengan gagasan yang lebih besar daripada balas dendam: rekonsiliasi, menawarkan persatuan kepada orang-orang yang telah menindasnya, dan justru itu yang membuat Nelson Mandela semakin kuat. Afrika Selatan menyadari bahwa perdamaian lebih besar ketimbang amarah yang telah lama mereka pelihara.
Pada akhirnya, seberapa lama pun waktu berjalan, kebenaran akan menemukan jalannya. Sebab bukan manusia yang menentukan kapan keyakinan itu berakar dan tumbuh, melainkan wujud sumpah Tuhan yang tersurat: Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. 103:1–3)
메타데이터
- post_id
- dfd972e65aa0
- slug
- nuh-dfd972e65aa0
- url
- https://medium.com/@suatuketika/nuh-dfd972e65aa0
- canonical_url
- https://medium.com/@suatuketika/nuh-dfd972e65aa0
- author_url
- https://medium.com/@suatuketika
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-12 18:14:10