← Back to list

Kopi, Penyatu Bapak-Bapak “Ojek”

#22: Cerita para suami yang setia mengantarkan istrinya.

Ah. Syahrul Ansori · 2024-09-22 22:52 · 50 claps · 3.2 min read paywalled
#kopi #teman-lama #haul #pondok #ojek
Open on Medium ↗

PERJALANAN

Kopi, Penyatu Bapak-Bapak “Ojek”

#22: Cerita para suami yang setia mengantarkan istrinya.

Photo by simas Mo on Unsplash

Photo by simas Mo on Unsplash

Kemarin pagi (22/09), sepanjang Jl. KH. Syafi’i Gresik terlihat ramai tidak seperti hari Minggu biasanya. Memang kemarin ada kegiatan Haul Ibu Nyai Ainiyah Yusuf di pondok pesantren Mambaus Sholihin.

Kedatangan para alumni santri putri terlihat sejak pukul 07.00, sebagian berangkat secara rombongan, sebagian berangkat dengan mobil pribadi atau sepeda motor.

Sila lanjutkan membaca di sini, jika belum menjadi member.

Kegiatan Haul yang dilaksanakan sejak pukul 08.00 tesebut memang menjadi momentum pertemuan akbar antara alumni santri putri, momentum yang dinanti-nantikan sekali dalam setahun itu berlangsung sampai tengah hari.

Berangkat dari rumah Surabaya, saya dan istri naik sepeda motor pukul 06.00, sengaja berangkat lebih pagi dengan harapan bisa melihat sang kiai, KH. Masbukhin Faqih — sekadar untuk melepas rindu. Tetapi ternyata belum rezeki.

Setelah saya antarkan istri sampai di gedung pertemuan Rusyaifah — yang berada di dalam pondok, saya pun kembali ke pintu gerbang pondok. Alih-alih menyalimi pak satpam, saya menghampiri teman-teman yang berjaga di depan kantor . Terjadilah obrolan menarik bersama Gus Aan Abul Hasan beserta lainnya di depan kantor.

Kurang lebih satu jam kita ngobrol ngalor-ngidul, beliau menyampaikan pengalaman pertama kali menetap dan khidmah di pondok cabang yang berada di kepulauan Bintan, saya berbagi cerita tentang dinamika kegiatan NU dan isu terkini yang ada di Jatirogo, maklum beliau memang termasuk putra terbaik daerah.

Seusai ngobrol lama, saya izin untuk bergeser ke warung Sodi. Warung yang kira-kira berjarak 3 km tersebut memang terlihat biasa, lokasinya masuk perkampungan desa Pongangan, tidak tersedia wifi. Kendati demikian, warungnya cukup ramai penikmat kopi. Memang daya tarik warung ini adalah kopi saringnya.

[embed]Medium, Platform Cocok untuk Penulis Pemula Menjawab beberapa pertanyaan dari teman tentang medium.com.medium.com

Kopi saring termasuk kopi yang diolah sendiri oleh Cak Sodi — Begitu biasanya beliau dipanggil, meski sudah beberapa tahun ini ada yang menambahkan gelar haji. Biasanya beliau beli sekarung biji kopi, beliau goreng sendiri kemudian ditumbuk secara manual.

Sisi menariknya saat mau menyeduh kopinya, ia tidak bisa langsung dituangkan ke lepek, harus disaring terlebih dahulu dengan saringan yang telah disediakan. Karena dengan saringan ini lah ia disebut dengan kopi saring.

[embed]Kopi Pahit dan Keterasingan Katanya, tidak lengkap kopi tanpa rokok. Hanya pelengkapmedium.com

Berikut video liputan Tribun New Jambi via youtobe saya lampirkan, agar lebih jelas keunikan khas kopi saring.

[embed]

Loh kan. Bapak-bapak ojek sedang berkumpul! Sehat Mas?” Sapa Pak Maftuh — salah satu guru favorit — dengan penuh kelakar. “Alhamdulillah sehat pak.” Jawab saya sembari menyalimi beliau.

Setelah memesan kopi, saya menyalami pak Fatah yang juga sedang menikmati kopi, duduk di depan beliau berharap bisa mendapatkan faedah-wejangan berharga.

Melihat sekitaran warung bisa dibilang lebih sepi dari biasanya, tetapi saya pun menyadari bahwa banyak bapak-bapak yang setia dan berbaik hati untuk mengantarkan istri. Terlihat memang warung-warung sekitar pondok lebih ramai dengan kehadiran bapak-bapak ini.

Momentum Haul Ibu Nyai ini bukan menjadi momentum kirim doa dan reuni bagi santri putri saja, melainkan menjadi pertemuan para “ojek” gratis di bilik-bilik warung di sekitar pondok.

Nasib para “ojek” gratis — yang menunggu setia— ini bersuka cita bisa bertemu dengan handai tulan yang lama tidak bersua. Berbagai hal diobrolkan bersama, sesekali berkabar tentang warta teman-teman yang jarang ditemui, sesekali gelak canda tawa menyeruak.

Saya pun memaksimalkan momen “penantian” ini dengan baik, tiga warung kopi saya kunjungi untuk sekadar bertemu dengan handai tolan. Setiap obrolan memberikan kesan dan pelajaran tersendiri.

Warung Langgan menjadi warung kedua, di sini saya bertemu dengan teman-teman seangkatan, Fairuz Zabadi, Ilyas, Jalil Jauhar, Hirzun Hasin, dan Ahar. Khusus yang Ahar, memang sudah lama tidak bertemu hingga lupa nama lengkapnya.

Obrolan pun terkadang menjadi bahan adu “nasib” masing-masing, selain itu tentu tetap berkabar tentang kegiatan masing-masing kala di rumah. Termasuk obrolan kemarin adalah tentang salah satu teman yang aktif “bersuara” dan viral di media sosial.

Obrolan bersama empat teman angkatan itu sepakat bahwa harus ada sosok seperti teman kita yang viral tersebut, Sholeh namanya. Ia aktif di berbagai media sosial seperti YouTobe, Facebook, dan Tiktok.

Warung Ndombos ketiga yang menjadi bilik bersua Ainul Yaqin, teman satu angkatan yang sekarang sudah menjadi bos warung kopi di Sekaran.

Bertemu teman lama itu menghilangkan kesusahan

Demikian kalam bijak berujar, memang benar adanya. Kejenuhan menunggu pun hilang sekejap dipersatukan oleh kopi di perjamuan bilik-bilik warung.

[embed]Minggu Pagi yang Cerah #08: Banyak cara untuk mencintai sang kekasih.medium.com

Silakan beri feedback berupa tepuk tangan 👏 atau komentar 📝 jika pembaca mendapatkan kemanfaatan. Terimakasih. Salam hangat dari kami.


메타데이터
post_id
dfdb10fa8705
slug
kopi-penyatu-bapak-bapak-ojek-dfdb10fa8705
url
https://medium.com/@syahrulansori/kopi-penyatu-bapak-bapak-ojek-dfdb10fa8705
canonical_url
https://medium.com/@syahrulansori/kopi-penyatu-bapak-bapak-ojek-dfdb10fa8705
author_url
https://medium.com/@syahrulansori
status
ok
fetched_at
2026-07-31 19:08:18