Logika Mistika
Apa itu logika mistika?
Logika Mistika
Apa itu logika mistika?
Menurut Tan Malaka, logika mistika ialah sesuatu yang dipercayai terjadi karena hal “gaib” tanpa pembuktian empiris, dan berlainan dengan prinsip-prinsip ilmu pasti (matematika, alam, kimia, dll).
Tan Malaka menyampaikan bahwa logika mistika dapat dipatahkan dengan ilmu-ilmu pasti, seperti yang dipercayai Maha Dewa Ra (Dewa Matahari) dapat menciptakan dengan Ptah (secara tiba-tiba) terciptalah langit, bumi, beserta isinya, berlawanan dengan The Law of Evolution oleh Charles Darwin, bahwa semesta tercipta secara bertahap berjuta-juta tahun lalu, dan semua makhluk hidup berasal dari cell yang berevolusi. Berlawanan pula mistika “roh lebih dahulu dari zat” dengan hukum alam “zat atau benda lebih dahulu daripada sifat ataupun force”. Singkatnya, force ini muncul akibat dari zat yang bergerak dan berinteraksi dengan zat lain.
Berkaitan dengan force, The Law of Conservation of Force, energi tidak dapat dimusnahkan atau diciptakan, hanya berubah bentuk. Hukum ini berlainan dengan mistika bahwa roh memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu, atau bahkan memunculkan benda. Tan Malaka menyampaikan “Rohani, kata kosong, menurut pikiran sehat tak bisa menimbulkan benda. Tak ada itu tak bisa menimbulkan ada. Si Lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja, walaupun kita ulang 1.001 kali.” Orang sakit tidak bisa sembuh dengan kata sembuh meski kita ulang 1.001 kali.
Dalam hukum konservasi energi, perubahan material mensyaratkan sebab material. Tan Malaka mengkritik mistika yang menganggap roh atau kata dapat menciptakan benda dari ketiadaan. “Kata kenyang” tidak mengenyangkan tubuh tanpa kalori, dan “kata sembuh” tidak memperbaiki jaringan yang rusak. Kritik ini bukan menyangkal efek psikologis kata, melainkan menolak klaim bahwa roh dapat menjadi sebab material langsung atas realitas fisik.
Law of Constant Composition, seperti yang kita ketahui semua zat di dunia ini jumlahnya akan selalu tetap, misalnya air (H2O) yang terdiri dari 88,9% oksigen dan 11,1% hidrogen jumlahnya akan selalu tetap di alam. “Seandainya bumi kita sekarang ini mempunyai jumlah zat X kg, tetapi besok cuma X-Y kg, maka Y kg itu boleh kita cari pada tumbuhan, hewan atau pun manusia yang menerimanya. Jumlahnya di dunia tetap X kg juga.” Hal tersebut memang benar adanya berkaitan dengan hukum kekekalan energi yang sudah disampaikan tadi, dan pula berkaitan dengan biogeokimia.
Tan Malaka mencoba menyampaikan adanya hukum keteraturan alam yang objektif, dengan hukum-hukum tersebut, Tan Malaka menunjukkan bahwa dunia nyata tunduk pada hukum materi, bukan pada hal gaib atau mistis yang tidak terbukti secara empiris.
Malaka menulis buku Madilog pada saat iklim Indonesia terbelenggu penjajahan. Melalui Madilog, Malaka mendorong pola pikir kritis masyarakat yang memiliki pola pikir “nerimo”, bahwa takdir kemiskinan, penindasan, dan penjajahan yang mereka alami bukanlah sesuatu yang mutlak kuasa Tuhan, melainkan sesuatu yang terdapat sebab-akibatnya.
Nah mirisnya, 80 tahun (hampir satu abad berlalu) Indonesia tak lepas dan masih terbelenggu akan pola pikir tersebut, kemiskinan sering diterima sebagai “takdir”, ketimpangan dianggap “sudah jalannya”, dan ketidakadilan dimaklumi sebagai “cobaan”, padahal bisa saja kemiskinan itu akibat dari inflasi, kesalahan kebijakan fiskal, dan gejolak geopolitik. Pola pikir semacam inilah yang mematikan pola pikir kritis, karena persoalan struktural yang seharusnya dianalisis secara rasional justru dianggap sesuatu yang tidak dapat diubah atau terelakkan.
Maka dari itulah, Madilog akan selalu relevan dengan keadaan masyarakat kita. Madilog bukan buku yang harus ditakuti, setelah membacanya tidak membuatmu berhenti menyembah Tuhan, tak akan menjadikanmu atheis. Madilog bukanlah serangan terhadap agama, melainkan penolakan terhadap cara berpikir irrasional yang meniadakan hubungan kausalitas. Ketika masyarakat memegang erat logika mistika, maka hilanglah kemampuan memahami akar persoalan yang sebenarnya dapat kita atasi.
Keberlanjutan logika mistika di Indonesia hari ini bukan sekadar persoalan budaya, melainkan masalah kesadaran kritis. Selama sebab-sebab material dari kemiskinan dan ketidakadilan tidak dipahami secara rasional, selama itu pula perubahan hanya akan menjadi harapan kosong.
Madilog mendorong terciptanya masyarakat baru, yang merdeka dalam berpikir. Masyarakat yang merdeka dalam berpikir tidak menafikan nilai spiritual atau tradisi, tetapi menempatkannya secara proporsional. Keyakinan tidak dijadikan sebagai alat untuk menutupi realita, melainkan berdampingan dengan logika, dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, persoalan apapun itu dapat dipahami dan dapat dicari solusinya, karena apa yang memiliki sebab pada dasarnya juga dapat diubah.
Salam masyarakat baru!
메타데이터
- post_id
- dfe27e3bfa17
- slug
- logika-mistika-dfe27e3bfa17
- url
- https://medium.com/@liaafrnaa/logika-mistika-dfe27e3bfa17
- canonical_url
- https://medium.com/@liaafrnaa/logika-mistika-dfe27e3bfa17
- author_url
- https://medium.com/@liaafrnaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 12:23:01