Jumbo (2025): Imajinasi yang Menjaga Ingatan dan Merayakan Kehilangan
Selama ini, saya sangat familiar dengan teori lima tahapan berduka menurut Kübler-Ross — penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi…
Jumbo (2025): Imajinasi yang Menjaga Ingatan dan Merayakan Kehilangan

Selama ini, saya sangat familiar dengan teori lima tahapan berduka menurut Kübler-Ross — penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan — namun tidak pernah menyangka bahwa saya akan mengaplikasikannya secepat ini. Pertama kali menonton Jumbo, bapak saya masih ada di samping saya, duduk di kursi bioskop, ikut menonton. Saya menangis, ikut merasakan apa yang Don (Prince Poetiray, Den Bagus Satrio) alami tanpa tahu bahwa saya akan benar-benar bernasib sama dengannya.
Iya, bapak pergi meninggalkan saya, bulan Juni lalu. Saya mencoba menonton lagi — menyakiti diri sendiri, betul — dan saya menangis lebih keras. Betapa inginnya saya memiliki sesuatu yang dapat membuat saya bisa berkumpul atau setidaknya berkomunikasi kembali dengan bapak seperti radio milik Don. Betapa kerasnya usaha saya untuk menjaga kenangan terindah yang saya miliki tentang bapak, seperti Don dengan buku dongeng pemberian ayah ibunya. Betapa rasanya hidup saya berhenti di tempat ketika proses berduka baru saja berjalan. Namun, di antara semua itu, saya turut merasakan betapa proses berduka adalah juga sesuatu yang indah, sebagai bagian dari menjaga kenangan dan terus berjalan dengan harapan. Sebab, melalui Jumbo, Ryan Adriandhy mempersembahkan sebuah dongeng mengenai duka yang penuh warna dan keceriaan — seolah mengajak kita untuk tak hanya menangisinya, namun juga merayakannya.
Imajinasi Sang Ksatria Kecil
Membicarakan duka dalam medium film tentu bukan hal baru. Sudah banyak deretan film yang mengeksplorasi tema duka dan kehilangan, seperti Manchester by the Sea (2016) misalnya, yang menunjukkan betapa kompleks dan depresifnya proses duka manusia, serta betapa waktu bukanlah jaminan akan selesainya proses tersebut. Genre horor juga turut serta membicarakannya, misalnya dalam The Babadook (2014), Midsommar (2019), dan A Ghost Story (2017), yang menyelaraskan kelamnya berduka dengan gelapnya atmosfer horor.
Namun, deretan film-film tersebut cenderung mengambil perspektif depresif dari sebuah proses berduka. Mereka rata-rata membicarakan soal duka yang dihadapi oleh manusia dewasa yang dipersembahkan untuk mereka juga, dan karenanya tampak lebih “dewasa” dalam membicarakannya. Ketika mengambil film anak-anak sebagai mediumnya, yang juga mengambil perspektif dari anak-anak yang berduka, tentu cara penyampaian dan atmosfernya akan berbeda. Untuk melakukannya dalam Jumbo, Ryan Adriandhy betul-betul menyelami dunia anak-anak.
Anak adalah individu yang masih terus berkembang dalam segala hal―termasuk kognitif. Dan karenanya, mereka dipenuhi banyak pertanyaan dan imajinasi. Mereka akan membangun dunianya sendiri sebebas-bebasnya di luar apa yang orang dewasa lihat sebagai realita. Ryan memasukkan elemen imajinasi tersebut ke dalam debut penyutradaraannya ini.
Sejak film dimulai, ia sudah membukanya dengan sesuatu yang dekat dengan dunia imajinasi anak-anak: dongeng. Ia menunjukkannya secara gamblang melalui voice-over suara ayah Don (Nazril Irham) yang memenuhi adegan pembuka, “siapa yang mau dibacain dongeng?” yang lalu diikuti seruan riang gembira oleh Don. Ryan kemudian mempertegas kehadirannya secara visual dengan memperlihatkan sebuah buku dongeng penuh warna lengkap dengan tulisan “untuk Don, dari Ayah Ibu”, seolah ingin mengatakan bahwa inilah satu-satunya peninggalan orang tua Don.
Buku dongeng tersebut tak hanya tampil sebagai wujud imajinasi, tetapi juga sebagai medium bagi Don untuk merawat ingatan akan orang tuanya. Kita diperlihatkan bagaimana Don begitu menjaga keutuhan buku tersebut dengan selalu mengingatkan salah satu sahabatnya, Nurman (Yusuf Özkan), soal aturan dalam menjaganya hingga Nurman hafal betul setiap katanya, “jangan sampai jatuh, jangan sampai sobek, jangan sampai rusak.” Don tidak ingin medium satu-satunya untuk menganggap kehadiran orang tuanya masih ada rusak, apalagi hilang. Sehingga, penonton kemudian diperlihatkan bagaimana marahnya Don ketika buku tersebut direbut “musuhnya”, Atta (Muhammad Adhiyat), dan ketika akhirnya buku tersebut rusak, ia menyalahkan orang lain setelah berseru, “hanya buku ini yang aku punya!”
Tak hanya bersikeras menjaga, Don juga berkeras hati untuk merayakan kenangan terakhir akan orang tuanya tersebut. Ia berulang kali menceritakan isi buku dongeng tersebut kepada teman-temannya hingga mereka bosan. Ia kemudian bersikukuh untuk mementaskan dongeng tersebut hingga meminta bantuan teman-temannya — mereka mencari dana dengan mengikuti lomba hingga berlatih sampai larut.

Sikap Don menunjukkan bagaimana proses berduka tidak harus selalu soliter. Dalam Jumbo, cerita adalah alat untuk bertahan hidup. Bagi Don, mementaskan dongeng orang tuanya adalah satu-satunya cara agar kehilangannya tidak terasa sia-sia, agar kisah orang tuanya tetap hidup. Kadang, kita butuh sebuah panggung untuk mementaskan kehilangan kita, dan sebagaimana sebuah pentas, kita butuh orang lain untuk menjadi pendengar dengan menyaksikannya — seperti kata Oma (Ratna Riantiarno), “cerita tidak akan jadi cerita kalau tidak ada yang mendengar.”
Imajinasi dalam Jumbo tidak hanya hadir secara kontekstual, namun juga melalui detail kasat mata seperti keputusan untuk menggunakan warna-warna cerah bak ilustrasi buku anak-anak, radio yang mampu berkomunikasi dengan mereka yang telah tiada, hingga karakter fantasi seperti Meri (Quinn Salman) dengan kemampuannya yang juga tampak imajinatif — menggerakkan benda tanpa menyentuhnya hingga membuat dirinya menghilang.
Menariknya, di tengah dunia imajinatif Jumbo, Ryan juga tak lupa untuk berpijak pada realita. Ia menampilkan tidak sedikit elemen yang dekat dengan masyarakat — festival seni desa lengkap dengan segala perlombaan yang tak asing seperti panjat pinang, penjual makanan sepeda keliling, hingga isu penggusuran rakyat kecil dan kepala desanya yang tidak memihak pada mereka.
Dengan menyatukan apa yang tampak nyata dan tidak, Ryan seolah tengah menawarkan sebuah kesempatan untuk menghadapi kesedihan dan kehilangan secara tidak langsung dalam kehidupan nyata — sebagaimana yang dikatakan oleh seorang advokat kesehatan mental, Diana Abousaleh, dalam artikelnya yang berjudul The Power of Grief in Films soal fungsi membicarakan duka dalam film. Jumbo membawa imajinasi kepada sebuah bentuk terapi menghadapi kehilangan, di mana ia berfungsi sebagai ruang duka sekaligus pemulihan dan harapan, agar duka tidak berubah menjadi kehampaan.
Berduka dalam Dunia Gelembung
Buku dongeng buatan ayah ibu Don bercerita tentang seorang ksatria kecil yang ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya. Namun, alih-alih hidup sendirian setelahnya, ia ditemani oleh banyak gelembung kecil sebagai temannya — seakan mengatakan bahwa akan selalu ada kebahagiaan setelah kehilangan. Selain itu, warna biru pada sampul buku juga menyiratkan pesan akan ketenangan dan kedamaian. Jumbo tidak membingkai duka sebagai akhir, melainkan awal dari sesuatu yang indah.
Sepanjang film, kita diperlihatkan bagaimana Don dikelilingi oleh teman-teman yang berperan penting dalam proses pementasannya — atau dengan kata lain, dalam proses pulih dan tumbuhnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa proses berduka tidak harus selalu soliter. Don butuh kehadiran teman-temannya dalam merawat memori akan orang tuanya. Mereka adalah para gelembung kecil itu. Dan, kita semua yang sedang merasakan kehilangan, juga butuh gelembung-gelembung untuk pulih.

Pun, lingkaran pertemanan Don juga bukanlah mereka yang memiliki segalanya. Ryan menghadirkan anak-anak yang juga merasakan rasanya kehilangan: Nurman yang ayahnya telah tiada dan tidak pernah bertemu ibunya, Mae (Graciella Abigail) yang berasal dari panti asuhan, Meri yang terpisah dengan orang tuanya, serta Atta yang hanya tinggal dengan abangnya. Mereka semua adalah gelembung bagi satu sama lain. Mereka saling tolong menolong dan berproses untuk saling mendengarkan — Don yang akhirnya mau menjadi pendengar alih-alih sekadar pendongeng setelah beberapa kali diingatkan oleh Mae dan Omanya, hingga Atta yang awalnya bermusuhan justru berakhir menjadi “ksatria baru” dalam cerita Don.
Kita juga diperlihatkan bagaimana buku dongeng tersebut hadir sebagai pembuktian akan cinta yang terus hidup dan menemani. Dialog soal bagaimana buku dongeng tersebut akan menemani Don sampai kapanpun beberapa kali diperdengarkan. Buku tersebut juga digunakan oleh Don dan kawan-kawan dalam melawan Pak Kades (Kiki Narendra) secara harafiah, seolah orang tua Don hadir bersama mereka. Pun, ketika akhirnya Don berhasil melewati semuanya dan berkomunikasi dengan mendiang orang tuanya melalui radio, kita diperlihatkan bagaimana wujud orang tua Don yang sedang memeluknya berganti ke dalam wujud Nurman dan Mae — seolah mereka adalah bentuk cinta orang tua Don yang tidak terputus baginya.
Ketika Imajinasi Menjadi Rumah Bagi Kenangan
Pendekatan Jumbo soal kehilangan berbeda dengan beberapa film anak-anak lainnya yang membicarakan topik yang sama. Coco (2017) misalnya, yang sama-sama bicara soal kehilangan dan warisan namun lebih memilih pendekatan sentimental dan spiritual. Atau The Lion King (1994) yang membingkai duka dengan tuntutan tanggung jawab, sementara Jumbo dengan kebutuhan untuk mengingat.
Melalui Jumbo, Ryan membuka ruang percakapan antara anak dan orang dewasa soal kehilangan, sekaligus medium refleksi para orang dewasa soal proses berduka. Ia menunjukkan pentingnya sebuah proses, sekalipun proses itu adalah soal berduka. Sebab, duka adalah bagian dari hidup yang harus dibicarakan, bukan disembunyikan. Kesedihan dapat berjalan berdampingan dengan keindahan. Jumbo seolah berkata, “gaungkan saja dukamu. Pentaskan rasa kehilanganmu. Sebab menjaga ingatan bisa jadi cara yang paling tulus untuk tidak benar-benar kehilangan. Pada akhirnya, akan ada para gelembung yang siap menemani dan membawakanmu kebahagiaan.”
Dan, saya pun tersenyum, merayakan rasa kehilangan saya akan bapak.
메타데이터
- post_id
- e00be6f4dfa0
- slug
- jumbo-2025-imajinasi-yang-menjaga-ingatan-dan-merayakan-kehilangan-e00be6f4dfa0
- url
- https://medium.com/@msgretagarbo/jumbo-2025-imajinasi-yang-menjaga-ingatan-dan-merayakan-kehilangan-e00be6f4dfa0
- canonical_url
- https://medium.com/@msgretagarbo/jumbo-2025-imajinasi-yang-menjaga-ingatan-dan-merayakan-kehilangan-e00be6f4dfa0
- author_url
- https://medium.com/@msgretagarbo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 12:15:08