Membaca Agensi Perempuan Muslim melalui Pemikiran Saba Mahmood
Apa yang terlintas dalam pikiranmu bila melihat perempuan dengan hijab yang panjang, abaya yang menjuntai, lengkap dengan niqab yang…
Membaca Agensi Perempuan Muslim melalui Pemikiran Saba Mahmood

Perempuan Muslim dengan Hijab Syari (Foto: Pinterest/Faezehhasanzadehhjolge)
Apa yang terlintas dalam pikiranmu bila melihat perempuan dengan hijab yang panjang, abaya yang menjuntai, lengkap dengan niqab yang menutupi wajah?
Apakah kamu sempat memiliki prejudis bahwa ia tampak seperti perempuan yang terkekang?
Tidak bebas?
Tidak melakukan perlawanan?
Tunduk pada dogma agama?
Atau bahkan dianggap tidak memiliki keberdayaan atas dirinya sendiri?
Kalau iya, mari kita refleksikan sejenak dengan membuka cakrawala berpikir yang baru.
Bolehkah sekarang kita sebentar menanggalkan prejudis-prejudis tersebut?
Dalam hal ini tujuannya untuk menghayati kemajemukan gejala sosial yang perlu juga untuk kita pandang dari kacamata yang berbeda.
Harapannya, kita bisa sama-sama menyadari dan memahami ada banyak pluralitas yang tidak bisa kita seragamkan dengan satu pandang yang seolah-olah bersifat universal.
Saya pernah berada pada posisi memandang bahwa perempuan dengan pakaiannya yang tertutup atau syar’i adalah perempuan yang terlalu larut pada praktik keberagamaan yang ketat dan tidak membebaskan.
Bahkan, saya sempat menganggap bahwa perempuan yang konsisten mengenakan kaos kaki ke mana pun ia pergi, adalah perempuan yang memaksakan diri untuk terjerembab dalam kerangkeng agama yang sifatnya normatif.
Hingga pada akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat saya menelan ludah saya sendiri dan sudah hampir dua tahun ini saya adalah perempuan yang saya diskreditkan beberapa tahun yang lalu.
Saat itu, cara pandang saya dalam melihat perempuan dengan pakaian yang tertutup, terpengaruh dari berbagai lintas diskusi yang saya ikuti dan membentuk habitus untuk menyeragamkan penilaian.
Beberapa tahun yang lalu, saya cukup banyak mengikuti kampanye dan diskusi feminisme; mulai dari diskusi kelompok kecil hingga besar yang dominan berisikan pembahasan seputar ideologi-ideologi feminisme liberal.
Yang saya rasakan saat itu adalah teman-teman yang bergulat pada pemikiran tersebut adalah tempat yang aman untuk meluapkan kemarahan dan kesedihan saya seputar ketimpangan gender yang begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari.
Latar belakang saya cukup aktif bergerak pada lingkar studi feminisme tersebut juga pelarian dari rasa kecewa akan fakta-fakta kekerasan berbasis gender dari korban kekerasan seksual yang saya dampingi.
Ya, saya pernah menjadi satgas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dan merasa cukup muak dengan kasus perempuan yang termanipulasi oleh pelaku dengan narasi agama yang disalahgunakan yang menjadikan pelaku “si maha benar”.
Saat itu, saya percaya bahwa perempuan harus membebaskan dirinya dari berbagai konstruksi agar dapat menjadi subjek yang melawan.
Termasuk untuk menyelami ideologi feminisme liberal yang menurut saya menjadi senjata perlawanan bila menghadapi kuman-kuman patriarkal yang tercium dari berbagai lini dan ruang.
Namun, nyatanya, saya dihadapkan pada suatu peristiwa bahwa tidak cukup untuk menjadi seorang feminis liberal dalam melawan dan membentuk kesadaran sebagai perempuan. Saya tetap remuk ketika kesadaran saya ternyata belum utuh untuk memahami entitas tubuh dan pemikiran saya sendiri.
Ketika Allah menggerakkan saya untuk berpakaian syar’i, kemudian terbentuk rasa malu atau haya, berusaha meneladani shahabiyah, mulai mempelajari kitab-kitab seputar tauhid, muamalah, dan fikih dalam beragama— dari ruang luring di Masjid Nurul Iman Blok M Square Jakarta Selatan dan intensif dari ruang daring— dari situlah kesadaran saya terhadap perwujudan agensi perempuan yang saya harapkan selama ini mulai terbentuk.
Saya mulai menyadari bahwa dahulu, saya sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Kemarahan dan kekecewaan yang mendalam telah membutakan saya untuk melihat segala sesuatunya dengan lebih jernih.
Dan pada pemikiran Saba Mahmood mengenai agensi kesalehan perempuan, saya bisa memahami bahwa agensi perempuan memang tidak hanya seputar aktivitas melawan dan merobohkan kuasa patriarkal, tetapi dengan menegosiasikan, memiliki kesadaran, dan menavigasikan arah performa maupun sikap di tengah dominansi kultur patriarkal.
Saba Mahmood adalah seorang antropolog dan sebelumnya menjadi profesor di University of California, Berkeley.
Karya ilmiahnya mencakup perdebatan dalam antropologi dan teori politik, dengan fokus pada masyarakat mayoritas Muslim di Asia Barat (termasuk Timur Tengah) dan Asia Selatan.
Pemikirannya dipengaruhi oleh karya Talal Asad, Judith Butler mengenai performativitas (performative), dan Foucault mengenai kekuasaan (power) dan subjektivasi (subjectivation).
Tokoh feminis Muslim ini menulis tentang isu-isu gender, politik agama, sekularisme, dan hubungan Muslim dan non-Muslim di Timur Tengah.
Beberapa gagasan Saba Mahmood yang cukup fenomenal ialah pada buku berjudul Politics of Piety, The Islamic Revival and The Feminist Subject yang terbit pada tahun 2005. Buku ini adalah salah satu karya akademik paling penting dan berpengaruh dalam abad ke-21.
Ada dua konsep/teori yang sangat penting dalam buku ini, yang sering dirujuk dan terus dikembangkan oleh akademisi lain.
Konsep-konsep ini antara lain adalah Pious self-cultivation, yang merupakan paradigma di mana pribadi yang agamis memiliki keinginan untuk membina dirinya untuk menjadi lebih taat dan saleh.
Berbeda dari sudut pandang sekular di mana “diri” (self) adalah sumber kehendak dan kebenaran seseroang, dalam pious self-cultivation “diri” adalah hal yang bisa diolah dan dikembangkan ke arah tertentu melalui berbagai praktek dan disiplin.
Kemudian, Embodiment, yakni fokus pada tubuh sebagai ranah perwujudan dan peraihan norma, bukan sekedar alat untuk menunjukkan sebuah sifat terpuji (virtue).
“Tubuh bukan kanvas simbolisme saja, namun juga bahan dan alat pokok dalam pembentukan diri-tubuh (embodied subject)”. Paralel dengan konsep pious self-cultivation, tubuh–dalam konsep ini–dapat jadi medan sekaligus sarana untuk perkembangan diri.
Pada intinya, ia melakukan penelitian mengenai agensi perempuan muslim pada tiga masjid di Mesir; ada yang menunjukkan agensinya dengan berpakaian syari dan mengkaji kitab-kitab dalam IsIam.
Sesuatu yang ditekankan Mahmood adalah pentingnya tubuh sebagai ranah kesalehan bagi para perempuan salehah, sekaligus sebagai sarananya.
Menurutnya, para Islamis punya pemaknaan atas tubuh yang jauh berbeda dari (dan sering disalahpahami oleh) orang-orang sekuler. Misalnya dalam norma rasa malu (haya) sebagai sifat terpuji bagi perempuan, lebih khususnya dalam kasus jilbab.
Menurut logika sekuler, jilbab hanya selembar kain saja, dan yang lebih penting adalah rasa malu yang ada dalam hati seorang individu. Jilbab hanya sekedar perlambang.
Akan tetapi, dalam logika Islam, menurut Mahmood, pakaian merupakan cara yang penting untuk membentuk kesalehan dalam hati.
Sikap atau kecenderungan (disposition) bukan hanya sesuatu yang murni yang terletak dalam hati nurani setiap individu (seperti dalam pandangan sekularisme), tetapi adalah hal yang bisa dibentuk oleh amalan yang dibiasakan.
Begitu para perempuan salehah Mesir berusaha mengembangkan rasa malu yang dicitakannya dengan terus-menerus memakai jilbab terlepas dari apakah dalam hati mereka sudah memang punya rasa malu atau haya.
Dalam paradigma mereka, etika bukan sesuatu tentang “menemukan kehendak yang sejatinya (true desires)” dalam dirinya, tapi upaya untuk “mendekati teladan (exemplary model) untuk pribadi yang saleh” .
Saba Mahmood dalam hal ini melakukan perlawanan pada feminisme liberal. Menurutnya, saleh bukan berarti tidak memiliki agensi.
Ketika seorang perempuan berada di tengah lingkungan yang patriarkal, tetapi dia tetap menegosiasikannya dan menavigasikannya, maka dia tetap melakukan agensi.
Menurut tokoh perempuan kelahiran Pakistan ini, perempuan bisa menjadi feminis dengan tidak melepaskan hijabnya.
Ia menggarisbawahi bahwa bentuk agensi perempuan juga harus dilihat dari budaya yang mengakar pada lingkungan tempat mereka tinggal.
Ia menolak bahwa cara hidup progresif hanya dimiliki oleh orang-orang sekuler atau liberal.
Perempuan dengan hijabnya, dengan cadarnya, dengan abayanya; juga bisa melakukan agensinya sendiri yang tidak bisa dipandang melalui kacamata feminisme liberal yang cenderung merumuskan sintesis bahwa kebebasan perempuan dilihat dari ketika ia menanggalkan norma-norma religius dan melawan dengan tindakan yang radikal.
Resistensi sekecil apa pun yang dilakukan oleh perempuan di tengah tekanan dari lingkup eksternal, juga perlu diperhitungkan sebagai bentuk agensi. Sadar ataupun tidak sadar perempuan tersebut, ia tetap memiliki agensinya sendiri.
Saba Mahmood juga meniadakan bahwa narasi kepatuhan adalah konsep ketidakbebasan. Ia ingin masyarakat mengolah pemikiran dengan lebih jernih bahwa memahami bentuk kepatuhan dalam lingkup perempuan muslim yang dengan senang hati melayani suaminya, memasak untuk anaknya, menjadi super mama; adalah agensinya sendiri yang harus kita lihat dalam kacamata mereka.
Ketika perempuan muslim tersebut sadar akan potensi dan keberdayaan dirinya, memiliki teladan dalam bersikap, semakin dekat dengan Tuhan, semakin saleh; maka perempuan tersebut semakin membentuk agensinya.
Menurut Saba Mahmood, alur dari subjektivasi terbentuk dari produk-produk yang mengopresi.
Saleh tersebut berasal dari luar dengan kontemplasi atas keteladanan, kemudian masuk ke dalam praktik ketubuhan (berpakaian syar’i, shalat wajib maupun sunnah, puasa, mengaji, mendiskusikan kitab-kitab dalam Islam), menegosiasikan performa di tengah tekanan yang patriarkal, membentuk aksi, membentuk agensi kesalehan, hingga bermuara pada pembentukan identitas perempuan muslim.
Jadi, barangkali, selama ini kita terlalu sibuk mendefinisikan seperti apa perempuan yang merdeka, hingga lupa bertanya: “Apakah perempuan tersebut merasa memiliki kesadaran dan pilihan atas hidup yang ia jalani?”
Karena pada akhirnya, agensi perempuan tidak selalu lahir dari suara yang paling lantang melawan, tetapi terkadang ia tumbuh dari kesadaran yang diam-diam mengakar dalam kesalehan.
메타데이터
- post_id
- e026e0b7f6ae
- slug
- membaca-agensi-perempuan-muslim-melalui-pemikiran-saba-mahmood-e026e0b7f6ae
- url
- https://medium.com/@selviaputri/membaca-agensi-perempuan-muslim-melalui-pemikiran-saba-mahmood-e026e0b7f6ae
- canonical_url
- https://medium.com/@selviaputri/membaca-agensi-perempuan-muslim-melalui-pemikiran-saba-mahmood-e026e0b7f6ae
- author_url
- https://medium.com/@selviaputri
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:07:18