Long Live Barasuara
Bara Membara Selamanya!
Long Live Barasuara

Sekitar 10 tahun lalu, waktu saya masih SMP, ada satu ritual kecil yang selalu terjadi hampir setiap sore: pulang sekolah, lempar tas sembarangan, lalu menyalakan televisi sekitar jam 3 atau 4. Channel tujuan hampir selalu sama: NET TV — yang sekarang udah nggak ada.
Di sana ada acara musik yang setidaknya dulu saya anggap keren: Breakout. Tanpa saya sadari, acara ini diam-diam memengaruhi pengetahuan musik saya.
Sampai suatu sore, Boy William — entah ditemani Sheila Dara atau Sheryl Sheinafia (memori saya blur seperti foto kamera depan 2015) — memperkenalkan sebuah band dengan nama yang langsung terasa panas: Barasuara.
Dari namanya saja sudah keren, Bara (Api menyala) Suara, suara yang membara dan menyala-nyala seperti api. Anjay.
Lalu diputar lagu “Bahas Bahasa.”
Beberapa detik pertama langsung terasa berbeda. Musiknya keren sekali, vokalnya seperti orang berbicara tapi dalam volume semangat 200%, dan aransemennya terdengar seperti banyak orang berteriak bersama tapi tetap kompak.
Saat itu reaksi saya sangat sederhana, sangat jujur, dan sangat anak SMP:
“Anjir, ini band keren banget.”
Dan dari momen kecil di depan tv, tanpa pikir panjang lagi, saya resmi menjadi pendengar dan pengikut Barasuara.
Rasa penasaran langsung kebablasan. Saya mulai memutar lagu-lagu Barasuara yang lain, dan ternyata mereka sudah punya satu album utuh bernama Taifun — dan, ya, isinya memang seperti badai.
Perjalanan saya makin tenggelam waktu menemukan video dokumentasi di channel YouTube Sounds From The Corner, kanal yang dibangun Teguh Wicaksono — yang plot twist-nya, sekitar sembilan tahun kemudian malah jadi CMO saya saat bekerja di Vidio.
Di sesi itu Barasuara memainkan beberapa lagu mereka secara live, dan rasanya seperti ditampar energi mentah dari layar laptop, bukan cuma rapi seperti versi rekaman, tapi lebih berisik, lebih hidup, lebih ‘niat’. Waktu itu pikiran saya cuma satu: damn sumpah asli ini band keren banget.
Iga dengan Telecaster kuningnya, Boss TJ menabur isian gitar yang tebal, Gesit menggerakkan semuanya lewat bassline yang liar tapi presisi, lalu Marco menggebuk drum dengan gaya yang terdengar kesannya berantakan tapi justru itu yang bikin rasanya hidup. Di atas semuanya, harmoni vokal Iga, Icil, dan Puti masuk seperti lem yang merekatkan seluruh kekacauan indah itu — perfect.
Sedikit ngebahas album Taifun, dibuka oleh “Nyala Suara” langsung menunjukkan riff gitar yang saling bertubrukan, bass yang mengunci ritme, drum yang terdengar liar tapi presisi, serta harmoni vokal Iga, Asteriska, dan Puti yang menjadi identitas kuat di setiap lagu.
Kekuatan Taifun tidak hanya pada energinya, tetapi juga pada atmosfer yang dibangun dari lagu ke lagu: “Hagia” yang terasa reflektif, “Sendu Melagu” dan “Bahas Bahasa” yang ritmis dan menggerakkan tubuh, hingga klimaks emosional “Api dan Lentera” yang meledak seperti badai sebelum akhirnya mereda.
Buat saya, Taifun bukan cuma album bagus, tapi album yang sudah telanjur punya alamat tetap di hidup saya. Masa remaja saya lewat dengan lagu-lagu di album ini berputar berkali-kali. Karena itu, penilaian saya terhadap Taifun jelas tidak sepenuhnya rasional. Bisa saja nanti ada album yang lebih rapi, lebih kompleks, bahkan lebih megah — bahkan Barasuara sendiri menunjukkannya lewat Jalaran Sadrah — tapi belum tentu ada yang ikut tumbuh bareng saya seperti Taifun. Jadi sejujurnya, kecil kemungkinan ada album yang akan saya anggap lebih baik darinya.
Beberapa tahun setelahnya, Barasuara merilis Pikiran dan Perjalanan, dan sebuah media besar langsung melempar ulasan dengan judul yang cukup pedas sekali: “Album Baru Barasuara yang Kurang Bersuara.”
Waktu itu, jujur saja, ada rasa panas sebagai fans. Sedikit defensif, sedikit ingin protes, mungkin karena merasa ikut “memiliki” band ini. Tapi makin dipikir, selera musik memang bukan arena adu argumen. Orang boleh merasa albumnya biasa saja, saya pun tetap bisa merasa albumnya tetap berarti — dan akhirnya ya sudah, mereka dengan kritiknya, saya tetap dengan kebiasaan lama: memutar Barasuara keras-keras tanpa minta persetujuan siapa pun.
Lalu pandemi datang seperti tombol pause raksasa — panggung-panggung mati, konser hilang, dan dunia musik tiba-tiba terasa sunyi. Barasuara pun ikut menghilang dari hiruk-pikuk live performance yang dulu terasa begitu rutin.
Ketika acara musik mulai menyala lagi, rasanya ada yang sedikit berbeda: Barasuara masih ada, masih berkarya, tapi panggungnya tidak terasa sesering dulu, tidak sepadat dulu, setidaknya itu yang saya ingat. Entah ini hanya perasaan saya, efek jeda panjang pandemi, atau mungkin bayang-bayang album kedua yang sempat dianggap “kurang nendang” oleh sebagian orang ikut memengaruhi pamor mereka — saya juga tidak benar-benar tahu.
Di masa-masa itu Barasuara tidak benar-benar diam. Mereka tetap muncul, pelan tapi konsisten, lewat single-single yang rasanya seperti potongan emosi yang dilepas satu per satu: “Fatalis” yang terdengar penuh amarah, “Merayakan Fana” yang lebih reflektif dan kontemplatif, sampai “Terbuang Dalam Waktu” yang memberi pesan kalau cinta itu jangan taken for granted. Lagu-lagu itu kemudian berkumpul dan menemukan rumahnya di album ketiga, Jalaran Sadrah.
Jalaran Sadrah, album ketiga Barasuara yang terasa megah dari banyak sisi — mungkin juga karena ada sentuhan maestro Erwin Gutawa di dalamnya — akhirnya rilis pada 2024. Responsnya hangat sekali; banyak yang memuji kedewasaan musikalitas mereka, aransemen yang lebih luas, dan keseluruhan sound yang terasa lebih matang. Singkatnya: asoy sekali.
Dengan sambutan sebaik itu, saya sempat mengira Barasuara akan kembali memenuhi banyak panggung seperti dulu, tapi kenyataannya tidak sepadat yang saya bayangkan — mereka tetap tampil, hanya saja tidak sebanyak yang sempat saya harapkan.
Ketika Bara sudah berserah dengan jalan Tuhan mau dibawa ke mana band ini, tiba-tiba datang panggilan. Yandy Laurens mengajak Barasuara mengisi soundtrack film Sore: Istri Dari Masa Depan. Film yang begitu indah dan diisi juga dengan lagu yang indah “Terbuang Dalam Waktu” dan “Pancarona”.
Filmnya meledak — jutaan penonton tenggelam dalam pengalaman sinematik yang luar biasa. Barasuara ikut meledak bersamanya. “Terbuang Dalam Waktu” dan “Pancarona” tiba-tiba ada di mana-mana. Saya sampai tersenyum sendiri ketika suatu siang mendengar “Pancarona” diputar di speaker kantin kantor — momen kecil yang terasa absurd sekaligus menyenangkan, karena dulu rasanya tidak pernah terbayangkan lagu Barasuara bisa terdengar se-“mainstream” itu tanpa kehilangan magisnya.
Sebelum film SORE, saya masih ingat Bang Gesit sering melempar kalimat yang setengah bercanda, setengah berharap, tiap manggung: “Pakai lagu Bara di TikTok ya, biar viral.” Ternyata itu adalah doa kecil yang dikirim ke semesta. Akhirnya, lagu-lagu Barasuara akhirnya menemukan jalannya sendiri — tahu-tahu “Terbuang Dalam Waktu” dan “Pancarona” sudah beredar di mana-mana, menjangkau telinga yang dulu mungkin tidak pernah singgah ke Barasuara.
Rasanya seru melihat semakin banyak orang “menemukan” mereka, dan lebih seru lagi ketika nama Barasuara mulai kembali sering muncul di poster-poster panggung. Buat saya pribadi, itu berarti satu hal sederhana: lebih banyak kesempatan berdiri di tengah crowd, ikut bernyanyi keras-keras lagi seperti dulu.
Pada akhirnya, perjalanan Barasuara terasa seperti badai yang tidak pernah benar-benar hilang — kadang menjauh, kadang hanya terdengar samar, lalu tiba-tiba kembali menghantam dengan cara yang tidak kita duga.
Dari kamar anak SMP dengan earphone murah, ke kantin kantor dengan speaker seadanya, sampai berdiri lagi di tengah kerumunan konser sambil berteriak, Barasuara selalu menemukan cara untuk hadir di fase-fase hidup saya yang berbeda. Dan mungkin itu alasan kenapa mereka akan selalu terasa relevan untuk saya: bukan hanya karena musiknya keras, megah, atau puitis, tapi karena di banyak kepala — termasuk kepala saya — Barasuara sudah telanjur menjadi bagian dari memori kehidupan.
LONG LIVE BARASUARA!
메타데이터
- post_id
- e036c12e45ff
- slug
- long-live-barasuara-e036c12e45ff
- url
- https://medium.com/@rullydesthian/long-live-barasuara-e036c12e45ff
- canonical_url
- https://medium.com/@rullydesthian/long-live-barasuara-e036c12e45ff
- author_url
- https://medium.com/@rullydesthian
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30