02. goodbye rumbling heart
“Kubiarkan diriku jadi yang kau mau, tapi tak selamanya..”
02. goodbye rumbling heart
“Kubiarkan diriku jadi yang kau mau, tapi tak selamanya..”

.x.
“Kamu cantik, Ras, masih muda. Masih banyak cowok di luar sana yang mau jadi pacarmu, tapi bukan Mas Daru. Tiga bulan lagi Mas Daru nikah sama perempuan yang Mas cintai,”
Aku bohong.
Aku nggak seberani itu — ternyata. Keberanianku mentok sampai level hadir di pernikahan Mas Daru pakai dress hitam. Selebihnya, aku nggak punya keberanian buat melakukan apapun.
Aku cuma hadir, menikmati makanan yang disajikan di sana, melihat baik-baik dia tertawa di singgasana dengan istri satu harinya sambil merapal umpatan penuh kebencian. Mematri baik-baik pemandangan itu di benakku supaya aku nggak lupa — bukan aku yang dipilihnya.
“Oh? I thought you love me?”
It’s a miracle I even made it from the ballroom to my car. Di balik kemudi, kaki dan tanganku nggak berhenti gemetar. So, I guess this is real.
Tiga tahun yang nggak berarti apa-apa. Pacar pertamaku. Cinta pertamaku.
“I did not.”
Aku bilang ke Ayang kalau aku bisa jadi cewek gila, aku punya kekuatan untuk berdiri dengan kakiku sendiri untuk menghancurkan pernikahan Mas Daru semudah dia menghancurkan perasaanku. Cuma bualanku saja, cuma usahaku untuk menyelamatkan harga diriku yang hancur lebur.
Harusnya aku bisa baca rambu-rambunya. Nggak ada perkenalan ke teman-temannya, nggak ada perkenalan ke orang tua, nggak ada wajahku yang mampir satu kalipun di sosial medianya. He acted like I’d never been in his life. Satu tawa pahit lolos dari bibirku. Should’ve seen the red flags.
“I did not.”
Keningku menempel di kemudi, badanku menekuk. Aku mau sembunyi.
“I did not.”
Pengakuannya soal dia yang nggak menyayangiku berputar seperti dentang lonceng. Bergema memenuhi kepalaku. Aku mau sembunyi.
Ketukan kaca di mobil menyentakku dari rasa sesak yang menghimpit dadaku, Si Bule yang tadi memuji dressku ada di baliknya, mengangkat sebuah kunci dengan gantungan twinkle-twinkle buluk yang familiar. Kunci kosku!
Buru-buru aku membuka kaca mobil. Aroma yang sempat tadi aku hirup sekilas saat bertabrakan dengan Si Bule ini tercium lagi — he smells something like forest after the rain, green, quietly grounding.
“Are you okay?”
“Hah?” jawabku nggak mengerti.
“You are crying,” jelasnya dengan mata (yang entah hijau atau coklat itu) mengarah tepat ke wajahku.
Mataku mengedip-ngedip, baru menyadari pipiku basah. Oh, aku masih menangisi Mas Daru...
Buru-buru aku mengusap kasar mata dan pipiku. “All good,” jawabku, berusaha menyembunyikan malu.
Cowok di depanku cuma mengangguk kecil, menyerahkan kunci kosku yang entah kenapa ada dia. “How do you have my key?”
Si Bule masih sibuk merogoh sesuatu dari kantong kemeja di balik jasnya. “Saya sudah panggil kamu, kuncimu jatuh pas kamu ambil kunci mobil dari tas kamu, tapi kamu jalan terus nggak noleh-noleh ke saya.” jawabnya panjang lebar pakai Bahasa Indonesia, membuatku menganga.
“Kamu bisa bahasa Indonesia?!” seruku sedikit nggak terima.
Senyum tersungging di bibirnya, “Kamu nggak nanya?” lalu menyerahkan sapu tangan berwarna marun ke arahku.
Aku menggelengkan kepala, “Nggak perlu, air mata saya udah kering. Tapi makasih sebelumnya,”
Si Bule mengedikkan bahu, mengembalikan sapu tangannya ke saku. “Ya udah, saya balik dulu, ditunggu temen saya.” pamitnya sambil secepat kilat berbalik badan dan berjalan santai.
Loh, loh, tunggu! Aku buru-buru mau memanggilnya, tapi bingung sendiri… apa ya, nama panggilan yang pas?
Sir? Memangnya dia guru Bahasa Inggrisku?
Bro? Ah, kaya temen nongkrong aja!
Mas? Cocok, kah, dengan tampang bulenya?
Gan? Kaya temen diskusi kaskus, ah!
Apa, sih, Paras???
Panik aku akhirnya memutuskan keluar mobil, berjalan cepat ke arahnya dan reflek menarik lengannya.
Mata yang entah berwarna hijau atau coklat itu makin menyilaukan di bawah terik matahari, memandangku dengan pandangan apa lagiiiii?
“Sorry, aku belum bilang makasih.” jelasku. “Makasih, Mas…?” memutuskan memanggilnya dengan Mas karena yang paling familiar dengan lidah jawaku.
“Nolan.” baik hati ia memperkenalkan diri. Tangannya terulur, “Nama saya Nolan.”
“Oh, oke, makasih Mas Nolan…” aku menyambut uluran tangannya, menjabat dan merasakan tangannya yang suhunya lebih panas dari tanganku sendiri. “Buat kunci saya, buat tawaran sapu tangannya.” buat distraksinya dari rasa sakit, bagian ini cukup aku sendiri aja yang tahu.
Aku menarik tanganku, tapi Mas Nolan menahannya.
“Namamu?” Tanyanya, singkat, padat, persis dosenku kalau aku nggak bisa jawab kuis dadakan yang beliau lempar.
Tapi yang satu ini, bukannya bikin nyaliku menciut, aku malah tersenyum. “Paras, Mas. Salam kenal.”
Dia menganggukkan kepala, bergumam kecil. “Paras…” seperti menguji seperti apa namaku terasa di lidahnya.
Tautan kami terlepas, tepat setelahnya ada suara ponsel berbunyi. Mas Nolan menarik ponsel dari saku celananya, menatap layar yang menampilkan satu nama yang melakukan panggilan tanpa menjawabnya. “Temen saya udah telfon, duluan ya, Paras.”
Aku mengangguk, “Makasih sekali lagi, Mas Nolan.”
Begitu saja aku jalan balik menuju mobilku. Baru beberapa langkah, aku mendengar Mas Nolan memanggilku lagi. Sebelum aku sempat menjawab, aku melihatnya jalan ke arahku. Nggak tahu, deh, kenapa kita jadi bolak balik gini?
“Sorry, boleh minta kontak?” tanyanya agak kebingungan. Nggak lama, kepalanya menggeleng, “Never mind, I might make you uncomfortable right now.”
Dih?
Cepat-cepat aku menjawab, “Kosong delapan..”
Aku tertawa kecil melihatnya buru-buru membuka ponselnya dan menekan tombol angka untuk menyimpan kontakku. Sebelum aku melanjutkan lanjutan kombinasi angka kontakku, aku menggodanya, “Tadi katanya you might make me uncomfortable?”
“Tapi kan buktinya, enggak..” pintar dia menjawab.
Setelah kontakku tersimpan, kami berdua saling berpamitan (lagi). Nggak biasanya aku berbagi kontak dengan kenalan, terutama ke orang asing yang baru aku ketahui namanya beberapa menit yang lalu. Mungkin efek patah hati. Efek aku butuh sesuatu untuk lupa.
Apapun itu aku bersyukur Mas Nolan menginterupsi momen lemahku. Nggak seharusnya aku menangisi Mas Daru, dia sudah jadi suami orang. Lagi pula, nggak adil untuk diriku sendiri rasanya.
Tapi saat masuk mobil, aku merasa sedih lagi, sedikit.
Nggak mau menghabiskan waktu merana, aku langsung menghubungi Ayang. “Yang? Udah di kosan? Apa masih di cafe?”
Ayang di seberang menjawab, “Di studio, Ras. Siniiii,”
Aku menyambut tawarannya, “Okay! Aku mampir ke Bang Kumar, dulu!” kataku menyebut nama abang-abang pisang goreng madu langganan kami.
Setelah memutus panggilan dengan Ayang dan menyalakan mobil, aku berkendara ditemani suara radio yang sedang memutar lagu dengan lirik lagu yang sedikit mengobati rasa sedihku — juga, sepasang mata yang entah hijau atau coklat yang belum juga enyah dari kepalaku.
.xx.
Akui sedih hati, biarkan payah menghampiri. Dan bangkit dari keluh hati, apa yang kau takutkan?
메타데이터
- post_id
- e05f5fefe8a0
- slug
- 02-goodbye-rumbling-heart-e05f5fefe8a0
- url
- https://medium.com/@96-hz/02-goodbye-rumbling-heart-e05f5fefe8a0
- canonical_url
- https://medium.com/@96-hz/02-goodbye-rumbling-heart-e05f5fefe8a0
- author_url
- https://medium.com/@96-hz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01