← Back to list

Romantisasi Tren Feminine Energy

ditulis ulang dari esai ujian akhir semester saya sendiri dengan judul yang sama.

saffiera · 2026-07-21 05:29 · 0 claps · 8.4 min read
#feminine-energy #male-centered #patriarchy #gender-stereotypes #toxic-femininity
Open on Medium ↗

Romantisasi Tren Feminine Energy

ditulis ulang dari esai ujian akhir semester saya sendiri dengan judul yang sama.

Di media sosial ada sebuah tren mengenai kepemilikan feminine energy sekaligus diikuti dengan pembahasan mengenai masculine energy. Dalam hal ini, konten kreator di berbagai platform media sosial, terutama TikTok mengunggah konten-konten yang menggunakan narasi feminine energy. Nah dari konten ini, mereka tuh membentuk stigma sekaligus menciptakan standar ideal bagi perempuan buat tampil feminin.

Di satu sisi, konten kreator ini bikin narasi buat memberdayakan perempuan agar tampil menarik untuk diri sendiri, tetapi di sisi lain justru menghadirkan konsep yang bertujuan buat menarik perhatian laki-laki kayak male centered gitu. Ini artinya ada narasi yang saling kontra sehingga bakal menimbulkan perbedaan persepsi dan pemahaman terhadap feminine energy.

Garis besarnya, tren feminine energy menunjukkan gimana perempuan yang feminin itu harus memiliki karakteristik kayak penampilan, pembawaan (vibes), ataupun perilaku yang sesuai dengan standar yang tercipta. Tren ini bisa mengubah cara pandang perempuan ketika memandang diri mereka sendiri maupun gimana sih “cara feminin” dalam menyikapi atau menempatkan diri dalam situasi sosial. Selain itu, perempuan juga bakal kepikiran gimana sih identitas perempuan yang feminin itu.

Dari berbagai unggahan konten, representasi perempuan yang memiliki feminine energy tuh kayak mereka yang memiliki aura positif, ceria, ramah, hingga anggun. Nah, representasi yang kayak gini itu bakal membentuk pandangan positif terhadap kepemilikan feminine energy.

Gimana kalau sebaliknya?

Di sisi lain, feminine energy dapat dipahami memiliki keterkaitan dengan stereotip gender tradisional. Stereotip ini tuh mencakup gimana perempuan memandang laki-laki sebagai pihak yang dominan dan jadi provider mereka. Dalam hal ini, feminine energy diposisikan sebagai kebalikan dari masculine energy. Perempuan digambarkan identik sebagai sosok yang penuh kasih, lemah lembut, nggak mandiri, pasif, dan memerlukan laki-laki sebagai sosok yang dominan. Sementara laki-laki yang maskulin, dikenal sebagai sosok yang me-ratu-kan pasangannya hingga menafkahi atau memenuhi kebutuhan mereka (provider).

Tren feminine energy menyoroti gimana perempuan harus menghindari perilaku yang dianggap maskulin agar terlihat feminin. Narasi yang dibangun justru menciptakan kategorisasi terhadap perempuan yang dianggap feminin dan yang nggak. Tren ini awalnya memperlihatkan perempuan buat menerima segala kekurangan diri dan fokus untuk memperbaiki apa yang dimiliki. Namun, nggak kayak pemahaman awal, tren ini justru berkembang mengarah ke konotasi negatif dan menuntut perempuan buat memenuhi ekspektasi sosial tentang gimana seharusnya perempuan yang memiliki feminine energy.

Berkedok Self-Love

Balik lagi, tren feminine energy ini menjadi salah satu wacana populer di media sosial, terutama TikTok. Sekilas, saya melihat kalau tren ini tuh membentuk cara pandang baru bagi perempuan buat lebih mengontrol dan memperbaiki segala hal di dalam diri mereka. Melalui narasi yang dibangun para konten kreator, perempuan diminta buat lebih menahan emosi, lemah lembut, merawat diri, berpenampilan elegan, maupun nggak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan identitas feminin. Narasi kayak gini pada akhirnya bakal memengaruhi perempuan buat mengikuti standar tersebut dengan dalih self-love.

Perempuan ≠ Feminin

Laki-Laki ≠ Maskulin

Pernah enggak terbayangkan, kalau hal yang kita anggap perempuan itu selalu feminin dan laki-laki selalu maskulin itu salah? Jadi, sebenarnya feminine dan masculine energy ini tuh sama-sama dimiliki perempuan maupun laki-laki. Kondisi sebenarnya adalah mereka lebih condong ke arah mana, dominan yang mana, dan ini tuh bisa dilatih (Firdaus, 2025). Terkadang kita melihat perempuan tomboy yang berpakaian maupun berperilaku seperti laki-laki, maupun sebaliknya. Baik feminine maupun massculine energy tuh nggak ada aturan tetap yang ini milik siapa dan yang itu milik siapa. Namun di sini, tren ini tuh justru bikin feminine energy sebagai sesuatu yang identik dengan perempuan yang condong ke arah girly.

Tren feminine energy menunjukkan kalau perempuan perlu lebih mencintai dan menghargai diri mereka. Beberapa narasi memperlihatkan agar perempuan fokus merawat diri, lebih peduli pada diri sendiri, mengetahui value dirinya, nggak haus validasi, maupun nyaman menjadi diri sendiri. Namun, feminine energy tuh dikonstruksi ulang sehingga bukannya mendukung pemberdayaan diri maupun self-love, tren ini justru bergeser jadi toxic femininity. Kondisi ini menekankan perempuan agar diam, tampil feminin, selalu lembut, hingga nggak boleh menunjukkan emosi atau kekuatan yang dianggap “maskulin” (Salsabila et al., 2025). Oleh karena itu, pergeseran ini justru bikin feminine energy sering dikaitkan sama gimana sih perempuan harusnya berperilaku.

Narasi-narasi yang dibawakan konten kreator justru menuntut perempuan harus terlihat sempurna dan menjadi perempuan “high value”. Saya mengamati kalau narasi-narasi kayak gini berpotensi bikin perempuan berpikir kalau nggak mengikuti standar yang tercipta, otomatis mereka bukan perempuan feminin. Hal ini jelas memaksa perempuan buat berperilaku dan terlihat kayak gimana orang lain pengin melihat sosok perempuan itu seharusnya, bukan karena jati diri mereka sebenarnya. Bukannya mendukung sesama perempuan untuk berubah ke arah lebih baik dengan menjadi sendiri, tren ini justru menciptakan identitas yang dipaksakan ke dalam diri seseorang.

Tren ini menyoroti gimana konstruksi sosial dan cara pandang yang kaku buat membentuk narasi dan opini publik. Saya memandang konten-konten mengenai feminine energy berpotensi melanggengkan stereotip gender. Banyak yang menggunakan narasi bahwa perempuan harus selalu lemah lembut, tunduk, nggak agresif, bahkan harus menjauhi hal-hal yang bersifat maskulin. Di tren ini tuh ada penggunaan narasi serupa secara implisit dan berpotensi memperkuat kembali stereotip gender tradisional, yang pada akhirnya bisa membatasi perempuan. Penggunaan narasi ini memuat kesamaan pandangan dalam stereotip gender yang kemudian direproduksi oleh konten kreator melalui unggahan konten tentang feminine energy.

Standarisasi Gender

Sadar atau nggak, tren feminine energy itu menggeneralisasi perempuan dari segi fisik, sifat, hingga perilaku. Tren ini menciptakan standar ideal kayak gimana sih perempuan yang feminin itu. Saya menemukan kalau tren ini menanamkan identitas feminin berupa kelembutan, keanggunan, keeleganan, dan sebagainya, yang kemudian diinternalisasi menjadi standar yang ideal bagi perempuan. Tren ini juga menunjukkan bahwa standar ideal tersebut dikemas untuk menjadi suatu “cara ideal” buat menyikapi atau menghadapi orang lain maupun situasi sosial. Ini terlihat pada gimana identitas feminin nggak hanya digunakan buat menunjang penampilan saja, tetapi juga bagian dari perilaku maupun cara berkomunikasi yang dianggap feminin.

Standar ideal ini bisa memengaruhi perempuan buat terus merasa kurang dan berbeda kalau nggak menyesuaikan diri atau kita kenal sebagai insecure. Standar ini dikhawatirkan bisa membatasi ekspresi emosi perempuan yang sebenarnya wajar sebagai bagian dari pengalaman perempuan (Hapsari & Prasetyo, 2026). Padahal, bukan kewajiban perempuan buat selalu tampil dengan pakaian berwarna pastel, nggak diperbolehkan terlalu mandiri, maupun bentuk-bentuk standar lain yang membatasi mereka untuk mengekspresikan diri dengan cara masing-masing. Perempuan harus dipandang sebagai individu yang memiliki hak untuk melakukan, memakai, atau memperlihatkan segala sesuatu atas apa yang mereka suka atau nyaman, bukan berdasarkan standar ideal atau ekspektasi sosial.

Tren feminine energy memberikan gambaran mengenai standar ideal yang erat kaitannya dengan stereotip gender tradisional. Saya menganggap tren ini sebagai bentuk pembatasan pada ekspresi dan eksplorasi perempuan, baik untuk diri sendiri maupun ketika menjalin hubungan dengan orang lain. Stereotip ini mencakup gimana perempuan harus penurut, lemah lembut, memiliki kesopanan yang tinggi, hingga mengikuti laki-laki (Rahmawati et al, 2023). Kayak halnya konten-konten yang memuat feminine energy, perempuan ditekankan buat mengikuti aturan atau standar yang tercipta buat dianggap memiliki feminine energy atau sebagai perempuan yang feminin.

Berpusat pada Laki-Laki

Tren feminine energy ini cenderung menuntut perempuan buat selalu memenuhi ekspektasi laki-laki. Perempuan diharuskan mengikuti standar yang tercipta di media sosial buat mendapatkan atensi maupun perlakuan istimewa kayak princess treatment. Tren ini menunjukkan adanya perubahan pemahaman, dari semula yang berfokus menghargai eksistensi perempuan itu sendiri dan kemudian dimaknai buat mendapatkan perhatian laki-laki. Modifikasi makna ini buruknya dianggap sebagai bentuk ekspektasi perempuan agar memiliki feminine energy buat mendapatkan perhatian, validasi, maupun cinta dari laki-laki.

Konten kreator sering menggambarkan feminine energy sebagai cara gimana perempuan berperilaku, berbicara, dan bersikap agar terlihat lebih “anggun” serta mendapatkan perlakuan positif dari orang lain terutama dari laki-laki (Octavia et al, 2026). Narasi yang dibangun sejujurnya kebanyakan berpusat pada laki-laki (male centered). Narasi-narasi kayak gini adalah bentuk pembodohan yang mengontrol perempuan atas ekspektasi laki-laki terhadap mereka. Padahal, hidup yang perempuan jalani nggak hanya tentang dan selamanya berpusat pada laki-laki.

Tren feminine energy menggunakan narasi yang dikaitkan dengan gimana menarik perhatian laki-laki, gimana cara agar disukai oleh mereka, maupun gimana agar dikejar laki-laki. Esensi perempuan di sini dipahami sebagai sosok yang “mendamba” atau “jinak” terhadap laki-laki. Perempuan seakan-akan harus mengikuti standar dan ekspektasi sosial demi kepuasan laki-laki. Padahal, perempuan juga memiliki pilihan untuk menolak ataupun melakukan hal-hal yang bersifat menjaga penampilan dan merawat diri atas keinginan mereka sendiri.

Konten-konten mengenai feminine energy banyak yang mengadopsi identitas feminin buat mendapatkan laki-laki dengan masculine energy. Di sisi lain, konten kreator juga mengajarkan agar menjadi perempuan yang nggak mengejar atau mengemis cinta laki-laki. Feminine energy dianggap sebuah bentuk daya tarik yang akan menarik laki-laki untuk mendekat tanpa perlu bagi perempuan untuk berusaha menarik perhatian mereka.

Tren feminine energy mengajarkan perempuan agar jangan mengejar laki-laki, tetapi sebaliknya laki-laki yang akan mengejar mereka. Perempuan nggak boleh bersikap agresif apalagi mengemis cinta dari laki-laki sehingga mereka dituntut untuk bersikap lembut, anggun, nggak boleh terlalu mandiri, dan nggak mendominasi atau memiliki batasan personal (boundaries). Sebaliknya, feminine energy justru dimanfaatkan untuk mengundang atau menarik perhatian laki-laki agar mengejar perempuan. Kepemilikan feminine energy menganggap perempuan yang memiliki energi tersebut akan mengeluarkan sisi maskulin laki-laki sehingga mereka menunjukkan usaha (effort) untuk mengejar.

Konten-konten kayak gini mereproduksi stereotip gender tradisional, yang dalam relasi romantis menempatkan perempuan sebagai pihak pasif dan laki-laki sebagai pihak dominan (Rainanda & Saifudin, 2025). Tren feminine energy mengajarkan perempuan buat “memberi makan ego” laki-laki, misalnya dengan membuat mereka merasa dibutuhkan. Padahal ini melanggar kebebasan perempuan karena mereka diajarkan untuk nggak boleh terlalu mandiri dan harus bergantung pada pasangan mereka.

Di samping itu, tren ini juga memperkuat sisi maskulinitas laki-laki. Laki-laki dipandang sebagai sosok yang mengayomi pasangan mereka dengan masculine energy dijadikan acuan untuk menunjukkan perhatian, ketegasan, dan peran sebagai “provider” (Rainanda & Saifudin, 2025). Dalam hal ini, feminine energy digunakan untuk mewujudkan harapan terhadap keberadaan laki-laki seperti ini di dalam kehidupan perempuan. Dengan mengusung laki-laki sebagai pusat (male centered), tren ini menyoroti gimana identitas feminin dipaksakan untuk mengubah kepribadian maupun perilaku perempuan agar mendapatkan pasangan dan perlakuan yang diharapkan.

Produk Patriarki Modern

Tren feminine energy menyoroti citra yang harus ditampilkan oleh seorang perempuan buat terlihat feminin. Tren ini dapat dimaknai sebagai bentuk produk patriarki modern yang dikemas melalui konten dan narasi di media sosial, terutama TikTok. Dalam hal ini, feminine energy menciptakan pandangan yang sama dengan stereotip gender tradisional sekaligus berpotensi melanggengkan nilai patriarki.

Dalam tren ini ada narasi yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang menerima bentuk materi maupun perlakuan istimewa dari laki-laki. Sekali lagi, perempuan harus memiliki atau menampilkan feminine energy mereka buat menarik perhatian laki-laki. Di saat yang bersamaan, perempuan harus mengikuti standar agar terlihat “selayaknya perempuan” dengan mengaktifkan maupun meningkatkan feminine energy mereka. Tren ini juga membentuk pandangan tentang gimana perempuan “seharusnya berperilaku”. Sejalan dengan sistem patriarki, tren ini juga menuntut perempuan buat mengikuti standar dan ekspektasi sosial dengan cara yang lebih modern. Patriarki membingkai perempuan sebagai sosok yang penuh kelembutan, emosional, dan kepatuhan sebagai sifat yang identik dengan perempuan feminin, kayak halnya pada tren feminine energy.

Tren ini mengarah pada stereotip gender tradisional, yaitu perempuan lemah lembut, nggak terlalu dominan, dan sebagainya, yang kemudian menuntut peran gender pada pola lama. Melalui tren feminine energy, konten kreator secara nggak langsung mengusung kembali stereotip gender tradisional yang kemudian dipahami dan diterima secara lebih terbuka, bahkan bakal dianggap wajar. Perempuan dengan feminine energy digambarkan sebagai sosok yang penurut dan lembut, sementara laki-laki dengan masculine energy adalah sosok yang rela memenuhi kebutuhan pasangan mereka (provider mindset) dengan tetap memegang dominasi dalam sebuah hubungan.

Tren feminine energy ini secara tersirat memoles patriarki sebagai bentuk tuntutan bagi perempuan untuk menyesuaikan diri agar “dilirik” laki-laki. Tren ini juga mengajarkan gimana perempuan harus membiarkan laki-laki merasa dibutuhkan dengan meminta atau menerima bantuan mereka, ini menunjukkan struktur budaya patriarki melalui keyakinan bahwa perempuan harus selalu bergantung pada laki-laki buat mendapatkan rasa aman (Amalia et al, 2026). Hal ini memperlihatkan adanya bentuk dominasi laki-laki sebagai sosok yang mengayomi dan menjadikan ketergantungan perempuan sebagai alat validasi melalui tren feminine energy.

Pada akhirnya, tren feminine energy ini meromantisasi agar perempuan mengikuti standar feminin yang menggunakan narasi dengan dalih pemberdayaan maupun self-love. Namun, sebenarnya tren ini memiliki makna yang mengisyaratkan bentuk melanggengkan budaya patriarki, stereotip gender tradisional, hingga maskulinitas.

Referensi

Amalia, F. S., Dadan, S., & Mutahir, A. (2026). Subordinasi Perempuan dalam Budaya Patriarki Pada Film Kim Jiyoung, Born 1982 (2019). Commed : Jurnal Komunikasi dan Media, 11(1), 46–69.

Firdaus, S. F. (2025). TikTok sebagai Medium Rekonstruksi Hubungan Harmonis: Analisis terhadap Konten Masculine and Feminine Energy. (Skripsi Sarjana, Universitas Islam Indonesia).

Hapsari, A. P., & Prasetyo, D. (2026). Persepsi Perempuan Lajang Kota Surabaya terkait Konten Feminine Energy Akun Tiktok @nmaliccaa. The Commercium, 10(1), 474–483.

Octavia, O., Gultom, M. S., Audrey, N. K., Ginting, T. A., Silalahi, K., & Putri, D. M. (2026). A Discourse Analysis on the Performance of ‘Feminine Energy’ Narratives on TikTok. Journal of English Language and Education, 11(1), 182–205.

Rahmawati, L., Hasanah, W., Agustin, M., Putri, F. A., & Faruq. (2023). Stereotip Gender dan Kesejahteraan Perempuan. Ijougs: Indonesia Journal of Gender Studies, 4(2), 1–20.

Rainanda, S., & Saifudin, W. (2025). Penerimaan gen z tentang feminine dan masculine energy pada tikTok @feminiyou sebagai strategi hubungan PDKT. Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian, 11(2), 502–519.

Salsabila, R., Kuarnina, Q., & Bangsa, D. M. B. (2025). Toxic Masculinity dan Toxic Femininity terhadap Mental Health Outcomes. Prosiding Simposium Penelitian Sarjana, 3(1), 252–262.


메타데이터
post_id
e06a4dedee40
slug
romantisasi-tren-feminine-energy-e06a4dedee40
url
https://medium.com/@safiraamaliasp/romantisasi-tren-feminine-energy-e06a4dedee40
canonical_url
https://medium.com/@safiraamaliasp/romantisasi-tren-feminine-energy-e06a4dedee40
author_url
https://medium.com/@safiraamaliasp
status
ok
fetched_at
2026-08-06 09:04:47