Why was life so fun when I was a child?
Why was life so fun when I was a child?

IVY
“Selamat hari ibu, Ayah!” Kecupan hangat mendarat di kening dan pipi Ayahku di pagi hari ketika aku baru bangun dari tidur. Setiap tanggal 22 Mei, ayah akan cuti dari pekerjaannya untuk menghabiskan waktunya bersama-ku di rumah. Dari mulai belajar membuat kue, nonton film, menghabiskan waktu di Mall seharian hanya berdua bersama, meskipun hari hari lain juga aku akan bersama Ayah di rumah sakit menunggunya selesai bekerja. Hari ini adalah hari kesukaanku bersama Ayah, karena aku tidak perlu menunggu Ayah selesai bekerja untuk bicara dengannya. Aku bisa bicara sepuasnya di hari ini bukan hanya menatapnya sibuk bersama suster dan pasiennya di rumah sakit.
“Selamat pagi, Ivy…. Selamat hari ibu.” Ayah balas mencium keningku sambil tersenyum menatapku, saat itu tahun 2007 atau 2008. Aku memegang satu toples berisi uang kertas lima ratus perak bergambar monyet orangutan. Uang itu lucu sekali, jadi setiap pagi aku akan diberi uang saku seribu lima ratus yang dapat dibelikan nasi uduk, es jelly, es balon, getuk, cenil, siomay dan juga es-krim. Lima ratus akan masuk ke dalam celenganku, dan seribunya aku belikan jajan sepuasnya.
Kalau Keva datang, dia juga akan ikut memasukan uang lima ratus perak bergambar monyet itu ke dalam celenganku. Dan aku selalu berterima kasih untuk itu.
“Wangi banget masakan Ivy!” Davka menoleh ke arah-ku dan Tante Linda yang masih sibuk masak rendang ayam, ikan goreng dan sayur asem. Sementara Davka, Keva bersama om Malik duduk di meja dapur main catur.
“Hari ibu harusnya ibu yang dimasakin, Davka.” Tante Linda protes, sebab merayakan hari ibu di rumah hari ini justru tetap beliau yang masak.
“Selamat hari ibu ya ibu cantik.” Tante Linda tersenyum hangat menanggapi pujian Davka. “Aku nggak bisa masak bu, yang ada sakit perut dong…. Suruh aja Jani daripada bobo.”
Jani sepertinya ngantuk sekali, sebab pertama kali datang dia kelihatan ngantuk, jadi kusuruh dia tidur di kamarku.
Sebelumnya aku nggak pernah merayakan hari Ibu bersama Ibu, selalu bersama Ayah. Belajar membuat kue namun tidak pernah berhasil dan berakhir memilih makan di luar. Hari ibu buatku adalah belajar memasak bersama Ayah. Dan itu menyenangkan, namun setelah kepergian Ayah, sudah bertahun tahun aku nyaris lupa rasanya merayakan kebahagian setiap tanggal 22 Mei.
Namun hari ini, perayaan hari ibu milikku sedikit berbeda, sebab aku merayakannya dengan seorang Ibu, dua bocah laki laki, satu bapak dan satu anak perempuan.
“Tante suka kue bolu nggak?” Kataku bertanya.
“Suka…. Kenapa gitu?”
“Kalau aku buat sekarang habis nggak kira kira?”
“Kamu bisa buat kue?”
“Ivy jago semuanya Bu. Dia bilang mau buka usaha nasi padang sama toko kue.” Celetuk Davka.
“Heh?” Aku melotot kepadanya, dia jago sekali mengarang cerita.
“Wah iya? Hebat sekali. Ibu mau dong jadi pelanggan nomor 1.”
“Ibu sih nomor 2. Nomor satunya udah aku booking.”
“Kayak punya duit aja.”
“Punya, pinjem sama Keva.”
“Rugi dong.” Balas Keva tidak setuju. “Kalau pakai duit gue, itu artinya pelanggan nomor 1 Ivy, gue.”
“Mampus wleeeee.”
“Ya kalau gitu minta bapak aja, yakan pak, dibanding buat beli burung?”
Gelak tawa di rumah menjadi lebih pecah ditemani candaan menunggu makanan jadi.
“Kalau gitu Ibu aja yang masak, Ivy bikin kue aja. Biar gak capek, nak.”
“Tante suka bolu pisang?”
“Sukaaaaa sayang.” Balas tante Linda lembut.
Saat tengah asik membuat kue dibantu oleh Keva dan Davka aku bertanya pada keduanya, “boleh nggak kuenya aku tulis selamat hari ibu?”
“Boleh.” Balas Davka.
“Dihias kayak gini bisa, Vy?” Keva menunjukkan refrensi cake yang akan kami hias.
“Bisa.”
“Ini aja mau nggak?”
“Mauuuuuu.” Kataku dan Davka barengan.
“Kompak banget, lagi diskusiin apa, bapak kok ndak diajak?” Om Malik dari sofa ikutan berjongkok di hadapan kami bertiga.
“Ivy lagi bikin kue buat ibu.” Balas Davka bisik bisik.
“Kan tadi ibu udah tau, kenapa harus bisik bisik?”
“Yang ini kue untuk ngerayain hari ibu.” Balas Keva juga berbisik.
“Jadi bapak nggak boleh berisik.” Davka menambahi. “Bapak di sana aja nonton Tv.”
“Ndak mau ah, bapak mau bantuin ibu masak.”
“Widih, tumben.”
“Suami yang baik.” Kata om Malik tersenyum bangga sambil menaikan kedua alisnya. Aku seperti melihat copy paste Davka dari gelagat Om Malik sekarang. “Gak sabar liat ibu seneng makan kue buatan Ivy.” Sebelum pergi Om Malik mengusap kepalaku lembut.
Aku terkejut karena Jani sudah bangun dan menghampiriku. “Kak, kamu punya banyak banget uang lima ratus perak monyet orangutan. Koleksi ya?”
Anjani berjongkok di depanku.
Davka dan Keva sepontan menoleh menatap toples di tangan Jani.
Keva menatapku bergantian bersama toples itu.
“Ini celengan.” Kataku. “Aku nggak pernah tahu kalau uang monyet akan jadi barang lama. Dulu aku cuma suka menabung pakai uang itu soalnya lucu.”
“Oh, banyak banget kak, kalau dijual bisa nggak sih?”
“Bisa!” Davka menjawab, “ di pasar baru tujuh ribu kayaknya kalau dijual satu lembarnya.”
“Tuh ini banyak banget.”
“Hahahahah nggak untuk dijual.” Balasku menutup pembicaraan.
“Coba liat.” Davka mengambil toples tersebut dan membuka tutupnya. Di balik tutup tersebut ia akan melihat tulisan yang tertempel di kertas bertuliskan; Celengan Ivy dan Keva.
“Bang Keva tuh temen kak Ivy dari kecil?” Anjani penasaran setelah melihat nama Keva di celengan tersebut.
“Iya.” Bukan aku yang menjawab, melainkan Keva.
“Toplesnya mirip sama toples memori punya Davka di rumah. Bedanya punya Davka nama kak Ivy.”
Davka diam tidak menanggapi. Ia memilih membantuku menghias.
“Aku juga punya. Ada nama Davka di toplesnya.” Meskipun tetap pada posisi semula menunduk, aku dapat melihat senyum yang Davka coba sembunyikan dariku.
“Semua orang kalau lagi senyum tuh bikin lega ya?” Kataku mencoba membuatnya bicara.
“Siapa?”
“Kamu…..”
“Aku nggak lagi senyum tuh… tapi kenapa jadi lega.” Dia cemberut.
“Gak tau.”
“Kenapa cepet bilang.”
“Hmm…….” Aku mencoba berpikir pura pura membuatnya mati penasaran. “Hahahaha khawatir, kamu cemberut gitu bikin aku kepikiran.”
“Apa yeeee jago banget gombal sekarang.” Dia membekap kedua pipiku sampai aku juga ikut cemberut.
“Lepas, ayo lanjut hias kue.”
“Gak mau.”
“Davka.” Aku melotot.
“Jelek banget.” Diusapnya wajah Davka dengan tepung.
“AAAAA MUKA GUE!!!!” Davka teriak di telinga Keva yang masih tertawa sehabis usil.
“Mong, cepet bikin kuenya.” Keva belum berhenti tertawa.
“Emang sialan ya lo.”
“Yeh si cemong.”
“Asli lo kalau lagi kumat jailnya ngeselin banget.” Gerutu Davka.
Masih tertawa mataku menatap Davka, di rambutnya banyak tepung, beberapa helainya menjadi putih seperti uban. Davka menunduk mendekat ke wajahku. Kuusap rambutnya dengan tanganku yang bersih. Kemudian gantian dia yang membersihkan rambutku, sebetulnya Davka sengaja menempelkan tepung itu di rambutku, lalu ia bersihkan sampai bersih sambil menunggu kue buatan kami matang.
Semua masakan sudah jadi, Ibu, Bapak dan Anjani sudah menunggu di meja makan. Sementara aku, Davka dan Keva masih di meja dapur menyiapkan lilin untuk ibu tiup sebagai tanda perayaan hari ibu hari ini.
“Ibu, selamat hari ibu.”
Tante Linda di sana tersenyum. “Loh cake ulang tahun.”
“Bukan kue ulang tahun ibu!” Davka mengaduh mendengar tante Linda Bicara.
“Make a wish dulu….” Keva menginterupsi sebelum ada drama lain.
Sebelum meniup lilin, tante Linda berdoa. “Semoga tahun depan kita bisa merayakan hari ibu sama Ivy dan Keva lagi.”
“AAMIINNNNNNNNNN.”
Aamiin. Kataku dalam hati berkali kali.
“Habis makan, kita nonton TV terus tidur ya. Ibu sama Ayah nginep di sini malem ini.” Aku menatap keduanya bergantian. “Ibu tidur sama Ivy.”
“Bapak tidur sama Keva.”
“Tidur bertiga emang muat ya?”
“Siapa bilang bertiga?”
“Aku juga tidur di kamar Keva.” Davka merangkul Keva. “Rumah Keva udah kayak rumah kedua buat Davka.” Gesturnya penuh bangga di depan bapak – Mengundang tawa semua orang.
“Aku juga toh udah jadi bapak kedua buat Keva.” Om Malik mengikuti apa yang Davka lakukan – merangkul Keva.
“Coba tanya Keva mau nggak punya bapak yang suka beli burung?”
Tanpa menjawab Davka pergi meninggalkan keduanya. Bapak dan anak ini hanya bisa melongo menatap punggu Keva.
“Loh kok pergi dia?” Tanya Bapak.
Davka menjawab, “Itu tandanya dia nggak mau lah punya bapak yang suka beli burung dara.”
Dari kejauhan, Keva gagal menahan tawa.
“Emang cuma Keva yang paling waras, lainnya pasien semua.” Ujar Ibu.
Tante Linda memeluk Davka dan Anjani bergantian. Kemudian mendekati aku dan Keva. Beliau memeluk kami, mencium kening kami dan mengusap rambut kami dengan sangat lembut.
“Makasih ya, selamat hari ibu anak anak.” Aku tahu Keva menahan tangis ketika mendengar Tante Linda mengatakan itu. Aku tahu… ini adalah kebahagian yang tidak bisa kita rasakan jika aku tidak bertemu Davka.
Melihat Davka – mengingatkan ku pada bunga teratai, dia kehangatan, kebahagian, ceria dan lembut. Mengenalnya membuatku percaya pada indahnya keramaian, pada indahnya jeda, pada menyenangkannya pembicaraan, pada mimpi, pada tindakan menjaga harapan, pada hari-hari yang lebih baik, pada perkenalan dengan mereka, pada kekuatan persahabatan dan perhatian untuk saling menjaga satu sama lain. Semoga hubungan ini akan ada sepanjang tahun, semoga aku bisa selalu menyapanya bahkan ketika kami tidak lagi banyak bercengkrama.
“Aku sama Jani tidur di kamar tamu aja.” Kita semua menoleh ke arah Davka. Bahkan Jani yang namanya disebut kebingungan.
“Kayaknya ibu bosen banget liat aku sama Jani, jadi seharian sampai besok Ibu punya Ivy, Bapak punya Keva… kalau sehari kurang asal ibu kuat ngurus empat anak cantik dan keren silahkan.”
Kami tidak menanggapi apa pun, semua orang hanya menatap Davka.
“Sejak kapan dia tumbuh dewasa?” Ibu dibuat kagum dengan cara bicaranya.
“Ya masa kecil terus? Udah kuliah ni bos.” Ia memukul dadanya hangga. “Ibu….. jangan takut ya. Davka nggak akan jadi malin kundang dan lupain ibu kok.” Tante Linda dibuat tertawa lagi oleh tingkah anak laki laki pertamanya yang sudah dewasa.
Setelah selesai makan aku duduk sebentar di balkon mencari udara segar dan menikmati kebahagian hari ini. Keva ada – duduk di sebelahku.
“Gue selalu berterima kasih sama Davka.”
Aku menatap Keva dan aku menyetujui apa yang ia katakan. “Punya orang lain selain kamu nggak pernah aku pikirin sebelumnya. Sampai Davka dateng…. He’s like temen yang susah diatur, tapi disatu sisi dia asik, dia hangat, dia perhatian.”
Aku mengangguk lagi menyetujui kalimatnya.
“Davka kayak taman hiburan, tempat gue bisa main tanpa takut sendirian. Tempat gue bisa lupa sama semua kemalangan hidup, pelarian dari semua kesedihan di rumah ini.”
Keva menatapku.
Aku diam.
“Harusnya…. Kalau Davka bisa bikin kamu sebahagia ini, aku kenalin dia dari lama sama kamu.”
Aku tidak tahu kemana arah pembicaraanya, aku hanya mendengarkannya. Tatapan matanya teduh, wajahnya datar, namun aku bisa melihat semua perasaan yang ia miliki untukku dari cahaya matanya. “But i can’t let you go. Satu satunya alasan aku pulang ke rumah cuma kamu.”
Kata-katanya ibarat penari serempak yang menari serentak di bawah hujan yang tercurah dari dirinya.
“Gak tau apa pun dari kamu selalu bikin aku bertanya-tanya. Sejak kapan hubungan kita jadi jauh? Kenapa aku malah bikin kamu takut bukannya harusnya aku lindungin kamu.”
Keva adalah orang pertama yang pernah aku kenal as person dalam hidupku.
“I heard my feeling aren’t supposed to be so wished I could hate you, but i can’t, i can’t hate you.”
I cant hate him too.
“Liat kita sekarang… I really kangen masa kecil kita. Rasanya seperti berhenti mendengar suara mama yang bertanya, di mana Ivy pacar kecil Keva?”
Aku tertawa, menahan tangis.
“Masih inget kan?”
Dan aku mengangguk.
Kenapa masa lalu terasa menyenangkan? Kenapa masa kecil harus menjadi fase sebuah kotak memori orang dewasa merindukannya?
“Mama tahu dari dulu.”
“Apa?”
“Aku suka sama kamu….”
Terkejut bukan main, nggak menyangka anak ini bisa segamblang itu bicara lebih banyak lagi. Ke mana perginya Keva yang pendiam?
“Kok kaget nggak tahu?”
Aku menggeleng…. Aku nggak pernah tahu kalau Keva suka aku saat kecil!
“Hahahaha semua orang tahu kecuali lo kalau gitu.”
Apakah hanya aku yang canggung, Keva terlihat biasa saja, tidak ada keraguan juga kecanggungan dalam dirinya untuk melihatku, sementara sejak tadi aku hanya menghindari tatapan mata darinya.
“Bloon.” Dia menepuk kepalaku pelan.
DAN APA INI???
Jantungku berdegup kencang sekali, aku ingin segera pergi dari sini.
“Ivy.” Panggilan Davka membuatku menoleh, dia membawa salep luka dan hansaplast. “Tadi aku liat tumit kamu berdarah diobatin dulu yuk.”
“Ngapa lu?” Davka melirik Keva di kursi sebelah.
“Nemenin Ivy.”
Davka mengangguk dan membawaku ke dalam. “Kev, itu gue tadi beli sate ayam makan dulu gih. Bapak sama ibu lagi makan juga tuh.”
“Ya, duluan. Gue nyebat dulu.”
Aku ikut Davka ke dalam. “Beli baru ya salepnya?”
“Sekalian mampir tadi ke apotik.”
Aku menatap Davka yang mengobati luka luka di kakiku. Dia selalu jadi orang pertama yang tahu luka diriku.
Heels bukan hanya jadi object menyalahkan diri sendiri, tapi juga sebagai harapanku pada Keva, tidak seharusnya aku berharap setinggi itu padanya – melihatnya setiap hari di rumah membuatku berharap sedikit saja untuk dia bertanya tentang semua luka di kaki ku. Alih alih berkata “nanti beli heels baru gue beliin.”
Meskipun begitu, seperti apa katanya, aku juga nggak akan pernah bisa membenci Keva.
“Emang kamu abis kemana kok pake heels lagi?”
“Beli bunga kamarin.”
“Kalau heels-nya aku bakar semua kamu nangis gak?”
Dan rasanya berbeda dari kalimat, “yaudah beli heel sama gue aja.” Berbeda in a good way.
“Nangis.”
Nggak.
“Masa?”
“Yaudah sendal jepitnya aja aku bakar, lagian nggak pernah kamu pake.”
“Aku juga nangis.”
“Kenapa nangis?”
Aku mengingat kalimat yang Davka katakan untukku. Yang berhasil membuatku tenang. “Ketika kamu sedih dan kepengin ada orang lain yang tahu kalau kamu lagi sedih, panggil aku, walupun nggak akan bikin kamu diem, aku akan terus duduk di samping kamu temenin kamu di sana dan kasih kamu tisu setiap kamu butuh.”
Davka dengan segala perhatiannya.
“Ada aku harusnya nggak nangis dong. Nanti aku bisa obatin lagi lukanya.”
Aku mengusap rambut Davka.
“Aku sebenernya bingung dan marah juga.” Kamarku menjadi saksi di mana semua kata kata Davka membuatku melupakan kekacauan hatiku barusan yang disebabkan oleh Keva. “Kamu suka heels, mau aku bilang berhenti dulu sampai kakinya sembuh tetep kamu pake juga. Jadi yang bisa aku lakuin cuma obatin setiap kamu dapet luka lagi….”
Davka dan ketulusannya.
Ia mendongak menatapku, kami bertatapan cukup lama. Aku tidak pernah takut menatap mata Davka, aku tidak pernah merasa canggung bersama Davka.
“Aku suka kamu perhatiin.” Kataku jujur, aku suka bagaimana Davka selalu membuatku tenang. “Aku suka kamu selalu kasih aku ketenangan.”
Dan aku juga berharap you didn’t get hurt because you treated me.
“Ka… jangan sakit.” Kataku menatapnya.
Dia menatapku kebingungan. Namun bukan Davka namanya kalau kehabisan kata kata. “Aku tuh Eren Yeager, gak mungkin sakit.” Aku diam tidak berniat meladeni candaannya. Sekarang dia duduk di sampingku. “Aku gak akan sakit selain dipukul Goku.”
“Goku doesn’t exist in real life.”
“Nah itu dia, karena Goku fiksi… aku gak akan kenapa napa. Tenang aja.”
“Kamu tahu gak kenapa semua yang ada di masa lalu selalu jadi kenangan yang manusia kangenin dan berharap bisa ke sana lagi, contohnya masa kecil.”
“Kita kangen karena itu sudah jadi kenangan dalam hidup kita.”
Aku mengangguk menyetujui.
“Dari kapan kamu mikir pengen balik ke masa kecil?”
“Sekarang… aku kangen hari Ibu ada Ayah.” Kataku jujur.
“Besok mau ke Ayah?” Ajak Davka.
“Bukan hari selasa boleh?”
“Boleh.”
Dan aku mengangguk sembari berterimakasih.
“Vy, kamu tahu kenapa anak kecil selalu pengen cepet tumbuh besar?”
Aku menggeleng tidak tahu.
“Meskipun anak kecil belum kenal yang namanya harus bertahan hidup di tengah kompetisi dunia. Anak kecil tetep pengin tumbuh besar. Kamu percaya kalau anak kecil sudah punya innerchild sejak pertama kali mereka ngerti mainan apa yang dimau, makanan dan tempat yang nggak bisa didatengin?”
“Nggak tahu, aku malah baru denger ini.”
“Aku juga baru ketemu jawabannya sekarang.” Balas Davka jujur.
“Kenapa?” Dan aku selalu ingin mendengar isi kepalanya bicara.
“Tumbuh besar untuk mereka wujudin apa yang nggak bisa dilakukan hari kemarin. Tumbuh besar untuk punya kehidupan yang lebih baik, tumbuh besar untuk berani izin ke papa atau ibu main di atas jam 8 malam. Tumbuh besar untuk kerja, gapai cita cita dan membeli semua jenis barang yang dia mau dulu saat papa dan mama nggak punya uang.” Davka menatapku lembut. “Untuk anak kecil hidup di masa itu nggak gampang Ivy, tapi dari kaca mata orang dewasa menjadi anak kecil terasa gampang dan menyenangkan.”
Davka benar, semua anak kecil punya cita cita mulia, mereka berharap banyak pada masa depan untuk mewujudkan apa yang tidak bisa dilakukan dulu. Dulu aku juga begitu, aku ingin cepat besar untuk berani bicara pada orang lain selain ayah, aku ingin cepat besar karena melihat ayah bisa berbaur dengan semua hal tanpa canggung membuatku ingin melakukannya juga. Namun saat itu menjadi kecil membatasi diriku untuk tidak bisa melakukannya seperti ayah jadi aku ingin cepat besar.
“Masih belum paham? Gini…. Anak kecil juga struggle, harus berlajar 1 + 1 = 2.” Aku mengangguk paham. “Anak kecil juga kalau nggak bisa ya nangis... Satu tambah satu untuk orang seumuran kita gampang, karena semakin bertambahnya usia kita banyak belajar dan pinter. Dan ketika melihat anak kecil yang bahagia sama hal sederhana sesederhana main tamia, sesederhana bisa 1 + 1 = 2 – orang dewasa juga mau kayak gitu lagi. Kenapa main tamia untuk orang dewasa terasa sederhana? Karena usia kita udah punya uang. Kita tahu mana yang sulit dan mudah, udah gak cukup tamia lagi untuk bahagia. Tapi anak anak? Mereka nggak punya uang, ketika dibelikan pasti hatinya akan senang sekali.”
“Jadi apa yang bikin kita pengen balik ke sana?” Kataku.
Davka menjawab. “Harapan.”
“Kenapa harapan?”
“Kita berharap bisa melakukan dan merasakan itu lagi untuk pertama kalinya. Itu terasa sangat membahagiakan ketika dilakukan pertama kali.”
Semua hal yang sudah dilakukan berkali kali akan menjadi mudah dan berakhir bosan. Orang dewasa yang melihat situasi anak kecil begitu mudah untuk bahagia sebab kita sudah pernah menjadi mereka, kita pernah bahagia dengan uang lima ratus perak monyet orangutan. Kita pernah bahagia ketika dibelikan penghapus barbie warna pink.
Dewasa sama seperti bayi baru belajar berjalan, kita berpikir nggak bisa karena berjalan terlalu sulit. Namun ketika kita sudah bisa, sudah berkali kali gagal dengan berbagai macam rintangan dan banyaknya experience, berjalan menjadi hal paling mudah untuk dilakukan.
Sama seperti ketika orang dewasa melihat anak anak dan bergumam, enak banget jadi kecil nggak ada beban, nggak pusing harus mikirin ini, itu. Kangennya mau kembali jadi anak anak saja.” Kita menginginkannya karena kita sudah mulai melupakan perasaan yang pernah begitu membahagiakan.
Perasaan mungkin bisa hilang, tapi kenangan akan terus di sana, di tempatnya.
Bicara dengannya membuatku melupakan kegundahanku barusan bersama Keva.
“I can’t believe childhood is over.” Aku bukan hanya kecewa, tapi juga sedih.
Davka mengusap kepalaku pelan, “Nggak ada waktu yang lebih baik dari masa sekarang.”
Aku menutup cerita hari ini dengan senyuman, dokter Emma menatapku bersama kelembutan dirinya. Dari semua konsultasi hari ini dokter Emma tahu alasan kenapa aku membawa sendal jepit di tasku kemana mana.
Davka….
메타데이터
- post_id
- e09d9f9bc850
- slug
- why-was-life-so-fun-when-i-was-a-child-e09d9f9bc850
- url
- https://medium.com/@cerillines_/why-was-life-so-fun-when-i-was-a-child-e09d9f9bc850
- canonical_url
- https://medium.com/@cerillines_/why-was-life-so-fun-when-i-was-a-child-e09d9f9bc850
- author_url
- https://medium.com/@cerillines_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 14:27:56