Kerja Pertama
[39] Pengalaman dapat upah pertama
Kerja Pertama
[39] Pengalaman dapat upah pertama
Photo by mostafa mahmoudi on Unsplash
Ini pengalaman saat kuliah dulu, tahun pertama. Saya bekerja menjahit buku. Literally menjahitnya.
Teman indekos mengajak saya mengerjakannya. Maksud dari buku tersebut adalah kuras-kuras, digabungkan jadi satu buku dengan cara menjahitnya dengan benang. Proses ini dilakukan sebelum buku itu dikasih sampul. Biasanya dikerjakan untuk buku-buku yang tebal. Saya masih ingat penerbitnya, tapi tidak perlu disebutkan di sini.
Belakangan saya tahu, penjilidan buku tebal dengan jahitan ini jauh lebih kuat daripada sekadar direkatkan dengan lem. Berkat jahitan tersebut tiap kuras jadi kokoh terikat satu sama lain, ditambah lem yang merekatkan buku dengan sampulnya.
Saya tergolong pekerja yang lamban. Satu jam kerja paling cuma dapat tiga buku. Teman saya sangat gesit. Dia menusuk jarum jahitan ke tengah-tengah kuras buku dengan kecepatan profesional, hasilnya rapi pula. Usut punya usut, ternyata dia sudah berkali-kali dapat kerja jahit buku ini. Dia memang mahasiswa juga, tapi kondisi ekonomi menuntutnya untuk bekerja serabutan. Istilah orang sekarang: gig worker.
Seingat saya, upah kerja jahit buku ini dihitung per buku, tapi saya lupa berapa jumlahnya. Yang jelas tidak banyak, tapi sudah cukup lumayan bagi mahasiswa yang cari tambahan uang.
Jangan dikira jahit buku ini pekerjaan mudah. Ini adalah pekerjaan yang butuh energi besar. Setelah seharian mengerjakannya, besoknya saya sakit demam. Greges kata orang Jawa. Mungkin karena terlalu capai, bisa jadi pula karena hal lain. Yang jelas, saya ingat betul betapa melelahkan pekerjaan ini.
Setelah saya sembuh dan bugar kembali, datang kabar baik. Teman saya tadi menyerahkan upah kerja jahit buku pada saya. Inilah upah pertama yang saya terima. Inilah pengalaman pertama saya jadi buruh. Upahnya tergolong kecil, tapi tidak bisa dimungkiri saat itu saya senang. Saya dapat tambahan uang jajan.
Semasa kuliah, saya tergolong beruntung. Saya tidak khawatir soal biaya kuliah dan hidup di tanah rantau. Orang tua saya menyediakannya. Dengan biaya hidup dari orang tua, saya tidak punya kendaraan pribadi dan tidak punya ponsel. Jadi tidak bisa dibilang berlebih, tapi cukuplah. Dengan gaya hidup sederhana, saat itu kebutuhan saya sudah terpenuhi.
Teman indekos tadi keadaannya berbeda. Biaya dari orang tuanya tidak mencukupi untuk hidup di tanah rantau, biaya kuliah pun kadang dikirimi, kadang pula tidak. Maka kerja serabutan adalah jalan keluarnya untuk bisa bertahan hidup dan menyelesaikan kuliah.
Saya mengenal banyak teman yang keadaannya serupa. Ada sebagian yang tidak dikirimi uang sepeser pun oleh orang tuanya. Bukan berarti orang tuanya tidak peduli, tapi si anak ini ngotot mau kuliah di daerah yang jauh. Jadi mau bagaimana lagi, orang tuanya terpaksa merelakannya pergi mengadu nasib sendiri. Mereka kerja apapun yang bisa dikerjakan. Ada salah seorang teman yang kerjanya jadi juru pijat panggilan. Teman satu ini pernah ikut jadi kuli di kampus saat ada pembangunan gedung.
Kepada orang-orang seperti ini, saya senantiasa merasa iri dan kecil diri. Mereka begitu tangguh menjalani hidup. Mereka terlihat seperti raksasa di mata saya, sedang berjalan menyusuri onak dan duri kehidupan. Sedang diri ini, yang apa-apa sudah disediakan orang tua, terasa seperti bocah kecil yang sangat girang dibelikan lolipop. Kerdil sekali![]
메타데이터
- post_id
- e0b95cde85eb
- slug
- kerja-pertama-e0b95cde85eb
- url
- https://medium.com/@hilalalify/kerja-pertama-e0b95cde85eb
- canonical_url
- https://medium.com/@hilalalify/kerja-pertama-e0b95cde85eb
- author_url
- https://medium.com/@hilalalify
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 12:47:27