Berteman dengan Perpisahan
Waktu terus berjalan dan alam semesta hidup sebagaimana mestinya. Tidak sengaja aku melihat kalender di ponselku dan mendapati waktu telah…
Berteman dengan Perpisahan

Berteman dengan perpisahan | Hipwee
Waktu terus berjalan dan alam semesta hidup sebagaimana mestinya. Tidak sengaja aku melihat kalender di ponselku dan mendapati waktu telah memasuki bulan Mei di tahun 2024.
Sungguh tak pernah kukira kalau sudah selama itu, iya sudah selama itu aku berpisah dengan sosoknya yang mengukir kebahagiaan di dalam hati. Tidak pernah aku melupakan sedetik pun momen setelah kita memutuskan untuk mengambil jalan masing-masing di bulan November 2023.
Aku memang tidak berencana melupakan, aku menghargai memori dan kenangan. Orang bijak tidak akan pernah menghapus masa lalu, karena ia tumbuh dari kesalahan dan hari kemarin. Tak perlu khawatir, aku selalu menyimpan yang baik dan tidak ada ruang untuk dendam seperti yang apa yang sering dilakukan oleh para pecundang yang memelihara dengki.
Percaya atau tidak, sejak hari itu aku benar-benar terus merindukan sosok pemilik senyum lesung pipi manis yang tidak ada duanya itu. Kala aku mendapati sosoknya telah tersenyum karena orang lain, aku terus berdoa untuk kebahagiaannya.
Ada waktu ketika aku menikmati setiap momen yang hadir dengan perasaan penuh getir di dalam dada. Adalah sebuah kebohongan jika aku mengatakan bisa melaluinya dengan mudah. Suka tidak suka, aku memilih berteman dengan perpisahan. Katakanlah aku ini menghamba proses, aku menghargai pilihannya yang tidak ingin tahu menahu soal diriku dan menghapus segalanya tentangku. Aku menikmati setiap detik yang berat hadir dalam hidupku dalam kehampaan dan pelukan sang Ilahi tatkala semua orang sedang terlelap.
Kamu tahu? Beberapa waktu lalu, tepatnya 27 April 2024, Joko Pinurbo pergi menghadap Tuhan. Aku memutuskan berpuisi untuk menemani kepergian sang penyair.
Aku mendapati keresahanku ternyata masih tentangmu. Tak apa, biarlah ini menjadi penghormatanku untuk seniman yang membantuku mencintai Yogyakarta.
Aku mengunggahnya ke sosial media dan beberapa orang menyukainya. Maukah kamu membacanya kali ini? Puisi ini judulnya Senyum.
Baik, ini dia.
Senyum
Saat aku bilang cantik,
Yang terbayang adalah senyummu yang menawan.
Sayangnya,
Senyum manis itu tak lagi untukku.
Tak apa,
Aku lebih memilih agar engkau selalu bisa tersenyum.
Setidaknya,
Dunia tetap bahagia meski aku bukan lagi alasan dari senyummu.
-Raya
Malam ini aku menulis karena aku merasa berteman dengan perpisahan itu sangat menguras tenaga. Tapi ternyata, mungkin berdamai dengan kepergian adalah suatu langkah yang bijak. Memang tidak pernah mudah, tetapi aku benar-benar menghadapi semua perasaan itu dan berusaha untuk menikmatinya.
Di malam yang dingin ini, akan kuakhiri isi kepalaku yang tidak tahu harus aku sampaikan atau ceritakan ke siapa dengan sebuah doa dan harapan agar segala kebaikan dan kebahagian selalu menyertai. Sehat selalu.
P.S Aku beberapa waktu lalu terkena flu Singapura. Selamat Malam.
메타데이터
- post_id
- e0edcd602c56
- slug
- berteman-dengan-perpisahan-e0edcd602c56
- url
- https://medium.com/@raizry/berteman-dengan-perpisahan-e0edcd602c56
- canonical_url
- https://medium.com/@raizry/berteman-dengan-perpisahan-e0edcd602c56
- author_url
- https://medium.com/@raizry
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 22:07:57