← Back to list

“Terima kasih” katanya

“KITA MENANG, Kamu Berhasil!” Itu seruan yang akhirnya meruntuhkan segala pondasi penahan air mata ku, yang sudah terbangun sejak awal aku…

Showrunnerr · 2024-11-06 12:14 · 0 claps · 9.8 min read
#friendship #happy #sad #peluk #kenangan
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

“Terima kasih” katanya

“KITA MENANG, Kamu Berhasil!” Itu seruan yang akhirnya meruntuhkan segala pondasi penahan air mata ku, yang sudah terbangun sejak awal aku memutuskan untuk mengambil resiko menjadi Ketua Pelaksana kegiatan ini.

Cerita ini bermula saat sore itu, ditengah rintik hujan yang tengah membasahi tanah Sekretariat Himpunan Mahasiswa. Aku disana, duduk melingkar dengan manusia lainnya yang berada 1 tahun diatas ku. Sudah terbaca olehku gelagat orang-orang itu, mereka pasti menginginkan sesuatu dari ku. Tenang saja, ini tidak dalam konotasi yang berbahaya, namun cukup beresiko kataku dalam hati. Kalimat yang hingga hari ini masih ku ingat jelas percakapannya, “InsyaAllah saya siap, Bismillah” sebuah tanggung jawab sudah siap menanti disana, saya membayangkan wajah manusia lain dengan tatapan yang berbeda-beda, mungkin ada yang lega, tidak suka, bahkan kecewa. Tapi saya mencoba menghadapinya dengan gagah.

Tatapan itu, kecewa ternyata, bukan perihal terpilihnya aku, melainkan karena keputusan ku memilih mereka untuk menemaniku dalam perjuangan ini agaknya membuat mereka kecewa. Sedih? tentu saja, menyesal pun sudah tidak bisa ku lakukan. Dengan getir dan air mata yang siap tumpah kapanpun aku tersenyum, menggenggam masing-masing jemari itu seakan berharap dan menguatkan. Aku sadar bahwa perjalanannya tidak akan mudah, tapi aku yakin kita bisa menyelesaikannya, kataku harap-harap ucapan ku menjadi mantra yang menembus langit dan mengetuk pintu Yang Maha Kuasa.

Ku pikir awalnya hal itulah yang membuatku ragu akan diriku, tapi ternyata DUARR bagai petir disiang bolong, masih ada harga yang perlu kubayar ternyata untuk berjalannya kegiatan ini. Aku diharuskan siap untuk kehilangan, siap dipisahkan dengan orang-orang yang ku sayang. Sesuai dugaan hal itu begitu membuat diriku tertekan oleh keadaan, menyalahkan diri sendiri, merasa ga pantas, dan rasa ingin menyerah. Aku terpuruk tapi tak ku sangka dampaknya akan separah ini, lagi-lagi masih ada yang harus ku bayar untuk itu. Aku jatuh sakit yang berakibat aku harus meninggalkan kota ini untuk diopname.

Panjang perjalanan membuat aku perlahan berdamai dengan semuanya, hanya 1 yang aku pikirkan, doakan dan harapkan selalu. MAKRAB ini cepat selesai. Kamar berukuran 3x3 meter itu menjadi saksi bisu tangis lirih yang setiap malam selalu menggema, kamar yang biasanya tertata walau tak rapih berubah menjadi seperti tempat sampah, tak terurus, baju berserakan dimana-mana, barang tidak pada tempatnya, dan rontokan rambut yang luruh dari kepala yang menyimpan beban. Rasanya lelah setelah berperang, sampai kos berujung tangis. Itu terjadi hampir 1 bulan penuh.

Tuhan memang membuat beberapa orang pergi dari hidupku, tapi bukan tanpa alasan, Tuhan ternyata menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Rasa syukurnya sampai tak terhitung, aku yang kemarin tenggelam perlahan naik kembali ke permukaan berkat hadirnya mereka. Aku kembali dengan lebih baik dan jauh lebih utuh, hal-hal yang terlihat mustahil sebelumnya menjadi sangat mudah saat kita gantungkan setiap harapan pada Yang Maha Kuasa. Iya, setelah banyaknya kejadian aku memutuskan tidak lagi berharap pada mahkluk ciptaan Tuhan berbentuk MANUSIA, ku harapkan semuanya kepada Sang Pencipta (menghindari kekecewaan)

Aku sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan hadir didepan sana, walau luka tidak pernah sepenuhnya kering, sebab tak pernah bertemu penawar. Lukanya hanya siap ku bagi agar rasanya tidak semenyakitkan awal. Firza (ah akhirnya namanya ku sebut) pendengar pertama yang tangannya ikut gemetar seiring tangis ku malam itu di depan kos sambil membagi luka yang lama kupeluk sendirian. Pelukan itu begitu hangat mendekapku kencang seakan memastikan bahwa aku akan tetap kuat sampai akhir, seolah memberiku uluran tangan ditengah gelapnya lorong yang entah akan membawaku kemana. Firza memelukku dengan membisikkan mantra yang ku harapkan sejak awal “ada aku Dap, chat aku, telfon aku waktu kamu kacau, aku disini buat kamu”. Rasanya malam itu adalah malam dengan tidur yang lebih baik dibanding malam-malam sebelumnya, malam itu ku tutup dengan senyum lega, walau belum terobati setidaknya Firza mencoba menutup lukanya agar aku tidak melihatnya untuk beberapa waktu.

Aku ini anak gadis Mamah yang lemah, setelah keluar opname ga ada waktu untuk bisa mengadu apa yang aku hadapi selama ga sama Mamah, tapi seakan belum diizinkan, aku harus langsung kembali ke Kota ini untuk mengikuti kegiatan kampus. Pada saat itu hancurku, ku peluk sendiri, anak yang terbiasa bercerita, mengadu, mengeluh ini dituntut keadaan untuk bisa mandiri, menerima semuanya sendiri. Tepat 1 bulan aku betul-betul penuh, rasanya ingin meledak. Ku putuskan untuk pulang.

Pulang ke rumah yang ada Mamahnya. Disanalah segalanya ku buka. Semua lukaku kini Mamah tau, 3 jam mulut ini lantang berbicara, hingga kering rasanya kerongkongan ini, Mamah tidak memotong tidak juga berkomentar, beliau hanya mendengarkan. Rasanya saat itu aku seperti manusia yang kerasukan, bagaimana tidak, aku berbicara tanpa jeda, semua ku tumpahkan bagai tidak ada waktu lagi untuk ku bercerita. Mamah mencerna semuanya dengan sangat baik dan bijak.

Jika kalian pikir aku akan lama dirumah, nyatanya kalian salah aku pulang hanya untuk bercerita demikian, selepas itu kembali ke Kota ini. Pagi hari saat bangun dari tidur tanpa mimpi buruk dan tangis sebelumnya, Mamah akhirnya buka suara, memberi dukungan, saran dan ditutup dengan Doa yang ku Aamiin kan pastinya. Malam itu aku kembali dengan berani, dengan lebih kuat dan lega tentu saja. Akan ku hadapi semuanya kataku saat turun dari kereta malam itu di Stasiun Purwokerto.

Sebetulnya sebelum pulang aku tidak serapuh itu kok, saat ku ceritakan semuanya sudah tidak ada tangis disana, aku sudah lebih mampu menghadapi semuanya. Bisa kalian tau karena apa? HAHAHA iya karena Allah telah menghadirkan manusia baik disaat aku merasa duniaku runtuh, disaat lagi-lagi Tuhan menghadapkan ku dengan kehilangan.

Malam itu dinginnya Purwokerto tidak mampu meredam rasa kecewa, marah dan sedihku yang berapi-api. Badan ku lemas hingga jatuh terduduk dibawah meja belajar. Perlahan tapi pasti bulir air mata itu perlahan membasahi pipi, pundak ku bergetar hebat. Aku kembali kehilangan untuk yang ke sekian kali. Ku peluk diriku sendiri mencoba menguatkan, mencoba berkata bahwa ini bukan salah mu, dan semua akan baik-baik saja. Aku tidak bisa terus begini, aku tidak boleh terlarut sendirian jadi dengan sisa tenaga ku, kuraih HP di atas meja itu. Ku hubungi ia, salah satu orang yang ku percaya saat itu. Sempat merasa sia-sia karena merasa tak ada respon. Tak hanya satu, aku menghubungi 2 (malaikat penjagaku 2 hehe) awalnya ragu karena yang satu ini sedang Family Time, tapi akhirnya ku beranikan diri, kemudian keduanya menjawab hampir dalam waktu yang berdekatan.

Ku taruh kembali HP ku, beranjak naik ke atas kasur, termenung disana sambil menatap nanar pintu kamar. Kembali air mata ini terjun tanpa izin, tak lama pintu diketuk dengan sedikit terburu-buru. Siapa yang datang malam-malam begini pikirku, dengan wajah sembab ku buka pintu, dihadapan ku sekarang berdiri seseorang yang tak pernah ku bayangkan sebelumnyaa. Zavye, dengan wangi khas minyak telon dan cardigan rajut hitam serta tatapan khawatir, sudah tidak bisa ku tahan, akhirnya aku kembali luruh, menangis tersedu dalam pelukannya. Zavye tidak banyak bicara ia hanya mencoba menenangkan dengan menepuk punggungku.

Disana, saat sedang kembali mengatur nafas, ia perlahan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tak banyak yang bisa ku tulis disini tapi yang pasti jawaban Zavye saat itu adalah “gapapa ada aku, aku akan selalu ada disini dibelakang kamu buat temenin kamu”. Lagu NINA dari Feast yang saat itu sedang hype menemani obrolan malam kami. Disela itu ia berkata bahwa tidak lama setelah orang tuanya pulang HP nya berdering, tertera disana nama seseorang yang tiba-tiba bertanya dengan terburu-buru “Davina chat kamu atau engga?” Zavye bingung karena memang aku belum mengabarinya, dalam percakapan itu orang yang menghubungi Zavye menemui ku di kost “Jap, temenin Davina gih di kos, itu anak kayanya lagi nangis” sambil terus mendesak Zavye bertanya ada apa sebenarnya, tapi tepat saat percakapan itu berlangsung notifikasi chat Zavye memunculkan nama ku dengan sederet kata yang akhirnya membuat Zavye beranjak ke Kost ku. (ah lucunya malaikat penjagaku itu)

Disisi lain aku kaget, belum pernah terjadi dalam hidupku. Menangis, ditemani (disamperin), dipeluk pula. Rasanya seperti melayang, anak pertama ini akhirnya dipeluk (hehe). Setelah dirasa tenang, Zavye memutuskan untuk pulang. Tangis ku biasanya hanya ditemani boneka beruang besar kesayangan ku, tapi kali ini ada Zavye. Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada Zavye.

Kembali pada keadaan setelah pulang, aku membawa sebuah amanah dari Mamah, kami sama-sama berharap bahwa hasilnya sesuai harapan. Jawabannya sudah ku dapat, namun tak langsung ku sampaikan pada Mamah, aku masih ingin memastikannya 1 kali lagi, sempat ragu karena rasanya seperti ditarik-ulur. Hingga pada akhirnya hati ini yakin, bahwa inilah jawabannya.

Malam itu, setelah acara pembukaan Makrab. Iya kita sudah ditahap mendekati Makrab, ga kerasa ya? (KERASAAA BANGETTT) dengan takut-takut ditolak lagi (sebelumnya pernah tapi belum nemu waktu yang pas) aku menghampirinya, salah satu manusia yang otw jadi malaikat penjagaku. “Habis ini ada acara ga? ada yang mau aku omongin tapi ga disini.” Kataku sebiasa mungkin, walau jantung rasanya mau copot. “Bisa” 1 kata yang kemudia mengubah diriku.

Ditengah malam yang lumayan dingin kala itu, disalah satu selasar Sekretariat, aku duduk disana berhadapan dengannya. Bingung harus memulai dari mana, tapi dengan sisa keberanian ku, kusampaikan niat ku. Sambil menunduk karena rasanya jika ku tatap wajah itu air mataku akan langsung mengucur deras. Sesekali ku dongakan kepala, belum sampai pada tujuan ku, dia memotong “Aku izin motong ya Dav, kamu EGOIS, aku ga nyangka kamu seegois itu” Sesak, dadaku sesak aku tidak tahan tapi masih coba ku tahan. Dia kembali melanjutkan “tanpa kamu minta pun aku akan nemenin kamu, dari awal aku selalu ada untuk kamu, apapun keputusannya ga merubah itu” Cukup, aku sudah tidak bisa menahannya, aku tiba-tiba menyeru “Dari awal kapal ini udah hancur Fiz, aku sudah hancur dari awal sebelum perang” dengan badan bergetar aku mulai bersuara, dengan bingung dia Hafiz mendekat seraya merangkul “ engga Dav, kamu ga hancur” belum selesai berbicara aku meraung “Iya karena kamu ga tau” malam itu dengan tangis yang berubah menjadi raungan aku mencoba membuka luka yang sempat ditutup Firza dan dibalut Mamah. Aku akhirnya menceritakannya, luka batin yang dengan hebat aku tutupi.

Davina malam itu kembali rapuh, kehancuran ku kala itu kembali terbayang dalam ingatan. Hafiz jelas kaget, tak menyangka katanya, tak menyangka bahwa kapalnya memang sehancur itu dari awal. Ditengah tangisku yang tak kunjung mereda disana Zavye melihatnya, dengan terburu-buru ia memanggil Untung (ah ternyata ada manusia baik lainnya disana) menghampiri aku, Hafiz dan Pua yang sejak tadi disana. Mereka membantuku menemukan diriku, membantuku untuk percaya pada diriku sendiri. Tak kusangka malam itu aku ditakdirkan untuk dipertemukan dengan manusia berhati malaikat seperti mereka. “Dav, aku percaya kamu bisa, Aku bangga Dav sama kamu bisa ada disini, dari awal aku tau kalo pilihan aku ga salah” dengan berkaca-kaca setengah menangis Untung mengucapkan itu sambil penepuk pundak ku. Tatapan itu belum pernah kulihat sebelumnya, ada rasa bangga, kagum dan kesetiaan dalam sorot mata itu.

Tidak, Zavye dan Untung belum mengetahuinya, tapi setelah itu aku dan Zavye memutuskan untuk makan disalah satu warmindo langganan kami. Disanalah aku membukanya untuk Zavye, responnya tak jauh berbeda dengan Hafiz, ada kecewa dan sedih yang coba Zavye tutupi. Lepas sudah semuanya. Aku berhasil menuntaskan itu. Setelah kejadian itu entah apa yang terjadi Zavye dan Hafiz menjadi lebih protectif, ah layaknya seorang Kakak bagiku.

Hari itu 27 September 2024, telah dimulai perang yang ku maksud. Penentuan apakah upaya ku, upaya dan usaha kami akan berbuah manis atau justru sebaliknya. Sejak kejadian malam itu Zavye dan Hafiz menekankan padaku bahwa apapun yang terjadi, apapun yang akan kamu hadapi harus selalu ku libatkan mereka di dalamnya. Aku tidak dibiarkan sendirian, selalu ada salah satu diantara mereka. Hari pertama dapat kami lalui dengan lancar dan sukses. Tidak dapat ku pungkiri bahwa esok akan ada kejutan. Dugaan ku benar rupanya, walau tidak seekstrim yang ku bayangkan tapi mampu membuat ku menangis (lagi).

Siang itu, hal yang sudah kami duga akhirnya terjadi. Dengan tegas dan gagah aku menghadap, tidak sendiri tentu saja, ditemani manusia baik yang ikut berkontribusi di dalamnya. Kejadiannya singkat, sampai akhirnya yang lain kembali pada posisi, tapi aku memilih berbalik, bukan, bukan karena egois tapi karena aku merasa perlu, perlu ku pastikan bahwa tidak akan ada hal ini lagi setelah ini. Tanpa diketahui yang lain termasuk Zavye dan Hafiz aku kembali, cukup lama hingga akhirnya ku dikejutkan dengan kehadiran Hafiz disana, berjalan sambil berkata tanpa suara “lagi ngapain disana?” ku balas dengan senyum dan anggukan sambil berkata tanpa suara “ aman ko gapapa, kamu balik aja” tak tinggal diam, dia membawaku pergi dengan sopan dari sana sambil membabibuta beberapa pertanyaan lagi ngapain, kenapa sendiri, kamu diapain dsb. Oh disana duduk sambil tersedu Zavye menghampiri sambil berkata “Kamu diapain, kenapa ga bilang, Dav jangan gini” hampir menagis tapi untungnya aku masih sanggup menahannya. Disana juga ada Agoy yang ikut menyuruhku menyudahi semua yang barusan ku lakukan. Akhirnya aku mengalah, aku selesaikan apa yang ku lakukan.

Aku sempat merasa gagal, aku melihat sekitar dengan hampa, apakah ini yang aku dapatkan untuk banyak hal yang sudah kurelakan? Ditengah bisingnya keramaian, aku duduk melamun diiatas batu, entah dari mana asalnya Zavye dan Hafiz berhasil menemukan tempat persembunyian ku, tanpa diduga tanpa bicara, aku tiba-tiba mennagis disusul Zavye, Hafiz disana berusaha menenangkan. Tiba-tiba Tuhan hadirkan hujan, akhirnya kami meneduh didalam. Sama-sama diam dan tidak membukanya sama sekali.

Tak sampai disitu, nampaknya mereka kurang puas kali ini aku bersama Widi, ah awalnya niatku tak akan memberi taukan ini pada Hafiz maupun Zavye. Tapi percuma karena akhirnya Hafiz duduk disana, aku yang sudah lelah menangis membuatku kehabisan energi. Tak banyak yang bisa ku tulis sampai akhirnya kursi berderit kencang, Widi pergi. Lama berdebat, agaknya Hafiz juga lelah, dia bertanya “ aku mau balik, kamu mau tetap disini atau balik sama aku?” tentu kujawab aku mau kembali. Kami keluar, dengan sedikit sempoyongan aku berusaha menormalkan tubuhku tapi tak bisa , kaki ku rasanya bagai jely, melihat itu Hafiz berbisik, “yang kuat Dap, kamu udah berhasil, yang tegak ayo senyum” dengan sisa tenaga dan sedikit sempoyongan ku lanjutkan perjalanan. Disana, dihadapan ku berdiri Zavye dengan air mata yang sudah mengalir, dibelakangnya berdiri Agoy dan Zee, menatap lurus ke arah ku dan Hafiz, mataku sudah buram tapi dapat kulihat disana Widi dengan mata sembabnya dan dapat kulihat dibelakang mereka meriahnya pagelaran itu, sebelum benar-benar sampai dihadapan Zavye, Agoy dan Zee, Hafis berkata “Lihat Dap, di depan sana, itu hasil usaha kamu, usaha kita, kamu ga gagal, kamu berhasil, liat yang lain bahagia”

“Dap..” “Zav..” kami bersahutan, tak lama saling memeluk disusul Hafiz, Agoy dan Zee. Menangis sudah jelas, aku sampai tidak mampu menahan badan ku sendiri. Hafiz memecah keheningan “Ayo balik, hapus air matanya, sekarang nikmatin hasilnya” aku tak langsung duduk, aku menyisir satu persatu manusia dihadapan ku, memikirkan kata-kata Hafiz dan Widi, kita sudah lelah mempersiapkannya masa ga menikmati hasilnya. Sambil terus menangis aku tersenyum berterima kasih pada Tuhan telah membersamai aku dalam menyelesaikan taggung jawab ini. Aku akhirnya duduk di depan Zavye, Hafiz dan Widi. Menonton pertunjukan yang sudah lama kami rencanakan, dengan lebih deras air mataku menetes bahuku di tepuk halus oleh Boni (ah manusia lucu dan slengean itu rupanya) tak kusangka iya berkata “Hebat dap, kamu berhasil” tambah deras air mataku, kali ini air mata bahagia tentunya.

“Kita menang, kamu berhasil Dav, Kita berhasil” Kata Hafiz seraya menepuk pundak ku dari belakang.

Baru kutau belakangan ini, bahwa setelah kejadian malam itu, malam dimana Zavye dan Hafiz mengetahui luka ku, Zavye menghubungi Hafiz dan berkata bahwa mulai detik ini jangan biarin Davina sendirian, hal ini lah yang membuat Hafiz tiba-tiba datang siang itu dan membawaku pergi dari sana menemui Zavye. Ternyata tak hanya itu, setelah lautannya sudah berhasil dilalui, apresiasi sederhana dan hangat mereka berikan padaku, 1 bucket bunga aku terima. Hal itu tak akan pernah ku lupa, akan ku beritahu dunia betapa aku dirayakan, Ketua juga ingin dirayakan.

SELESAI.


메타데이터
post_id
e18e15652da7
slug
terima-kasih-katanya-e18e15652da7
url
https://medium.com/@davina22102004/terima-kasih-katanya-e18e15652da7
canonical_url
https://medium.com/@davina22102004/terima-kasih-katanya-e18e15652da7
author_url
https://medium.com/@davina22102004
status
ok
fetched_at
2026-07-22 06:57:32