Masuk Angin dan Rindu kepada Ibu: Komodifikasi Kerja Perawatan Lintas Negara
Oleh: Nadia Gissma*
KIAT-KIAT MERAWAT GULMA
Masuk Angin dan Rindu kepada Ibu: Komodifikasi Kerja Perawatan Lintas Negara
Oleh: Nadia Gissma*
Foto oleh Christin Hume di Unsplash
Hampir tak pernah terpikirkan jika masuk angin adalah salah satu tantangan mahasiswa rantau Indonesia di Belanda. Memulai studi pada waktu transisi dari musim gugur ke musim dingin membuat persediaan obat-obatan herbal penolak angin hampir habis. Meskipun obat-obatan tersebut tersedia di toko Asia dekat asrama, tentu saja sebagai mahasiswa, lebih baik uangnya digunakan untuk hal lain saja.
Ketika masih di Jakarta, kerokan menjadi sebuah jalan cepat untuk menuntaskan masuk angin. Terlepas dari pro dan kontra, aku teringat betapa mewahnya memiliki Ibu yang selalu cekatan mengerok ketika badan mulai terasa tak enak. Rasa sungkan sebagai perantau membuatku enggan minta bantuan teman untuk mengerok. Maka, lagi-lagi obat herbal lah yang jadi harapan.
Akhirnya, kuputuskan tetap membeli obat herbal demi kesembuhan. Ketika tiba di toko Asia, tak sengaja aku bertemu dengan salah satu diaspora Indonesia, dan akhirnya kami banyak berbincang. Tak kusangka ia sudah cukup lama tinggal di Belanda dan bertahan hidup dengan menyediakan jasa “palugada” — singkatan dari “apa yang lu mau, gua ada”, acap dinobatkan generasi kita ke orang-orang yang serba bisa.
Aku pun spontan bertanya, “Ibu bisa kerokan?” Lalu, ia mengangguk sambil tersenyum dan akhirnya kami mengatur jadwal esok harinya.
Aku tak berpikir panjang seperti halnya saat memutuskan membeli obat herbal penolak angin. “Kerokan pasti bekerja lebih cepat,” pikirku yang hanya ingin cepat pulih agar bisa kembali mengerjakan tugas-tugas kuliah. Ibu Palugada (begitu aku menyebutnya dalam tulisan ini) tiba dengan perlengkapan komplet, bahkan ada batu basal yang biasa digunakan untuk pijat di tempat-tempat spa. “Kalau sama saya, kerokan itu sudah termasuk pijat, makanya jasa saya minimal dua jam,” tuturnya.
Tangan Ibu Palugada benar-benar seperti tangan Ibuku di rumah. Setiap kerik menunjukkan ketepatan letak angin yang menyumbat aliran darah (Setidaknya begini pikirku tentang cara kerja kerokan). Sembari kerokan, kami pun banyak berbincang.
Ternyata Belanda bukanlah negara pertama yang Ibu Palugada sambangi untuk menumpang mencari rezeki. Beliau sudah pernah mengadu nasib di Hong Kong, Taiwan, dan Malaysia. Perbedaan kurs yang cukup besar antara Euro dan Rupiah membuat Ibu Palugada yakin untuk merelakan seluruh tabungan selama menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) guna membayar jasa penyalur.
Lanskap Kota Den Haag, foto dari Mark Boss di Unsplash
Saat di Hong Kong, beliau tak hanya menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT), tapi juga diam-diam menyimpan rice cooker dan panci listrik di dalam kamar. Dua kali sepekan, ia menjajakan masakan kepada rekan-rekan TKI yang lain. Keuntungan yang ia dapatkan memang tidak sebanding dengan risiko ketahuan, tapi begitulah, menurutnya, kiat-kiat bertahan hidup.
“Gaji PRT di sana tidak mencukupi, saya harus cari cara lain untuk tambahan,” ungkapnya sambil tertawa.
Ia mengingat betul kejadian lucu saat tuan rumahnya hampir memergoki ia memasak rendang akibat bau rempah yang kuat. Sepanjang malam, ia memasak di balik selimut dan tidur dengan bau rendang di sekujur tubuh.
Kilas balik, Ibu Palugada hanya menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selepas itu, ia bekerja sebagai pengangon hewan ternak milik tetangga di kampungnya.
“Saya dulu ngangon, merawat sapi dan kambing atau apa sajalah. Sampai di Belanda saya juga biasa dipanggil untuk jaga anjing, kucing, lansia dan bayi. Yang saya gak bisa hanya menjaga rumah tangga, Mbak. Ya, maklum, begitulah risiko bekerja jauh dari mantan suami,” ujarnya sambil meletakkan batu panas di punggungku sebagai bagian dari jasa terapi yang ia tawarkan.
Ibu Palugada saat ini menjanda dengan satu anak yang tinggal bersama sang nenek di Jawa Timur. “Risikonya itu juga, kangen sama anak, gak bisa nemenin dia. Kadang kita nangis bareng pas video call, sudah enam tahun gak ketemu.”
Ibu Palugada masih melanjutkan rangkaian terapi di tubuhku, tapi aku hanyut membayangkan kerinduan anaknya. Tidakkah apa yang dirasakan oleh sang anak sama denganku? Merindukan pekerjaan perawatan atau pengasuhan seorang Ibu? Hanya saja bagiku rindu itu bersifat sementara, karena aku mengetahui kapan bisa pulang, dan selalu ada pilihan untuk pulang.
Bagi Ibu Palugada, pilihan itu belum pernah terbit, apalagi semenjak menjadi single mom dan dianggap sebagai undocumented migrant di Belanda. “Saya harus berjuang untuk anak saya supaya bisa hidup lebih baik entah sampai kapan, semoga saya masih ada umur bertemu anak gadis saya,” lanjut Ibu Palugada.
“Tidakkah apa yang dirasakan oleh sang anak sama denganku? Merindukan pekerjaan perawatan atau pengasuhan seorang Ibu?”
Dalam buku yang ditulis oleh Emma Dowling dengan tajuk The Care Crisis, semenjak perawatan atau care menjadi komoditas, kesejahteraan dalam mengakses keperawatan kemudian menjadi sebuah industri. Lagi-lagi, jika sudah masuk ke dalam sirkuit komoditas, akses ke perawatan menjadi semakin bergantung pada apa yang dapat kita bayar. Hal ini menimbulkan persaingan dan krisis perawatan yang berujung pada ketidaksetaraan akses perawatan secara signifikan. Bagi anak perempuan Ibu Palugada, perawatan oleh ibunya sendiri bahkan sesuatu yang tidak dapat ia bayar dan dapatkan. Bagi Ibu Palugada yang tidak memiliki aset apapun di desa, keahlian merawat merupakan satu-satunya yang bisa dijual demi bertahan hidup.
Sebagai penjual, Ibu Palugada harus benar-benar menghitung untung dan rugi dalam berdagang. Menjual jasa perawatan di Indonesia pastinya bukan pilihan menguntungkan meski ia bisa terus dekat dengan anak gadisnya. Selain situasi underpaid, pekerja perawatan di Indonesia masih rentan terhadap pola kerja eksploitatif dan kekerasan berbasis gender. Walaupun demikian, menjadi migran juga tidak menghilangkan kondisi buruk ini, setidaknya situasi underpaid bisa diantisipasi dengan selisih kurs yang besar. Terlebih, ada permintaan besar untuk para care workers di negara-negara utara karena menurut seorang sosiolog, Rhacel Salazar Parreñas, dalam konsep International Divisional of Reproductive Labour, Global North telah mengalihkan tanggung jawab mengasuh dan kegiatan reproduksi pada pundak para migran dari Global South.
“Bagi Ibu Palugada yang tidak memiliki aset apapun di desa, keahlian merawat merupakan satu-satunya yang bisa dijual demi bertahan hidup.”
Hasil penelitian Nashirulhaq [1] tentang mobilisasi care workers Indonesia di Belanda menunjukkan bahwa status gender sangat penting dalam membedakan respon dan strategi pekerja perawatan. Pekerja laki-laki bisa mengandalkan istri mereka untuk memenuhi tanggung jawab pengasuhan anak-anak di rumah, sedangkan para pekerja perempuan tidak dapat melakukan hal yang sama. Ini persis seperti dialami Ibu Palugada yang akhirnya menitipkan peran ibu kepada orang tuanya untuk merawat anak perempuannya.
Meski demikian, seharusnya peran negara berkontribusi besar memastikan kesejahteraan anak-anak buruh migran perempuan. Beberapa studi mendorong agar anak-anak buruh migran dimasukkan dalam daftar anak yang memerlukan perlindungan khusus. Sayangnya, hingga hari ini, belum ada perubahan regulasi yang dapat mendukung perlindungan tersebut.
Dua jam berlalu dan Ibu Palugada mulai berkemas untuk segera pergi ke klien selanjutnya. Jadwalnya padat. Setidaknya, dalam satu hari ia harus memiliki lima klien untuk bisa memenuhi kebutuhan finansial untuk keluarga di Indonesia dan biaya hidup ia sendiri di Belanda. “Terima kasih, ya, Mbak. Mohon doa agar anak saya bisa sekolah ke sini jadi kita bisa bareng-bareng lagi,” ujarnya sambil membuka gembok sepeda. Ibu Palugada mulai mengayuh kembali, berbagi kasih ibu dalam setiap jasa perawatan yang ia lakukan.
Semoga Ibu Palugada selalu sehat.
[1] Analisis Muhammad Nashirulhaq merupakan bagian dari penelitian tesis S2 di International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University dengan tajuk “Being Baboe ing Londo: Exploring The Life of Indonesian Migrant Care Workers in The Netherlands” dapat diakses di: https://thesis.eur.nl/pub/65338/
Pada saat menulis naskah ini, Nadia Gissma Kusumawardhani atau Gissma adalah seorang peneliti lepas di bidang agraria dan urban planning. Care crises *adalah salah satu isu yang ia dalami di tahun 2024 sebagai respons dari proses pembelajaran mempelajari mobilitas masyarakat desa yang mengungsi ke kota untuk mencari sumber penghidupan.
메타데이터
- post_id
- e1d133209263
- slug
- masuk-angin-dan-rindu-kepada-ibu-komodifikasi-kerja-perawatan-lintas-negara-e1d133209263
- url
- https://medium.com/kolektif-agora/masuk-angin-dan-rindu-kepada-ibu-komodifikasi-kerja-perawatan-lintas-negara-e1d133209263
- canonical_url
- https://medium.com/kolektif-agora/masuk-angin-dan-rindu-kepada-ibu-komodifikasi-kerja-perawatan-lintas-negara-e1d133209263
- author_url
- https://medium.com/@kolektif.agora
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31