Dua Puluh Tahun
Sayangnya saya tidak tahu bagaimana cara menyatakan perasaan dengan benar, tidak, barangkali lebih dari itu, saya tidak tahu bagaimana…
Dua Puluh Tahun

Cr: ★Natsuki☆
Sayangnya saya tidak tahu bagaimana cara menyatakan perasaan dengan benar, tidak, barangkali lebih dari itu, saya tidak tahu bagaimana caranya merasakan sebuah perasaan yang tidak pernah bisa saya kenali bentuknya, dan terlalu abstrak. Terlebih ketika beberapa teman saya mengatakan bahwa perasaan ini serupa sakura yang berguguran di pelupuk mata seorang manusia yang tengah kasmaran pada kekasihnya, sementara yang lain mengutuk kenyataan bahwa ia pernah mengalami perasaan serupa ini. Terlalu berbelit, bahkan saya rasa Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa mereka yang berpikir cukup mampu untuk bisa merasakan barang tidak berupa serupa perasaan ini, tanpa tersesat sama sekali. Membingungkan. Saya bahkan tidak tahu bagaimana saya harus menjelaskannya.
Saya tidak pandai mencintai, percayalah. Saya tidak memiliki sesuatu yang cukup spesial untuk ditawarkan, tidak memiliki sesuatu yang cukup apik untuk dipertahankan, pun tidak memiliki cukup pengetahuan untuk menjelaskan. Semua tingkah laku saya tidak lebih dari apa yang bagi saya cukup mampu untuk saya lakukan, apa adanya, apa saja yang barangkali anda perlukan. Barangkali pun sesederhana itu saya mendefinisikan perasaan abstrak yang tidak bisa saya kenali rupanya. Apalagi yang bisa saya katakan?
Saya hanya ingin menyampaikan pada anda seberapa sederhana sebetulnya perasaan saya pada anda. Sesederhana saya ingin tahu bagaimana hari anda berjalan hari ini. Sesederhana ingin mendengar cerita-cerita kecil yang mungkin bahkan tidak penting bagi siapapun selain diri anda sendiri. Saya ingin tahu apa yang anda pikirkan sebelum tidur, hal-hal apa yang diam-diam mengganggu kepala anda, atau nama siapa yang tinggal terlalu lama di pikiran anda hingga membuat saya harus mempersiapkan sekoper surat pengunduran diri sebelum mengetuk lebih jauh benteng pertahanan yang anda bangun sepenuh hati.
Tapi saya rasa, ini pun masih terlalu berbelit hanya untuk bisa mengatakan pada anda bahwa saya tanpa sengaja dan tanpa aba-aba telah menjatuhkan hati saya. Oh hati saya yang sangat gegabah, ia bisa semudah itu meluluhkan tembok yang telah ia bangun dengan darah dan air mata selama dua puluh tahun penuh tanpa terlewat seharipun, diiringi cacian dan makian setiap hari sebagai pondasinya. Dan untuk pertama kalinya, saya yang terbiasa untuk menerima semua panggilan apa saja yang diberikan dan disematkan individu lain, merasa begitu terganggu dengan satu panggilan dari anda. Saya harap anda menyebut nama saya, 138 kali, atau bahkan lebih, dan berharap saya mengeluarkan diri dari jurang kesedihan yang telah saya masuki dengan kesadaran penuh dan tanpa jalan keluar. Saya ingin anda memanggil saya. Berkali-kali.
Kemarin saya disana, di dunia berbeda yang tidak anda kenali. Ruang imaji milik saya sendiri. Tempat saya menggali liang lahat saya sendiri setiap satu hari. Tapi hari ini saya disini, saya memberanikan diri saya untuk berdiri di hadapan anda dengan penuh ketidaksempurnaan. Membawa seluruh hidup saya yang berantakan hanya untuk mengatakan bahwa entah sejak kapan saya mulai ingin tinggal lebih lama di dunia ini karena keberadaan anda. Saya ingin hidup, saya akan hidup, akan saya tunda kematian saya, bahkan bila artinya saya harus terseok selama setahun penuh, selama dua ratus tahun, atau bahkan hingga kelahiran tak terhitung dari rupa anda yang terus mengganggu mata saya.
Maka bersediakah anda menerima uluran tangan saya, dan tidak membiarkan saya menunggu dalam kesendirian lebih lama dari jarak kelahiran saya hingga hari ini? Maafkan saya karena untuk mencintai anda, saya datang terlambat. Tidak satu atau dua jam. Tidak satu atau dua hari. Tetapi dua puluh tahun.
Tapi tidak, saya tidak akan menyebutkan nama anda barang satu kalipun, pada surat ini. Surat ini tidak bernama dan akan saya biarkan tanpa tujuan, tapi saya berdoa kepada Tuhan yang jarang saya sapa, bahwa Ia akan menjelaskannya kepada anda dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, daripada bahasa saya yang berbelit dalam menyampaikan satu kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata: saya mencintai anda.
Tapi kalimat itu terasa terlalu kecil, terlalu klise, terlalu penuh kepalsuan, karena yang saya rasakan ketika mengatakan itu adalah rasa sakit tak berkesudahan karena saya menahan harapan saya agar tidak tumpah untuk bisa mengatakan pada anda, tidakkah anda mengenali saya? Tidakkah pepatah yang mengatakan bahwa kesedihan akan selalu mencari teman, juga terselip berulang kali diantara celah pikiran yang anda pikirkan setiap malam, serupa saya? Ah, hati saya yang mudah jatuh cinta, saya harap anda mengenali saya seperti saya mengenali anda, sebaik saya mengingat bagaimana saya menghabiskan dua puluh tahun waktu kebelakang. Beri tahu saya, berapa lama lagi saya harus menunggu anda menyadari keberadaan saya yang meraung meminta pertolongan kepada anda yang bahkan sempat saya lupakan nama dan wajahnya.
Oh Tuhan, semua ini terasa aneh sekali, karena ketakutan yang saya peluk semalam suntuk mendadak berubah dalam satu tatapan anda, ketika saya memandang mata anda yang tertutup dan bertanya-tanya siapa yang sedang hidup di dalam sana. Apakah saya sudah mengatakannya sebelumnya? Bahwa saya akan hidup? Bahwa saya akan menunda kematian saya? Sepanjang jarak pertama saya menatap kedalaman mata anda, hingga saya tidak bisa melihat cahaya apapun, atau barangkali sesungguhnya saya sudah kehilangan pandangan saya ketika saya menatap kegelapan dalam mata anda, dan saya jatuh cinta pada bagaimana mata yang terlihat sehidup itu bisa terlihat sekosong ini. Maka berkenankah anda mengizinkan saya mengisinya? Atau tinggal disana? Atau duduk di sampingnya? Atau apapun yang anda inginkan saya lakukan, karena saya tidak tahu apalagi yang tersisa dari diri saya yang cukup layak untuk diberikan kepada anda sebagai sebuah penghargaan.
Oh Tuhan sialan, Rupanya saya telah jatuh cinta.
메타데이터
- post_id
- e1e9d774fbca
- slug
- dua-puluh-tahun-e1e9d774fbca
- url
- https://medium.com/@asyuraalmanna/dua-puluh-tahun-e1e9d774fbca
- canonical_url
- https://medium.com/@asyuraalmanna/dua-puluh-tahun-e1e9d774fbca
- author_url
- https://medium.com/@asyuraalmanna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30