Kehidupan yang Seimbang
Kiai Faizi* waktu lawatannya ke Mahad Aly (sekitar November tahun 2024 lalu) mengatakan bahwa hidup ini haruslah seimbang. Beliau…

Kehidupan yang Seimbang
Kiai Faizi* waktu lawatannya ke Mahad Aly (sekitar November tahun 2024 lalu) mengatakan bahwa hidup ini haruslah seimbang. Beliau mencontohkan pengalamannya. Ketika telah memperoleh sebuah kenikmatan, setelahnya beliau akan memilih sesuatu yang menurut beliau tidak “nikmat”. Perjalan ke Jogja beliau lewati dengan penuh kemudahan, sampai di sana beliau memilih makanan yang beliau kurang disukai. Ini adalah cara beliau menyeimbangkan hidupnya. Saat itu, saya sempat berpikir, haruskah semua orang melakukan itu? Bukankah itu adalah tindakan yang memberatkan diri sendiri?
Sampai akhirnya saya menonton Prof. Quraisy Shihab yang berkomentar terkait musibah banjir yang terjadi di Sumatera. Menurut beliau, musibah itu terjadi karena keseimbangan alam yang sudah hilang. Apa yang kita ambil dari alam, tidak sebanding dengan apa yang kita berikan kepada alam. Pertambangan, deforestasi, dan pembabatan hutan barangkali memberikan ‘manfaat’ bagi kita, akan tetapi itu semua tidaklah percuma. Alam menuntut kompensasi. Keseimbangannya rusak. Tragisnya, alam memilih bencana untuk menyeimbangkan dirinya sendiri.
Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya menyinggung bahwa kehidupan dibangun di atas keseimbangan. Pemikirannya didasarkan pada ayat, “wa as-samaa rafa'aha wa wadha'a al-mizan (7) alla tathghau fil mizan (8).” (Dan Allah telah meninggikan langit dan menempatkan timbangan (mizan) (7) Agar kamu tidak melampaui batas timbangan (8)). Larangan melakukan sesuatu adalah perintah untuk melakukan kebalikannya. Artinya, larangan melampaui batas timbangan adalah perintah untuk menjaga keseimbangan.
Kegagalan menjaga keseimbangan akan berakibat terhadap rusaknya tatanan kehidupan. Beliau memberikan contoh pengangguran yang dapat hidup mewah selayaknya orang yang bekerja keras. Ini jelas adalah sebentuk ketidakadilan. Tidak semestinya pengangguran dapat hidup mewah. Sebaliknya, orang yang bekerja keras seharusnya dapat menikmati kemewahan hidup. Akan tetapi, realita terkadang tidak berjalan sesuai semestinya dan seharusnya, dan apabila ini terjadi rusaklah tatanan kehidupan. Semua orang ingin hidup mewah dengan sedikit bekerja, enggan berkeringat tapi mau upah lebih, maka terjadilah masalah sosial seperti korupsi. Bayangkan bila semua orang memiliki keinginan yang seperti itu.
Penjelasan Prof. Quraisy Shihab dan Syeikh asy-Sya’rawi menyadarkan saya dan menjelaskan prilaku Kiai Faizi di atas. Saya merasa terpuaskan. Bahkan saya sedikit tidak percaya bahwa perilaku sederhana Kiai Faizi, yang sempat saya kira adalah memberatkan diri sendiri, ternyata memiliki efek yang sangat besar. Ternyata hidup bukanlah soal memperoleh sebanyak-banyaknya, tapi bagaimana kita menyeimbangkan diri.
Kesadaran akan pentingnya menyeimbangkan diri dapat menjadi rem bagi hasrat yang liar. Keseimbangan selari dengan kata 'cukup', sebuah kata yang telah menghilang dari kamus kapitalis. Kebalikan dari kata cukup adalah lebih atau kurang. Kelebihan dan kekurangan seperti yang diajarkan oleh guru sekolah dasar di masa lalu adalah sesuatu yang tidak baik. Misalnya dalam hal makan. Makan berlebihan melebihi batas kenyang itu buruk, bahkan mengundang penyakit. Makan lebih sedikit atau lupa makan tidak jauh berbeda.
Selain itu, keseimbangan berpunca kepada kebutuhan, kalaupun ada keinginan tapi tetap disertai kerja yang seimbang. Pemanfaatan hutan akan dihentikan bila dirasa telah mencukupi kebutuhan, atau tidak bisa mengembalikan ekosistem awalnya. Dalam konteks kehidupan sosial, syariat sedekah dan zakat dimaksudkan menjaga keseimbangan, agar jurang ketimpangan ekonomi tidak menjadi dalam dan uang tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja.
Perilaku Kiai Faizi memang sederhana, tapi ia mengajarkan bahwa manusia perlu juga merasakan pahitnya kehidupan, bukan hanya enak-enaknya saja. Di zaman yang seringkali tidak terjadi ‘yang semestinya’ dan ‘yang seharusnya’ ini, Kiai Faizi mengajak kita untuk tetap idealis, sehingga tidak terjebak dalam perilaku konsumtif yang merusak kehidupan sosial, dan menzalimi orang lain.
Pada akhirnya, kita harus selalu mengingat firman Allah, “alla tatghau fil mizan.”
*Kiai Faizi bernama lengkap Kiai Mohammad Faizi, Kiai nyentrik dari Sumenep, Madura. Beliau adalah seorang penyair, penulis dan aktivis lingkungan. Berikut link yt sewaktu kunjunganya di Mahad Aly Situbondo https://www.youtube.com/watch?v=qs5c-hg0EtA
메타데이터
- post_id
- e1f66ab15e99
- slug
- kehidupan-yang-seimbang-e1f66ab15e99
- url
- https://medium.com/@alisyaifuddin056/kehidupan-yang-seimbang-e1f66ab15e99
- canonical_url
- https://medium.com/@alisyaifuddin056/kehidupan-yang-seimbang-e1f66ab15e99
- author_url
- https://medium.com/@alisyaifuddin056
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 04:09:36