Bereshit: Menemukan Kembali ‘Tzelem Elohim’ dan Seni Berkata “Tidak”
Kisah penciptaan merupakan cerminan untuk melihat siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana seharusnya kita memandang dunia.
Bereshit: Menemukan Kembali ‘Tzelem Elohim’ dan Seni Berkata “Tidak”
*Di khotbahkan oleh Gmb. Benyamin Obadyah, MURP Gereja Kehilat Mesianik Indonesia (GKMI)*
Setiap tahun, kita kembali ke titik permulaan. Siklus pembacaan Torah membawa kita kembali pada Parashat Bereshit בְּרֵאשִׁית (Pada Mulanya). Di sinilah fondasi iman kita diletakkan: “Pada mulanya Elohim menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1).
Namun, kisah penciptaan bukan sekadar catatan sejarah alam semesta. Ini adalah cermin untuk melihat siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana seharusnya kita memandang dunia. Bacaan Torah minggu ini (Kejadian 1:1–6:8; Yesaya 42:5–43:10; Yohanes 1:1–17) mengajak kita untuk mengevaluasi kembali cara pandang kita di tahun yang baru ini.
Siapakah Manusia? (Tzelem Elohim dan Demut Elohim)
Dalam Kejadian 1:26–27, Elohim berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar (tzelem) dan rupa (demut) Kita…”
Frasa Bezelem Elohim (dalam gambar Elohim) telah menjadi bahan diskusi para rabbi selama berabad-abad. Apa artinya menjadi “gambar” Tuhan?
- Intelektualitas: Rambam (Maimonides), filsuf Yahudi abad ke-12, berpendapat bahwa citra Tuhan dalam diri manusia terletak pada intelek atau nalar. Inilah kualitas ilahi yang membedakan manusia dari hewan.
- Kehendak Bebas (Free Will): Namun, Moshe Chayim Luzzatto (Ramchal), mistikus abad ke-18, memberikan pandangan yang lebih dalam. Ia menyatakan bahwa seseorang bisa saja memiliki nalar yang cerdas, tahu mana yang baik dan jahat, tetapi belum tentu memilih yang baik. Contoh paling nyata adalah Adam dan Hawa; mereka tahu perintah Tuhan, namun memilih untuk melanggarnya.
Maka, definisi yang lebih utuh tentang Tzelem Elohim berkaitan dengan Ratson (Kehendak). Tuhan menciptakan manusia dengan kedaulatan untuk memilih. Berbeda dengan pandangan predestinasi yang kaku, teologi Mesianik memahami bahwa di dalam kedaulatan mutlak Tuhan, Ia memberikan ruang bagi kehendak bebas manusia.Hewan bertindak berdasarkan insting, tetapi manusia bertindak berdasarkan pilihan moral.
Keunggulan Manusia: Kemampuan Berkata “Tidak”
Bagaimana kebebasan diekspresikan? Kebebasan sejati bukan hanya tentang kemampuan berkata “Ya”, tetapi juga kemampuan berkata “Tidak”.
Rabbi Aaron Levin memberikan tafsiran menarik atas Pengkhotbah 3:19, “…dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang…” Dalam bahasa Ibrani, kalimat ini berbunyi umotar ha adam min ha behema ayin. Kata Ayin biasanya diterjemahkan sebagai “tiada/sia-sia”. Namun, Rabbi Levin menerjemahkannya sebagai “Tidak”.
Artinya: Keunggulan manusia di atas binatang adalah kemampuan untuk berkata “TIDAK” (Ayin).
Inilah esensi dari Tzelem Elohim. Saat kita memilih yang baik dan menolak yang jahat, kita sedang mencerminkan sifat Elohim.
- Adam dan Hawa gagal karena mereka tidak menggunakan otoritasnya untuk berkata “tidak” pada godaan ular. Ketika persepsi mereka diubah oleh “ide” si jahat, mereka kehilangan kemampuan untuk menolak.
- Abraham (Bapa Iman) berhasil bukan hanya karena ia berkata “Ya” pada panggilan Tuhan untuk pergi ke Tanah Perjanjian, tetapi karena ia terlebih dahulu berkata “Tidak” pada budaya penyembahan berhala di Ur-Kasdim (keluarga ayahnya).
Abraham bukanlah seorang “Yes Man”. Ia adalah manusia bebas yang berani melawan arus zaman demi kebenaran.
Keseimbangan “Ya” dan “Tidak” dalam Hukum Tuhan
Pola ini tercermin dalam struktur Torah. Moshe menuliskan 613 perintah (Mitzvot):
- 248 Perintah Positif (“Lakukanlah…”): Seperti menguduskan Sabat.
- 365 Perintah Negatif (“Jangan lakukan…”): Seperti jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzinah.
Jumlah perintah negatif (larangan) justru lebih banyak. Mengapa? Karena kemampuan menahan diri adalah benteng pertahanan peradaban. Tanpa larangan membunuh, tidak ada masyarakat yang aman. Tanpa larangan mencuri, tidak ada ekonomi yang stabil.
Menjadi orang percaya berarti memiliki keberanian moral untuk berkata “Tidak” pada desakan dunia yang mengkompromikan kekudusan. Contoh relevan adalah sikap pemimpin yang berani absen dari forum dunia demi menghormati hari raya Tuhan, atau seorang profesional yang berani menolak lembur demi menguduskan Sabat setelah karirnya mapan. Itu adalah pilihan moral; sebuah proklamasi bahwa kita menghargai Tuhan di atas segalanya.
Dua Cara Memandang Dunia: Einey Basar vs. Einey Ruach
Kejadian 3:7 mencatat dampak tragis setelah manusia jatuh dalam dosa: “Maka terbukalah mata mereka berdua…”
Bukankah mata mereka sudah terbuka sebelumnya? Apa yang berubah?
Rabbi Yitzhak dari Komarno (Ukraina, abad ke-19) mengajarkan bahwa manusia dianugerahi dua pasang mata:
- Einey Basar (Mata Jasmani/Daging): Pandangan yang terfokus pada fisik, material, fragmentasi, dan hawa nafsu.
- Einey Ruach (Mata Rohani): Pandangan yang melihat esensi, kesatuan, dan nilai ilahi.
Sebelum jatuh dalam dosa, Adam dan Hawa memandang satu sama lain dengan Einey Ruach. Mereka melihat tubuh bukan sebagai objek nafsu yang vulgar, melainkan sebagai ciptaan mulia yang memancarkan kemuliaan Tuhan.
Namun, setelah memakan buah terlarang, Einey Basar mereka mendominasi. Apa yang tadinya suci, kini terlihat memalukan dan vulgar. Pandangan basar (daging) selalu melihat dunia dalam perpecahan, konflik, dan untung-rugi material.
Aplikasi Praktis Hari Ini:
- Dalam Keluarga: Einey Basar melihat rumah hanya sebagai tempat tinggal sekumpulan individu. Einey Ruach melihat keluarga sebagai struktur ilahi, dan meja makan sebagai mizbeach (mezbah) tempat mengucap syukur.
- Dalam Jemaat: Einey Basar bertanya, “Berapa jumlah kolekte?” atau “Seberapa megah gedungnya?”. Einey Ruach bertanya, “Seberapa banyak jemaat yang benar-benar berdoa?” dan “Apakah mereka hidup dalam ketaatan?”.
Penutup: Resolusi Tahun Baru
Memasuki tahun Ibrani yang baru (5786) dan siklus pembacaan Torah yang baru, kita ditantang untuk memperbarui cara pandang kita. Yeshua HaMashiakh mengajarkan:
“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik (ayin ruach), teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat (ayin ra/ayin basar), gelaplah seluruh tubuhmu.” (Matius 6:22–23)
Mishnah (Avot 2:1) memberikan nasihat agar kita terhindar dari dosa: “Pertimbangkanlah tiga hal: Ketahuilah apa yang ada di atasmu — Mata yang melihat, Telinga yang mendengar, dan semua perbuatanmu tertulis dalam Kitab.”
Mari kita jalani tahun ini dengan tekad baru. Gunakan kehendak bebas kita untuk berkata “Tidak” pada kompromi duniawi dan “Ya” pada kekudusan Tuhan. Pandanglah sesama, keluarga, dan komunitas bukan dengan mata daging yang menghakimi, melainkan dengan mata roh yang melihat potensi ilahi.
Dengan cara pandang yang diperbarui (Renewed Mind), kita akan melihat anugerah Tuhan turun atas keluarga, komunitas, dan bangsa kita.
Artikel ini disadur oleh Karen Yohana berdasarkan khotbah Parashat Bereshit yang disampaikan oleh Gmb. Benyamin Obadyah.
메타데이터
- post_id
- e239ebde4ee4
- slug
- bereshit-menemukan-kembali-tzelem-elohim-dan-seni-berkata-tidak-e239ebde4ee4
- url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/bereshit-menemukan-kembali-tzelem-elohim-dan-seni-berkata-tidak-e239ebde4ee4
- canonical_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia/bereshit-menemukan-kembali-tzelem-elohim-dan-seni-berkata-tidak-e239ebde4ee4
- author_url
- https://medium.com/@kehilatmesianikindonesia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-11 11:05:39